
Mona menghampiri putrinya tetapi Renata cuma diam dan dingin.
"Kenapa adek marah sama kakak mu nak,apa Jo terlambat jemput adek kah di sekolah."tanya Mona lembut dan mengusap kepala putrinya.
Lagi-lagi Renata cuma diam saja dan tanpa sadar air mata jatuh dipipinya.
Bahkan tangan kirinya sibuk menulis jawaban dari pelajaran Kimia. Renata ini kidal iya.
"Adek marah sama kakakmu kah nak."tanya Mona lembut dan sabar dengan sikap dari putrinya.
Renata muak dengar pertanyaan dari mamanya dan mengangkat bicara.
"Kakak ungkit masa lalu adek yang sebenarnya adek lupakan karena hati adek sangat sakit,papa mama gak pernah tahu ceritanya kalo gitu tanya sana sendiri sama kakak."marah Renata tanpa peduli ada kedua orangtuanya dan dia hanya mengeluarkan unek-unek dari hatinya.
"Orang tua yang egois dan kakak yang dingin buat adeknya."sindir Renata mengulang kata-kata itu waktu pulangan sekolah.
Mona tak mengerti apa yang dimaksud sindiran dari putrinya sedangkan Agung siap-siap mau emosi dengar sindiran dari putrinya.
Renata enggan mau cerita tentang dirinya di siram dengan air pel bekas lantai waktu kelas 8 SMP dulu.
"Adek apa aku boleh masuk gak."teriak Jonathan dari pintu kamar bocah dingin dan ayu ini.
"Masuk saja."kata Renata dingin.
Jonathan sudah selesai mandi dan masuk kedalam kamar yang bernuansa pink pastel dan aesthetic.
"Jonathan,kenapa adekmu marah dengan mu."tanya Agung sudah tak sabar untuk mendengar jawaban dari Jonathan.
"Aku cuma tanya saja kenapa adek gak jujur waktu dirinya di siram dengan air pel bekas lantai waktu dirinya ujian kenaikan kelas Pa Ma sebelum Maya dan anakku berhembus nafas terakhirnya,aku iseng-iseng mencari informasi tentang kegiatan sekolah adek, jujur aku kaget karena adek yang jadi korban nya bahkan adek di salahkan dengan para pembully sebenarnya adek tidak bikin masalah di sekolah tetapi murid laki-laki itu memaksa adek untuk melakukan kayak pasangan suami-istri gitu lah tapi adek melawan dengan murid itu malah adek yang di siram dengan air itu,karena murid laki-laki ini gak tahu latar belakangnya adek makanya mereka bertindak seenaknya, hampir saja si adek di perkosa,kalo aku tahu siapa laki-laki sudah berhentikan mereka dari sekolah,bikin keluarga nya hancur dan bangkrut."cerita Jonathan serius dan membuat kedua orangtuanya kaget dan gak percaya dengan apa yang katakan oleh Jonathan.
Lalu kenapa mereka berdua baru mengetahui fakta yang sebenarnya, kenapa Renata jujur saja ke orangtuanya., orangtua macam mereka berdua pantasan saja putrinya bilang orang tua yang egois.
"Jika mau tahu lebih baik tanyakan saja sama adek tapi sayangnya adek gak mau cerita tapi adek malah marah ke aku,."kata Jonathan saat dirinya duduk di tepi ranjang dan mengambil boneka miliknya Renata.
"Dek, cerita kan saja apa yang adek rasakan,papa dan mama mau mendengarkan cerita yang sebenarnya dari adek."kata Mona lembut sambil mengelus punggung tangannya Renata.
Renata menghapus air matanya dan menatap wajah mamanya yang cantik dan awet muda.
"Adek takut jika adek cerita gak akan mau cerita pasti nanti gak percaya dengan adek, hampir saja mereka membuka seragam sekolah adek jika adek memukul mereka tapi mereka jahat dan menyiram air itu,mereka paksa adek untuk melakukan kayak pasangan suami-istri itu, adek takut sekali bisa jadi itu terjadi lagi yang kedua kalinya,mereka sengaja akting seakan adek yang bikin masalah padahal jelas mereka bikin masalah dengan adek,adek tolak mereka karena memaksa adek untuk jadi pacarnya,adek gak mau lah masa di paksa jadi pacarnya sih."cerita Renata menangis dan sakit hati.
Hati ketiga manusia itu mendadak sakit bagaimana bisa mereka melakukan seperti itu, lagi-lagi mereka bertiga tak bisa menjadi orang yang terbaik buat Renata.
Agung marah kepada dirinya sendiri bagaimana bisa dia percaya dengan fakta yang belum tentu anaknya melakukan itu,dia bertekad untuk mencari orang itu dan membuat orang itu menderita enak saja dia melakukan itu seenaknya kepada putrinya.
Agung benar' emosi dan keluar dari kamar putrinya sambil menelpon Roy.
"Roy, tolong cari orang itu yang berani menyakiti hati putriku waktu putriku sedang ada ujian kenaikan kelas 9 SMP, sekarang kalo perlu bikin dia dan keluarganya hancur lebur."kata Agung serius.
"Baik Tuan."jawab Roy.
Agung mematikan telponnya dan kembali ke ruangan kerja nya.
__ADS_1
Agung merenungkan kesalahannya di masa lalu, astaga dia lupa apakah putrinya masih perawan atau tidak. Dia ingin tanya tapi takut putrinya gak mau cerita.
"Ayah yang egois emang aku nih."batin Agung.
π₯π₯π₯π₯
"Maaf kan mama iya dek, mama tahu mama bukan mama bukan mama yang baik buat adek,mama juga mama yang egois buat adek."maaf Mona sambil memeluk putrinya tetapi Renata cuma menangis didalam pelukan hangat dari sang mama.
"Mama Papa dan Kak Jo, maaf adek baru bisa ceritakan semuanya."batin Renata.
Setelah telpon Roy,Agung kembali lagi ke kamar putrinya.
Agung cuma diam dan menatap Jonathan sibuk dengan boneka yang dia pegang itu.
"Adek, papa minta maaf karena tak tahu masalah adek di masa lalu,papa sibuk memarahi mu sampai adek merelakan ponselnya di sita sama mamamu sendiri."maaf Agung secara tulus dari hati nya dan menangis,dia jadi pria yang cengeng.
Renata melepaskan pelukannya dan menatap lembut ke ayahnya.
"Papa, Mama dan Kakak, maaf adek baru bisa ceritakan ini hanya saja adek takut kalian tidak percaya dengan ucapan dari adek,tapi satu yang gak boleh orang lain tahu termasuk kakek,Kak Ezra,Kak Sean,Kak Peter sama bininya dan Om dan Tante,jangan beritahu ke mereka itu saja yang adek pesan,hanya kita berempat saja yang tahu adek gak mau orang lain tahu,adek hanya kasihan dengan reputasi papa,mama dan Kak Jo."ucap Renata lembut dan menghapus air matanya.
"Aku gak peduli dengan reputasi ku,aku hanya ingin melindungi keluarga saja dengan caraku sendiri tapi kalo ada yang berani menyakiti keluargaku,aku gak segan-segan membunuh mereka."kata Jonathan serius dan menatap lembut ke adeknya.
Renata bangkit dari duduknya dan menghampiri kakaknya yang duduk ditepi ranjang.
"Adek minta maaf iya karena sudah marah sama kakak, sejujurnya adek takut karena kakak bisa marah dengan adek."maaf Renata lembut dan menatap pria yang bertindik hidung.
"Aku gak papa dek,aku yang salah buat adek marah,wajar sih adek marah karena masa lalu yang mengerikan,tapi jika aku ada disitu gue tebas leher pria itu dengan sadis."kata Jonathan mulai psikopat di dalam dirinya.
"Papa,mama dan kakak tolong adek,otte jangan dekati adek."teriak Renata merengek ketakutan.
"Otte jangan bikin adek gatal-gatal nah,balik ke kamar mu sekarang,nanti kita sama-sama mainnya."kata Agung menunjuk ke otte.
"Otte ayo balik ke kamar mu sekarang, kasihan adek nah."kata Jonathan kepada anjing peliharaannya.
Otte dengan patuh kepada majikannya dan keluar dari kamar adek dari majikannya.
"Otte sudah pergi gak."tanya Renata polos.
"Sudah pergi."jawab Mona santai dan melirik ke buku tulis di atas meja.
"Adek selesaikan dulu tugasmu sana,ini baru nomor 2,belum selesai nih nah."kata Mona dengan mode emak-emak yang galak
"Adek capek ma,mau tidur kan bisa di lanjutkan besok, kumpul nya lusa hehehe."jawab Renata tak semangat untuk kerjakan prnya.
"Adek sudah magrib nak,gak boleh tidur di magrib ini."balas Mona dan Renata tak jadi tidurnya.
"Agung,ini loh anakmu seperti kamu saja."aduh Mona bete.
"Aku kan papanya mereka berdua iya jadi mereka harus ikuti gue dong hehehe."jawab Agung malah cengengesan.
"Ayah dan anak sama saja."kata Mona tak bisa mengerti dengan pemikiran Agung.
__ADS_1
Kedua anaknya malah melihat drama alay dari kedua orangtuanya.
πΏπΏπΏπΏ
Keesokan harinya. Renata kembali ceria dan centil kepada Jonathan dan kedua orangtuanya.
Setelah ceritakan yang sebenarnya rasanya lega sekali meskipun hati keluarga itu pada sakit karena kejadian itu lagi.
"Adek gitu dong, jangan diam dan nangis saja."ucap Mona sambil gombal ke anaknya.
"Apaan sih mama,adek emang kayak gini kali."balas Renata pura pura bete.
"Mama Papa adek berangkat sekolah dulu."pamit Renata lembut.
"Sama siapa adek pergi nya."tanya Agung lembut.
"Sama Kakak lah emang sama siapa lagi,papa masih pakai baju olahraga pula dan mama masih baju apa sih namanya adek gak tahu istilahnya kalo Kak Jo emang sudah pakai pakaian rapi lah."jawab Renata polos dan nama baju itu piyama kimono iya wajar Renata gak tahu soalnya dia gak punya pakaian kayak gitu.
"Aduh kenapa putriku sangat polos sekali."kata Agung sambil mengelus rambut Renata yang hitam dan panjang.
"Adek berangkat ke sekolah dulu."kata Renata ceria dan mencium pipi kedua orangtuanya.
Renata berangkat ke sekolah dan Jonathan sudah menunggu nya di mobil.
Di perjalanan Renata baru teringat jika dirinya marahi Odelia dan Kanaya,dia harus minta maaf, sebetulnya itu bukan salah mereka tapi dirinya yang emosi.
"Aku harus minta maaf."batin Renata.
ππππ
Di kelas Renata masih duduk dan Odelia sibuk dengan ponselnya.
"Lia,aku minta maaf atas sikap aku kemarin."maaf Renata dan Odelia menatap lembut dari Renata.
"Oh iya aku gak apa-apa Ren,aku juga salah karena menyapamu di saat kamu lagi marah dengan kakakmu."kata Odelia lembut.
"Tapi kamu jadi teman aku kan."tanya Renata tak yakin karena ucapannya yang keterlaluan.
"Kamu tetap teman aku lah,Kak Ezra kemarin tanya kenapa kamu pulang sendiri padahal ada Kak Jonathan loh kemarin."tanya Odelia kepo.
"Gak papa itu urusan kakak dan adek."jawab Renata jujur.
Renata menyembunyikan masa lalunya dihadapan orang lain karena cukup papa,mama dan Jonathan yang tahu.
πππππππππππππππ
Ngeri iya Agung sama Jonathan kalo tahu keluarga nya di gitukan.
Sekarang ini jawaban dari bab 59 dan 39 iya.
Mau tanya Renata itu masih suci atau tidak jawabannya masih suci iya.
__ADS_1