
Renata membawa berkas yang Jonathan minta karena dirinya lupa bawa.
"Ini Kak, berkasnya."ucap Renata lembut.
"Taroh saja di atas meja."jawab Jonathan tanpa melihat Renata di depannya dan sibuk dengan laptopnya.
Renata menaroh berkas itu dan masih diam disitu sambil memikirkan gadis itu.
"Adek sudah makan belum."tanya Jonathan masih fokus mulu ke berkas.
Renata menggeleng kepalanya karena belum makan dan masih berdiri disitu.
"Sampai kapan adek berdiri disitu,duduk di sofa sana."ucap Jonathan dengan mata elangnya.
Tetap iya Renata gak mau duduk di sofa apa yang dia pikirkan.
"Kenapa adek tidak duduk disitu."tanya Jonathan geram.
"Kak,kenapa mereka bisa tahu tentang adek."tanya Renata serius.
"Iya tadi malam aku bilang mereka koneksi nya kuat jadi mereka bisa gitu."jawab Jonathan lembut.
"Mereka sayang adek kan."tanya Renata serius lagi dan Jonathan langsung bangkit dari duduknya.
Jonathan bangkit bukan memeluk adeknya melainkan ada Agung weh.
"Loh kok adek disini."tanya Agung kaget dan Renata langsung menoleh ke arah Agung.
"Papa lagi ngapain."tanya Renata sangat polos.
"Iya papa lagi kerja lah,jawab dulu pertanyaan dari papa,adek lagi ngapain kesini dulu bujuk ke sini malah menangis kayak anak kecil pula sekarang tumben mau kesini."kata Agung sangat sabar dengan pertanyaan polos dari putrinya.
"Iya tadi kakak suruh adek bawakan berkasnya soalnya kakak lupa bawa."jawab Renata dengan polosnya.
"Coba daritadi kek jawabnya kayak gitu,"balas Agung langsung duduk di sofa.
Bagaimana bisa Renata kesini hanya memakai celana panjang, sneaker hitam, hoodie berwarna cream dan rambutnya di ikat kuda lengkap dengan jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
"Kenapa adek sangat santai dengan pakaian mu itu."tanya Agung bingung.
"Sebenarnya adek mau jalan tapi gara-gara kakak."jawab Renata dengan entengnya.
"Jalan sama siapa dek."tanya Jonathan kepo banget dianya.
"Sama cowok kah adek."goda Agung membuat Renata lebih malu dan pipinya merah merona.
"Papa apaan sih mana ada orang yang mau ajak adek jalan."kata Renata bete.
"Lah kenapa pipinya adek merah seperti tomat."ucap Jonathan saat melihat Renata dengan pipinya yang merah merona.
"Kakak jahat sama adek."kata Renata bete.
"Loh kok aku yang jahat sih."kata Jonathan tak terima di bilang jahat sama adeknya.
Suara tak tak tak bunyi sepatu heels tapi gak tahu siapa pemilik suara sepatu itu.
"Berisik banget sih suara sepatu itu."keluh Agung kesal.
"Kayak suara sepatu mama deh."tebak Jonathan hanya asal asalan.
Pemilik suara sepatu itu membuka dan ternyata ....... Mona yang datang.
"Tadi mama dengar papa bilang berisik banget sih suara sepatu itu, emangnya mama gak boleh kesini apa."kata Mona galak tapi ke suami nya.
"Mana papa tahu kalo itu suara sepatu mama."jawab Agung polos tapi sudah tua.
__ADS_1
"Papa takut sama mama sih."ledek Jonathan sedangkan Renata cuma bingung saja.
"Diam bocah."kata Agung kesal.
Mona menatap malas ke suaminya dan menatap ke arah Renata dan Jonathan.
"Katanya mau jalan sama Lia dan Belinda kenapa gak pergi adek."tanya Mona bingung.
"Oh itu kakak suruh adek antarkan berkasnya."jawab Renata polos.
"Oh gitu."balas Mona lalu duduk disamping suaminya.
"Papa kira adek mau jalan sama cowok ternyata bukan."kata Agung sok tahu banget iya.
"Adek mau pergi dulu iya,papa,mama dan Kak Jo tapi Kak Jo gak boleh ikut lagi karena ini urusan para anak gadis."pamit Renata sambil mengancam Kakaknya tapi Jonathan malah santai doang.
"Hati hati di jalan dek,Jo tolong antarkan adekmu dong."ucap Agung menyuruh putranya.
"Gak usah Pa,adek bisa jalan sendiri dan Kak Jo masih ada kerjaan."jawab Renata menolak tawaran dari papanya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Renata lagi asyik makan rujak bersama Belinda,Odelia,Kanaya dan Marian dirumah bibinya Odelia dan Kanaya.
"Hey kalian tahu Michelle Herlanda."tanya Belinda kepada 4 gadis tetapi tidak tahu padahal 1 sekolah.
"Astaga tidak tahu kah siapa Michelle Herlanda."tanya Belinda sekali.
"Gak tahu gila, emang gue tahu apa."jawab Renata muak.
"Ok Michelle Herlanda itu kekasihnya Jun loh."ucap Belinda dan 3 gadis terkejut sedangkan Renata tersedak dengar ucapan dari Belinda tetapi dirinya mendadak kaget dan kaku di badannya.
Jujur dengar kata itu membuat Renata lebih sakit lagi apa dirinya menyesali perbuatannya sendiri.
"Gila ternyata pantas dia dingin dengan ku."batin Renata.
"Iya hati hati dijalan Ren,"ucap Odelia.
Renata pergi ke suatu tempat bukan pulang ke rumahnya.
Renata pergi ke kuburan sang nenek sambil menangis.
"Nenek apakah adek ini egois terhadap diriku sendiri,lalu kenapa ini bisa terjadi ke adek,adek harus bagaimana nek, hidup ini gak adil buatku nek apalagi adek selalu tak beruntung sekali,cinta gak pernah dapat yang tulus terus mereka memaksa adek jadi budak itunya, parahnya lagi adek sering abaikan seseorang tetapi adek baru sadar jika orang itu tidak menyukai adek di saat adek mulai menyukainya dan mengerti ada rasa penyesalan di dalam hidup adek."ucap Renata sambil menangis dan sambil memegang batu nisan kuburan neneknya.
1 jam lamanya Renata di kuburan sekarang dirinya harus balik lagi ke rumahnya.
Malam harinya Renata tidak pergi ke festival makanan karena dirinya tertidur di kursi belajar.
Kebiasaan anak ini adalah ketiduran di kursi belajar tanpa menutup pintu kamarnya.
"Adek,itu ada temanmu dek dibawah,Marian dan Odelia."ucap Mona datang dan menghampiri anaknya.
"Iya ampun adek kok malah tidur sih,itu ada temanmu dek."teriak Mona sangat kencang dan membuat Renata terbangun dari tidurnya.
"Jam berapa nih."tanya Renata dengan suara yang habis bangun tidur.
"Ini sudah jam 19.20 malam."jawab Mona kesal.
"Apa,astaga adek ketiduran lagi untung adek sudah mandi heh,mama kebawah sana nanti adek nyusul kebawa."balas Renata sumpah dirinya kaget karena ketiduran.
Mona keluar dari kamar putrinya sedangkan Renata bersiap-siap ke bawah.
Renata turun ke bawah sedangkan 2 temannya ini sudah lama menunggu dirinya.
"Kasihan nya temanmu ini dek,lama banget menunggu adek ini."ucap Mona duduk manis bersama Marian dan Odelia.
__ADS_1
"Ma,adek pergi dulu iya."pamit Renata lembut.
"Iya hati-hati dijalan nak."jawab Mona lembut.
3 gadis tersebut pergi ke festival makanan sedangkan Jonathan pergi kemana iya.
Di club malam yang ramai karena malam minggu membuat Jonathan geli sendiri melihat para cabe-cabean yang sedang menggoda dirinya.
"Heh ngapain kamu undang gue kesini,!nyet."tanya Jonathan kesal.
"Biar gak suntuk dengan pekerjaan kamu."jawab Ezra santai.
"Suntuk apanya yang ada ini bikin sakit mata melihat cabe-cabean disana kalo aku sih lebih baik Renata deh,sudah gak pernah pakai baju buka-bukaan,terus sopan cara berpakaiannya dan enak dipandang lagi."jelas Sean sambil menghisap rokok nya.
"Pingin nyewa kamar weh."ucap Ezra membuat Jonathan dan Sean mau muntah karena jijik.
"Dasar sok polos loh tapi sukanya sama gadis yang sama umurnya si adek imut alias Reren."ledek Sean.
"Makanya itu sampai merengek minta nomor hpnya gadis itu ke adek kalo gak di ancam pula adek gue."sambung Jonathan.
"Apa sih gue cuma bercanda ngapain aku sama cabe-cabean, ayah dan bunda aja senang sama Lia dan adeknya bahkan dijadikan putrinya lagi dan gue di anggap kakak angkat nya mereka.
"Lah tadi katanya mau sewa kamar kok jadi begini sih,."kata Sean bingung.
"Otaknya lagi miring, ingat dulu aku dimarahi habis-habisan sama mama tercinta ku,dikira aku bawa cewek itu,kamu sih ngapain juga kamu bawa cewek itu ke rumah gue sampai mama gue marah kepada gue."kata Jonathan masih mengingat kejadian yang gila tapi bukan dirinya yang membawa wanita gila itu.
"Kamu masih ingat iya, astaga gue gak ingat gila."tanya Ezra lupa.
"Kamu sih telat mikir jadi bocah,."kata Sean sebel.
"Kamu dapat itu darimana."tanya Ezra serius.
"Dari adek,adek bilang gue yang tidur bareng si gila itu!."jawab Jonathan.
"Ngapain tuh bocah lihat."kata Ezra kesal.
"Bodoh itu rumahnya papa Agung,mama Mona,gue dan adek?gila."balas Jonathan ngegas.
"Iya nah aku lupa weh."kata Ezra pusing.
"Btw adek ada dirumah kah."tanya Sean ke Jonathan.
"Gak tahu yang gue lihat tadi adek lagi tiduran di kursi belajar nya, kebiasaan tuh gadis labil plus polos gitu."jawab Jonathan sambil bermain ponselnya.
"Oh gitu."balas Sean dan Ezra bersamaan.
Di festival makanan banyak jual makanan tetapi Renata lagi-lagi melihat adegan mesra milik Michelle dan Jun.
Tak dirinya saja yang melihat tetapi Marian dan Odelia juga melihat bahkan mereka sangat risih dengan sikap manja dari Michelle.
"Kenapa aku harus ketemu mereka lagi sih."batin Renata kesal dan mulai cemburu.
"Aku pulang duluan soalnya aku ngantuk nih."pamit Renata dan bohong kepada 2 gadis itu.
Marian dan Odelia bingung kenapa Renata meminta pulang duluan tetapi mereka berdua menghargai keputusan dari Renata.
Dengan cepat Renata melangkah kakinya agar dirinya tidak melihat adegan yang menyakitkan dan membuat dirinya terbakar cemburu.
Beda dengan Renata, Michelle bergandengan tangan dengan Jun tetapi mereka berdua tidak tahu jika Renata ada di lokasi.
"Hey tadi aku gak sengaja menabrak tubuhnya Renata didepan kantor itu, jujur aku baru dengar suara dari Renata yang nada suaranya biasa saja tapi aku merasa insecure dengan dia secara dia sangat cantik secara langsung padahal kita 1 sekolah loh, badannya tinggi dan kaya pula gimana gak kaya dia saja berasal dari keluarga Hadikusuma yang terpandang nyata banget terus ibunya seorang artis terkenal yang banyak prestasi dan penggemar yang banyak,aku cuma berasal keluarga dari politik."ucap Michelle sangat iri dengan kehidupan dari Renata.
Dengar nama Renata telinga Jun sangat panas dan malas tanggapinya.
"Kita pergi ke sana yuk."ucap Jun mengalihkan pembicaraan tentang Renata dan Michelle mengangguk setuju.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁