Abu-Abu

Abu-Abu
Kemarahan Lembah Kelam


__ADS_3

Itu adalah sayap yang sama seperti milik Aksara. Sayap yang berbentuk tulang belulang. Walau hanya sedikit yang terlihat, Laras tidak mungkin salah mengenalinya karena sering melihat sosok Aksara dengan sayap seperti itu. Bayangan gelap melintas dalam pandangannya, dan Laras hanya bisa terdiam kaku.


"Apa kau bodoh?!" geram sosok sang penjaga menatap kedalam mata Laras. "Apa kau benar-benar ingin berakhir ditempat seperti ini?!"


Kedua mata itu saling menatap tapi berbeda dengan tatapan Laras yang kosong. Ingatannya seakan tidak ada pada tubuhnya. Hanya sedetik setelah sang penjaga berusaha berdiri dari jatuhnya bersama sosok Laras, dia menyadari mereka sudah tidak lagi berada ditempat sebelumnya. Mereka kini dikelilingi kabut hitam yang berangsur-angsur menghilang. Menunjukan tempat sejati dimana kini mereka berdiri. Itu adalah sebuah jalanan setapak batu bata merah. Diujung jalan terdapat sebuah pintu yang dikenali oleh sosok sang penjaga. Itu adalah gua batu, satu-satunya jalan yang menyambungkan tempat pengantaran ini pada lembah abu-abu. Yang artinya juga, siapapun yang menemui jalanan ini, dia merupakan bagian dari lembah abu-abu. Entah dia akan masuk sebagai dia yang putih, hitam ataupun abu-abu.


"Kenapa harus lembah itu?" gumam Aksara yang tidak menyangka bahwa dirinya akan mengantar jiwa seorang ketempat yang begitu menyesakkan.


Sang penjaga berbalik dan bertukar pandang dengan Aksara yang dibuat semakin kaget. Kedua mahkluk itu saling bertatap tidak percaya. Bukan hanya karena situasi yang sebelumnya mereka alami, namun juga dengan keadaan yang tiba-tiba harus mereka hadapi bersama. Dimana lonceng perak yang selalu dibawa Laras bersuara dengan bisingnya. Seakan menjadi pembangkit bagi bunga lily lembah disekitar mereka untuk mengeluarkan suara gemerincing yang memekakkan telinga.


"Apa-apaan ini!" Aksara segera menarik diri dari tempatnya berdiri dengan menuntun jiwa yang bersamanya untuk ikut bersembunyi dibawah akar pohon didekat mereka.


Berbeda dengan Aksara, sang penjaga langsung memegang kuat tubuh Laras yang sedang melayang tidak sadarkan diri.


"Hei! Apa yang sudah kau lakukan?!" jubah sang penjaga berusaha melindungi tubuh Laras dari serangan sayatan daun emas yang berterbangan mengitari mereka. "Bangunlah! Gadis bodoh!" Sang penjaga menarik kuat lonceng itu dari atas tubuh Laras yang melayang. Membenamkannya tepat saat Aksara berhasil memasuki lingkaran daun emas yang memagari kedua mahkluk yang dikenalinya sebagai teman dan sosok Sang penjaga.


Aksara segera membuka buku tua bersampul hitam yang dibawanya. Dari dalam buku itu keluar cahaya yang menarik sesuatu dalam tubuh Laras untuk keluar. Itu adalah seorang bapak tua, sekali lagi. Bapak tua yang keluar kali ini sungguh berbeda. Dia membawa hawa kebencian yang begitu besar. Begitu mendalam. Sehingga membuat semua berjalan diluar kendali Aksara dan sosok sang penjaga.


Tubuh Laras terambil alih. Sosoknya memancarkan mata merah darah yang pekat. Kebencian. Pakaian yang digunakannya pun berubah warna menjadi semerah darah. Gelap. Kegelapan langsung menyelimuti seluruh tempat itu.


Bayang hitam dari lembah abu-abu langsung keluar dengan bersorak gembira. Bayang-bayang hitam langsung menyerang Aksara dan sang penjaga tanpa aba-aba. Melukai setiap jengkal kulit dan bagian sayap dari keduanya. Sampai mereka kewalahan dengan semuanya. Belum lagi ketika sosok tubuh Laras yang menerjang dan mengepakan sayap kelelawar berwarna merah darah serupa dengan pakaian yang ditampilkannya kini.


Aksara terpental jatuh membentur batang sebuah pohon dengan keras. Ditambah terjangan bertubi-tubi dari para jiwa hitam yang keluar dari lembah abu-abu, Aksara tidak bisa untuk membantu Laras dan sosok sang penjaga didalam lingkaran daun emas yang mengurung keduanya.


"Apa-apaan semua ini?!" sang penjaga bergerak ragu. Enggan menyerang balik sosok yang kini menerjang dengan semua senjata berupa buliran kristas es hitam yang runcing. Sang penjaga terdiam sejenak, menenangkan diri dari semua hal mendadak yang terjadi diluar kendalinya. Dia menampilkan sejenak wajah Eren yang didampingi oleh sosok sang penjaga dibelakangnya. "Laras! Sadarlah!" teriakan itu sejenak membuat tindakan Laras terhenti, namun kembali menyerang bengis saat bayang hitam lembah abu-abu melintasinya dengan cepat.


Kekacauan semakin menjadi. Serangan dari hembusan dedaunan emas menyayat setiap jiwa yang tengah dalam pertarungannya pada tempat itu. Gemerincing bunga lonceng lily lembah semakin memekakkan pendengaran. Ditambah dengan desisan murka para bayangan hitam yang menyuarakan kemenangan.


Eren kembali bangkit. Digenggamnya erat lonceng perak yang diambilnya dari tubuh Laras. Tangannya yg mengepal lalu dibuka dan membiarkan cahaya dari lonceng perak itu menyilaukan tempat yang sedang dipenuhi kegelapan. Eren menaikan lonceng itu, membunyikannya, dan membalas menyerang semua bayangan hitam lembah abu-abu untuk mundur ketempat nya semula.


Aksara terbebaskan. Kini dia leluasa memasuki lingkaran dedaunan Emas yang merusakan setiap tempat di jalanan setapak batu bata merah itu. Dia berdiri disamping Eren. Sedikit terkejut melihat sang penjaga menunjukan wajahnya pada sosok manusia. Tapi manusia itu kini bukan lagi manusia yang dapat mengenali siapapun mereka. Dari caranya menatap, melihat, dan diam memperhatikan, sosok Laras bergaun merah sepekat darah siap meluncurkan kristal es dengan ujung yang meruncing.

__ADS_1


"Sepertinya cukup merepotkan!" gumam Aksara.


"Dia sedang dikendalikan!"


"Ya!" jawab Aksara. "Roh itu memendam kebencian yang sangat dalam."


"Bisakah kau menemukan catatan milik roh itu?"


"Sayangnya, catatan itu ada pada dirinya."


Lengah, satu besitan kristal es mengenai lengan kanan Aksara dan menggores pipi kiri Eren.


"Bukan saatnya berbincang!" Eren tersenyum kecut.


Kedua pemuda itu bersiap dengan serangan berikutnya, namun satu hal menghentikan semua serangan tersebut.


Itu adalah jiwa yang hendak diantarkan oleh Aksara. Seorang ibu tua dengan tongkat coklatnya. Rambutnya putih uban merata. Matanya menyipit, tapi dia tersenyum hangat.


"Apa itu kau bapak?" suaranya sedikit berat untuk melanjutkan kalimat berikutnya. Sosok jiwa itu hanya berjalan pelan menuju ke hadapannya. Kehadapan sosok Laras yang kini terdiam mematung. Sesosok jiwa keluar dari tubuh Laras. Jiwa seorang bapak tua yang sempat dilihat keluar dari tubuh Laras oleh sosok lain Eren.


Seketika semua bayang hitam dan aura kegelapan yang ada memudar dari jalan setapak batu bata merah itu. Keadaan langsung menjadi sesunyi biasanya. Yang terdengar hanya alunan merdu beberapa gesekan dahan pohon, angin semilir, dan suara bunga lonceng lily lembah yang begitu harmoni.


"Bapak kira tidak akan bertemu ibu lagi..." ucap sang bapak tua sembari menggenggam hangat tangan perempuan tua dihadapannya.


"Apa bapak bercanda?" sang perempuan tua tersenyum sembari menaikan sedikit kacamatanya. "Ibu menunggu bapak selama ini."


"Bagaimana ibu selama ini? Apakah ada yang melukai ibu? Anak-anak? Apa mereka masih menjadi anak-anak yang keras kepala?"


"Setelah kepergian bapak..... " dan cerita itu berlalu dibalik kabut yang menuju lembah abu-abu.


Aksara dan Eren berdiam diri dengan yang terjadi.

__ADS_1


"Bisakah hal seperti itu menghapus kebencian yang begitu besarnya?" Aksara bergumam.


"Jiwa abu-abu telah bertambah." Eren kembali lagi ke sosoknya sebagai sang penjaga.


"padahal lebih manusiawi sosok mu yang tadi."


Mengabaikan ucapan Aksara, sosok sang penjaga kembali menyematkan gelang rambut berisi lonceng perak itu pada pergelangan tangan kanan Laras yang kini terkulai lemas tidak sadarkan diri.


Buku tua bersampul hitam milik Laras terbuka dan menghisap habis semua hawa kebencian dan amarah yang sempat berkecamuk ditempat itu. Membawanya kembali ke halaman buku yang langsung terkunci begitu semua hawa itu dihisapnya.


"Satu nyawa lagi telah keluar dari tubuhnya." Aksara memungut buku tua bersampul hitam itu. Dia memperhatikan sosok Laras yang selalu tidak sadarkan diri disaat setiap jiwa keluar dari tubuhnya.


"Bukankah hal tadi berbahaya?"


"Saat dia kehilangan kendali dirinya? Iya. Ini baru pertama kalinya untukku berurusan dengan kejadian seperti ini." Aksara membolak-balik buku tua bersampul hitam milik Laras.


"Dia adalah pengecualian." Sang penjaga memapah Laras. Sepanjang jalan, Eren dan Aksara tidak bicara hal apapun. Mereka hanya berjalan menyusuri setiap jalanan setapak batu bata merah dengan semua luka sayatan yang semakin memudar di setiap langkahnya.


"Penyembuhan yang baik." gumam Aksara.


"Dia... tidak seharusnya hidup." sang penjaga berkata. "Dia harus melaksanakan semua takdirnya..." Sang penjaga


"Dia tidak ada dalam buku catatan hidup dan mati. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan dalam hal ini."


"Biarkan dia melanjutkan tugasnya sampai akhir, dia akan menemukan jalan takdirnya."


"Tapi aku tetap tidak setuju kau membawanya ke lembah itu!"


Sang penjaga tersenyum kelu.


"Kalau setiap mahkluk bisa memilih jalan hidup mereka."

__ADS_1


Ketiga sosok itu menghilang di jalanan tanpa ujung itu.


***


__ADS_2