Ada Apa

Ada Apa
70


__ADS_3

Pagi ini Renata memakai pakaian rapi sejujurnya dia malas banget ke kantor dan memilih pergi ke sekolah tapi iya sudah lah papanya gak mau di bantah.


"Gila banget sumpah."batin Renata kesal dan malas.


Renata keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi Papa dan Mama."sapa Renata ceria.


"Selamat pagi juga putri papa yang cantik."sapa balik Agung lembut.


"Dimana Kak Jo."tanya Renata bingung saat mencari kakaknya.


"Kakakmu sudah berangkat duluan daritadi."jawab Mona santai dan Renata tidak melanjutkan pertanyaan lagi.


Mereka bertiga sarapan pagi dengan tenang.


🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Di kantor banyak kerjaan pastinya dan sekarang ini ada pertemuan dengan klien papa nya di ruang pertemuan.


Ini pertama kalinya Renata ikut rapat meskipun dirinya tak tahu apa yang di bahas kali ini.


Apa yang dibahas membuat matanya Renata sudah mengantuk sekali.


Kalo ketahuan tertidur dia pasti dimarahi, ditegur dan bikin malu papanya saja di depan klien dari luar negeri.


"Aku mau pulang."batin Renata.


30 menit kemudian rapat sudah selesai akhirnya Renata sudah bebas dari rapat yang membuat matanya mengantuk.


Semuanya pada bubaran tapi Renata masih betah berlama-lama di sini.


Tapi sekarang ini mau jam pulangan hehe waktunya dia pulang ke rumah dong


🍁🍁🍁🍁🍁


Renata sudah mandi dan sudah berpakaian santai tapi ada saja yang membuat dia bingung apa itu.


"Astaga pr ku belum kerjakan,aku kerjakan dulu lah."batin Renata baru ingat jika ada pr sekolahnya belum selesai.


Renata langsung kerjakan PR nya dengan santai.


🌻🌻🌻🌻🌻


Senin adalah hari pertama tetapi Senin adalah hari terakhir murid kelas 12 SMA pada upacara karena minggu depan murid-murid kelas 12 SMA mulai ujian seperti ujian praktek, tryout,ujian sekolah dan ujian nasional.


Senin juga hari yang paling malas bagi Renata karena ini di hari pertama iya.


Tapi untung saja cuaca hari ini hujan dan gak jadi upacara deh.


Hari ini tak percakapan di antara 4 gadis ini di kantin,Renata hanya diam saja bahkan dia tak menikmati makanan yang dia pesan.


Ada perasaan aneh di dalam hatinya apa itu.


"Apa itu."batin Renata.


Seperti biasa Renata selalu menunggu kakaknya datang tapi kenapa kakaknya malah bersikap dingin dari 5 hari yang lalu bahkan gak senang jika ada dirinya di kantor kemarin padahal dia gak nakal dan merengek minta uang atau belikan makanan.


2 jam Renata menunggu tapi Jonathan tak kunjung datang dan dimana laki-laki yang bertindik hidung itu.


"Kakak dimana sih."batin Renata sedih dan mulai air mata jatuh dipipinya.


Mau tak mau Renata pulang sendiri dengan naik taksi.


Gelisah sekali dirinya ini.


Jonathan gak bisa jemput adeknya karena tuntutan pekerjaan bahkan dirinya kemarin lagi-lagi bersikap dingin ke adeknya,adeknya gak salah sih tapi dianya suka kayak gitu bahkan Maya selalu menegur dirinya jangan terlalu melampiaskan amarahnya ke Renata.

__ADS_1


Waktu di club malam, Jonathan lebih diam bahkan dia tidak memesan apapun dan memilih pulang duluan di bandingkan daripada Ezra, Peter dan Sean.


Renata sengaja turun di depan minimarket agak dekat dari rumahnya karena dia melihat ada anak kecil yang berusia 5 tahun dengan berpakaian yang sedikit membuat Renata sedih dan prihatin.


"Pak saya turun disini saja dan ini uangnya,ambil saja kembaliannya."ucap Renata sopan.


"Baik neng."kata Supir taksi itu dengan lembut.


Renata turun dari taksi dan segera berjalan kearah gadis kecil itu dengan alat semir sepatu nya.


Hati Renata tak tega melihat kondisi dari anak kecil itu dan menghampiri anak kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Adek cari siapa."tanya Renata lembut.


"Gak cari siapa-siapa tapi aku,ibu dan adekku belum makan karena gak ada uang."ucap anak kecil itu dengan polosnya dan jujur.


"Adek belum makan."tanya Renata kaget sekaligus sedih melihat kondisi gadis kecil itu.


Sungguh berbeda sekali dengan dirinya waktu masih kecil dia sudah sekolah atau bermain dengan boneka nya,bahkan kalo mau makan tinggal bilang saja ke orangtuanya, hidup Renata emang sudah gelimang harta dari keluarganya.


"Belum."jawab anak kecil itu.


"Siapa nama adek."tanya Renata lembut.


"Namaku Anindya,kakak bisa panggil aku Anin."jawab gadis yang bernama Anindya.


"Oh gitu iya,nama Kakak Renata."balas Renata lembut dan ceria.


"Kakak Renata mau ngapain,itu baju sekolah iya."tanya Anin dengan polosnya.


"Mau ajak adek beli makanan terus beli apa saja adek mau,ini sekolah dek, cantik kan."jawab Renata lembut.


"Ayo kita masuk ke dalam minimarket itu."ajak Renata tulus.


Renata membawa Anin ke dalam minimarket di depannya.


Renata menyuruh Anin beli apa saja yang dia mau tentu saja Anin senang sekali,dia juga belikan makanan buat ibu dan adeknya.


"Really,oh kalo gitu kakak belikan susu buat adekmu iya sama belikan susu buat mu,aku mau kan adek Anin yang cantik seperti kakak ini."ucap Renata dengan wajahnya yang tulus dan tersenyum manis ke gadis kecil yang cantik.


Anin hanya mengangguk dan tersenyum manis ke Renata.


Sungguh gadis berwajah dingin dan ayu ini sangat cantik jika dia tersenyum.


Entah berapa gadis ini habiskan uang Anin, ibu nya dan adek bayinya saja.


Selesai belanja Renata membawa Anin pulang kerumahnya.


Sampai dirumahnya Anin lagi-lagi hati Renata sedih dan prihatin bagaimana tidak rumah Anin ini sebenarnya tidak layak di huni tapi Anin bilang kalo ibunya gak nyewa karena gak punya uang.


Sedih sekali bukan,Renata saja malu dengan dirinya sendiri bagaimana bisa gadis kecil ini lagi berjuang nafkah dengan alat semir sepatu sedangkan dirinya saja taunya minta uang ke kakaknya atau orang tuanya.


Bahkan Anin lebih mandiri daripada dirinya sendiri sungguh Renata malu sekali bukan dengan anak kecil yang berjuang keras untuk menafkahi ibu dan adeknya.


Sedangkan ibunya belum bisa kerja karena masih mengurus putrinya masih bayi pula.


"Wow dia cantik sekali."batin ibu dari Anin.


"Halo Kak ini saya antarkan Anin pulang sekaligus bawa makanan buat Anin,ibu dan adek bayi cantik ini."ucap Renata lembut dan sopan.


"Terimakasih nak,maaf saya belum ganti punyamu."kata Ibu Anin sopan dan tak enak dengan Renata.


"Gak papa kak,saya ikhlas dari hati, adeknya kenapa menangis."ucap Renata lembut tapi panik dengar tangisan bayi itu.


"Anak saya lagi demam tapi saya gak punya uang untuk berobat, untuk makan saja kami bertiga gak ada."ucap Ibu Anin jujur.


Renata mengambil alih bayi itu dan menggendong bayi itu.

__ADS_1


Tapi sayangnya bayi ini gak mau berhenti menangis.


"Kita ke rumah sakit,ibu?biar saya saja yang bayarkan pengobatan adek bayi ini."ajak Renata dengan lembut dan tulus.


Renata membawa Anin, ibunya dan adeknya ke rumah sakit sekaligus jenguk Om nya lagi koma.


Namun Sabrina datang dan menyapa gadis dingin dan ayu ini.


"Nak,lagi ngapain."tanya Sabrina bingung.


"Oh itu ada adek bayi lagi demam tapi adek gak tega melihatnya,adek sedih melihat nya,kakak dari adek bayi itu berjuang mencari nafkah sedangkan adek selalu minta uang ke kakak atau orang tua adek bahkan usia adek itu sangat muda Tante."jawab Renata sedih.


"Astaga nak,Tante gak sangka kamu baik sekali biasanya kamu pasti bersikap dingin dan cuek kepada siapapun,iya sudah biar Tante saja yang bayarkan pengobatan adek bayi itu,kamu pulang saja nak biar Tante yang bawa mereka bertiga pulang ke rumahnya."balas Sabrina juga kaget dan malu dengan anak kecil itu yang berjuang keras untuk mencari nafkah.


"Tapi Tante jangan kasih ke mama atau papa iya."ucap Renata memohon kepada Sabrina.


"Baik nak."jawab Sabrina sabar.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Jo, kamu sudah pulang lalu dimana adekmu."tanya Mona dengan wajahnya yang tak bersahabat.


Sudah jam 5 sore Renata belum juga pulang kerumahnya.


Jonathan kira Renata sudah sampai dirumah ternyata belum pulang juga.


"Bukannya adek sudah pulang."tanya Jonathan malah berbalik bertanya.


"Kalo sudah pulang ngapain mama tanya ke kamu, gimana sih kamu nih,otakmu emang error apa."kata Mona marah.


Jonathan langsung panik sendiri seharusnya dia jemput adeknya dong malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Iya sudah ma,aku cari dulu."pamit Jonathan buru-buru ke garasi mobil nya.


"Mama ikut iya."ucap Mona serius.


"Mama dirumah saja."kata Jonathan serius.


Hati Mona benar' gak tenang jika putrinya gak pulang,dulu waktu masih kecil Renata jadi target penculikan oleh musuhnya Agung, Agung sangat wanti-wanti jika putrinya di culik itu lah kenapa Renata gak boleh di lepas dari pengawasan nya.


Tak hanya Renata saja bahkan Jonathan waktu masih kecil juga jadi sasaran target penculikan oleh musuhnya Agung.


Renata sudah berdiri di depan gerbang rumahnya lalu segera masuk ke dalam rumahnya dengan langkah kakinya yang berat.


"Adek darimana."tanya Mona sudah berdiri didepan pintu.


Sumpah Renata kaget ada mamanya di depan pintu rumah.


"Adek lagi jalan-jalan biar otak gak mumet ,gak suntuk gitu."jawab Renata dengan santainya.


"Tapi adek harus kasih tahu ke mama atau kakakmu,bukan pergi seenaknya."marah Mona membuat Renata malas melihat wajah dari mamanya.


"Renata Hadikusuma,tatap wajah mama."teriak Mona marah.


"Sudah adek tatap wajah mama."kata Renata marah juga.


"Adek melawan mama iya."marah Mona.


"Tidak,adek mau mandi dulu."kata Renata santai.


Mona marah karena Renata dan Jonathan sumpah kakak beradik ini membuat dirinya marah hari ini.


Jonathan balik lagi ke rumahnya karena Renata sudah pulang. Tapi Mona cuek saja ke putranya saking marahnya dengan kedua anaknya.


"Mama kenapa."batin Jonathan.


Renata sudah di kamarnya tapi air mata jatuh ke pipinya karena melihat kondisi dari keluarga Anin.

__ADS_1


"Kenapa hidup ini gak adil sekali,Tuhan."batin Renata.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2