Ada Apa

Ada Apa
94


__ADS_3

Laura keluar dari tempat itu sambil menangis.


Renata langsung terbangun karena mimpiin Jun datang ke Indonesia.


Renata bingung bukan karena dia ada dimana tetapi dia bingung bagaimana nanti dia ketemu dengan orang tua dari Jun apalagi Daddynya.


"Semoga aku berhasil menaklukkan hati dari Om Michael supaya aku bisa dapat restu."batin Renata.


Renata juga melihat ada mamanya dan langsung memeluknya.


"Mama,adek takut sekali."ucap Renata tiba-tiba mengeluarkan air matanya.


"Adek mama disini iya."kata Mona sambil mengelus punggung Renata.


"Mama, si tua bangka itu hampir saja melecehkan adek,adek takut sekali ini yang kedua kalinya adek hampir di lecehkan,adek bukan gadis yang baik bahkan adek gak bisa jaga diri adek sendiri,adek kotor,adek jelek dan adek banyak dosa, maaf kalo adek bukan yang baik bagi papa, mama dan Kak Jo."teriak Renata tapi sambil menangis.


Dibalik pintu kamar itu Sean dan Jonathan mendengar apa yang Renata keluar dari mulut itu.


Sedih campur kecewa,itu yang mereka berdua rasakan,sedih gak bisa jaga Renata dan kecewa karena membuat Renata lebih takut dan trauma.


"Mama adek benci dengan diri adek sendiri karena ada seseorang yang suka sama adek tapi bodohnya adek benar benar mengabaikan perasaannya,Mama..adek harus bagaimana?Ma."sambung Renata yang masih menangis.


Mona tahu bagaimana cinta ala remaja di berbagai jaman,dia juga pernah merasakan yang hal sama dengan putrinya di masa lalu yaitu dia pernah mengabaikan Agung di masa lalu tapi bedanya hanya 2 bulan saja.


Agung tetap menerima dirinya meskipun Mona sering bersikap dingin kepada Agung waktu SMA dulu.


"Adek masih suka sama dia iya."goda Mona ke anaknya.


"Kalo masih suka iya ngapain adek susah payah mengatakan dan terang-terangan kalo gak suka lagi."jawab Renata kesal.


"Mama kan cuma tanya saja Adek."balas Mona malah santai.


"Loh kok Mama cepat pulang,ada apa dengan acara itu."tanya Renata karena baru sadar jika mamanya sudah pulang duluan.


"Tadi papa kamu telpon Pak Danang, makanya papa kamu ajak mama pulang sekaligus jaga adek kebetulan kakakmu tadi telpon karena adek sudah ketemu sekalian juga mama jaga adek disini,adek kalo belum makan,makan iya soalnya Papa sama Mama ada belikan makanan buat adek dan 2 kakakmu."jawab Mona lembut.


Renata tak melanjutkan pertanyaan lagi dan ingin memeluk ibunya.


Agung melihat wajah dari Alan yang sendu namun Agung biarkan saja dia merenungkan kesalahannya sendiri.


"Heh kamu pulang kah."tanya Mona lembut ke Sean.


"Iya Tante, soalnya Clara sendirian di rumah nanti maka dia lagi hamil lagi."jawab Sean santai.


Renata cuma diam saja dan memilih makan malam. Sean pamit pulang dan disini hanya Jonathan,Mona dan Renata.


Emang Sean, Renata,Mona dan Jonathan tak tahu berita di acara itu.


Setelah Sean pulang Agung sudah kembali ke apartemen milik Jonathan dengan raut wajah yang sendu dan sedih.


"Papa kenapa."tanya Renata polos dan melihat papanya yang sudah pulang.


Agung tak langsung menjawab pertanyaan lalu dia duduk disampingnya Mona.


Jonathan juga sibuk dengan ponselnya dan membaca berita gosip yang panas malam ini.


"Tante Laura mau menceraikan Om Alan."ucap Jonathan heboh tapi Renata dan Mona juga heboh kecuali Agung.


"Apa,benaran kah itu,Mas."tanya Mona tak yakin.


"Iya,Laura menceraikan Alan secara langsung,aku hanya menghargai perasaannya."jawab Agung jujur.


"Adek boleh cerita gak,."ucap Renata serius.


"Cerita apa adek."tanya Agung penasaran.


Renata menceritakan apa yang sedang terjadi kepada dirinya.


"Adek gak tahu kenapa adek di culik pas lagi,adek terbangun tapi badan adek di ikat oleh tua bangka sialan itu...adek hampir saja di lecehkan oleh dia tapi untungnya adek langsung kabur pas adek bawa pisau kecil."cerita Renata membuat Agung langsung menggebrak meja dengan keras.


"Sialan berani sekali dia menyakiti anak aku."batin Agung mulai marah,marah dengan dirinya sendiri.


Renata langsung ketakutan melihat Agung gebrak meja itu. Agung sadar jika putrinya takut apa yang dia lakukan tadi.


"Papa minta maaf karena membuat adek takut."maaf Agung tapi Renata terlanjur takut dan mulai menangis.


🍁🍁🍁🍁🍁.


Renata lebih banyak diam sejak tadi malam yang mengerikan. Dia sementara tinggal di apartemen ini.

__ADS_1


"Adek,kalo ada apa-apa cepat hubungi aku iya."pesan Jonathan pas mau turun kerja.


"Adek temani kakak iya di kantor,adek gak nakal kok."rengek Renata tapi sayangnya Jonathan belum bisa kasih ijin ke adeknya.


"Adek disini dulu iya,itu pakai saja laptop aku untuk nonton drama Korea."saran Jonathan namun Renata menolaknya.


"Adek gak mau adek maunya kakak disini saja."teriak Renata marah dan wajahnya terlihat emosi.


"Adek aku harus kerja dek,biar bisa belikan makanan buat adek.,adek disini dulu iya."bujuk Jonathan lembut namun terlihat sedikit mau emosi di wajahnya.


Renata terus menangis dan menangis lagi. Membujuk gadis ini ternyata jauh lebih sulit daripada Maya.


Ezra,Peter dan Sean juga pernah bilang jika Renata itu sangat sulit di bujuk apalagi di godai.


Renata langsung pergi dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu dengan keras.


Jantung Jonathan langsung kaget dan terkejut pastinya,dia gak mau ambil pusing dan memilih berangkat kerja.


"Kenapa hasilnya bisa begini."tanya Sean saat melihat hasil itu bersama Jonathan dan Peter.


"Hasil laporan apa."tanya Peter kepo.


"Hasil laporan kerja lah,gimana sih jadi bocah."jawab Jonathan ngegas.


"Bukan tapi hasil ketagihan di kartu kredit gue."balas Sean dan membuat Jonathan dan Peter malu sendiri.


"Gue kira apa tadi,gue mau tanya soal tadi malam you berdua kemana weh sampai gue di marahi oleh Papa Agung."tanya Peter penasaran.


Dengar pertanyaan itu membuat Jonathan ingat dengan adeknya di apartemen,dia gak tahu Renata sedang apa disana.


Kedua manusia itu tak langsung menjawabnya.


"Oh iya gimana kabar dari si adek."tanya Sean juga merindukan sosok gadis dingin dan ayu alias Renata.


"Adek lagi tidur."jawab Jonathan bohong karena dia juga gak tahu Renata sedang apa disana.


"Masa anak gadis tidurnya sampai siang gini sih."cibir Peter.


"Bahaya loh anak gadis kayak dia itu kerjaan tidur mulu nanti jodohnya pergi loh,"sambung Ezra datang tiba-tiba tanpa di undang untuk berjulid ria.


"Emangnya kamu tahu apa tentang si adek."tanya Sean membuat Ezra terbatuk-batuk.


"Dia mah masih singel,suruh dia cari pacar lah kan adek itu cantik,imut,polos, pintar,kaya lagi, hatinya tulus,wajahnya ayu pula kenapa dia masih betah sendiri sama seperti abangnya."ucap Ezra dengan ceplas-ceplos nya.


"Enak saja bilang bebeb gue error otaknya,."ucap Ezra tak terima.


"Buktinya kalo aku tanya pasti gak nyambung apa yang aku tanyakan."kata Jonathan ngegas.


"Sudah pang jangan ribut, coba lihat dulu keadaan si adek,dia pasti butuh teman disana, kasihan tahu dia sendirian disana pasti dia lagi nangis bukan lagi tidur."kata Sean marah,Ezra terdiam dan Jonathan langsung menyadari jika adeknya lagi sendirian di apartemen.


Di apartemen, Renata cuma diam dan menangis, bahkan dia tak mau keluar dari kamar sejak dirinya gak bolehkan ikut ke kantor.


Makan siang saja dia lewati dan selalu menahan rasa laparnya, Renata juga gak mau keluar jika Jonathan pulang dari kantor.


"Kakak ada dimana,adek takut sendirian."batin Renata.


"Adek,buka pintunya yuk."suara Jonathan dengan mengetuk pintu.


"Buka saja gak di kunci Kak Jo."teriak Renata dari dalam kamar.


Jonathan,Ezra, Peter dan Sean masuk dengan membawa makanan dan minuman kesukaannya Renata.


"Adek kok makin hari makin kurus sih."tanya Ezra terkejut melihat tubuhnya Renata semakin kurus.


Renata tak menjawab melainkan menagih janji kepada Ezra.


"Kak Ezra kapan ajak adek ke luar kota."tagih Renata seperti orang yang menagih hutang.


"Astaga aku lupa dek,3 hari lagi aku kesana."ucap Ezra benar' lupa.


"Awas iya kalo bohong, bohong lagi nanti adek gak bolehkan kakak main sama Kak Jo sama adek,puas."ancam Renata santai tapi mukanya menyeramkan.


"Emangnya kamu mau kemana,Ezra."tanya Jonathan pas memberikan makanan buat Renata dan Renata menyambut makanan buat dirinya.


"Mau ke Palembang hehehe."jawab Ezra dengan cengiran kudanya.


"Mau ketemu keluarganya iya."tebak Peter tapi salah.


"Salah."kata Ezra.

__ADS_1


"Terus apa dong."tanya Jonathan dan Sean bersamaan.


"Mau survei meong."jawab Ezra ngegas.


"Oh gitu,aku kira mau ketemu calon keluarga dari gadis itu."ucap Peter.


"Apa yang sedang terjadi kepadamu dek."tanya Peter lembut namun Renata langsung melotot matanya yang tajam.


Gadis ini sangat berbahaya jika lagi melotot matanya sumpah keempat laki-laki ini sangat takut kepada Renata.


"Kita pergi saja, mungkin dia mau sendiri kali."ucap Ezra sangat takut kepada Renata.


Keempat laki-laki ini pergi dan meninggalkan Renata sendirian di kamar.


🍂🍂🍂🍂🍂.


Malam hari Renata sedang menelepon seseorang dengan telpon rumah.


"Kamu dimana Ren."tanya Marian di rumah.


"Aku di rumah tapi bukan dirumah aku."jawab Renata enteng.


"Oh gitu,ada apa kau menelpon aku, tumben."tanya Marian serius.


"Mar, gue tak sanggup hidup di dunia ini."ucap Renata mulai menangis.


"Apa kamu gila iya."teriak Marian marah tapi dalam telpon.


"Kamu gak akan tahu tentang aku,Mar."jawab Renata marah sambil menggenggam telpon dengan erat sampai buku jemarinya putih semuanya.


"Besok aku akan ketemu kamu,iya Ren,sama teman SMP mu dulu tapi teman sekelas aku juga sih,siapa itu Andin dan Fanny."ucap Marian lembut dan Renata langsung mengingat nama Andin dan Fanny.


"Andin dan Fanny,minta nomor nya dong."kata Renata serius.


"08xxxxxxx dan 08xxxxxxx."jawab Marian semangat.


"Ok deh,aku tutup dulu telponnya."balas Renata dan langsung menutup telponnya.


Renata menekan tombol angka yang ada di telpon rumah. Nomor itu tersambung dan mengangkat telpon darinya.


"Halo ini siapa."tanya Andin penasaran di telpon.


"Halo ini aku Renata, Din."jawab Renata lembut dan Andin langsung heboh karena lama gak ketemu Renata.


"Renata, astaga gue kangen sama kamu gila,sudah 3 tahun aku tak dengar suaramu itu."ucap Andin heboh sekali.


Renata sudah terbiasa dengan suara dari Andin yang suka heboh sendiri.


"Heh ini gue setan,Andin kamu ada waktu tak buat besok."tanya Renata serius.


"Gue ada waktu, Ren,besok gue bisa Ren."jawab Andin santai.


"Kamu datang saja ke rumah gue yang dulu iya."balas Renata.


"Ok Ren, makasih."ucap Andin.


"Sama-sama."balas Renata.


Renata menutup kembali telpon rumah itu dan kembali nomor telepon dari Fanny.


"Halo ini siapa iya."tanya Fanny ragu di telpon.


"Ini gue Renata,Fan."jawab Renata.


"Renata,astaga lama aku tak dengar suaramu itu."ucap Fanny heboh sampai Renata menjauhkan telpon dari telinganya.


"Biasa saja kali."kata Renata kesal.


"Btw kamu ada waktu gak buat besok."tanya Renata serius.


"Ada."jawab Fanny seadanya.


"Besok ke rumah gue iya."balas Renata santai.


"Ok Princess Hadikusuma."ucap Fanny.


Renata menutup kembali telpon rumah dan kemudian bergegas ke kamarnya,besok dia kembali rumahnya yang sebenarnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁.

__ADS_1


Andin dan Fanny adalah teman setia dan teman gilanya Renata sejak SMP,tapi mereka beda SMA dan juga teman sekelasnya Marian waktu SMP.


Penasaran apa yang Jaden kasih tahu ke Danny dan Jun di bab selanjutnya.


__ADS_2