Abu-Abu

Abu-Abu
Seribu Kisah: Pengganti


__ADS_3

Selama beberapa minggu, sosok Laras bergaun hitam selutut memperhatikan kelakuan gadis yang kini terus menempel pada Eren. Sosoknya nampak tidak suka dan risih dengan apa yang dilakukan gadis itu.


"Apa ada hal lain lagi yang kau alami?"


"Tidak!" jawab gadis itu. "Hanya serangan yang waktu itu saja!"


Senyum simpul terpasang diwajahnya. Lalu kedua tangan itu langsung menggelayut pada lengan Eren.


"Kita makan siang?" tawar Eren membalas pengan tangan itu pada lengannya.


Gadis itu membalas ajakan Eren dan merebahkan kepalanya pada bahu pemuda itu.


"Rasanya kau sedikit berlebihan beberapa minggu ini!"


"Benarkah?" tanyanya tidak peduli. "Apa kau tidak menyukainya?" gadis itu menatap Eren dengan tatapan mata penuh makna. Tatapan yang memang hanya dilihatnya dari seorang Laras.


"Aku hanya merasa terlalu senang dengan itu, Laras." jawabnya kemudian menepuk-nepuk kepala gadis itu dengan santai.


Keduanya melanjutkan jalan mereka menuju kantin sekolah. Dihalaman kampus yang begitu ramai, sosok keduanya menyita perhatian begitu banyak orang. Membuat orang lain tidak bisa untuk tidak mengomentari mereka berdua.


Sakit!!


Dari atas gedung yang mengarah pada bagian halaman, sosok bergaun hitam selutut itu memegangi bagian dadanya yang langsung terasa sakit ketika kembali harus melihat perlakuan tidak biasa Eren pada gadis lain selain pada dirinya sendiri.


"Sejak kapan semuanya menjadi begitu membingungkan!!"


Sosok Laras bergaun hitam selutut langsung menyeruak diantara kerumunan. Mendarat dan langsung mencegat langkah gadis yang dipanggil Laras oleh Eren.


"Aku perlu bicara denganmu!"


Eren dan gadis yang menggelayuti nya mendadak berhenti dengan kemunculan sosok bergaun hitam selutut itu. Sosok itu menampilkan bagaimana Laras dengan rambut panjang berponi yang menutupi keningnya. Sementara sosok yang satunya menampilkan sosok Laras yang sudah dikenali seluruh isi kampus. Sosok Laras dengan rambut pendek sebahu dengan belahan rambut tepat dibagian tengahnya.


Dua wajah dengan gaya rambut dan style yang berbeda. Yang satu nampak feminim dengan balutan dress berwarna pastel dipadupadankan dengan tas berwarna putih dengan sepatu kets berwarna baby pink. Sementara sosok yang satunya mengenakan dress hitam terbungkus kain tile berwarna hitam keabuan yang sedikit lebih panjang dibawah lutut. Sepatu kets berwarna putih gradasi abu. Dan tanpa tentengan tas apapun.


"Apa tidak cukup bagimu mengambil wajah dan wujudnya?!" ucap dingin Eren. "Kehadiranmu benar-benar mengganggu disini!" Ujar Eren yang berdiri disamping sosok Laras berambut pendek.


Mengenakan baju kemeja hitam yang dibiarkannya terbuka dibagian depanmya. Di dalamnya terdapat kaos berwarna putih dengan warna celana senada dengan warna sepatu putih keabuan.

__ADS_1


"Aku tidak perlu mengambil wajah orang lain hanya untuk menganggu pengelihatan mu!"


"Kalau tidak ingin mengambil wajahnya, lalu mau apa lagi kau kesini?!"


"Tolong hentikan ini!" Laras berambut pendek menengahi keduanya yang saling menatap dengan menyelidik. "Aku tahu kau tidak puas karena tidak mendapatkan yang kamu inginkan, tapi aku tidak bisa memberikannya padamu!"


"Memangnya apa yang aku inginkan darimu?!"


Sosok Laras berambut panjang bertanya dengan mengabaikan keberadaan Eren diantara keduanya.


Sosok Laras berambut pendek segera menepikan dirinya. Melangkah kesamping kiri Eren, lalu menggandeng tangan pemuda itu dengan perlahan.


"Aku tidak bisa menyerah terhadapnya!"


Senyum itu terlihat begitu janggal dihadapan sosok Laras berambut panjang. Ada dua wajah yang tersenyum pada wajah itu. Senyum dari pantulan wajahnya sendiri, dan satu lagi senyum yang penuh keegoisan dari gadis yang selama ini ia lihat pada sosok dihadapannya itu.


Melihat hal yang dilihatnya untuk pertama kali, sosok Laras berambut panjang tanpa pikir panjang langsung mencengkram sosok gadis yang masih melingkarkan kedua tangannya pada lengan Eren.


"Siapa kau sebenarnya?!"


Eren menahan erat tangan sosok Laras berambut panjang sehingga tangan itu sedikit melonggarkan cengkraman tangannya pada gadis yang kini merasa tercekik oleh tindakannya.


"Maaf aku terlambat!"


Ditengah ketegangan yang terjadi, sosok Aksara menyeruak diantara kedua pihak. Dia menyapa Eren dan sosok disamping Eren dengan santai. Sejenak dia melirik kearah Laras berambut panjang yang kini posisinya berada disebelahnya.


"Apa-apaan kalian ini!"


Aksara tersenyum ramah dibalik kacamata tipisnya. Senyum bak pangeran dengan sifat yang penuh welas asih dan pembawaan yang santai dan tenang. Dia melepas tangan Eren dari tangan sosok Laras berambut panjang. Pun dia melepas cengkraman tangan gadis itu pada sosok Laras satunya.


"Sebaiknya jangan terlalu menjadi tontonan orang-orang! Kalian menebar hawa menakutkan dari kejauhan!"


Lalu sembari menebar senyum kikuk kepada khalayak ramai, dia berhasil menghentikan sesuatu yang membangkitkan hawa kelam yang menyeruak dari masing-masih sosok dihadapannya.


Laras berambut panjang dengan hawa gelap dan kilatan petir yang nampak familiar di ingatannya. Eren dengan hawa bayangan sosok penjaga tertinggi dengan api kebiruannya. Dan Laras berambut pendek dengan cahaya hitam pekat dengan aura hitam kehijauan yang mengingatkan Aksara pada jiwa-jiwa kelam penghuni lembah buangan.


"Sebaiknya jangan tunjukan lagi wajah itu dihadapan ku!"

__ADS_1


Eren berkata tegas. Ada kekesalan dan kebencian dari tatapannya pada sosok Laras berambut panjang yang kini terpaku dihadapannya.


"Urusan kita belum selesai!"


Tidak mengindahkan ucapan Eren, sosok Laras berambut panjang lalu berbalik dan menghilang meninggalkan tempat itu hanya dalam tiga langkah. Sosok itu menyisakan kepulan asap berwarna hitam keunguan yang menguap ke udara.


Aksara memperhatikan.


Eren menatap jengkel dengan keangkuhan yang ditunjukan gadis yang baginya begitu mengancam keselamatan satu-satunya penjaga lembah abu-abu selain dirinya. Dia menatap gadis yang kini melepaskan pegangan tangannya pada lengan pemuda itu.


"Maaf! Aku hanya tidak ingin dia bersikeras mengambil mu dariku!" ucap Laras berambut pendek itu sembari menunduk.


Ada aura yang sama seperti aura yang diperlihatkan Laras ketika berada pada jalanan setapak batu bata merah. Tapi itu merupakan bayangan kegelapan. Bayangan gelap yang didapatnya dari lembah kesengsaraan. Dan bayangan itu tidak akan pernah bisa mengembalikan sosoknya menjadi jiwa murni yang akan membebaskan dirinya dari keterikatan para penghuni lembah abu-abu. Penghuni lembah yang masih tertidur dan bersemayam pada masing-masing batu nisan dibawahnya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai semua sosok itu kembali bangkit satu persatu.


"Aku tahu!" jawab Eren menerawang.


Kembali bayangan lembah abu-abu menyita dalam benaknya. Sudah yang ke sekian kalinya. Eren selalu merasa terpanggil untuk datang ke lembah itu. Namun begitu ia melangkahkan kakinya kedalamnya, lembah itu langsung menguatkan lilitan semak belukar dengan kuncup bunga merah yang menjadi satu-satunya warna terang pada sisi lembah itu.


Seperti kali ini. Walau sedang bersama sang penjaga lembah, Eren merasa terpanggil untuk datang ke sisi lembah. Teriakan jiwa-jiwa yang dulu menghuni lembah itu seakan memanggilnya untuk datang kembali.


Eren menatap gadis dihadapannya sejenak.


"Apa kau tidak mendengarnya?!"


"Mendengar apa?!" wajah gadis itu nampak begitu kebingungan.


"Lembah itu lagi?"


Akhirnya Aksara bersuara setelah diamnya yang cukup lama. Beberapa menit yang lalu Aksara sempat terpikir untuk mengejar sosok Laras berambut panjang untuk mengetahui kemana arah perginya. Namun niat itu dia urungkan karena ingin memastikan sesuatu tentang Laras yang kini tersenyum simpul padanya dengan cara yang tidak biasa.


"Siapa kau sebenarnya?!"


Aksara mencengkram bagian leher dress yang digunakan sosok Laras berambut pendek. Sosok itu kini nampak berang. Matanya menyala merah dan hawa yang keluar dari tubuhnya langsung mengambil alih tubuh itu untuk menghilang dalam sekejap mata.


Eren dan Aksara saling menatap. Sebelum dirinya dan Eren menghilang untuk menyusul sosok yang membawa Laras pergi, Aksara menjentikkan jari. Menghapus ingatan semua orang yang tanpa sengaja melihat semua kejanggalan yang mereka tunjukan di tempat seramai itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2