
Renata mengambil mic yang ada di panggung dengan cara santai nya.
Mic itu sudah menyala tapi dirinya belum siap untuk bernyanyi mungkin dirinya masih gugup.
Suara merdu milik Renata pun mulai bernyanyi.
Judul lagu ini adalah Right Here Waiting milik Richard Marx.
Oceans apart day after day
And I slowly go insane
I hear your voice on the line
But it doesn't stop the pain
If I see you next to never
How can we say forever
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
I took for granted, all the times
That I thought would last somehow
I hear the laughter, I taste the tears
But I can't get near you now
Oh, can't you see it baby
You've got me going crazy
Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
I wonder how we can survive
This romance
But in the end if I'm with you
I'll take the chance
Oh, can't you see it baby
You've got me going crazy
Wherever you go
__ADS_1
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Waiting for you.
Renata gak tahu untuk siapa yang dia nyanyikan yang penting dia bernyanyi saja.
Semua penonton pada tepuk tangan karena suara Renata sangat bagus, biasanya dia tak pernah tampil di atas panggung sebab dia sibuk di lapangan basket karena dirinya adalah seorang kapten basket.
"Tidak disangka mantan kapten basket ini ternyata bakat bernyanyi iya."kata Peter pas melihat Renata turun dari atas panggung.
"Oh itu,adek cuma nyanyinya di toilet doang hehe."jawab Renata polos dan cengengesan.
"Kapten basket."ucap Rani penasaran dan ingin tahu.
"Iya Adek sudah 3 tahun jadi kapten basket, sebenarnya jejak ini berasal dari papaku,papaku dulunya seorang kapten basket waktu sekolah dulu."jawab Renata santai.
"Pantas Om Agung jago banget main basket walaupun usianya sudah 52 tahun."balas Peter baru tahu.
"Iya toh,papaku malah lebih jago dari pada anaknya."kata Renata polos.
"Renata Hadikusuma."panggil Jun pas melihat ada Renata,Rani dan Peter.
"Kenapa, Jun."tanya Renata bingung.
"Oh ini yang namanya Jun iya, pantas Jonathan puji kamu itu ganteng,."tanya Peter pas melihat ada Jun.
"Iya nama saya Jun,Kak Peter Hadikusuma dan Kak Rani Hermawan."jawab Jun sopan dan tidak menyebutkan nama tengah dari Rani.
Renata cuma mengangguk saja dan menyusul Jun ke taman sekolah.
Mereka berdua sudah di taman sekolah lalu Jun membuka suaranya.
"Ren,besok aku balik lagi ke Belanda ,kamu jaga dirimu baik-baik iya."ucap Jun lembut tapi Renata langsung terdiam dan tiba-tiba air matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kesannya mendadak, Jun."tanya Renata bingung.
"Karena aku harus melanjutkan pendidikan ku di sana."jawab Jun masih santai.
Tidak raut wajah bahagia atau senang yang ada raut wajah yang sedih.
Setelah pamit kepada Renata,Jun bergegas pulang ke rumahnya karena tengah malam nanti dia harus check in ke bandara.
Renata masih terdiam kaku di taman sekolah,tanpa sadar David melihat Renata terdiam disitu.
"Bagus saja dia pergi ke Belanda karena aku bebas untuk dekati gadis yang aku sukai."batin David dengan senyum liciknya.
"Kenapa aku harus begini lagi."batin Renata.
🍂🍂🍂.
Keesokan harinya Renata terkejut dengan kehadiran dari Jonathan dan Sean habis pulang dari Malaysia namun Jonathan dan Sean tak melihat Renata di bandara.
Renata terus mencari Jun di bandara namun tidak ketemu sama sekali.
Renata langsung bertanya ke petugas bandara.
"Permisi Mas,ada kah jam penerbangan ke Belanda."tanya Renata serius.
"Ada eneng tapi jam 23.40 tengah malam kalo hari ini iya gak ada jam penerbangan ke Belanda."jawab petugas bandara itu.
Renata langsung lemas tubuhnya karena Jun pergi ke Belanda di jam tengah malam.
__ADS_1
"Jo,itu bukannya Renata iya."tanya Sean tak sengaja melihat ada Renata di bandara.
"Mana weh,adek gue."tanya Jonathan penasaran.
"Itu kali di sana."jawab Sean ngegas.
Jonathan langsung menghampiri Renata dan Sean juga ikut menyusul Jonathan.
"Adek,mau jemput kita kah."ucap Jonathan lembut namun Renata tetap diam dan melamun tentang kepergian Jun ke Belanda.
"Heh jangan melamun jadi bocah nanti kesambar petir loh."ucap Sean sambil bercanda dengan Renata.
Renata langsung sadar dengan lamunannya dan menoleh ke arah Jonathan dan Sean.
"Kaget tuyul."ucap Renata ngegas.
"Tega banget kamu bilang aku ini tuyul,aku ini tampan gila bukan tuyul kali."protes Sean gak terima dirinya dipanggil tuyul oleh Renata.
"Oh maafkan adek."maaf Renata dengan tulus.
"Tapi tampangmu emang kayak tuyul sih hahahaha."ejek Jonathan malah tertawa.
"Gak kakak gak adek sama saja,kalian berdua kayak tuyul juga."ucap Sean ngegas.
"Apa sih adek kaget tahu, makanya adek bilang tuyul."jawab Renata polos.
"Oh itu adek mau jemput kakak hehehe."ucap Renata sekaligus memakai alasan itu agar Jonathan dan Sean tidak curiga ke dirinya.
"Emangnya kamu sudah punya SIM kah,Ren..Bukan gak mau sih tapi kalo ditilang bagaimana neh."tanya Sean tak yakin dengan Renata.
"Punya iya."jawab Renata kesal.
"Coba tunjukkan dompet mu,Ren."ucap Sean tak percaya dengan bocah di hadapannya.
Renata kesal karena harus mengeluarkan dompetnya dari tasnya.
Renata langsung mencari SIM yang ada di dalam dompet. Akhirnya sudah ketemu juga SIM nya.
"Ini SIM adek,puas melihatnya."kata Renata marah sambil menyuruh Sean melihat SIM dari Renata.
"Dasar pemarahan jadi tuyul,lagi datang bulan kah.,Ren."kata Sean kesal.
"Diam,gak usah tahu adek lagi datang bulan atau tidak,bukan urusan situ, cepat bawakan mobil adek sekarang lah."marah Renata lagi.
Ketiga manusia ini langsung pergi ke tempat parkiran di bandara.
"Yang mana mobilnya dek."tanya Jonathan bingung dan tak ketemu mobil yang di pakai oleh Renata.
Renata berhenti di depan mobil Pajero sport hitam.
"Yang ini,Kak."jawab Renata tunjukkan mobil itu.
"Ini kunci mobilnya."kata Renata saat menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Sean tapi Jonathan langsung mengambil kunci mobilnya.
Diperjalanan pulang Renata hanya bisa diam tanpa mengeluarkan kata-kata apapun.
"Dek,kok dari tadi cuma diam saja sih ,ada masalah kah."tanya Sean lembut.
"Tidak."jawab Renata singkat.
"Adek kangen sama nenek saja,Kakak."sambung Renata sedih dan memilih berbohong tapi di benaknya dia emang kangen sama neneknya.
"Oh gitu iya,aku juga kangen sama nenek,kita pergi ke kuburan nenek yuk."ucap Sean.
Jonathan cuma diam saja bukan berarti dia gak mau ke kuburan iya melainkan dia lebih fokus menyetir mobil.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍂🍁🍂🍂🍂🍁
Kemana Jun pergi nya iya.
__ADS_1