
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Mona mengambil kunci mobilnya tetapi dirinya lupa dimana dia menaruh kunci mobil itu.
"Dimana aku tarohnya iya."batin Mona bingung mencari kunci mobil doang.
Mona lagi frustasi gara-gara kunci mobil doang.
"Heh Ren gue mau tanya tapi gue lupa."ucap Sean membuat Renata kesal.
"Gak usah bertanya kalo gitu."kata Renata kesal.
"Sumpah gue lupa."ujar Sean lupa.
"Kamu mau tanya apa sama si adek."tanya Jonathan serius.
"Ini urusan aku dan adekmu iya."kata Sean gak mau kasih tahu ke Jonathan.
"Gak jelas kamu nih."balas Jonathan kesal dan fokus menyetir mobil.
"Aku ingat sekarang,gue tanya sama kamu Ren,si David itu pernah menyatakan cinta gak sama kamu di masa lalu."tanya Sean tetapi Renata malah berjawab dengan santai.
"Gak,dia mah sibuk dengan grupnya sendiri."jawab Renata santai.
"Tapi keliatannya dia suka sama kamu."kata Sean sedikit curiga.
"Itu perasaan kakak doang."ucap Renata kesal dan marah.
"Adek capek tahu gak usah bertanya seperti itu lagi."lanjut Renata lelah dan capek.
"Gadis ini selalu begitu jika sama yang lebih tua darinya."batin Sean.
Tetapi gadis itu diam-diam menangis entah apa yang dia tangisi dan ternyata ini adalah hari ulang tahun sang nenek.
"Nenek,adek kangen sama nenek."batin Renata saat air mata jatuh dipipinya.
Mereka bertiga sudah sampai di rumah tak lupa juga mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
"Mama lagi apa."tanya Jonathan bingung pas melihat mamanya lagi cari sesuatu.
"Cari kunci mobil nah."jawab Mona pusing.
"Oh tadi mobil mama aku pakai tadi,maaf ma aku gak bilang ke mama."balas Jonathan santai dan Mona langsung menoleh ke arah putranya.
"Pantas mama cari kok gak ketemu ternyata kamu yang pakai,sini kuncinya mama mau pergi ke kantor nih mau ketemu papamu."ucap Mona kesal dengan putranya.
Mona mengambil kunci mobilnya di tangan Jonathan dan pergi ke kantor suaminya.
"Kasihan Tante gara-gara anaknya nih."kata Sean ngegas.
"Diam kamu jadi bocah."ucap Jonathan kesal juga.
Renata sudah dikamar dan mengganti seragam sekolahnya lalu memakai pakaian santai.
Setelah selesai mengganti bajunya saatnya Renata melanjutkan tugas dari sekolah.
"Heh adekmu kemana weh."tanya Sean gak melihat Renata disini.
__ADS_1
"Coba cek di kamarnya, biasanya adek pas pulang sekolah selalu kerjakan PR nya sih atau adek lagi tidur siang."ucap Jonathan duduk di ruang keluarga sambil bermain PS ditemani oleh Otte dan Lily.
"Aku ke kamarnya sebentar."kata Sean dan Jonathan malah sibuk dengan dunianya sendiri.
Sean melangkah ke kamarnya Renata,dia ingin mengetuk pintunya tetapi pintu tidak dikunci dan masuk kedalam kamar yang bernuansa pink pastel dan aesthetic.
"Ren,gue kira kamu lagi tidur dan ternyata kamu lagi kerjakan PR."kata Sean membuat Renata terkejut dan menoleh ke arah Sean.
"Tumben kakak mau ke kamar adek."tanya Renata heran.
"Iya cuma mau kesini saja kok."jawab Sean santai.
"Kak, jangan ganggu adek lagi,adek mau belajar."kata Renata dingin dan fokus belajar.
Sean mengerti apa yang di katakan oleh Renata dan memilih keluar dari kamar gadis dingin dan ayu ini.
Tanpa sadar air mata mengalir lagi di matanya,Renata juga mengambil foto dirinya dan neneknya ketika dirinya lagi berulang tahun yang ke 10 tahun.
"Sekali lagi aku merindukan nenek."batin Renata saat dirinya menangis yang tidak bisa dia tahan.
Di kantor Agung sedang melihat grafik yang di buat oleh putrinya. Jujur dia kagum melihat hasilnya padahal putrinya belum ada pengalaman di dunia kantoran.
"Tuan,Nona Renata yang kerjakan ini disaat Yohan lagi sakit, sejujurnya saya kaget melihat hasilnya tetapi saya bangga dengan hasilnya."jelas Roy saat dirinya memberi tahu ke bosnya.
"Itu lah kenapa kedua anakku sangat pintar karena itu ada garis keturunan dari aku dan Mona,di masa lalu Mona sangat pintar di sekolah dan kedua anakku menurunkan kepintaran dari ibunya,aku sangat senang melihat kedua anakku sudah tumbuh menjadi anak yang tampan dan cantik tanpa sadar Renata sudah besar dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan ayu meskipun kedua anakku selalu bikin masalah di sekolah."kata Agung tiba-tiba air mata jatuh mengingat kedua anaknya sudah besar.
Mona mendengar percakapan Roy dan Agung dibalik ruangan itu, suasana haru itu membuat dirinya menangis.
"Jonathan dan Renata,mama bangga dengan kalian berdua meskipun kalian berdua selalu bikin masalah di sekolah, kalian berdua hadir yang membuat kehidupan aku dan Agung menjadi lebih berwarna."batin Mona saat dirinya menghapus air matanya.
"Oh sepertinya bini gue sudah datang deh."kata Agung lalu dia berjalan ke arah pintu.
"Sayang,kamu sudah lama menunggu ku."tanya Agung lembut.
"Tidak sayang."jawab Mona lembut.
"Sayang kamu sudah makan belum."tanya Agung.
"Belum sayang."jawab Mona.
"Kita makan berdua yuk,anggap saja kita sedang berpacaran."kata Agung lembut lalu mencium bibir sang istri.
Mona membalas juga ciuman dari sang suami akhirnya mereka berdua pergi ke restoran dekat kantor tersebut.
2 jam Renata mengerjakan tugas dari sekolah, dirinya bersiap-siap ke kuburan sang nenek tak lupa juga dirinya membeli bunga matahari kesukaan sang nenek meskipun dirinya alergi bunga dan membeli kue kecil.
Saat turun dari lantai 2 Renata melihat kakaknya asyik bermain PS bersama Sean. Renata heran kenapa kakak atau kakak sepupunya lupa dengan hari ulang tahun sang nenek.
"Kak Jo dan Kak Sean,adek mau pergi ke kuburan nenek karena hari ini adalah ulang tahun nenek."pamit Renata lembut.
Jonathan dan Sean berhenti bermain PS dan astaga mereka berdua malah lupa kalo hari ini adalah ulang tahun sang nenek.
"Adek mau pergi ke kuburan nenek kah,ayo kita pergi sama-sama."kata Jonathan lembut.
"Astaga aku lupa kalo hari ini adalah ulang tahun nenek."kata Sean pukul kepalanya tetapi tidak keras.
"Sayang kita ke makam mama yuk,hari ini mama ulang tahun."ucap Mona dan Agung baru ingat jika ibunya hari ini ulang tahun.
__ADS_1
"Iya sekalian bawa papa iya."kata Agung saat dirinya fokus menyetir.
"Yang, hari ini nenek aku ulang tahun kita ke makam nenek yuk."ucap Peter saat dirinya mengikat rambut Regina.
Regina sudah sembuh dari penyakitnya dan kemarin sudah di bolehkan pulang dari rumah sakit.
"Nenek yang mana mas."tanya Rani tidak tahu.
"Itu istri dari kakekku sayang."jawab Peter lembut.
"Kalo gitu kita kesana sekarang sekalian pergi nyekar ke makam ayahku."balas Rani lembut dan suaminya hanya mengangguk pelan saja.
Sampai di kuburan Renata mencabut rumput di atas makam sang nenek sambil menangis.
Air mata gadis itu tak berhenti di matanya dan menyebabkan matanya bengkak.
"Dari pulangan sekolah hingga sekarang kamu habis menangis kah."tanya Sean curiga jika gadis yang kelahiran bulan September ini sedang menangis dan Renata menoleh sekilas ke Sean lalu menatap ke makam yang bertuliskan nama Azura Dirgantara.
Jonathan tak sadar jika Renata dari pulang sekolah hingga di kuburan itu sedang menangis.
"Adek kangen sama nenek."isak tangisan pecah dari Renata.
2 pria dingin dan tegas ini sedang menangis karena isak tangisan dari Renata.
Tak lama kemudian Agung, Mona dan Scott menghampiri ketiga manusia yang berwatak dingin.
"Kalian bertiga sudah lama disini."tanya Scott.
"Iya Kek."jawab Sean.
"Adek gak papa kah bunga itu kena ke badan adek."tanya Scott sedikit takut jika cucu perempuan satu-satunya itu kena alergi bunga.
"Demi nenek Kek,adek rela kena gatal karena bunga matahari ini."jawab Renata masih menangis.
🍁🍁🍁🍁
Renata matanya sudah bengkak habis menangis dan memilih tidur karena besok dirinya harus masuk sekolah.
Keesokan harinya Renata tidak bersemangat untuk pergi ke sekolah.
"Pagi semuanya."sapa Renata dingin.
"Kenapa adek sapanya dingin sekali."tanya Mona bingung.
"Seharian adek menangis karena adek merindukan nenek."jawab Renata jujur.
Mona melihat mata putrinya itu bengkak habis menangis.
"Dimana Papa dan Kak Jo."tanya Renata tidak melihat 2 pria dewasa yang sifatnya sama tetapi usianya beda 26 tahun.
Jika sama Renata usianya beda 34 tahun dengan kedua orangtuanya.
"Papa lagi bersepeda dengan kakakmu."jawab Mona lembut.
Renata tidak membalas justru dirinya sibuk sarapan pagi.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Maaf aku ngetik ini tiba-tiba air mata aku keluar mungkin sedih kali ceritanya di bab ini.