
Probolinggo, 03 Juni 2028
Temaram senja semakin meredup, pertanda malam akan menyapa. Semua
makhluk mulai bergerak; ada yang pergi dan ada yang kembali. Burung-burung
mulai kembali ke sangkar masing-masing, mungkin mereka kelelahan sebab harus
bekerja seharian demi bisa menafkahi anak-anaknya yang masih tertatih untuk
sekadar terbang. Dan di sangkarnya, mereka akan disambut dengan suka-cita oleh
anak-anaknya. Dan istrinya, juga.
Bukan hanya burung yang pulang, petani-petani yang seharian
bekerja di sawahnya (menjaga padi-padinya agar tak terjamah burung-burung itu)
pun pulang. Bukan karena mereka tahu bahwa burung-burung yang telah mengintai
padinya itu telah pergi menemui sanak familinya, tapi ia juga merasa perlu
untuk bertemu keluarganya; menikmati makan malam dan syahdunya salat berjemaah
dengan istri.
Kelelawar yang menutup matanya rapat-rapat selama mentari
memberinya kehangatan, kini pun beranjak. Beterbangan lalu bergelantungan dari
satu pohon ke pohon yang lain. Melakukan ekolokasi dengan telinganya demi
mendapat buah-buah segar, demi membuat perutnya terasa kenyang, demi bisa tidur
nyenyak esok pagi.
Sementara di pesisir pantai, para nelayan mulai pergi
meninggalkan daratan. Mereka akan mengadu nasib melawan hantaman ombak dan
dinginnya angin malam yang menusuk tulang. Yang mereka cari hanyalah ikan-ikan
yang nantinya akan mereka jual guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk
dirinya, juga keluarganya. Meski harus bertaruh nyawa saat badai menerpa tanpa
aba-aba.
Bersama dengan itu juga, suara qiraah mulai terdengar
melalui toa-toa masjid; sebuah pengingat bagi umat manusia yang sedang sibuk
meraup lembar-lembar uang agar segera menyudahi pekerjaannya. Kemudian pulang
ke rumah masing-masing, bertemu keluarga, membersihkan diri lalu bersiap diri
untuk menghamba kepada Tuhannya. Ya, sebab azan Maghrib akan segera tiba dan
para malaikat akan mempresensi makhluk-makhluk, yang mau berbisik kepada bumi
serta berharap akan didengar oleh penduduk langit.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Benar saja, tak lama
dari itu semua, sang muazin melaksanakan tanggungannya; menyerukan panggilan
Allah, mengundang siapapun yang hatinya terketuk untuk menyembah-Nya sesegera
mungkin. Terdengar sangat tegas, tidak mendayu-dayu, namun merdu. Ia terlatih
untuk mengumandangkan azan sejak kecil, sejak ayahnya masih sehat dan mengemban
jabatan sebagai ketua takmir.
Muazin itu bisa dibilang multifungsi; ia yang azan, ia yang
membaca pujian, ia yang mengimami salat, ia yang memimpin zikir dan doa, ia
juga yang mengajari anak-anak tetangga mengaji Alquran setelah salat Maghrib. Semua
itu ia lakukan di Masjid Ar-Rahmah, dua puluh meter terletak di samping kanan
rumahnya. Begitulah kesehariannya, sebab ia adalah anak satu-satunya Pak Umar
yang kini telah menginjak usia senja dan tidak bisa meramaikan masjid lagi.
Jika boleh dikata, Pak Umar adalah tokoh masyarakat yang
sangat disegani oleh masyarakat sekitar. Pastinya, keluarganya juga menjadi
sasaran ‘segan’ itu. Seperti saat ini, saat beliau tidak lagi bisa berbuat
banyak untuk masjid dan para tetangganya, anaknya ‘dipaksa’ maju untuk
menggantikannya. Ya, benar, tak lain adalah sang muazin itu, yang setiap kali ia
duduk menghadap anak-anak tetangga yang memutuskan untuk belajar mengaji
kepadanya, ia akan dipanggil dengan sebutan ‘ustaz’.
Seusai Salat Maghrib, para anak tetangga yang mengaji di
masjid itu bergerombol sesuai tingkatan kemampuan membaca Alqurannya. Yang
lancar begabung dengan yang lancar, yang sedang-sedang juga bergabung dengan
yang sedang-sedang, begitupun bagi yang baru bisa membaca Alquran. Selalu begitu
setiap malamnya dan mereka, tanpa disuruh, akan mengulangi kembali ayat kemarin
yang telah dibaca, dan hanya akan pindah ke ayat baru setelah dinyatakan lolos
oleh sang ustaz sekaligus muazin di masjid itu.
“Ayo, sekarang giliran Andi membaca Alquran.” Kata sang
ustaz memanggil Andi yang sedang menunggu giliran untuk ia ajari mengaji dari
kelompok yang telah lancar membaca. Suara tegasnya memang sangat mendukung
posisinya sebagai tenaga pendidik. Siapapun yang mendengarnya, ia akan langsung
tunduk patuh kepadanya.
“Baik, ustaz.” Andi pun beringsut, berjalan menggunakan
lututnya sambil merangkul Alquran di dadanya demi mentakzimkan ustaznya itu.
“Assalamualaikum!” Tiba-tiba datang seorang lelaki paruh
baya. Dari wajahnya terlihat bahwa ia menginjak usia empat puluh tahunan, Pak
Hasin namanya. Ia masuk ke dalam masjid setelah sebelumnya sang ustaz itu
menjawab salamnya.
Di samping lelaki itu ada anaknya, Husnan, yang sedang
menangis sesenggukan. Tangan kirinya berada di genggaman tangan kanan
bapaknnya. Tampaknya ia tidak suka di bawa ke tempat ini, Masjid Ar-Rahmah. Hatinya
seakan berkecamuk, memaksa butir-butir air matanya agar keluar dari pelupuk
matanya.
Seperti anak kecil pada umumnya, ia pasti tidak ingin
belajar mengaji. Di usianya, bermain atau memonton kartun di televisi memang
sangatlah menyenangkan. Terlebih di awal malam seperti ini, banyak kartun
berkelebat di stasiun-stasiun televisi. Atau mungkin, demi cita-citanya ia
justru tidak ingin membuang banyak waktu kecuali untuk belajar dan belajar. Ia juga
beranggapan bahwa belajar adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Padahal jika
ia tahu, berzikir dan berdoa dan mengaji Alquran juga turut andil melancarkan.
“Silakan duduk, pak.” Pak Hasin pun duduk di tengah antara
__ADS_1
anaknya dan Andi yang telah bersiap untuk belajar mengaji, lalu sang ustaz
melanjutkan perkataannya, “Ada yang bisa saya bantu?” Suara tegas itu sangat
berwibawa, setiap telinga yang dimasukinya membuat si empunya tunduk dan
berbicara penuh takzim.
“Begini, Nak Arman. Saya ingin menitipkan Husnan di sini,
agar bisa belajar mengaji dengan Nak Arman.” Pak Hasin menjelaskan maksud
kedatangannya. Hanya karena ia mengetahui masa kecil sang ustaz, ia memanggilnya
Nak Arman; Ahmad Arman Nasrullah. Meski begitu, ucapan demi ucapannya masih
terdengar mentakzimkan.
“Oh, iya gak masalah, pak. Insyaallah saya akan membantu
Husnan untuk belajar membaca Alquran. Mulai malam ini juga, Husnan bisa mengaji.”
Arman menjawab mantap. Baginya, sangat tidak etis jika menolak siapapun yang
ingin belajar mengaji Alquran dengannya. Saat ini adalah masa-masa pengamalan
ilmu setelah sekian tahun mengenyam pendidikan di sekolah dasar dan pesantren
dan bangku perkuliahan.
“Nah, sekarang kamu di sini, Nan. Belajar mengaji kepada
Ustaz Arman. Gak usah sedih, di sini banyak temanmu juga. Itu ada Andi, Masrur,
Ridlo, Anam.” Kata Pak Hasin sambil menunjuk satu per satu anak yang namanya ia
sebut. Arman hanya tersenyum melihat Husnan yang menghapus air matanya sendiri,
menyudahi sesenggukannya.
“Sebagai seorang muslim, Husnan harus bisa baca Alquran. Di sini,
saya akan mengajari Husnan membaca Alquran, begitu juga dengan teman-teman yang
lain. Gak lama kok, cuma dari Maghrib sampai Isya. Setelah salat Isya, Husnan
bisa pulang dan bebas mau ngapain. Husnan mau, kan?” Pertanyaan Arman hanya
ditimpali dengan anggukan kepala Husnan yang sudah berhasil meredakan rintik
air matanya.
“Ya sudah, bapak pulang dulu ya, nak.” Pak Hasin mengelus
lembut puncak kepala Husnan lalu beranjak dari tempat duduknya. Kali ini Arman
juga beranjak untuk mengantarkan Pak Hasin ke depan masjid.
Mereka berdua berjalan sesaat setelah angin malam memaksa
masuk melalui sela-sela jendela masjid. Terasa sangat dingin, terlebih pada
musim penghujan seperti saat ini. Untungnya anak-anak yang mengaji di masjid
ini bisa dikatakan rajin, mereka baru tidak masuk saat hujan turun dengan
lebatnya. Kalau hanya rintik-rintik, mereka akan memaksakan diri untuk
berangkat ke masjid. Toh payung masih berfungsi untuk melindungi diri dari
basah.
“Anak zaman sekarang, disuruh ngaji saja sulitnya minta
ampun, nak.” Dalam jalannya menuju ke luar masjid, Pak Hasin mencurahkan isi
hatinya.
“Biasa, pak. Namanya juga anak kecil. Hehe.” Arman hanya
bisa memakluminya seraya mengarahkan pandangannya ke Pak Hasin.
“Kalau tidak dipaksakan sejak dini, semakin tua semakin
membujuk Husnan untuk bisa belajar mengaji di usianya yang masih delapan tahun.
“Saya dulu ya, juga terpaksa, pak.” Senyuman Arman tak kalah
lebar dari senyuman Pak Hasin.
“Ya sudah, nak. Saya pamit pulang dulu. Tolong ajari Husnan
mengaji. Saya percayakan dia sama kamu.” Kata Pak Hasin setelah keduanya sampai
di pintu masjid.
“Insya Allah, pak. Mohon doanya.” Arman mengangguk
menghormati Pak Hasin yang jelas lebih tua dari padanya.
Setelah saling mengucapkan salam, Pak Hasin pun meninggalkan
Arman yang masih mematung di pintu masjid, menunggu punggung Pak Hasin tertelan kegelapan dan tak lagi terjangkau oleh matanya. Setelah itu, Arman kembali ke
tempat di mana ia duduk sebelumnya. Melihat satu per satu anak tetangga yang
sedang berada di depannya, dengan Andi yang masih duduk penuh takzim memeluk
Alqurannya.
“Sudah. Andi kembali ke teman-temannya. Khusus untuk malam
ini, kita tidak mengaji, bonus untu kalian. Saya ingin bercerita.” Kata Arman
sambil menutup Alquran yang berada di depannya. Perkataannya itu berhasil
membangkitkan gairah kekanak-kanakan anak didiknya. Mereka saling berdesakan,
berebut untuk duduk di paling depan, berharap mendengar cerita yang akan disampaikan
oleh Arman. Begitu memang, setiap kali Arman mengungkapkan bahwa ia ingin
bercerita; sangat antusias.
“Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya; kalian tahu, gak,
ayat yang pertama kali diturunkan kepada
Rasulullah?” Arman memulai cerintanya dengan pertanyaan. Tentu saja, para anak
didiknya menggelengkan kepala, merasa pesimis dengan ketidaktahuannya.
“Jawabannya adalah Surat Al-‘Alaq ayat satu sampai lima. Coba
kalian buka Alqurannya lalu baca.” Arman memberi waktu beberapa menit kepada
para anak didiknya untuk sejenak membaca firman Allah yang pertama kali
diturunkan kepada nabi itu.
“Sudah? Apa bunyi ayat pertama?” Tanya Arman sambil melipat
tangannya di atas meja kecil yang menjunjung Alqurannya.
“Iqra’ bismi Rabbikallazi khalaq.” Jawab mereka
nyaris bersamaan. Wajah-wajahnya menampakkan antusiasme yang sangat tinggi.
“Nah, Iqra’. Iqra’ artinya adalah bacalah.”
Arman pun memulai ceritanya;
Waktu itu, Nabi Muhammad SAW. rajin ber-khalwat (mengasingkan
diri) di Gua Hira. Di sana, beliau beribadah dan berzikir sepanjang hari, entah
apa saja yang beliau baca. Hari demi hari, terus di sana dan akan pulang untuk
mengambil perbekalan di rumahnya, dan beliau akan disambut hangat oleh istri
tercintanya, Sayyidah Khadijah.
__ADS_1
Hingga akhirnya hari itu tiba; saat Malaikat Jibril datang
menemui nabi lalu memerintahnya, “Iqra! Bacalah!” Posisi nabi yang tidak
bisa membaca dan menulis –yang pada akhirnya akan menjadi argumen penolakan
bagi siapapun yang mengatakan bahwa Alquran itu buatannya-, hanya menjawab, “Aku
tidak bisa membaca.”
Malaikat Jibril terus mengulang hingga tiga kali, dan setiap
kali nabi menjawab seperti itu, Malaikat Jibril mendekapnya dengan penuh
kehangatan. Hingga pada akhirnya, Malaikat Jibril benar-benar menyampaikan
firman Allah. Nah, ayat yang dibaca adalah Surat Al-‘Alaq ayat satu sampai
lima. Mendengar itu, jantung nabi berdegup kencang, badannya bergoncang hebat,
sebab datangnya bak suara lonceng yang sangat nyaring.
Begitulah dan ayat demi ayat turun sesuai kejadian yang
menimpa nabi dan para sahabat saat itu. Kadang nyaring seperti lonceng, kadang
juga hadir dalam mimpi nabi yang tak seperti mimpi kebanyakan orang. Juga tidak
satu kaligus, melainkan selama dua puluh dua tahun dua bulan dua puluh dua
hari; terhitung sejak nabi menapaki usia empat puluh tahun hingga akhirnya
beliau berpindah ke surga.
“Nah, dari ayat tersebut kita bisa mengambil pelajaran;
membaca adalah hal yang sangat penting untuk kita lakukan. Terlebih jika yang
kita baca adalah Alquran, sebaik-baiknya bacaan.” Arman menutup ceritanya
dengan memberi satu kesimpulan.
“Kalau kalian tidak belajar sejak kecil, kalian akan
kesulitan untuk membacanya ketika kalian telah dewasa. Sebab, semakin tua umur
kita, semakin tua pula setan yang mengajak kita untuk bermalas-malasan. Semakin
tua setan itu, maka semakin banyak pula taktik dan tipu dayanya. Syukur-syukur
kalau kalian bisa mengatasi.” Lanjutnya dengan nada rendah, tidak terkesan
menggurui.
“Bapak-bapak kalian itu bukannya jahat, bukan pula tidak
kasihan kepada kalian. Di balik itu semua, beliau-beliau justru sangat sayang. Makanya
beliau-beliau ‘meletakkan’ kalian di sini, untuk belajar membaca Alquran. Kalau
bukan kalian, lantas siapa yang akan mendoakan dan membacakan Surat Yasin
ketika beliau-beliau telah meninggal nanti? Tidak mungkin kan, kalian akan
menyodorkan handphone ke kuburan orang tua kalian?” Arman sedikit memberi
lelucon dalam motivasinya, dan hebatnya tak terdengar lucu meski ia sedikit
tertawa atas apa yang telah ia ucapkan barusan.
“Tanya, ustaz!” Masrur mengacungkan tangannya, ingin
menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.
“Silakan, Rur!” Arman melemparkan senyum lebarnya kepada
Masrur.
“Apa yang bisa kita lakukan, agar kita tidak merasa terpaksa
dan tertekan dengan perintah kedua orang tua kita?” Masrur sangat menggebu-gebu
saat bertanya. Sepertinya ini sangat penting bagi dirinya. Atau jangan-jangan, selama
beberapa tahun ia belajar mengaji, hati kecilnya masih merasa keberatan.
“Lakukan perintah itu seakan-akan kamu yang butuh. Paham?”
Arman memastikan agar jawabannya bisa dipaham oleh Masrur dan Husnan dan Andi
dan semua yang hadir di masjid malam itu.
“Belum, ustaz.” Masrur tersenyum menampakkan gigi
gingsulnya. Entah memang tidak paham, atau pura-pura tidak paham agar Arman mau
menjelaskan lebih gamblang lagi.
“Jika kalian sedang bermain, apakah kalian akan merasa senang?
Tentu iya. Kenapa? Sebab kalian melakukannya dengan sepenuh hati; hati kalian
memang sedang ingin bermain. Nah, misalkan ibu kalian menyuruh untuk membeli
terasi di warung, kalian pasti akan keberatan. Sebab yang sedang kalian lakukan
adalah kemauan ibu, bukan kemauan kalian. Lantas bagaimana? Belilah terasi
seakan-akan itu untuk kepentinganmu. Kalau kalian tidak pergi membeli terasi,
sambal favorit kalian akan terasa hambar.” Arman menjelaskan panjang lebar
sambil sesekali mengintip jam tangan di balik lengan bajunya yang lumayan
ketat.
“Tapi, ustaz..” Belum selesai Masrur berujar, Arman
memotongnya.
“Kenapa, sulit? Pasti! Segala sesuatu awalnya pasti sulit. Harus
dipaksakan hingga akhirnya menjadi terbiasa.” Kata Arman bak seorang motivator
handal yang biasanya muncul di televisi.
Semua tertunduk, termasuk juga Husnan yang baru beberapa
menit yang lalu bergabung di masjid untuk belajar mengaji. Semua juga, pasti
pernah merasakan yang namanya ‘berat hati’. Seperti Husnan yang baru mau
diantar mengaji di masjid saja, harus sesenggukan dulu. Hatinya merasa tidak
terima dengan keputusan ayah dan ibunya.
Bersamaan dengan itu, Arman menyudahi cerita dan tanya
jawabnya. Ia bangkit dari tempat duduknya, meraih mikrofon yang tergeletak di
samping mihrab. Setelah tadi digunakan untuk mengumandangkan Azan Maghrib, kini
ia akan menggunakannya kembali untuk Azan Isya. Tanpa berpikir lama, setelah
waktunya masuk dan menyuruh siapapun dari anak didiknya yang mau memukul beduk,
ia pun menyerukan Azan Isya.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” Suaranya sangat
merdu. Terdengar bersamaan dengan azan dari masjid dan musala lainnya. Menggema
menjadi satu memenuhi langit desa malam itu. Terbang bersama menembus langit
ketujuh. Menggetarkan Arasy dengan hebat. Membuat para penduduk langit
bertasbih tanpa pamrih.
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on Instagram!