
Sosok bayang hitam tanpa wujud itu berkali-kali mondar mandir disekitaran area kampus. Sesekali dia menghampiri Laras yang tengah bersantai dibawah terik matahari dibawah pepohonan dihalaman utama kampus. Memperhatikan gadis itu dengan perasaan yang berubah-ubah sesuai dengan warna bayangan asap yang berwarna-warni.
Kini bayang hitam itu beraura warna hitam keabuan. Kemudian berwarna hitam berbayang jingga. Berubah lagi dengan warna hitam kemerahan yang perlahan berwarna merah pekat sepekat warna merah darah, ketika Laras menutupi wajahnya dengan tangan.
Sosok bayang hitam tanpa wujud itu perlahan berubah lagi menjadi warna hitam kebiruan. Menyambar-nyambar disekelilingnya dan membawa angin berhembus dengan guguran dedaunan yang berwarna merah keemasan. Bayangan sosok asap hitam tanpa wujud itu melayang dan beterbangan beberapa bagian ke langitnya.
Sekilas hal itu membuat Laras membuka matanya dan menatapi sekelilingnya dengan perasaan yang janggal. Semilir angin dengan membawa dedaunan berwarna merah keemasan berterbangan dihadapan matanya. Namun Laras hanya menyimak itu, kemudian bangkit dari posisinya. Matanya seolah tidak terganggu dengan hal yang terjadi.
"Apakah akan hujan?!" gumam Laras.
Gadis itu memperhatikan awan berwarna hitam keabu-abuan yang bergerak cepat menyelimuti sekeliling bangunan kampus. Dia memasukan ponsel yang dibawanya ke dalam tas. Melihat sekelilingnya, lalu berjalan dengan melewati sosok bayang hitam tanpa wujud yang bersiap untuk memasuki tubuh gadis itu.
Namun bayang itu terlewati begitu saja dan tertembus oleh oleh tubuh Laras. Menyisakan kepulan asap yang terpecah lalu menyatu kembali ke wujud bayang hitam keabuan. Sosok itu termenung ditempatnya beberapa saat. Memandang sepasang kepulan asap yang menggantikan bentuk tangannya.
Sosok bayang hitam tanpa wujud itu berbalik cepat. Menatap punggung Laras yang membuat gadis itu seketika berbalik dan tersenyum dengan cara tak biasa kearah sosok bayang hitam tanpa wujud itu.
Sosok bayang hitam tanpa wujud itu langsung lenyap. Menyisakan kepulan asap seperti asap rokok yang melayang ke udara.
Berlalu.
"Apa ada berita tentang Rein?!"
Eren bertanya setelah matanya tidak lagi tertuju pada sosok Laras yang sudah pergi dari tempatnya bersantai.
"Tidak sama sekali!" jawab Aksara.
"Bagaimana dengan Laras?"
Eren yang merasa sedikit asing dengan Laras yang telah diperhatikannya beberapa waktu terakhir, akhirnya mengeluarkan apa yang ada dibenaknya.
"Aku kira kau tidak ingin tahu lagi tentangnya."
"Aku hanya merasa tidak mengenali sikapnya."
"Dia memang sedikit berbeda." jawab Aksara lagi.
"...."
Dari kejauhan Eren menangkap sedikit kepulan asap yang menyerupai hembusan asap rokok ke udara dari tempat yang Laras tinggalkan. Meski tidak terlalu penting, namun Eren tidak bisa melepaskan hal itu dari pikirannya.
"Kemarin saat di kantin, aku dengan sengaja menabraknya dan membuat dia menaruh perhatian ke arahku, tapi sikap yang ia tunjukan seolah dia tidak mengenali ku!"
"Begitu kah?"
Eren nampak masih merasa terganggu dengan hal yang dilihatnya. Dan tidak memperhatikan sikap Aksara yang menatap dengan jengkel disebelahnya.
__ADS_1
"Apa kau begitu ingin menemuinya?"
"Bukan!"
Eren kali ini menatap dan terfokus pada Aksara. Dirinya tiba-tiba ragu ketika ingin menyampaikan hal yang berhubungan dengan ingatan yang mungkin dimiliki Laras. Sosok terlarang yang telah jatuh ke lembah kesengsaraan dan lembah kehampaan sebanyak dua kali. Hanya satu kesempatan jatuh lagi, maka Laras tidak akan pernah mengenali siapapun di hidupnya.
"Lantas?"
"Terus awasi Laras!" pinta Eren. " Aku akan mencari kembali keberadaan Rein di semua lembah yang ada!"
"Jiwa gadis itu tidak mungkin menghilang begitu saja!"
"Ya! Pasti ada penjelasan kenapa Rein yang menghilang!"
"Kau berharap Laras yang menghilang?"
"Aku berharap dia tidak bersahabat lagi dengan gadis itu!" jawab jutek Eren.
"Kau juga melihatnya?"
"Dengan jelas!"
Eren menepuk pundak Aksara kemudian menghilang dari atas atap bangunan utama kampus itu.
"Aku pasti mengawasinya..."
Pada area parkir itu, Laras berjalan dengan sedikit angkuh dan mengundang beberapa pemuda lain menganggu dirinya. Mendekati dan coba menyentuh bagian tubuh yang memang sengaja Laras pertontonkan.
"Kalian mau apa!?" hardik Laras tidak suka. Dia menepis tangan salah satu pemuda itu kemudian menatap marah ke pemuda lain yang mengelilinginya.
"Kau begitu cantik dan menggoda," ucap salah satu pemuda.
"Tidak masalah kalau kami jadi tertarik padamu?!" pemuda itu memegang dagu Laras dan dibalas dengan elakan kasar dari gadis itu.
"Jangan sembarangan yah!"
Bayang gelap sejenak muncul dari diri Laras tapi urung begitu merasakan ada hawa lain yang lebih kuat darinya tengah berdiri melindungi gadis itu.
"Maaf!" sosok itu tersenyum ramah. "Kalian tidak boleh menganggu seorang gadis seperti ini."
Wajahnya masih menampakan senyum manis dibalik kaca mata tipisnya. Tapi tangannya sudah memelintir satu tangan dari pemuda yang mengganggu gadis yang harus dia awasi itu.
"Sakit! Sakit! Sa, sakit!" rintih pemuda itu didepan sosok Aksara yang air mukanya langsung berubah dengan menakutkan.
"Lain kali, jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi!"
__ADS_1
Aksara melempar tangan pemuda itu dengan kasar. Hanya dengan sedikit tenaga, pemuda itu langsung terpelanting. Begitu pemuda itu terjatuh, teman-teman pemuda itu langsung mundur. Ada yang pergi dengan ketakutan yang sama, ada yang mundur karena enggan membuat masalah. Dan satu lainnya karena memang hanya ikut-ikutan saja.
"Trimakasih!" ucap Laras begitu Aksara berbalik memandangnya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya." jawab Laras dengan tatapan yang sama seperti tatapan gadis yang dulu dikenalinya.
"Baguslah!" jawab Aksara kemudian berpaling.
"Tunggu?!"
Laras mencegahnya. Menahan tangan si pemuda kemudian bertanya dengan nada suara yang rendah.
"Dimana Eren?" tanya gadis itu. "Aku sudah beberapa hari ini tidak melihatnya?"
"Dia sedang ada urusan." jawab Aksara sekenannya.
"Ooo.." Laras merespon. "Kalau begitu, duluan ya?"
Gadis itu langsung memasuki mobilnya. Sebelum masuk, dia sempat memainkan kunci mobilnya dan membuat Aksara mengingat sejenak.
"Laras!" giliran Aksara yang menghentikan Laras masuk ke dalam mobilnya.
"Ya?"
"Boleh aku menumpang mobilmu?" tanya Aksara. "Biar aku yang menyetir?"
Laras tersenyum manis. "Boleh." jawabnya dengan santai menyerahkan kunci mobil itu ke tangan Aksara.
Begitu menerima kunci mobil itu, Aksara sejenak menangkap sosok bayang hitam tanpa wujud yang samar-samar terpantul pada kaca mobil dihadapannya.
Laras segera masuk ke dalam mobilnya. Membenarkan posisi duduknya, memeriksa wajahnya pada spion depan, lalu mengeluarkan ponsel untuk ia mainkan.
Aksara menahan sejenak langkahnya, melihat kearah samping, dimana harusnya sosok itu berada. Tapi tidak terlihat apapun dari pandangannya.
Aksara melepas kaca matanya. Menampakan mata berwarna emas keabu-abuan. Dia menatap dengan seksama kearah yang sama, namun tetap nihil. Kembali menatap ke arah kaca mobil, kini yang dilihatnya hanya kepulan asap seperti asap rokok yang melayang dan menguap ke udara.
"Ada apa? Apa masih ingin mengendarai mobilnya?"
Laras sedikit mendongakkan pandangannya pada Aksara yang terfokus pada kepulan asap yang dilihatnya.
"Tentu saja!" Aksara mengabaikannya. Memasuki mobil itu kemudian menjalankannya seperti biasa.
Sementara dari sudut kaca mobil yang lain, sosok bayang lain tersenyum penuh dengan kepuasan. Menampakan sepasang mata berwarna kemerahan dari bayangan berupa sosok kepulan asap tanpa wujud dengan warna hitam pekat.
__ADS_1
Senyum yang sama seperti senyum yang ditampakkan Laras saat memainkan ponselnya.
...***...