Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Tanda Bibir


__ADS_3

Reynand masuk ke kamar dimana Chaca berada. Dia ikut berbaring di samping gadis itu dan merangkuh nya kedalam pelukannya. Dia tahu saat ini Chaca sedang pingsan karena pukulan dari Zion. Tapi dia tidak khawatir. Setidaknya sekarang Chaca tidak berusaha menyakiti dirinya sendiri dan bisa beristirahat.


"Aku merindukan mu sayang. Sangat merindukanmu." Reynand mencium bibir Chaca diam-diam. Dia begitu menikmati permainannya sendiri walau Chaca tidak meresponnya. Saat Chaca bangun nanti dia pasti akan terkejut dengan keadaan bibir nya yang bengkak.


Sejenak terbesit ide gila di benak Reynand. Mungkin sedikit mengerjai Chaca akan menyenangkan.


Reynand membuka baju Chaca dan menyisakan cup yang membungkus dua bukit kembar Chaca.


Glek


Sial!! Niat ingin mengerjai Chaca, justru dia yang terjebak sekarang. Bahkan adik kecilnya langsung merespon setelah melihat pemandangan indah di depannya.


Reynand mengusap wajahnya kasar. Dia kembali memakaikan baju Chaca. Tapi tangannya berhenti saat tanpa sengaja menyentuh benda kenyal milik Chaca. Reynand menelan salivanya kasar. Dia tidak tahan.


Hidup bergelut dengan dunia hitam membuatnya sering melihat tubuh wanita yang berpakaian seksi yang nyaris telanjang. Dia biasa menemui hal seperti itu saat melakukan pertemuan di bar dengan rekan bisnisnya sesama mafia. Bahkan rekannya itu sengaja melempar wanita seksi di pangkuan nya. Tapi Reynand tidak bergeming sama sekali. Jangankan menyentuh, melihatnya saja Reynand tidak tertarik. Tapi sekarang, di depannya ada gadis yang berhasil membuat hasrat nya keluar. Tidak!! Dia sudah tidak tahan.


Reynand mencium lembut bibir Chaca. Bahkan kedua tangannya sudah bermain di atas bukit Chaca yang masih tertutup oleh Cup berwarna biru muda.


Arrgh... Sial!! Reynand menginginkan lebih. Dia membuka cup tersebut dan mulai menikmati keindahan pegunungan milik Chaca. Dia benar-benar sudah gila. Bahkan terbesit keinginan untuk memiliki Chaca seutuhnya malam itu juga.


"Ugh.." Chaca melenguh dalam tidur nya. Hal itu membuat Reynand menghentikan aktivitasnya. Dia mengusap wajahnya kasar dan melihat hasil karyanya.


Sejenak dia tersenyum, "Karya yang bagus." Reynand mengusap tanda bibir nya dan memakaikan kembali baju Chaca. Dia yakin saat bangun tidur nanti akan terjadi kehebohan.


Dan benar saja, keesokan harinya Chaca berteriak saat menatap dirinya di depan cermin wastafel. Dia mendekatkan wajahnya di cermin dan melihat bibir nya yang bengkak seperti tersengat lebah. Dan yang lebih mengejutkan, banyak tanda bibir di dadanya.


Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Dia ingat jika semalam dia berlatih di basecamp Raka. Dia juga sempat melawan Zion dan pada saat itu, Zion memukul nya dan entahlah dia sudah tidak ingat lagi.


Tunggu dulu!!! Hanya ada dirinya dan Zion di sana? Apakah semua ini perbuatan Zion?


Chaca menggeram kesal. Dia membatalkan ritual mandinya dan kembali memakai baju nya. Dia akan pergi ke apartemen Zion untuk membuat perhitungan.

__ADS_1


"Dasar mesum!!! Pria cabul!! Beraninya dia mengambil kesempatan saat aku tidak sadarkan diri." Chaca berjalan tergesa-gesa ke apartemen Zion. Dan setelah sampai di depan pintu apartemen pria itu, Chaca menekan bel berkali-kali.


"Kenapa dia tidak juga membuka pintu?" gerutu Chaca. Dia terus menekan bel hingga tidak berapa lama Zion membuka pintu.


"Chaca? Ada ap....


Belum selesai Zion bicara, bogem mentah Chaca sudah mendarat sempurna di perut Zion.


Bugh


"Argh ....!!!" teriak Zion.


"Dasar mesum!! Bisa-bisa nya Kakak mengambil kesempatan saat aku tidak sadar." Chaca kembali menyerang, tapi Zion bisa menghindar.


"Tunggu Cha!!! Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kau menyerangku?"


"Tidak usah pura-pura tidak tahu. Apa yang Kak Zi lakukan itu sudah sangat keterlaluan." teriak Chaca.


"Memangnya apa yang sudah ku perbuat padamu? Semalam kau pingsan dan setelah aku mengantar mu pulang, Aku pergi dengan Maya." teriak Zion sambil berlari menghindari Chaca yang terus menyerangnya.


"Apa? Kak Maya? " Chaca berhenti dan mengatur nafasnya. "Kapan Kakak pergi dengan Kak Maya?" tanya Chaca.


"Tidak lama setelah kau pingsan, Aku langsung mengantarmu pulang dan langsung pergi dengan Maya. Jika kau tidak percaya, tanya saja padanya."


Chaca mendengus dan mengambil ponsel Zion untuk menghubungi Maya. Dia tidak sempat membawa ponselnya karena dia sudah terlalu kesal melihat hasil karya di dadanya entah dari siapa.


"Halo Zi, ada apa?" tanya Maya di seberang sana.


"Ini aku kak."


"Chaca? ada apa? Kenapa kau menelepon ku menggunakan ponsel Zion?"

__ADS_1


"Ada yang ingin aku tanyakan. Apa benar semalam Kak Maya pergi dengan Kak Zi?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Jam berapa kalian pergi?"


"Sekitar jam 8 malam."


Chaca terdiam. Dia pergi dengan Zion ke basecamp setelah pulang jam kerja. Di sana dia berlatih menembak dan memanah. Chaca ingat waktu itu jam 7 lebih. Karena saat Chaca membidik papan target menggunakan panahnya, dia sempat melirik jam yang melingkar di tangannya. Dan setelahnya Chaca menyerang Zion. Jadi jika dipikir-pikir, rasanya tidak mungkin Zion melakukan hal itu. Kecuali dia melakukannya dengan buru-buru.


"Halo Cha.. Kau masih di sana?" tanya Maya.


"Ya sudah, Aku tutup dulu teleponnya Kak." Chaca mematikan telepon nya dan melempar ponsel pada Zion.


"Sekarang kau percaya kan?"


Chaca menghela nafas dan berkata, " Jika bukan Kak Zi, lalu siapa yang melakukannya?"


"Melakukan apa?" tanya Zion bingung. Dia benar-benar tidak tahu apa yang di bicarakan Chaca.


Chaca menatap dalam kedua mata Zion. Dan sepertinya pria itu tidak berbohong. Dia terlihat benar-benar kebingungan dan tidak di buat-buat. Lalu jika bukan Zion, siapa yang melakukannya? Tidak mungkin hantu kan?


"Cha!!!"


Chaca mendengus menatap Zion dan pergi begitu saja. Dia kembali ke apartemen nya dan mulai mengingat-ingat kembali siapa yang sudah melakukan hal itu padanya.


"Argh.. Siapa sebenarnya yang lakuin ini?" Chaca kembali menatap dirinya di cermin wastafel kamar mandi. Dia melihat dengan teliti beberapa tanda di dadanya. Semalam dia memang bermimpi bertemu Raka dan sempat bercumbu dengan nya. Tapi apa iya, mimpi bisa meninggalkan bekas seperti ini?


Atau ada nyamuk sialan yang masuk dan menggigit dadanya. Jadi dia terus menggaruknya sampai berwarna merah seperti ini. Tidak!! Jelas tanda ini adalah tanda bibir. Tapi bibir siapa yang sudah lancang menempel di dadanya?


Argh... Sial!! Ini lah akibatnya jika Chaca ketiduran atau pingsan. Dia tidak akan ingat apa yang sebelumnya terjadi. Seperti nya dia harus menghilangkan kebiasaan buruk nya ini. Agar tidak ada lagi orang yang memanfaatkan keadaan di saat dirinya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2