Ada Apa

Ada Apa
34


__ADS_3

Sampai dirumah Alan dan Laura tak banyak bicara dan memilih diam satu sama lain.


Renata hanya diam saja dari acara tersebut hingga dirinya di kamar. Dia diam karena takut dirinya di hina oleh semua murid nanti,banyak orang gak suka sama dirinya karena dirinya dikira sombong padahal dirinya sangat kaku,bingung cara menyapa hangat kepada orang lain dan pemalu.


Tiba-tiba air mata jatuh dipipinya sambil menatap fotonya pas lulus SMP bersama Agung dan Mona di bingkai foto,gak tahu kenapa.


"Ada apa ini."batin Renata.


Peter membujuk Rani dan kedua anak itu ke rumah Kakeknya agar menepis kabar burung tersebut.


"Benaran Mas,kita kesana tapi bagaimana jika Orang tuanya mas dan keluarga mas gak suka dengan aku, Rafa dan Gina."tanya Rani masih tak percaya dengan ucapan pria satu ini.


"Kan ada aku,lagian aku yang di marahi nanti."jawab Peter dengan yakin.


"Baik Mas kita bertiga kesana iya."kata Rani sebenarnya tidak yakin sih.


Di rumah sang kakek semuanya disuruh kumpul oleh Peter,ada apa ini nanti tahu kok jawabannya.


Renata sedang duduk sambil menatap wajah kekecewaan dari Alan dan Laura tetapi dirinya hanya bisa diam saja walaupun dirinya masih marah gara-gara liburan sekolahnya di potong.


"Dek,Om minta maaf karena sudah membuat kamu marah gara-gara liburan sekolah kamu, Om akan membelikan mu tiket liburan setelah selesai ujian nanti,mau tidak Renata Hadikusuma."tawar Alan kepada Renata tetapi Renata menolak tawaran tersebut.


"Tidak usah dan terimakasih atas penawarannya buat adek."tolak Renata secara dingin.


Alan dan Laura bingung kenapa Renata sekarang semakin hari semakin dingin bukankah dirinya dulu adalah gadis yang ceria.


Sikap dingin Renata emang berasal dari Agung sendiri sang kakak tercintanya Alan. Tapi lebih dingin Renata daripada Agung sendiri. Kembali ke topik.


"Kok anakmu lama banget iya,macet kah."tanya Aldo sudah bosan daritadi.


"Sabar pang kamu,Do.mungkin macet dijalanan."kata Agung santai saja.


"Ciri-ciri orang gak sabar ini mah."ejek Argi langsung dipukul kepalanya sama Aldo.


"Aduh sakit hiks hiks."aduh Argi kayak anak kecil.


Para anak-anak dan istri hanya diam dan geleng-geleng Kepala karena drama aneh para saudara ini kecuali Renata selalu dingin tanpa batas.


"Gimana nih,Lan. Anak kamu sama wanita itu."tanya Scott tak sabar.


"Gak tahu Pa."kata Alan tak tahu.


"Itu mereka sudah datang."ucap Jonathan dingin.


Pemandangan penghuni rumah ini tertuju kepada Peter dan Rani beserta 2 bocah yang mau berusia 3 tahun nanti.


Alan dan Laura menatap dingin kepada Rani tetapi melihat 2 bocah ini iya gak jadi.


"Cepat katakan kepada kita semuanya sekarang."perintah Scott marah.


"Eh adek tolong bawa 2 anak ini ke belakang sekarang,terserah mau main kah atau apakah."lanjut Scott juga gak mau 2 bocah ini mendengar pembicaraan orang dewasa.


Renata hanya diam dan membawa Rafael dan Regina ke suatu tempat untung saja mereka berdua mau bersama Renata yang mau ke mana lah.


"Bibi kita main yuk."ajak Rafael senang tetapi Renata tetap diam saja.


"Adek jangan bersikap dingin sama anak kecil."tegur Agung gak suka sikap dingin dari putrinya padahal dirinya juga dingin.


"Iya."jawab Renata sangat singkat.


"Anakmu itu sama kayak kamu hehehe sama-sama dingin."ledek Aldo tapi langsung dipukul kepalanya sama Agung.


"Diam kamu,"marah Agung dan Aldo mengelus kepalanya yang sakit dikarenakan kepalanya di pukul oleh Agung.


Renata membawa Rafael dan Regina ke kamarnya karena dirinya mau apalah lah.


"Adek kalo mau tidur disitu saja."kata Renata sambil mengambil camilan di dalam lemari yang dia sembunyikan.


"Bibi mau main."tolak Rafael gak mau tidur.


"Mau main apa dulu."tanya Renata sedikit dingin.


"Main sembunyi-sembunyian."jawab Rafael dan Regina


"Terus siapa yang jaga."tanya Renata serius.


"Bibi Ata."jawab Regina dengan rautnya yang polos.


"Malas."tolak Renata mager banget jadi manusia.


"Kenapa."tanya Rafa dan Gina sedih.


"Bibi sibuk,minta sama Paman Jonathan saja."kata Renata pemalas.


Rafael keluar dari kamar Renata dan mencari Jonathan diruang keluarga. Tapi ada suara teriak dari kamar Renata karena dirinya sangat bodoh sekali jaga anak kecil.


"Rafael sini jangan mengganggu urusan orang dewasa,sini nanti bibi belikan mainan buatmu, cepat kesini."teriak Renata tapi dirinya yang dimarahi oleh Alan dan Agung.


"Kenapa adek lengah sekali jadi orang,ajak dia jalan-jalan sana, Jonathan bawa adek kamu dan keponakanmu jalan-jalan,kemana kah terserah kamu saja lah,yang penting kamu atur saja."kata Agung sambil marahi Renata dan perintahkan Jonathan.


Jonathan hanya patuh kepada Agung sang ayah papa tercintanya sambil menggendong Rafael.

__ADS_1


"Renata,kenapa bisa begini,adek yang disuruh kok adek yang malas."tegur Alan sambil marahi keponakan perempuannya.


"Agung dan Alan, bisakah jangan marah marah didepan anak kecil, ini juga si adek malah lalai jaga 2 anak kecil lagi."tegur Scott kepada Agung ,Alan dan Renata.


Renata keluar dan turun dari tangga sambil berlari tetapi dirinya menabrak Jonathan yang sedang menggendong Rafael.


"Adek sih bandel banget jadi bocah, untung kepala adek gak bocor kalo gak iya otak adek yang keluar."marah Jonathan kepada adeknya.


"Kak Jo,galak."ejek Renata tapi kepalanya langsung di jitak sama Jonathan.


"Aduh kepala adek sakit hiks hiks hiks."aduh Renata pakai tangisan dramatis pula.


"Adek gak usah pakai drama deh, cepat siap-siap sekarang."perintah Jonathan galak banget.


Renata balik lagi deh ke kamarnya karena mau siap-siap jalan,mau jalan kemana iya.


Di rumah mewah ini Manuel sedang membaca artikel tentang batalnya acara pertunangan dari Keluarga Hadikusuma dan Hanendra.


Manuel hanya diam karena itu bukan urusannya lagi meskipun dirinya pernah menjadi besannya Keluarga Hadikusuma.


Rasa hatinya sakit karena putri semata wayangnya meninggal dunia gara-gara kejadian yang mengerikan.


Mira juga membaca artikel itu tetapi dirinya tak bisa berkomentar apa-apa.


"Sayang,Jonathan Hadikusuma itu belum menikah lagi kah."tanya Mira kepada sang suami.


"Belum sampai sekarang, sayang."jawab Manuel malas.


"Kalo adeknya si Renata Hadikusuma."tanya Mira karena sudah lama dia tak ada kabar dari 2 saudara itu.


"Renata itu sudah kelas 3 SMA, cepat sekali iya tumbuh menjadi remaja yang cantik."jawab Manuel santai.


"Tetapi dirinya tetap menjadi gadis yang dingin dan selalu menunjukkan wajah yang datar."lanjut Manuel.


"Dia dingin karena apa."tanya Mira kepo lagi.


"Aku tak tahu sayang,hanya dia saja yang tahu."kata Manuel malas lagi.


Kembali lagi ke Keluarga Hadikusuma.


"Kak Jo,ayo adek sudah siap."kata Renata sudah siap sambil bergandengan tangan dari Regina.


"Ayo cepat pang adek,kayak keong sawah saja."ucap Jonathan sambil bermain ponselnya.


"Kami berdua pergi dulu."pamit Jonathan pada semua penghuni rumah ini.


"Hati-hati dijalan,adek jangan nakal iya nurut sama kakakmu."ucap Mona.


"Iya ma."jawab Renata singkat.


"Kenapa kamu bisa menghamili wanita itu hingga mempunyai 2 orang anak."tanya Scott marah dan kecewa lagi.


Peter menceritakan semuanya apa yang dia lakukan sekitar 3,5 tahun itu pun membuat semuanya kaget dan kecewa terutama Alan dan Laura.


"Sebenarnya mami gak setujui hubungan kalian karena mami gak kenal kamu tapi ini juga salah mami karena terlalu mengabaikan anak mami sendiri,apa boleh buat,nasi sudah menjadi bubur,mau tak mau kalian halalkan saja hubungan kalian agar kedua anak itu ada status resminya."ucap Laura kecewa sekali.


"Kalian berdua urus saja pernikahan kalian berdua,tapi syaratnya papi mau mereka berdua menginap dirumah papi dan mami, sekarang."kata Alan serius.


Keduanya saling bertatapan tetapi Rani belum terbiasa meninggalkan kedua anaknya, lagipula Alan dan Laura itu adalah kakek neneknya mereka berdua.


Beda lagi sama Renata dan Jonathan.


"Kak Jo, serius ajak mereka berdua kesini."kata Renata heran melihat tempat asing bagi dirinya.


"Makanya jangan makan terus kerjaannya,"sindir Jonathan sambil melepaskan sabuk pengaman.


Tempat yang dimaksud itu adalah kampung warna warni, makanya Renata gak tahu sama sekali.


"Cepat lepas sabuk pengaman nya dan turun dari mobil."perintah Jonathan galak banget.


Beberapa hari yang lalu Jonathan pernah mengajak 2 bocah itu bersama Peter sebelum acara pertunangan itu dimulai.


"Kak Jo, nanti orang bilang kita in......"ucap Renata tetapi Jonathan memotong ucapan dari Renata.


"Gak usah dipikirkan emangnya Rafael dan Regina itu mirip dengan kita berdua?gak kan."kata Jonathan serius.


"Gak Kak Jo tapi nanti kalo adek lapar belikan iya makanan hehehe."ujar Renata dengan wajahnya yang senang.


"Makan saja terus yang adek pikirkan,pikirkan pelajaran di sekolah mu agar bisa mendapatkan nilai yang baik, jangan kayak kakakmu ini yang kerjaannya bolos mulu disekolah."kata Jonathan galak dan menatap wajahnya Renata yang menahan kecewa.


"Kalo gak makan iya mati lah,"sindir Renata membuat Jonathan terbatuk-batuk.


Rafael dan Regina bingung dengan pembicaraan ala kakak beradik yang beda usianya 8 tahun ini.


"Paman,adek haus."kata Regina sambil menarik sedikit bajunya Jonathan.


"Heh adek tolong belikan minuman keponakan mu ini, cepat."perintah Jonathan sambil memberikan uang kepada Renata.


"Iya."jawab Renata dan turun dari mobil.


Renata berjalan ke minimarket dekat lokasi tersebut dengan raut wajahnya yang dingin tapi cantik.

__ADS_1


Tanpa sengaja Renata melihat wanita yang dia curiga selama 7 bulan belakangan ini entah kenapa dirinya sangat curiga dengan wanita yang berusia 25an seperti usia Jonathan


"Sebenarnya dia ini siapa, kenapa aku selalu curiga dengan nya apa dia ada hubungannya dengan ayah aku atau om aku."batin Renata.


Wanita itu tak menyadari bahwa dirinya dilihati oleh Renata dan berjalan angkuh sambil membawa barang barang yang mahal.


Renata melangkah kakinya dengan agar dirinya gak dimarahi oleh kakaknya karena lama membeli minuman.


Setelah membeli minuman akhirnya Renata kembali ke dalam mobil karena di luar cuacanya panas sekali.


"Dek,ini."kata Renata menyodorkan minuman buat Regina.


Regina mengungkapkan terimakasih kepada Jonathan dan Renata,dia segera minuman ke dalam tenggorokan.


Jonathan menatap wanita angkuh itu lagi di kaca mobil sama seperti adeknya,dia sangat curiga dengan wanita itu tapi dirinya hanya malas menyelidiki siapa wanita itu.


"Dia ini siapa sih sebenarnya,angkuh banget jadi manusia,cantik gak jelek iya, sombong lagi."batin Jonathan.


"Kenapa ada dia lagi sih,kesal dah."batin Renata juga melihat wanita super angkuh itu.


"Kak Jo."panggil Renata sambil memukul lengan kekarnya Jonathan.


"Apa."tanya Jonathan menatap wajah adeknya.


"Ayo kita jalan-jalan."pinta Renata.


"Iya."jawab Jonathan seadanya.


Semuanya pada turun dari mobil,Renata sudah pasti senang sekali melebihi 2 bocah itu padahal usianya 17 tahun.


🍁\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=🍁


"Sekarang kamu harus panggil mami iya bukan Tante,karena aku bukan tantemu."kata Laura lembut kepada Rani.


"Baik tan eh mami maksudnya saya tadi."jawab Rani hampir keceplosan.


"Kamu juga harus panggil papi iya sekarang."kata Alan kepada Rani.


Rani hanya mengangguk sambil menatap wajahnya Peter dan Laura.


"Kak Agung dan Kak Mona."panggil Argi dan Aldo.


"Apa Gi dan Do."tanya Agung sedang bermanja ria dengan Mona.


Mona risih dengan Agung yang bertingkah kayak anak ABG yang sedang berpacaran,Agung emang gak mau kalah gaya mudanya dengan kedua anaknya.


"Sudah pang jangan bermesraan disini, bermesraan sana di kamar sampai Renata punya adik hehehehe."kata Aldo ngegas tapi Agung langsung menjitak kepalanya Aldo karena menyinggung perasaannya Argi.


"Sudah jangan bikin Argi tersinggung karena perkataan mu,Aldo Hadikusuma."ucap Agung sambil berkacak pinggangnya.


"Aku tidak menyinggung perasaannya Argi iya,Kak Agung kali yang mesum hahahaha."sindir Aldo sambil ketawa.


Argi tidak tersinggung dengan perkataan dari Aldi tetapi dirinya juga tertawa ngakak gara gara Agung.


"Oh iya Kak Agung kan orangnya mesum iya kan,Kak Mona."kata Argi ikut juga menyindir Agung.


Mona juga tertawa gara-gara sindiran dari 2 adek iparnya tapi ada benarnya juga karena Agung emang pria mesum tanpa batas,dia ingat sekali waktu itu pas awal pacaran Agung nekat berciuman dengan dirinya pas didepan pintu rumah Scott dan Azura sampai Agung di ceramahi oleh Azura habis-habisan.


"Heh aku mesum sama istriku sendiri iya bukan sama orang lain."ucap Agung membela dirinya dan ngegas.


Alan tak sengaja mendengar percakapan aneh dari Agung,Aldo dan Argi tetapi dirinya langsung pergi begitu saja,hal ini membuat Agung,Mona,Aldo dan Argi dengan perginya Alan.


"Kak Agung kenapa bicaranya seperti ini sih."batin Alan.


"Kak Alan kenapa iya."tanya Aldo bingung.


"Mana gue tahu."jawab Agung juga bingung.


"Baperan tuh orang."sahut Argi bodoh amatan.


"Eh mana Jonathan dan Renata,kok belum pulang sih anakmu itu, Kak Agung dan Kak Mona"tanya Aldo ngegas.


"Kan masih jalan lah,kenapa sih Kak Aldo ini."jawab Argi bukan Agung dan Mona.


"Mereka berdua masih jalan biar si Jonathan kagak stres karena gila kerja mulu."balas Mona kagak santainya dia.


"Iya kan Jonathan menurunkan ke Kak Agung hehehe."kata Argi tapi kepalanya di jitak oleh Agung.


"Daritadi kalian berdua ini ganggu saja orang lagi pacaran."ucap Agung kesal.


"Kita pergi dulu,ayo Kak Aldo daripada kita ganggu orang yang gak mau kalah dengan usia anaknya."kata Argi santai.


"Ayo kita pergi,cus."jawab Aldo.


Aldo dan Argi pergi meninggalkan Agung dan Mona yang asyik berduaan di ruangan keluarga.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Maaf aku muncul karena mau update tapi capek seharian.


Siapa wanita itu iya,apa dia ada hubungannya dengan Agung,Alan,Aldo atau Argi.

__ADS_1


Btw kenapa Alan kayak tersinggung dengan ucapan dari Agung iya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2