Ada Apa

Ada Apa
134


__ADS_3

Renata ketiduran di sofa ruang inap, jujur dia takut jika Jonathan ikut menyusul Maya dan anaknya di surga,siapa lagi teman obrolnya di rumah selain kedua orangtuanya meskipun dirinya ada 3 sepupunya yang sangat setia kepada dirinya tetapi Renata gak mau jadi anak tunggal dan maunya jadi anak bungsu karena Renata sedih kalo kedua orangtuanya pasti gak mau lagi panggil dirinya dengan sebutan adek yang sudah melekat sejak bayi.


"Dek."panggil Sean ketika melihat Renata sudah bangun tidur.


"Apa Kak Sean."tanya Renata polos.


"Aku mau pulang dulu iya,kamu jaga kakakmu baik' dan jaga dirimu baik-baik iya."pamit Sean dan mengelus rambut Renata.


"Iya Kak Sean, hati-hati dijalan."balas Renata lembut.


Sebenarnya Sean mau bertanya tentang hubungan Marian dan Bobby kepada Renata tetapi tak jadi mungkin hari besok atau nanti dia bertanya.


Sean pulang meninggalkan Jonathan dan Renata di kamar inap ini.


"Kakak, cepat sadar iya,adek kangen kakak."kata Renata dengan suara sedih.


Bobby mengantar Marian pulang ke rumah Marian,di dalam mobil suasananya sangat canggung sekali.


"Kakak sudah lama kenal sama Renata iya."tanya Marian penasaran.


"Aku sudah lama kenal Keluarga Hadikusuma terutama Pak Agung karena Pak Agung dan Daddy gue itu temanan waktu SMP dulu."jawab Bobby santai.


"Oh gitu iya."balas Marian malu-malu.


"Kamu dan Renata sudah lama kenal atau baru saja kenal."tanya Bobby yang bertanya kepada Marian.


"Sebenarnya saya dan Renata itu 1 SMP hanya saja beda kelas,tidak saling kenal, waktu SMA saya dan Renata 1 SMA lagi hanya saja saya beda kelas sama Renata dari kelas 10 hingga 11 kelas dan kami berdua 1 kelas ketika kita berdua kelas 12 SMA."jawab Marian lembut.


"Oh gitu iya aku baru tahu hehehe."balas Bobby yang diam-diam tersenyum kepada Marian.


"Itu rumah saya."ucap Marian saat menunjuk ke arah rumah nya.

__ADS_1


Rumahnya gak begitu gede atau kecil tetapi tetap nyaman di lihat sampai Renata dan Jonathan justru ingin mempunyai model rumah seperti rumah orang tua Marian.


Bobby lagi-lagi kagum sama model rumah ini sangat unik dan menarik di matanya.


Marian turun dari mobilnya Bobby dan berterima kasih kepada Bobby selaku pemilik mobil ini.


"Terimakasih sudah mengantarkan saya sampai ke rumah dan terimakasih juga karena sudah membawa mobil saya ke bengkel."ucap Marian dengan tulus.


"Sama-sama dek,aku pulang dulu."pamit Bobby lembut.


"Hati-hati dijalan Kak Bobby."balas Marian dengan senyum manisnya.


Bobby tak menjawab karena gugup dan salah tingkah kepada gadis itu. Bobby juga mau pulang ke rumahnya karena capek lah habis ke kantor terus tapi ada hikmahnya yaitu bertemu Marian gadis yang paling cantik sedunia dimatanya walaupun dulunya dia pernah mengagumi Sandra tapi sayangnya dirinya hanya di manfaatkan saja oleh Sandra.


Keesokan harinya.


Renata dan Jun sedang berjaga di rumah sakit sambil menunggu Jonathan sadar dari koma.


"Aku gak tahu, Jun."jawab Renata dengan wajahnya yang pasrah.


Tiba-tiba Sean datang dan menghampiri Renata tapi tidak dengan Jun.


"Renata gimana kabar mu hari ini."tanya Sean dengan lembut.


"Adek baik-baik saja."jawab Renata dengan wajah yang sedih.


"Jo belum sadar juga iya."tanya Sean ke Renata.


"Belum Kak Sean."jawab Renata sedih.


"Pasti kakak tanya tentang sahabat ku dan Kak Bobby yang kemarin kan."ucap Renata dengan tebak tebakan.

__ADS_1


Sean terkejut dengar tebakan dari Renata sendiri.


"Kok bisa tahu dia iya."batin Sean bingung.


"Kemarin adek dan sahabat ku mau ke rumah sakit tapi sayangnya mobilnya mogok untung saja ada Kak Bobby yang tolongin kami berdua itu saja sih ceritanya."cerita Renata tentang kejadian kemaren dan Sean baru mengerti tentang cerita Bobby dan Marian kemarin.


Ada seseorang datang di ruang inap ini yang membuat Renata,Jun dan Sean terkejut adalah kedatangan dari Manuel mantan ayah mertua dari Jonathan.


Manuel lebih fokus ke Jonathan daripada 3 manusia yang sibuk menjaga mantan menantunya.


"Itu siapa,?Ren."tanya Jun tak tahu siapa sosok pria paruh baya yang memakai kacamata hitamnya tetapi auranya sangat kuat dan awet muda serta masih tampan pula sambil berbisik ke telinga Renata.


"Itu ayahnya Kak Maya, kamu tahu kan orang yang tolong aku waktu aku di kerumunan wartawan,itu istrinya dan itu juga ibunya Kak Maya."jawab Renata dengan suara pelan tetapi Manuel bisa dengar suara dari Renata sendiri.


Jun mengerti siapa pria paruh baya itu dan tahu siapa sosok orang tua dari Maya sendiri meskipun dirinya tak pernah melihat wajah dari Maya.


"Renata,kesini lah nak."ucap Manuel tanpa memandang Renata dan enggan menoleh ke belakang.


Dengan patuh Renata berjalan ke arah Manuel meskipun dirinya masih takut dengan Manuel padahal Manuel tak pernah galak kepada Renata,dia kenal banget sama Renata karena dulu Jonathan sering ajak Renata ke rumah Maya waktu pacaran dulu karena itu atas permintaan dari Manuel agar Maya tidak kesepian di rumah.


"Iya Om."kata Renata masih takut dengan Manuel.


"Panggil ayah saja."jawab Manuel dengan dingin hal itu membuat Renata lebih takut lagi.


"Baik Ayah."balas Renata dengan takut.


Manuel baru menoleh ke arah Renata, jujur dia sangat kaget dengan tumbuh kembang adik dari mantan menantunya. Jauh lebih tinggi badannya daripada istrinya terus wajahnya sangat cantik sekali di mata Manuel sendiri.


"Jelaskan kenapa kakakmu bisa seperti ini? sekarang."ucap Manuel dingin dan wajahnya datar sekali.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🤦🏻‍♀️

__ADS_1


Sengaja saya gantung cerita nya.


__ADS_2