
Renata terdiam bukan gak mau bercerita melainkan masih takut dengan Manuel yang daritadi pasang wajah dingin dan galak.
"Kenapa kamu tidak cerita kan semuanya,ayah ingin tahu cerita langsung dari kamu."ucap Manuel dengan suara yang lembut.
Manuel mengerti bahwa raut wajah dari Renata itu sangat takut kepadanya,makanya Renata enggan bercerita dengan nya.
Renata menceritakan semuanya kejadian kemarin sehingga Manuel lagi-lagi terkejut bukan karena mantan menantunya melainkan Renata lah yang jadi sasaran nya.
"Kasihan sekali dirimu nak,ayah pasti akan marah jika ada yang berani ganggu anak gadis seperti adek."kata Manuel kasihan kepada Renata.
Renata lagi-lagi masih takut dengan Manuel,ada apa dengan dirinya iya lalu menoleh kearah Sean dan Jun yang jadi saksi pertanyaan dari Manuel.
"Apa pemuda tampan itu adalah kekasih adek iya, kekasih mu sangat tampan dan cocok dengan adek yang sangat cantik sekali."tanya Manuel sambil menggoda Renata dan Jun.
Ingin sekali Sean tertawa pertanyaan dari Manuel ke Renata tetapi gak jadi hehehe.
Renata bingung mau menjawab pertanyaan dari Manuel,kenapa orang ini pingin tahu kisah hidupnya iya.
"Bukan om,hanya teman saja."jawab Jun berani tetapi Renata langsung kecewa dengar jawaban itu dan Jun tak tahu apa yang terjadi dengan ekspresi wajah dari Renata.
"Kenapa cuma teman sih,kenapa gak bilang kalo aku adalah kekasih mu saat ini, pengganti nya Michelle di hatimu."batin Renata dengan wajahnya yang kecewa.
"Kenapa nak,Om tahu kalo kamu lagi berbohong, sebenarnya kamu suka kan sama Renata,Om sudah tahu latar belakang di sekolah kalian dulu,kalian berdua 1 SMA iya kan hanya ada seseorang yang menjadi penghalang nya kamu yaitu David Jumantara,iya teman dari adek juga sih tapi dari SMP pula."kata Manuel serius.
"Maaf kalo Om berbicara seperti itu karena dulu om pernah jadi remaja di masa lalu hehehe."lanjut Manuel dengan perkataan yang tadi.
......
Sejak bertemu dengan Manuel, Renata lebih banyak diam ditambah lagi jawaban dari Jun yang menusuk dihatinya.
"Apa salah aku sih."batin Renata yang masih menatap taman rumah sakit tersebut.
Renata tak tahu jika ada David di belakangnya namun David enggan menegur Renata karena dia takut jika Renata gak mau menyapanya seperti dulu lagi,dulu dia pernah menolak tawaran dari Renata secara dingin dan berakhir dirinya yang di perlakukan secara dingin oleh Renata sendiri.
David ternyata diam-diam menguping pembicaraan Manuel dan Renata di luar sebelum Manuel pulang ke rumahnya.
Tarik waktu dulu.
__ADS_1
Manuel ingin berpesan kepada Renata sebelum Manuel harus pulang ke rumahnya.
"Dek,ayah cuma kasih pesan ke adek,suruh Jonathan cari istri lagi,kalo bisa suruh dia nikahkan dengan Leticia keponakan ayah itu,adek tahu kan si Leticia itu.itu saja yang ayah sampaikan kepada adek iya."pesan Manuel kepada Renata.
Renata cuma diam sebenarnya dia gak berani kasih pesan Manuel ke Jonathan nantinya,dia sangat takut dengan Jonathan jika itu masalah pribadinya termasuk percintaannya.
"Adek gak berani,ayah. Adek takut sama Kak Jo."jawab Renata dengan jujur.
"Gak papa kalo adek takut,biar ayah saja yang sampai kan ke Jonathan."balas Manuel mengerti dengan jawaban dari Renata.
"Ayah yakin jawaban dari pemuda tadi itu berbohong,ayah tahu jika dia gak berani bilang itu ke adek karena itu di depan ayah, percaya lah dia sangat mencintai adek dan adek pasti mencintai dia kan,ayah pulang dulu,dek. Oh iya Bunda bilang salamkan ke adek iya."ucap Manuel lembut tetapi Renata masih tak percaya.
"Salam balik buat Bunda iya."jawab Renata lembut.
David menguping tetapi awalnya dia itu biasa saja tetapi Manuel ternyata Jun,hal itu yang membuat David tak suka dan benci kepada Jun.
"Sialan kamu,Jun Anggawira."batin David dengan wajahnya sangat menyeramkan.
Kembali waktu lagi.
4 hari kemudian, Jonathan sudah mulai sadar dari koma tetapi dirinya terkejut dengan kedatangan dari Irena.
Renata mematung di tempat tersebut,entah apa yang terjadi kepada dirinya.
"Hai Jonathan Hadikusuma,gimana kabarmu hari ini."tanya Irena dengan wajah penuh kelicikan.
"Tante ngapain kesini lagi,pasti ganggu adek saya lagi kan."tanya Jonathan enggan menjawab pertanyaan dari Irena.
"Irena Handono, jangan pernah ganggu keluarga saya lebih baik urus anak kamu sana,pergi dari sini."ucap Agung marah dan baru saja datang bersama Mona.
Irena sangat kesal kepada pasangan suami-istri yang paling menyebalkan ini dan pergi begitu saja tapi sebelum dia pergi,dia dengan berani mendorong Renata hingga jatuh bahkan kepalanya Renata di bentur ke tembok dinding dengan keras,sontak membuat Agung dan Mona murka.
"Irena Handono,saya tak pernah main pukul kepada anak saya sendiri,tega sekali kamu mendorong putri saya,salah putri saya apa,Irena Handono,kalo putri saya ada salah sama kamu,pasti putri saya dengan cepat dia minta maaf kepada kamu."bentak Agung marah dan jengkel.
Jun langsung menolong Renata dan mengobati kepalanya Renata yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Jonathan tak tega melihat adeknya sendiri yang di pukul oleh Irena sendiri,baru pertama kalinya dia melihat ada orang yang berani pukul adeknya secara langsung.
__ADS_1
"Jun, tolong obati adek gue iya,nanti gue akan imbalan buat kamu dan adekmu iya."ucap Jonathan lembut.
"Baik Kak Jonathan."jawab Jun sopan lalu membawa Renata pergi sebentar bersama Mona.
Mona menemani Renata keluar sebentar bersama Jun. Agung menatap tajam ke arah Irena yang tega kepada Renata sang putri bungsunya.
"Kamu tak pernah tobat iya ternyata,apa kamu sering melakukan kekerasan fisik kepada anakmu sendiri,saya dan istri saya tak pernah melakukan kekerasan fisik kepada anak saya sendiri, cukup menegur saja itu lebih baik."bentak Agung saat memarahi Irena.
Agung menyeret Irena keluar dari ruangan ini dengan kasar saking geramnya dia memukul putrinya dengan sadis.
"Ingat iya, mungkin suamimu akan tahu kejadian ini bahkan juga suami kamu bakal menyiksamu atau menceraikan kamu karena dia gak sanggup mempunyai istri durhaka macam kamu,pergi dari sini dan jangan pernah mengganggu keluarga saya terutama putri saya,kalo kamu berani sakiti anak saya,saya siap bunuh kamu sekarang juga."ucap Agung sangat sadis.
Ucapan itu membuat Irena ketakutan dan malu karena banyak orang yang mendengar ucapan dari Agung yang sadis sekali. Dengan ekspresi wajah yang malu, Irena langsung pergi dan tidak berkata apa-apa.
Disitu ada Alan yang daritadi menyaksikan kemarahan dari sang kakaknya. Agung juga melihat ada adeknya disini. Sekarang kedua saudara itu mulai akur.
"Lan,jangan berpikir kalo aku........."kata Agung tapi perkataan di potong oleh Alan.
"Aku tahu, perempuan sinting emang suka ganggu keluarga kita,aku sudah melihatnya,dia sangat jahat Kak Agung,kalo aku jadi Patrick sudah gak sanggup mempunyai istri kayak dia."balas Alan dengan lembut.
"Sama aku juga nyerah jika mempunyai istri modelan kayak dia."ucap Agung sangat pusing kepalanya.
"Dia juga gak tahu berterima kasih kepada kakak sendiri,kalo aku iya akan bunuh itu si sinting itu."ejek Alan karena kesal sama Irena.
Agung sibuk membersihkan tangannya yang bekas Irena,karena menurutnya itu menjijikkan sekali tapi dia juga mendengar ejekan dari adeknya ke Irena.
Di lain tempat.
Sabrina dan Aldo terkejut melihat kepalanya Renata penuh darah bahkan darahnya terus di kepalanya.
"Kak Mona ada apa dengan adek."tanya Aldo dengan khawatir.
"Cerita nya panjang Aldo,aku mau obati kepala adek dulu."jawab Mona dengan dingin sambil berjalan di belakang Renata dan Jun.
Renata sedang diobati oleh perawat dan dokter di IDG, kepala Renata terasa sakit karena benturan keras dari Irena.
"Mak lampir tega banget sama aku,aku salah apa sih sama Tante gila itu."batin Renata yang diam saja saat ini.
__ADS_1