
Renata disuruh pulang jam 3 sore oleh ayahnya, kemudian dia memilih bermain basket di lapangan dibelakang rumahnya bukan di dalam kompleks perumahan nya.
Meskipun dirinya sering kena cedera namun Renata tak pernah mau berhenti bermain basket selama dia mau.
Mona baru kali melihat putrinya bermain basket di belakang rumah yang dulu Agung siapkan biasanya gadis ini gak mau,maunya main di lapangan di kompleks saja lalu menghampiri putrinya yang asyik bermain basket.
Mona hanya beda 5cm dengan putrinya yaitu 170cm,kalo tinggi badannya Agung 187cm.
"Adek."panggil Mona lembut.
Renata menoleh kearah mamanya lalu melemparkan bolanya ke dalam ring basket.
"Apa Ma."tanya Renata bingung.
"Anak mama ini semakin hari semakin cantik iya, perasaan mama dulu merawat adek dari bayi eh sekarang sudah dewasa,aduh cepat sekali tumbuh kembang si adek,mama boleh minta tolong gak besok temani mama jalan-jalan iya,mau gak adek."ucap Mona lembut lalu menatap wajah dari Renata yang dingin seperti biasanya.
"Iya besok adek temani mama jalan-jalan tapi hanya adek dan mama saja kan bukan sama papa kan."jawab Renata antusias sekali.
Sejujurnya Renata sangat suntuk di kantor sekali-kali lah dia me time gitu.
"Iya hanya kita berdua saja,Kakak dan papamu gak usah ikut ini urusan perempuan dek hehehe."balas Mona lembut dan Renata langsung memeluk ibunya dengan erat.
^^^.......^^^
"Papa."panggil Renata ketika papanya masih sibuk dengan pekerjaan di ruang kerja.
"Hhhmm."jawab Agung hanya berdehem.
"Besok mama ajak adek jalan, boleh tak adek gak masuk kerja besok."ijin Renata berharap papanya kasih ijin ke dia
"Iya besok papa kasih ijin 1 hari iya,iya sudah adek jangan ganggu papa iya."jawab Agung lembut membuat Renata lebih senang lagi.
"Papa terimakasih sudah ijinkan adek jalan-jalan,adek sayang sama papa."balas Renata senang.
Agung hanya tersenyum saja melihat wajah senang dan ceria milik putrinya.
Renata keluar dari ruang kerja papanya namun dirinya di hadang oleh Jonathan.
Dahi Renata mulai keringat karena aura dari Jonathan sangat mengerikan.
"Ada apa dengan adek."tanya Jonathan sangat dingin sekali.
"Adek gak papa kok,adek mau keluar dulu."jawab Renata polos.
"Jangan berkelahi woy disini."kata Agung hanya mengingatkan kepada kedua anaknya agar tidak berkelahi.
Jonathan langsung masuk saja dan memberi tahu ke papanya tadi dia kasih tahu ke mamanya.
"Pa,Tante Irena dan putrinya jahat sama adek,papa tahu kan kaki adek yang keseleo waktu itu bukan karena adek main basket melainkan Irena lah membuat kaki adek keseleo terus Tante Irena juga mendorong tubuhnya adek, menjambak rambutnya adek bahkan juga menghina adek,kalo aku sih biar di hina gak papa tapi kalo adek yang dihina aku tak terima,Pa,papa harus kasih pelajaran dong buat Tante Irena dan Om Patrick."cerita Jonathan secara blak-blakan.
Agung langsung memanggil Renata dan berdiri dari tempat duduk.
"Adek."panggil Agung keras.
__ADS_1
Renata berjalan ke arah ayahnya yang lagi marah,Renata juga takut dengan kemarahan dari ayahnya.
"Betul kah yang ceritakan oleh kakakmu."tanya Agung tak sabaran.
"Iya."jawab Renata takut.
"Sialan,kalo gak ada aku tuh keluarganya sudah bangkrut total tuh, gak tahu berterima kasih jadi orang."umpat Agung dengan geram.
"Besok papa panggil Patrick,sudah kalian berdua pergi dari sini dan jangan ganggu papa."kata Agung sekaligus mengusir kedua anaknya yang ada di dalam ruang kerjanya.
Kedua anaknya keluar dari ruangan kerja ayahnya karena diusir.
..............
Jun tak sengaja melihat ada Renata dan Mona di cafe siang ini,ingin sekali dia mau menyapa gadis itu tapi gak enak ada ibunya.
"Kenapa kamu tidak samperin saja Kak Renata."ucap Arthur juga melihat ada Renata disini.
"Ada ibunya weh."jawab Jun bete.
"Justru kalo ada ibunya kamu bisa akrab sama ibunya,gimana sih eh itu benaran Tante Mona kah."kata Arthur terkejut ketika melihat ada Mona bersama putrinya.
"Itu kan ibunya Renata gimana sih kamu tuh."kata Danny ngegas.
"Oh aku baru tahu jika Tante Mona itu ibunya Kak Renata."jawab Arthur baru tahu.
"Tapi Kak Jonathan sama Renata gak begitu mirip sama Tante Mona hanya hidung dan bibirnya saja yang mirip."kata Jun julidnya.
"Lah mereka kan mirip Pak Agung gila, bapaknya mereka berdua itu."jawab Danny ngegas lagi.
"Habisnya kamu menyebelin sekali."jawab Danny ngegas lagi.
Renata juga tak sengaja melihat ada Danny tapi anehnya dia tak melihat ada Jun dan Arthur disitu.
"Adek lihati siapa."tanya Mona memperhatikan Renata yang sibuk melihat seseorang.
"Adek gak lihat siapa-siapa,Ma."jawab Renata berbohong dan takut jika dia melihat Danny.
"Adek sekarang suka sembunyikan sesuatu iya,tadi malam kakakmu mengadu ke mama soal kaki adek, semestinya adek harus jujur ke mama,papa atau kakakmu, sekarang adek gak boleh bohong lagi iya dan harus jujur ke siapa saja kecuali orang yang adek tak kenal."kata Mona serius dan Renata cuma diam dan tidak membalas apapun.
.....
"Mana adek,Jo."tanya Ezra ketika berkumpul dengan Peter di ruang kerja milik Jonathan di rumahnya.
"Iya nih mana si adek cantik ku ini, kangen aku sama adek."tanya Peter lagi.
"Kalian berdua ini mau ketemu siapa,aku atau adek."tanya Jonathan galak.
"Iya sebenarnya mau ketemu kamu tapi adek juga sih hehehe btw jawab dulu pertanyaan aku heh."jawab Ezra kesal.
"Adek jalan sama mama,aku sebenarnya mau ikut tapi di marahi sama mama bilang nya hanya urus wanita lah"jawab Jonathan dengan tatapan mata yang tajam.
"Oh gitu, btw gue mau kasih tau ke kalian berdua tapi nanti saja lah."kata Ezra serius.
__ADS_1
"Apa itu."tanya Renata dengan antusias dan datang secara tiba-tiba.
"Eh kapan datangnya, Adek."tanya Jonathan terkejut melihat Renata sudah datang bahkan dia sudah memakai baju santai pula.
"2 jam yang lalu,adek pulang terus mama pergi lagi sama papa,entah pergi kemana lah."jawab Renata polos.
"Jo,gue serius ini lebih baik kamu sembunyikan saja adekmu ditempat yang tak bisa jangkau oleh orang lain."kata Ezra lagi serius.
"Maksudnya apa."tanya Jonathan dan Renata barengan.
"Jo,ini serius lo,gue,Ezra dan Sean sudah tahu siapa yang bikin Om Argi dan Kakek kecelakaan,itu orang yang dulu culik adekmu lo,dia itu mau bunuh adekmu masalahnya karena adekmu menolak melakukan hubungan intim waktu itu sampai adekmu trauma banget,dia itu sudah lama incar adekmu karena wajahnya Renata sangat mirip dengan nenek kita,dia dendam sama nenek kita karena nenek menolak pria tua bangka sialan itu dan kamu tahu kah,Renata,kamu lah yang mau dibunuh waktu kamu diculik tapi pria itu bangka itu malah tergiur dengan tubuh kamu."jelas Peter panjang lebar lalu Renata dengan cepatnya air matanya mulai jatuh.
Renata langsung bergegas ke kamarnya entah apa yang dia lakukan sambil menangis.
"Sialan,kenapa pria sialan itu suka banget ganggu keluarga kita."umpat Jonathan marah.
"Karena Pria itu terobsesi dengan nenek kita,Jo, misalnya nenek nikah dengan pria itu iya kita gak ada di dunia terus papi gue,papa,ayah dan Daddy iya juga gak ada di dunia ini,karena pria itu sangat dendam kepada kakek kita sebagai gantinya iya Renata lah menjadi targetnya."kata Peter marah ke pria itu.
Jonathan langsung pergi ke kamarnya Renata dan Ezra dan Peter juga menyusul ke kamarnya Renata.
Renata langsung mengambil pakaian nya terus benda penting yang dia bawa,dia mau pergi yang ketempat jauh sambil menangis lagi.
Kamarnya sekarang berantakan lagi karena Renata menghamburkan barang-barang yang ada di kamarnya.
"Sialan, setan, lihat aku membunuh mu."umpat Renata saat melempar kotak musik hadiah ulangtahun yang ke 17 tahun.
"Salah aku apa sih sampai segitunya."batin Renata marah sambil menangis.
Renata hendak mengambil cutter di atas meja belajarnya namun cutter itu sudah di tangan Jonathan.
"Jangan pernah memakai benda ini lagi,adek., ingat gak adek sampai koma 3 hari gara-gara benda sialan ini terus demam lagi."bentak Jonathan marah.
Renata menatap dingin kepada ketiga pria dewasa tersebut.
"Apa pedulinya kakak ke adek,gak ada kan,lebih baik adek menyusul nenek di surga saja daripada seperti ini lagi,adek gak kuat tahu karena gak ada satupun yang tahu bagaimana rasanya jadi adek seperti apa,menahan rasa sakit dihatinya adek terus perasaan adek juga sakit tahu,kalian jahat tahu,sakit tahu,belum lagi masalah adek dengan Tante Irena dan anaknya terus pria tua sialan itu lagi hiks hiks hiks."kata Renata sedih,galau kesal,marah dan menangis lagi sambil mengeluarkan isi hatinya yang sakit sekali.
"Sudah lah,Dek jangan menangis lagi, keluar saja apa yang adek rasakan di hatinya adek,kita siap dengar kok."bujuk Jonathan lembut dan masih pegang cutter milik Renata.
"Adek mau pergi dari sini sampai pria tua itu gak ada lagi disini,tapi adek gak tahu harus pergi kemana lagi,adek gak ada teman di sana."kata Renata masih bingung bagaimana caranya dia pergi dari sini.
"Gue punya ide,ada satu yang dia tak ketahui oleh pria setan itu yaitu temanmu,si Andin dia gak tahu itu lebih baik kamu temani Andin saja dirumahnya karena orang tuanya Andin lagi di luar negeri selama 7 bulan"ucap Ezra serius.
"Gak usah lebih baik adek tinggal saja di apartemen aku yang di tidak ketahui oleh orang lain termasuk papa dan mama,adek tapi kita diskusikan dulu sama papa dan mama,jangan khawatir dengan kebutuhan adek,nanti aku suruh anak buah aku belikan apa saja yang adek mau,sudah iya jangan menangis aku tak kuat lo lihat adek menangis,aku gak mau melihat adek menangis, maaf kan aku iya dek, benar kata Sean ,aku bukan Kakak yang baik buat adek."kata Jonathan sedih dan menangis lalu memeluk Renata yang masih berdiri disini.
Ezra dan Peter juga tak kuasa menahan air matanya lalu menangis karena penderitaan dari Renata yang menyedihkan itu.
"Kakak adalah kakak yang baik buat adek,kita adalah keluarga."jawab Renata sedih dan masih didalam pelukan Jonathan.
Gantian Ezra dan Peter juga memeluk Renata sambil menangis pula.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁.
Maafkan jika episode ini mengandung bawang.
__ADS_1
Sedih iya dengan kehidupan Renata dan jujur saya mengetik ini sambil menangis.