
David dan John diam-diam membeli donat dari uang yang di kasih oleh Jonathan.
Sean dan Bobby berinisiatif untuk membeli donat buat John dan David malah mereka berdua bertemu dengan David dan John.
"Kak Sean dan Kak Bobby."sapa John senang.
Sean dan Bobby melihat ada 2 saudara laki-laki dan bertanya.
"Loh kalian berdua kok bisa ada disini sih."tanya Sean lembut si pria banyak tato di sekujur tubuhnya.
"Iya kami berdua ingin beli donat hehehe."jawab David dengan gemas dan cengengesan.
"Padahal aku belikan kalian berdua donat loh."ucap Bobby santai.
"Tadi Kak Jonathan kasih kita uang makanya kami berdua beli donat hehehe."kata John polos.
Sean dan Bobby dahinya mengernyit dengan heran bagaimana bisa Jonathan kasih uang buat 2 saudara laki-laki yang polos.
"Emangnya kalian berdua ketemu Jonathan dimana."tanya Sean serius.
"Tadi papi suruh kami berdua ke kantornya untuk antar proposal lalu 20 menit kami harus menunggu Kak Jonathan datang,tak lama Kak Jonathan datang bersama adeknya,disitu kami kasih proposal ke Kak Jonathan lalu kami disuruh pulang dan Kak Jonathan kasih kami uang buat beli donat hehehe."jelas David saat dirinya di kasih uang sama Jonathan.
"Jonathan itu orangnya pelit tahu kalo sama kita beda lagi sama adeknya."kata Sean santai.
"Kan Kak Jonathan sayang sama adeknya,gimana sih Kak Sean Hadikusuma."ucap John sangat polos sambil mengejek Sean.
"Tapi aku juga adeknya lah."ujar Sean bete.
"Lebih tepatnya kau itu adek sepupunya bukan adek kandungnya hehehe."ledek Bobby kepada Sean membuat David dan John tertawa.
"Tapi gue dan Jonathan itu juga sepupu kandungnya wlek."ucap Sean lagi bete dan menjulurkan lidahnya ke Bobby.
Agung sedang tertidur pulas di kamarnya sedangkan Mona lagi asyik bermain dengan Otte diruang keluarga.
Namun tiba-tiba Agung terbangun dari tidurnya dan mimpi sesuatu yang gak jelas tapi ini terasa jika keluarganya terancam.
"Mimpi apa gue, Papa gue harus gue selamatkan."batin Agung mengelus dadanya.
Agung bangkit dari tempat tidurnya dan memilih mandi.
Renata sedang menaruh proposal milik David yang sudah dia baiki tetapi Renata takut dengan kakaknya lagi diam dan fokus ke layar laptop.
"Kenapa adek berdiri disitu kayak orang bingung."tegur Jonathan dengan suara tegas dan dingin.
Namun lidah Renata tak mampu berbicara karena lagi-lagi dirinya takut dan tangannya gemetar hebat.
Renata tetap berdiri disitu hingga kakinya kesemutan.
"Berapa lama adek berdiri disitu."ucap Jonathan lagi-lagi dengan suara dingin.
Kesal karena Renata tidak menjawab, Jonathan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat adeknya berdiri.
"Kenapa adek seperti orang bisu,bisa jawab gak sih jadi bocah labil."ucap Jonathan dingin.
"Kak Jo,adek minta maaf karena adek tadi bawel dan ini proposalnya adek sudah baiki."kata Renata dengan suara sangat pelan tetapi telinga Jonathan bisa mendengar suara pelan dari adeknya.
"Adek habis menangis kah."tebak Jonathan tahu jika adeknya sedang menangis alih-alih dia membaca proposal milik David di atas meja kerja.
"Iya."jawab Renata dengan suara pelan.
"Kenapa adek ini sangat cengeng sekali."sindir Jonathan tanpa melihat Renata disini.
"Kak Jo pemarahan."jawab Renata dengan polosnya.
Dengar jawaban polos dari adeknya, Jonathan langsung memeluk adeknya dengan erat tanpa peduli itu badan adeknya masih merah-merah karena alergi.
Proposal tadi sudah itu di taroh di atas meja sebelum Jonathan memeluknya.
"Kenapa badanmu malah tambah kurus dek."tanya Jonathan dengan mulut julidnya.
"Adek gak tahu."jawab Renata emang gak tahu.
"Adekku yang cantik dan imut,maafkan aku karena sudah membentak keras kepadamu,aku gak ada niatan untuk itu,aku tahu adek iri kan dengan David dan adeknya tapi aku juga tahu jika adek sedang menangis."ucap Jonathan sedih dan mempererat pelukannya.
Jonathan takut dengan kejadian 2 tahun yang lalu karena dia mengabaikan adeknya gara-gara adeknya bawel dan cerewet doang.
"Kak Jo ada perasaan aneh gak sama Kakek."tanya Renata serius.
"Gak ada emangnya kenapa."tanya Jonathan dan tidak menjawab pertanyaan dari Renata.
"Adek kangen sama Kakek."jawab Renata sedih.
"Nanti kita ke rumah kakek iya."balas Jonathan lembut.
"Kapan"tanya Renata tak sabaran.
"Pas pulangan nanti."jawab Jonathan santai.
__ADS_1
"Janji iya Kak Jo."balas Renata senang.
"Iya adekku yang cantik dan imut."kata Jonathan sambil mencubit pipi Renata.
Tinggi badan Renata tidak jauh beda dengan tinggi badan Jonathan cuma sehidungnya Jonathan tingginya.
"Adek terima maafnya Kak Jo,adek sebenarnya hanya iri dengan David dan adeknya,masa sama adek kandungnya sendiri di bentaki sedangkan David sama adeknya gak."ucap Renata sedih dan menohok.
Jonathan merasa dirinya menohok karena ucapan dari adeknya sendiri.
Jangankan sama David dan John,dulu Renata pernah iri dengan Ezra, Sean dan Peter waktu dirinya masih kecil karena dirinya gak diajak main dan ujungnya malah menangis.
Agung sudah bersiap siap ke rumah papanya,Mona yang melihat suaminya ini yang berpakaian rapi dan langsung bertanya.
"Sayang mau kemana."tanya Mona masih asyik bermain dengan Otte dan Lily(anjing peliharaannya Jonathan).
"Aku mau ke rumah papa dulu sayang,sudah lama aku tak kesana."jawab Agung lembut.
"Hati-hati dijalan sayang."balas Mona santai.
Agung mengambil kunci mobilnya dan bergegas ke garasi mobil. Kali ini dia menyetir sendiri.
"David dan John kalian sudah kasih proposal ke Jonathan Hadikusuma."tanya Patrick serius ke putranya.
"Sudah Papi."jawab David santai.
"Ingat iya kalo Jonathan kasih imbalan jangan diterima,papi gak enak sama keluarganya apalagi Pak Agung orang yang berjasa ketika keluarga kita hampir bangkrut."ucap Patrick lebih serius dan tegas.
David dan John tak memberitahu ke Patrick soal imbalan tadi, soalnya Jonathan menyuruh mereka berdua untuk tutup mulut.
"Iya Pi."jawab David dan John bersamaan.
"Ok bagus,kalian berdua masuk ke kamar kalian masing-masing."balas Patrick sibuk dengan korannya.
Tak hanya Jonathan saja yang menyuruh jangan memberitahu tentang imbalan,Sean juga selalu bilang jangan beritahu ke Patrick dan David sama John merahasiakan sedalam-dalamnya.
Odelia dan Kanaya sedang membersihkan rumahnya dan ada suara ketukan pintu dari luar.
Pas Odelia membuka pintunya ternyata yang datang adalah Ezra dan Peter.
"Kak Ezra mau ngapain kesini."tanya Odelia kaget dan gemetar di tubuhnya.
Bagaimana tidak Ezra dan Peter berasal dari keluarga yang terpandang dan keluarga paling kaya se-Asia sedangkan dirinya hanya berasal keluarga biasa dan sederhana.
Odelia tahunya Ezra, Jonathan dan Renata saja dan dia gak tahu siapa pria di sampingnya Ezra.
"Maaf aku sibuk bersihkan rumah dan lebih baik Kak Ezra dan Kakak itu pulang saja,gak enak sama orang yang lewat."ucap Odelia takut.
"Kenapa kamu usir kita."tanya Peter bingung dengan Odelia.
"Disini penghuninya cuma anak gadis saja dan gak baik jika ada pria dewasa datang ke rumah seorang gadis."alasan Odelia karena dia takut jika Ezra atau Peter tak nyaman dengan rumah bibinya kecil dan sempit.
"Kita gak apa-apakan kamu kok, soalnya Ayah dan Bunda membawakan makanan buat kalian berdua."kata Ezra sambil membawa makanan buat 2 saudara perempuan itu.
Sudah kali 2 kali Ezra kesini tapi dirinya malah santai saja dan gak masalah dengan bentuk rumah itu.
"Aku dan adekku sudah makan."tolak Odelia halus.
"Ambil saja itu makanan buat kalian berdua,ayah dan bunda ikhlas kok bagi makanan buat kalian dan aku juga ikhlas kasih makanan buat kalian."ucap Ezra tulus.
"Adek sini."panggil Odelia.
Kanaya datang dari dapur dan melihat ada seorang pria disampingnya Ezra,dia jauh lebih ganteng pokoknya dan dia tahu siapa orang itu.
"Ganteng banget kakak itu,kenapa iya cucu dari keluarga Hadikusuma rata-rata pada ganteng semuanya."batin Kanaya melongo melihat Peter.
"Dek tolong bawakan makanan ini ke dapur."perintah Odelia serius.
Kanaya mengambil bungkusan makanan dan membawanya ke dapur.
"Terimakasih Kak Ezra dan maaf aku gak tahu siapa nama cowok di sampingnya Kak Ezra."ucap Odelia.
"Oh ini adek sepupu ku, namanya Peter Hadikusuma."kata Ezra.
"Emang berapa sih sepupunya Kak Ezra,yang aku tahu itu cuma Kak Jonathan sama Renata."tanya Odelia polos.
"Kamu kenal Jonathan dan Renata kah."tanya Peter kaget.
"Iya,soalnya aku 1 kelas dengan Renata, makanya aku kenal Renata dan Jonathan."jawab Odelia polos.
"Wow di sangka dirimu berteman juga dengan gadis dingin plus polos itu alias Renata Hadikusuma."jawab Peter senang dan bangga.
"Tapi aku senang kau jadi temannya soalnya Renata itu orangnya pendiam dan susah bergaul dengan siapapun karena banyak orang yang gak tulus dengan nya."lanjut Peter senang.
"Nama kamu siapa."tanya Peter penasaran.
"Namaku Odelia Pradana."jawab Odelia.
__ADS_1
"Oh gitu,cara ngomong mu kok ngegas banget apa kamu bukan orang sini."tanya Peter.
"Bukan,aku berasal dari Kota Palembang."jawab Odelia.
"Orang tuamu dimana,Odelia."tanya Peter bertanya mulu.
"Orang tuaku sudah meninggal dunia karena kecelakaan sejak 7 bulan yang lalu,disini aku tinggal sama bibiku tapi bibiku kerja sebagai pembantu dirumahnya menteri, bibiku hanya 2 kali kesini selama 1 bulan saja."jawab Odelia membuat Peter kaget dan sedih.
"Maaf aku bertanya terus kepadamu dan ini imbalan buat mu dan adekmu,anggap saja itu uang jajan sekolah mu dan adekmu."ucap Peter saat memberikan uang kepada Odelia namun Odelia menolak karena dirinya tak butuh.
"Maaf Kak,aku tak bisa terima ini."tolak Odelia halus.
"Kenapa."tanya Ezra dan Peter.
"Aku gak bisa Kak,aku gak mau di cap kasihani dulu Kak Jonathan pernah kasih beginian ke aku tapi aku gak enak dengan Kak Jonathan tapi Kak Jonathan memaksa untuk terima imbalan itu kalo gak aku gak bolehin berteman dengan adeknya,mau tak mau aku harus terima imbalan itu, katanya itu tanda aku sudah membuat adeknya memiliki teman lagi."cerita Odelia sambil menangis.
Ezra dan Peter tiba-tiba terharu dan menangis.
"Ini gak ada penolakan,aku ikhlas kok kasihnya."ucap Peter tetap memberikan imbalan buat Odelia.
Mau tak mau Odelia menerima imbalan dari Peter sejujurnya dia gak enak dengan cucu dari Keluarga Hadikusuma.
"Terimakasih Kak Peter dan Kak Ezra."jawab Odelia tulus.
"Sama-sama,kami berdua mau pamit dulu,nanti bunda aku mau kesini,entah mau ngapain aku juga gak tahu."balas Ezra.
Ezra dan Peter meninggalkan halaman rumah bibi dari Odelia dan Kanaya sedangkan Odelia mengunci pintunya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Kak Jo,ada wanita yang cari Kak Jo,adek gak tahu siapa namanya."kata Renata tak tahu siapa nama wanita yang cari Jonathan.
"Pasti orang gila itu lagi."batin Jonathan kesal.
"Ciri-cirinya apa."tanya Jonathan serius.
"Mukanya seperti cabe-cabean,make up dia menor sekali kayak badut,muka dan leher sangat kontras sekali masa mukanya putih tapi lehernya hitam, pakaiannya kurang bahan, rambutnya cetar membahana kayak angin sepoi-sepoi,giginya berbehel, terus apa iya jadi susah menyebutkan nama itu,anu itu nya besar kayak bola basket punya adek dirumah dan mukanya itu kelihatan tua banget kebanyakan makeup."ucap Renata sambil tertawa ngakak membayangkan penampilan wanita itu. (Sumpah saya mengetik ini saja ketawa gara-gara Renata).
"Hai Ganteng ku."sapa cabe cabean itu padahal Jonathan gak kenal sama wanita itu.
Jonathan mendadak tertawa gara-gara penampilan dari wanita itu,pantas saja adek ketawa sendiri ternyata gara-gara toh.
Wanita itu kesal karena Jonathan tak menyambutnya malah di ketawakan.
"Sumpah kamu kayak badut dijalanan."ejek Jonathan membuat hati wanita itu sakit.
Jonathan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke wanita itu mau ngapain itu orang.
Wanita itu pasti senang dong karena di Jonathan menghampirinya. Renata bingung kenapa kakaknya malah menghampiri wanita itu.
"Kita gak saling kenal dan buat apa anda kesini."ucap Jonathan sangat dingin dan tegas.
"Di luar sana banyak pria yang kamu pakai kenapa harus aku yang jadi mangsamu, lihat penampilan kamu saja bikin aku sakit mata apalagi orang lain yang melihatnya."sindir Jonathan benar' dingin dan marah.
Wanita itu sangat menohok dengan kenyataan yang ada maksudnya dirinya menanggung malu di hadapan pria dingin dan tegas ini.
"Aku baik'saja jika aku sendiri,karena aku sudah mempunyai seorang istri dan anak dirumah jadi jangan berani menggoda dirinya."kata Jonathan membuat hati wanita itu sakit karena pria yang dia godai itu sudah mempunyai istri pula.
Kenyataanya Jonathan seorang duda tanpa anak, wanita itu pergi meninggalkan Jonathan dan Renata ,gak mau lagi berurusan dengan pria itu.
"Kak Jo gak papa kan."tanya Renata takut kakaknya di goda sama wanita itu.
"Aku gak papa kok, lanjut pekerjaanmu sekarang biar cepat ketemu kakek,dek."ucap Jonathan bahwa dirinya sedang baik' saja.
"Ok Kak Jo."jawab Renata dengan wajahnya ceria dan centil pula.
Jonathan malas melihat adeknya kadang-kadang suka centil kepada dirinya bahkan dia juga suka centil kepada Ezra,Sean dan Peter.
"Punya adek kok centil banget sih jadi orang."batin Jonathan mengelus dadanya.
"Papa gimana kabarnya."tanya Agung mulai tak sabaran.
"Kalo kamu tanya kayak gitu,papa gak mau jawab, kebiasaan kamu tuh."tegur Scott kesal kepada putra sulungnya.
"Kan aku cuma tanya doang,masa gak boleh sih."kata Agung dengan polosnya.
"Gak usah sok polos jadi orang,masa papanya mesum sedangkan putrinya sangat polos sekali."sindir Scott membuat Agung jadi skatmat.
"Mesum sama istri sah lebih bagus loh daripada sama pelakor heh,kalo si adek emang sudah polos dari mama waktu masih muda,jadi adek itu keturunan dari neneknya lah alias mamaku tercinta,kalo papa mah emang mesum kali makanya anaknya juga ikutan mesum dari keturunannya."jelas Agung tanpa peduli dia dimarahi atau tidak sama papanya.
"Iya juga sih,gimana kabar anakmu,si Jonathan sama Renata."tanya Scott tidak mendengar kabar dari cucunya ini.
"Adek kumat lagi alerginya kalo Jonathan tetap seperti biasa selalu gila kerja dan gak pernah kesempatan mencari penggantinya Maya."jawab Agung santai.
"Kasihan adek,papa bingung kenapa tuh adek bisa sebanyak itu penyakit alerginya, padahal aku,mamamu,kamu, Mona dan Jonathan mana ada penyakit itu."kata Scott bingung bagaimana cara Renata bisa bertahan hidup dengan banyaknya alergi.
"Papa belum jawab pertanyaan dari aku."protes Agung.
"Papa baik'saja iya."jawab Scott santai.
__ADS_1
Bapak dan anak ini sedang berjulid ria di ruang keluarga.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁