Ada Apa

Ada Apa
39


__ADS_3

Kembali lagi ke masa lalunya Jonathan.


Usia kandungan Maya sudah mencapai 6 bulan tapi dirinya ternyata menderita kanker otak stadium 3.


Sejujurnya Maya gak mau di kemoterapi karena takut kalo janinnya bisa berbahaya.


"Sayang apa kamu tega sama anak kamu sendiri."marah Maya.


"Sayang bagaimana pun aku juga ingin mempertahankan anak kita,aku juga sayang sama anak kita,aku bukan seperti itu, dimana-mana orang tua pasti ingin mempertahankan bayinya."kata Jonathan sabar.


"Aku takut jika bayi ini pergi meninggalkan kita berdua."kata Maya menangis dan memeluk suaminya.


Renata tak sengaja mendengar percakapan kakak dan kakak iparnya, niatnya dia memanggil mereka berdua untuk makan malam bersama tapi malah asyik menguping.


"Adek kemana sih."tanya Agung kesal karena putrinya lama banget memanggil putra sulungnya dan menantunya.


"Coba cek ke atas sana,jangan taunya marah saja."saran Mona ke suaminya.


Agung pergi ke lantai 2 dan melihat ada Renata masih disitu.


"Adek."teriak Agung membuat Renata terkejut.


Jonathan dan Maya juga mendengar suara teriak dari Agung dan bergegas keluar dari kamarnya.


"Pa p p pa."kata Renata gugup dan masih kaget.


"Papa suruh adek panggil kakakmu malah asyik menguping saja, cepat turun ke bawah? Adek,sudah bikin masalah di sekolah sampai mama dan papa di panggil lagi sama kepala sekolah adek, cepat turun ke bawah sekarang dan habis makan langsung ke kamar dan belajar,awas adek main ponsel iya,papa sita ponsel adek."marah Agung dan Renata berjalan ketakutan karena dia habis dimarahi oleh Agung dan Mona gara-gara bikin ulah di sekolah.


"Sita saja ponselnya adek Pa."kata Jonathan ikut nyambung.


"Kamu juga sadar diri coba,kamu dan adekmu sama saja."marah Agung dan Jonathan dimarahi juga sama Agung.


Maya cuma diam saja dan memeluk lengan suaminya.


"Mama sudah capek iya dengan urusan ini,adek bikin masalah lagi,sama dah adek,kakakmu dan papa mu itu sama-sama bikin ulah mulu di sekolah,"marah Mona. Lagi-lagi Renata dimarahi lagi sama mamanya.


"Kenapa suamiku bisa turunkan warisannya ke dua anakku sih."batin Mona.


"Adek gak salah tapi mereka itu yang menghina adek."bela Renata.


"Sudah makan saja sana, sebulan penuh ponsel adek mama sita."ancam Mona membuat Renata membulatkan matanya.


"Jangan Ma,"rengek Renata gak mau.


"Tidak ada bantahan adek,kalo gak mau adek pergi dari sini sekarang."bentak Mona marah.


Renata pasrah dengan mamanya mau tak mau dirinya tidak memakai ponsel selama 1 bulan lamanya.


Agung, Jonathan dan Maya turun dari lantai 2 dan duduk di kursi.


"Mama sita ponselnya adek,Pa?biar adek gak bandel lagi."kata Mona serius.


"Serius Ma, tapi papa dukung sih karena si adek makin hari makin bandel banget dan lebih parah daripada Jonathan sendiri."ujar Agung.


Hati Renata menjadi sakit karena kedua orangtuanya malah begitu dengannya.


Renata gak nafsu makan dan memilih pergi ke kamarnya karena banyak tugas dari sekolah.


"Merajuk tuh adek."kata Agung melihat punggung Renata dari kejauhan.


"Biarkan saja adek merenungkan kesalahannya."jawab Mona sibuk dengan makanannya.


"Nak apa kamu yakin ingin mempertahankan kandungan mu, apalagi kondisi kamu semakin parah."tanya Mona tak tega melihat kondisi dari menantu.


"Aku yakin Ma, buktinya bayiku kuat di rahimku."jawab Maya.


Renata ternyata tidak ke kamarnya malahan dia menguping lagi, sakit banget rasanya di hati nya apalagi kedua orangtuanya lebih peduli kepada Maya sendiri sejak dirinya ada penyakit dibandingkan anaknya sendiri, Renata sakit juga Agung dan Mona gak peduli malah yang peduli itu adalah Argi omnya sendiri.


"Benci aku jadinya,kenapa aku seperti orang asing disini."batin Renata.


Air mata jatuh ke pipinya,Renata pergi ke kamarnya meskipun dirinya lapar tapi gak nafsu makan.


Keesokan harinya.


Renata sudah sampai di sekolah dan melihat ada David berjalan dengannya.


"Hai Ren,."sapa David tapi tak dihiraukan oleh Renata karena Renata sedih dirinya di abaikan tadi pagi.


David dan Renata ternyata 1 SMP iya tapi saling canggung.


"Kenapa dia ini."batin David bingung.


Tarik waktu dulu.

__ADS_1


"Maya kamu kenapa."tanya Mona panik.


Mona bahkan abaikan Renata yang mau berangkat sekolah.


"Mama,adek mau berangkat sekolah dulu."pamit Renata tapi lagi-lagi Mona abaikan Renata.


"Kenapa sih pada peduli banget dengan Kak Maya,aku benar-benar kayak orang asing disini."batin Renata marah dan kecewa.


Mau tak mau Renata berangkat sekolah dengan Pak Danang, biasanya Agung atau Mona yang mengantarkan Renata ke sekolah.


Kembali lagi.


Renata baru sadar ada yang sapa dirinya dan menyapa balik ke David.


"Hai juga David,oh aku mau ke kelas dulu."sapa Renata karena dia buru-buru ke kelas.


David juga mau ke kelas tapi dia dan Renata beda kelas.


"Aduh kenapa darah mengalir di pahaku."kata Maya panik.


"Sayang, sayang."teriak Maya saat memanggil Jonathan.


"Apa sayang."kata Jonathan bingung dan melihat ada darah mengalir di paha istrinya.


"Sayang,kita ke rumah sakit iya sekarang."ucap Jonathan panik saat melihat darah itu.


Maya di ruangan operasi karena janin diperutnya gak bisa di selamatkan,pupus sudah harapan mereka berdua untuk menjadi seorang papi dan mami.


Jonathan tak berani menatap Manuel karena Manuel sangat kecewa dengan dirinya yang lalai jaga putri dan cucunya.


Ada seorang dokter pun keluar dari ruangan operasi.


"Anda suami dari Maya Kusnadi."tanya Dokter itu yang bernama Leander.


"Iya saya suaminya dan gimana kondisi dari istri dan anak saya."jawab Jonathan mulai gak enak perasaannya.


"Jadi gini, istri bapak kondisinya semakin parah apalagi dirinya gak mau di kemoterapi demi melindungi janinnya tapi sekarang itu sudah menjalar ke tubuhnya hingga kena ke janinnya,saya minta maaf karena istri dan anak anda tidak bisa diselamatkan."jelas Leander membuat Jonathan, Manuel,Mira, Agung dan Mona terdiam.


Aldo dan Sabrina juga tak sengaja mendengar berita dan langsung menghampiri Jonathan.


Air mata jatuh dipipinya Jonathan karena gak becus jaga istri dan anaknya.


Bahkan Jonathan sudah menyiapkan nama buat putrinya,iya jenis kelamin anak mereka adalah perempuan.


"Dokter ijinkan saya untuk bertemu dengan istri ku sekali ini saja."ucap Jonathan.


Jonathan berjalan melihat kondisi dari Maya dan anaknya.


Kedua perempuan itu pergi untuk selama-lamanya dan meninggalkan seorang pria yang dingin nan tegas.


"Sayang kenapa kamu meninggalkan aku dengan secepatnya ini, bukannya kamu senang jika putri kita lahir dan kamu gak sabar mendandani putri kecil kita jika dia sudah besar nanti."ucap Jonathan menangis dan memegang tangan dari Maya.


"Sayang aku sudah menyiapkan nama buat putri kita."lanjut Jonathan beralih ke putrinya.


"Hai my beautiful daughter,kamu kenapa pergi juga bersama mamimu,papi senang loh kalo ada kamu nak jika kamu hadir di dunia,kamu sudah kan janji sama papi buat menjaga mamimu,kamu gak tega apa tinggal kan papi sendirian di dunia ini."ucap Jonathan menatap wajah putrinya yang sudah tidak bernyawa lagi.


Nama anaknya itu adalah Anna Hadikusuma.


Pulang sekolah Renata melihat Papa dan Mamanya berkumpul di ruang tamu tapi anehnya dia gak dikasih tahu. Jonathan sengaja tidak memberitahu ke adeknya karena adeknya lagi ujian kenaikan kelas, Jonathan gak mau mengganggu ketenangan adeknya yang konsen belajar.


"Kok pakai baju hitam semuanya sih."batin Renata bingung.


"Adek sudah pulang."tanya Agung dingin.


"Sudah tapi kok pakai baju hitam sih,ada yang meninggal iya."tanya Renata bingung.


Agung sebenarnya ingin memberitahu ke putrinya tapi karena Renata masih ujian iya sudah dia mengurungkan niatnya.


"Papa kok diam saja sih."kata Renata marah.


"Apa papa masih marah sama adek."batin Renata pergi melewati Agung dan Mona.


"Adek ganti baju iya,baju pakai baju hitam."ucap Mona.


Lagi-lagi Renata cuma diam karena kecewa tapi dia turuti saja yang dikatakan oleh Mona.


2 jam yang lalu.


Maya dan putrinya dinyatakan meninggal dunia,hati Jonathan benar-benar hancur karena ditinggal oleh orang yang dia sayangi.


"Sabar iya Jo,kamu pasti kuat menghadapinya."kata Ezra tak tega melihat Jonathan.


"Benar kamu harus kuat,kamu kan ada Om Agung,Tante Mona,kita juga dan Renata."ujar Sean sambil menenangkan Jonathan.

__ADS_1


"Adekmu tahu gak,Jo."tanya Scott serius.


"Gak tahu Kek,karena adek lagi ada ujian kenaikan kelas Kek,aku gak mau ganggu belajarnya dia."jawab Jonathan.


"Jadi bagaimana Jo."tanya Peter bingung.


"Jangan dulu kasih tahu ke adek, kalian tahu kan kalo adek pasti menangis nya seperti anak kecil."kata Jonathan dan 3 pria hanya mengangguk saja.


"Jo,gue yang jemput adekmu, bagaimana."tawar Sean.


"Gue minta tolong ke kamu, tolong jemput adek gue iya,2 jam nanti dia akan pulang."jawab Jonathan masih mengurus kematian istri dan putrinya.


"Ok baiklah."balas Sean.


Kembali lagi.


"Papa dan Mama,kenapa kita pakai baju hitam sih emangnya ada yang siapa yang meninggal dunia."tanya Renata penasaran.


Agung dan Mona belum bisa menjawab pertanyaan dari Renata karena Renata bakal shock mendengar berita yang sebenarnya.


"Cepat siap-siap sekarang."perintah Agung dingin.


Renata cuma diam dan sedih karena lagi-lagi mereka berdua tidak menjawab pertanyaannya.


"Suatu saat nanti aku gak mau bercerita dengan kalian,cari sendiri jawabannya."batin Renata sedih dan kecewa.


Sampai di rumah duka, Renata terkejut melihat karangan bunga dari orang orang penting yang atas nama meninggalnya Maya Kusnadi.


Renata segera mencari Jonathan sang kakak tercinta.


"Kak Jo."panggil Renata dengan suara sedih.


Jonathan menatap Renata tapi kembali menangis lagi.


"Kak Jo,ada apa ini."tanya Renata bingung.


"Maya."panggil Jonathan tapi iya sudah jadi mayat.


"Dek,kakakmu sudah pergi bersama anaknya jadi temani aku disini."ucap Jonathan membuat Renata menjadi diam karena Maya dan putrinya meninggal dunia Kemudian dirinya menangis.


"Kak Jo, adek disini jangan takut."jawab Renata sambil menenangkan Jonathan.


"Adek Anna itu nama anak Kakak dan Kak Maya kah."tanya Renata dan Jonathan cuma bilang iya.


"Iya."jawab Jonathan singkat tapi dirinya masih menangis.


Agung dan Mona malah sibuk cari putrinya. Kebetulan juga ada Aldo dan Sabrina juga datang.


"Do, lihat anak gue gak,si adek."tanya Agung kalut.


"Mana aku tahu Kak Agung,aku saja baru datang."jawab Aldo santai.


"Itu si adek lagi sama kakaknya."ucap Alan sudah ada dari tadi disini.


"Thanks Alan."balas Agung.


"Adek darimana saja kamu ini."tanya Agung agak emosi.


"Tadi adek cari Kak Jo, kasihan Kak Jo menangis."jawab Renata dengan wajahnya yang polos.


Agung dan Mona awalnya ingin marah kepada putrinya tapi tak jadi karena melihat wajah polosnya dari Renata.


"Setidaknya ijin dulu adek biar papa dan mamamu gak pusing cari kamu."kata Mona lembut.


2 jam kemudian peti mati itu masuk ke dalam kuburan,Renata cuma bisa diam dan menangis karena menyesal gak peduli dengan kakak iparnya.


Jonathan menangis di balik kacamata hitamnya,sakit di tinggal oleh orang yang dia cintai.


Manuel dan Mira juga gak bisa menyalahkan Jonathan karena Maya itu gak mau dibujuk untuk kemoterapi karena takut janinnya ikut mati.


Hari sudah menjadi gelap tapi nyatanya Jonathan belum juga mau pulang.


"Kak Jo ayo pulang sebentar lagi ini mau malam loh."bujuk Renata.


"Adek saja yang pulang dan besok masih ujian kan."jawab Jonathan tak mau pulang.


"Iya tapi Kak Jo juga harus pulang, kasihan Kak Maya dan adek Anna tahu kalo kakak lagi sedih."kata Renata membuat Jonathan menghapus air matanya dan memilih pulang bersama adeknya.


Cuma Renata dan Jonathan doang yang masih di kuburan yang lain sudah pada pulangan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jadi ini cerita kematian dari Maya.

__ADS_1


Kasihan Maya meninggal bersama anaknya.


Lebih kasihan lagi sama Renata,dia abaikan mulu sama kedua orangtuanya.


__ADS_2