
John berjalan lalu menyapa Jonathan dan Sean.
"Kak Jonathan dan Kak Sean pasti cari Kak Renata iya."sapa John sambil menebak kalo Jonathan dan Sean seolah ingin mencari Renata.
"Iya dek,dimana adekku, John."tanya Jonathan lembut.
"Di taman sekolah tadi Kak Renata menangis tapi gak tahu penyebabnya apa, akhir-akhir Kak Renata sering hanya meluapkan emosi,menangis dan memaki dirinya sendiri."jawab John jujur.
Jonathan dan Sean gak tahu dimana taman sekolah itu tapi sejujurnya mereka berdua sangat kaget jika Renata ada masalah di akhir-akhir ini.
"John,dimana taman sekolahnya."tanya Sean serius.
"Ayo Kak ikut aku."ucap John ceria.
2 pria dewasa ini hanya mengikuti remaja laki-laki polos ini dari belakang.
"Ren."panggil Marian datang dari perpus dan menemui orang yang pernah 1 SMP dengan Renata.
Jadi Marian dan Renata dulu pernah 1 SMP tapi mereka berdua tidak saling kenal dan beda kelas.
"Mar,."kata Renata sendu lalu bangkit berdiri dengan dibantu oleh Marian.
Marian dengan tulus membantu Renata untuk bangkit berdiri.
"Gak ke perpus kah."tanya Renata lembut sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Sebentar saja lalu aku ingin ke kantin dan beli makanan buat aku dan kamu,ini makan lah biar gak sedih lagi."ucap Marian lembut lalu memberikan camilan buat Renata.
Renata mengambil camilan dari tangannya Marian lalu membuka bungkusan camilan dan makan dengan lahap.
Benar kata Marian rasa hatinya mulai sedikit hilang sedih hatinya jika dia makan lah.
"Mar, aku ingin cerita dengan mu."ucap Renata tetapi dirinya mengeluarkan air matanya.
"Ren,kalo mau menangis iya menangis saja dulu lalu kamu bisa ceritakan yang apa sedang terjadi di dalam dirimu."kata Marian lembut sambil menggenggam tangan Renata yang masih ada makanan di tangannya.
Renata menangis sejadi jadinya tanpa mengeluarkan suara apapun. Marian juga menangis mungkin suasananya yang bikin sedih.
Selesai menangis Renata mulai menceritakan apa yang sedang terjadi kepada dirinya.
"Kamu harus jujur sama ke padaku, gimana tentang diriku yang sebenarnya,aku gak marah kok kalo kamu jujur kepadaku."ucap Renata serius dan menyuruh Marian jujur kepadanya.
Marian terdiam sejenak lalu berpikir gimana caranya jujur tentang Renata yang sebenarnya.
"Kamu itu sangat dingin, sombong,gak mau berteman dengan siapa bahkan kamu sangat irit berbicara, selalu menyendiri, maaf itu yang aku katakan yang sebenarnya."jawab Marian takut dimarahin oleh Renata.
"Aku sudah bilang kepada mu?Mar,aku gak marah kalo kamu jujur kepadaku tapi apa yang kamu katakan itu benar, orang selalu menilai ku seperti itu padahal itu bukan sikapku yang sebenarnya,aku senang kamu jujur kepadaku, sebenarnya aku mencari teman yang tulus kepadaku tanpa menilai bahwa aku berasal dari keluarga Hadikusuma yang terkenal,aku hanya butuh orang tulus dan jujur kepadaku itu saja."balas Renata sedih lagi-lagi air mata menetes lagi dari bola mata yang berwarna hazel.
Jun atau David juga mendengar suara sedih karena Renata tapi gak bisa berbuat apa-apa.
"Itu Kak Renata lagi sama temannya."kata John polos dan menunjuk ke arah Renata dan Marian di taman.
"Lagi menangis dianya."aduh Sean polos.
"Biarkan adek menangis yang penting gak usah ganggu adek lagi menangis."ucap Jonathan serius.
"Ren,kamu harus jujur kepadaku."tanya Marian serius.
__ADS_1
Renata menatap Marian dengan sendu.
"Apa kamu menyukai Jun iya."ucap Marian serius dan Renata mendadak kaku di badannya.
"Aku perhatikan kamu sering pergi duluan jika kita bertiga bahas Jun dan Michelle bahkan kamu juga pulang duluan padahal baru sampai, jujur saja ke aku Ren."kata Marian lembut tapi sedikit mengancam gadis berwajah ayu.
"Tidak tahu tapi hatiku cemburu sekali."jawab Renata jujur.
"Cemburu."kata Marian menekan kata cemburu.
"Iya aku cemburu?puas kan karena aku jujur padamu,sudah lah gak usah bahas tentang ini yang ada tambah sakit di hati aku."ucap Renata dingin lalu bangkit dari bangku taman sekolah dan meninggalkan Marian seorang diri.
David dan Jun lagi-lagi percakapan dari 2 gadis ini sedangkan John, Jonathan dan Sean gak tahu apa yang dibahas oleh 2 gadis raut wajahnya yang bertolak belakang.
Saat melangkah kakinya tiba-tiba ada bola basket mendarat di hidungnya Renata yang mancung.
Renata merintih kesakitan saat ada bola basket hingga mengeluarkan darah segar di hidungnya bahkan Renata juga berteriak kesakitan.
"Sialan siapa sih yang lempar bola basket ke gue."teriak Renata marah dan emosi sambil menutup hidungnya yang mengeluarkan darah.
Marian,David dan Jun kaget melihat Renata kesakitan karena bola basket sedangkan John, Jonathan dan Sean juga mendengar suara teriak kesakitan dari Renata.
Marian bangkit dari bangku taman sekolah lalu bergegas ke lokasi dimana Renata kena bola basket ke hidungnya.
Darah di hidungnya Renata masih mengalir deras bahkan seragam sekolahnya juga kena darah.
Jonathan langsung berlari ke adeknya karena panik sekali.
"Adek gak papa kan."tanya Jonathan panik dan melihat hidung dari sang adek.
"Gue yang duluan,Jun."teriak David gak suka dan memukul wajahnya Jun.
"Tapi kamu lambat."sarkas Jun dan membalas pukulan dari David.
John menangis karena kakaknya kelahi dan Sean yang menenangkan nya.
Marian dan Jonathan melihat perkelahian antar 2 sahabat itu.
"Hentikan semuanya ini masih di lingkungan sekolah."teriak Jonathan marah dan menghentikan perkelahian Jun dan David.
Renata langsung menoleh ke David dan Jun yang sudah kena babak belur di wajahnya.
"Kalian berdua buat apa berkelahi,kalo ada niat menolong ku tidak usah pakai acara kelahi lah."sindir Renata secara lembut tapi membuat 2 sahabat tersindir.
"Itu adekmu lagi menangis David Jumantara."marah Jonathan sambil menatap sinis ke arah David.
"Marian, tolong bawa adekku ke UKS sekarang nanti aku kasih upah buatmu."perintah Jonathan lembut lalu Marian membawa Renata ke UKS, Renata hanya mengangguk dan menutup hidungnya yang masih berdarah.
"Pasti kalian berdua berkelahi karena adekku kan, ngaku."marah Jonathan lagi ke David atau Jun.
David dan Jun saling bertatapan lalu menatap ke arah Jonathan yang lagi marah.
"Tidak kak."ucap Jun dingin lalu meninggalkan Jonathan dan David di taman.
David juga diam dan takut menjawab marahnya Jonathan.
Jonathan malas melihat David dan juga malas di taman sekolah.
__ADS_1
Sampai di UKS Renata langsung di tangani oleh anggota PMR tetapi Renata menolak karena dulu dirinya juga pernah menjadi anggota PMR di SMP dulu.
Renata mengobati hidungnya sendiri sambil menahan ras sakit dan perih di hidungnya.
"Gila sakit banget."batin Renata kesakitan karena hidungnya.
Butuh 15 menit mengobati hidungnya Renata langsung keluar dari UKS dan memilih pulang ke rumahnya.
Karena 1 Minggu sekolah mereka mengadakan acara ulangtahun sekolah jadi seluruh murid bebas mau pulang jam berapa dan tidak ada kegiatan belajar di sekolah hehehe.
"Kak Jo dimana iya."ucap Renata bingung mencari pria yang bertindik hidung.
"Astaga banyak banget darah di seragam aku,mati aku di marahi habis-habisan sama mama dan papa gilanya lagi aku gak bawa jaket pula."batin Renata baru sadar seragam sekolahnya kena darah dari hidung nya yang kena bola basket.
"Marimar."teriak Renata heboh.
"Nama gue bukan marimar gila,."kata Marian tak terima namanya di ganti.
"Astaga aku lupa nah,kenapa mulut aku sebut marimar."balas Renata malu dan memukul kepalanya dengan pelan dan bibirnya juga dia pukul dengan pelan.
"Kenapa Ren."tanya Marian bingung.
"Aku takut kalo aku pulang pasti ditanyai bajuku dan hidungku ini,takut dimarahin nah sama orang tua gue."aduh Renata bingung dan kepalanya pusing.
"Kamu kan bisa bicara sejujurnya Ren,."saran Marian tapi Renata tetap bingung.
"Mereka gak percaya nah."jawab Renata kesal dan frustasi.
"Mana ada orang tua yang gak percaya dengan ucapan dari anaknya sendiri,kamu nih selalu begitu mulu sama orang tuamu,orang tua pasti mengerti lah jika kamu berbicara dengan baik,aku percaya sekali kamu pasti bisa apalagi Kak Jonathan juga jadi saksinya."nasihat Marian lembut membuat Renata yakin untuk memberi tahu ke orangtuanya.
Tapi air mata mengalir lagi di bola mata nya.
"Mar,jika gak ada kamu mungkin aku gak bisa begini, seharusnya dari dulu aku berteman dengan mu tapi hatiku ini terlalu gengsi sekali,."kata Renata sejujurnya dan menangis.
"Sudahlah jangan menangis,aku justru gak papa kok bukankah kita baru 1 baru kelas sejak pertama kali kita masuk di kelas 12 sebelumnya kan kita gak pernah 1 kelas dari kelas 10 hingga kelas 11."ucap Marian lembut sambil memegang tangan Renata.
Renata menatap wajah Marian dan menunduk kepalanya ke bawah.
"Renata Hadikusuma."panggil Michelle lembut.
Marian dan Renata langsung menoleh ke arah Michelle.
"Kamu lihat Jun gak."tanya Michelle sedikit centil suaranya.
"Tidak,cari saja sendiri."jawab Renata malas dan dingin.
Michelle kesal dengan jawaban dingin dari Renata dan berjalan melewati Renata dan Marian.
"Dasar cewek gak tahu diri."batin Renata benci mendengar suara centil dari Michelle.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Apa alur ceritanya gak nyambung dengan sinopsisnya iya atau gimana gitu.
Jadi siapa pemeran utamanya yang sebenarnya adalah Jun dan Renata.
Tapi saya terlalu fokus ke keluarga Hadikusuma jadi adegan pemeran utamanya malah sedikit.
__ADS_1