Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Pembebasan


__ADS_3

"Ada hal penting meminta kami datang dengan mengguncang seisi lembah seperti ini?!" Aksara dan Zara datang dengan wajah jengkelnya. Disambut oleh sikap santai Eren yang berdiri ditengah-tengah jalanan setapak batu bata merah di ujung lembah.


"Aku butuh buku tua bersampul hitam yang kalian pegang?" jawab Laras yang keluar dari balik punggung Eren.


Zara dan Aksara saling menoleh sejenak. Lalu bersiap untuk menunjukan kemarahannya pada Laras.


"Mau apa?" sergah Zara bertambah jengkel dengan senyum yang ditampakkan Laras padanya.


"Untuk menemukan danau pelangi." Laras menjawab dengan hati-hati.


"Danau itu sudah tidak diketahui lagi keberadaanya!" sergah Zara lagi.


"Bukannya begitu...!" jawab Laras. Ingin menyambungkan kalimatnya, Laras memilih diam melihat ekspresi Zara yang seakan tidak suka dengan jawaban yang dikeluarkannya.


Zara menelisik setiap ekspresi yang Laras tunjukan. Mengitari gadis itu dengan seksama lalu menatap kedua pria dengan tatapan penuh tanya. Kedua pria hanya menggidikkan bahunya lalu bertukar pandang.


"Berapa banyak yang aku lewatkan?" Aksara mulai mengeluarkan rasa penasarannya.


"Lumayan!"


"Kau tahu berapa banyak?"


"Sedikit lebih banyak dari pada diri mu!"


"Kenapa hanya aku?" protes Aksara. "Zara?"


Eren tidak menjawab, tetapi mengarahkan tatapannya pada kedua sosok lain dihadapannya. Aksara menyimak.


"Jangan katakan ini perbuatan mu?"


"Lebih tepatnya, bayanganku?" Laras tersenyum kaku dan tatapan Zara yang mendelik semakin membuat Laras menciut. "Bisa berikan bukunya pada ku?"


Aksara tertegun.


"Sebelumnya, jiwa-jiwa yang dijemput oleh Zara berasal jiwa dari danau pelangi. Begitu kekacauan terjadi, tahu-tahu dia mengantar jiwa dilembah yang sama dengan mu..." jelas Eren pada kediaman Aksara.


"Kekacauan yang begitu besar!" Aksara melihat keempat mahkluk disekitarnya. Mereka semua memiliki keterikatan yang memang tidak bisa Aksara temukan benang merahnya. Sebuah keterikatan dari perubahan takdir hidup banyak manusia yang tenggelam ke dalam permainan kegelapan.


"Tetapi kekacauan itu tidak sepenuhnya karena ulah ku!" kilah Laras membela diri dari sikap nyolot yang ditunjukan Zara padanya.


"Kau mahkluk paling menyebalkan yang pernah aku temui!" sergah Zara yang memalingkan wajah saking kesalnya. Namun dari dalam lubuk hatinya, ada kegembiraan yang tidak bisa ia mengerti dengan sesuatu yang sudah lama ingin ia diketahui.

__ADS_1


"Aku tidak punya banyak waktu!" Laras akhirnya kesal dengan kekakuan sikap Zara. "Berikan aku buku itu, atau aku akan merebutnya dengan paksa!" bola mata Laras langsung berubah berwarna biru keemasan. Dari tubuhnya menyeruak hawa yang menyesakkan. Membuat Zara balik memperhatikannya dengan seksama.


"Buku itu dipegang Eren!" jawabnya penuh kemenangan. Dan tatapan Laras langsung mengarah pada Eren. Eren yang kini tersenyum dengan datar. Berjalan santai menuju Laras dengan semua hawa menyesakkan yang menyeruak keluar dari dalam tubuhnya.


Buku tua bersampul hitam dengan gambar dua bulu emas pada bagian depan sampulnya, melayang-layang pada tangan kanan Eren. Buku itu berputar sekali dua kali. Melihat Laras tidak terpengaruh dengan pancaran cahaya dari buku pada tangan kanannya, Eren memilih memegang buku itu. Menggenggamnya lalu membenturkan buku itu pada kening Laras.


"Hentikan kekonyolan mu itu!" ujar Eren santai. Seketika itu juga semua hawa menyesakkan dari tubuh Laras sirna. Menyisakan sosok Laras yang seakan tidak menyadari kemarahan yang tadi dilakukannya. Menunjukan wajah polos yang selalu dilihat oleh siapapun yang mengenalnya.


"Kalian mengerjai ku!"


"Senjata makan tuan!" gerutu Zara dan Aksara.


Lalu hanya dalam sekali membalikkan badannya, mereka sudah sampai pada sisi lembah abu-abu yang dikelilingi oleh air danau sepanjang daratannya.


"Sudah meluap sampai sedalam ini..." gumam Laras.


"Kita harus menemukan pintu batu itu!"


Eren langsung berubah ke sosok lainnya sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya. Aksara dan Zara dengan sayap mereka masing-masing. Sayap yang berupa kepulan asap berwarna hitam pekat. Lalu Laras yang berwujud sebagai sesosok wujud bayangan hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya.


"Aku tidak tahu ini dirimu!" sapa Aksara begitu mengenali sosok bayang hitam dihadapannya.


"Dimana suaramu waktu itu?" tanya suara parau Eren disamping sosok Laras sebagai sesosok bayang hitam bermata biru dengan kilatan petir ungu pada sekujur tubuhnya.


"Itu pintunya?!" Zara menunjuk pada pintu batu dihadapannya. Ada dua pintu batu. Yang satu masih melayang pada posisinya, namun pintu yang satu sudah tertanam pada bagian tebing lebih yang muncul dari belakangnya.


"Bagaimana cara membuka..."


Sebelum Aksara menyelesaikan pertanyaannya, Eren menebar ke tujuh bola api kebiruan dibelakang kepalanya. Membentuk sebuah pola dengan lima bagian bola tersusun ke bawah dan dua sisanya sejajar dengan bola api paling tengah. Membentuk sebuah pola sebuah bangun belah ketupat yang bagian tengahnya menyalurkan kilatan petir ungu yang ditransfer oleh Laras melalui bola api yang menjadi wujud dari bunga es abadi seribu tahun yang didapatkannya bersama sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi dengan lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.


Buku tua bersampul hitam melayang-layang kearah depannya. Masuk kedalam formasi bangun belah ketupat dan terbuka lebar tepat dihalaman tengah. Membangkitkan dua bulu berwarna keemasan yang membentuk sebuah kunci dan membuka segel pintu hanya dengan sekali melintas.


Pintu batu berlumut yang mulai menghitam itu berderit keras. Membuka celah pintu dengan sedikit paksaan sampai akhirnya pintu itu terbuka selebar-lebarnya. Cahaya yang menyilaukan pengelihatan menyeruak dari dalamnya. Membuat sosok Laras mengerutkan keningnya.


"Ada yang tidak benar!!" gumamnya begitu menerobos masuk tanpa memperhatikan sekelilingnya. Sebelum benar-benar ke dalam lembah, rantai yang menyeruak keluar dari balik punggung sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi tanpa lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.


"Perhatikan tindakanmu!" Eren menenangkan Laras yang nampak tidak sabaran dengan keanehan dari balik pintu lembah yang telah berhasil ia buka segelnya.


Cahaya yang menyilaukan berangsur menghilang. Tergantikan dengan jutaan jiwa bermata kelam dengan lendir hijau yang menetes ketika jiwa-jiwa itu tengah melayang dihadapan mereka berempat.


"Apakah ada yang berhasil membuka segelnya!!"

__ADS_1


"Kurasa jawabannya dia."


Eren menuding satu sosok bayang hitam dengan mata berwarna kemerahan. Kilatan petir berwarna hitam kemerahan menyeruak dari sekujur tubuhnya. Sosok bayang hitam itu tak ubahnya bagaimana sosok Laras kini. Hanya dengan warna bola mata dan kilatan petir yang berbeda.


"Kita Lawan?" Aksara dan Zara bersiap melesat memasuki sisi pintu yang telah terbuka.


"Mereka tidak ada habisnya. Semakin kalian berkeinginan, semakin banyak mereka akan muncul!" jelas Laras. "Contohnya dia!" Laras menuding bayang hitam yang menyerupai sosoknya itu. "Dia adalah keinginanku!"


"Lalu bagaimana?" Aksara mulai menurunkan kepak sayapnya.


"Mengembalikan semua air disini kedalam lembah itu..." jawabnya yang benar-benar menampakan wajah polos. Wajah yang seolah-olah berkata bahwa hal yang dikatakannya adalah hal sangat mudah untuk dilakukan.


"Apa kau bercanda?!" Zara nampak merasa konyol mendengar ide Laras tersebut.


"Aku hanya harus mempunyai akses masuk ke dalam sana tanpa kehilangan ketiga benda ini!" Laras memperlihatkan lagi bola api bunga es abadi seribu tahun, buku tua bersampul hitam, dan dua bulu sayap berwarna emas yang sudah dipegangnya.


"Bukankah intinya kami harus melawan mereka!!" jawab Zara lagi.


"Bukan dengan keinginan!" jawab Laras. "Lebih seperti bermain sebentar dengan mereka!"


"Kau kira mereka bisa diajak bermain!"


"Mereka akan menyerap bentuk keinginan sekecil apapun. Dan keinginan itu akan membangkitkan lebih banyak jiwa lainnya yang ada disisi lembah ini."


"Seberapa banyak?!"


"Lebih lama dari usia lembah ini!" jawab Zara atas pertanyaan yang diajukan Aksara.


Sementara Aksara, Laras, dan Zara tengah berbincang ditengah keadaan yang berada diluar kendali, Eren sudah melayangkan 7 rantai besi dari balik punggungnya. Membuat semua jiwa bermata kelam didalamnya menggeliat dengan tidak menentu untuk menghindari serangan itu.


"Bagaimana bisa kau melakukannya??!" Aksara melayang disamping atas sosok lain Eren sebagai penjaga tertinggi tanpa lingkaran 7 bola api kebiruan di belakang kepalanya.


"Dengan tidak berkeinginan!" jawabnya dingin.


Zara tersenyum simpul. Mengerti akan gerakan yang dilakukan Eren. Sementara Aksara yang tidak tahu bagaimana menyerang tanpa berkeinginan mengikuti arah Zara melaju. Mengikuti setiap gerakan Zara yang memecah kumpulan jiwa bermata kelam dihadapannya.


Sosok Laras bersiap menerjang. Menemukan satu titik tempat yang menjadi tujuan utamanya untuk mengembalikan keadaan lembah danau pelangi.


Sosok Laras melesat tanpa menghiraukan bagaimana Eren, Aksara, dan Zara menghadapi jutaan jiwa bermata kelam yang terus menggeliat dan memberikan serangan paa ketiganya. Laras lebih dari percaya kepada tiga mahkluk yang selalu bersamanya selama ini. Terlebih pada sosok Eren yang selalu harus kehilangan banyak hal untuk bisa menyelamatkan hal apapun yang di jaganya.


"Terima kasih." bisik Laras setelah menghilang dibalik gumpalan jiwa bermata kelam yang bertambah banyak setiap kali satu serangan dilancarkan oleh ketiga mahkluk yang masuk kedalam lembah dibalik pintu batu itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2