
Chaca pergi ke kantor dengan penampilan sedikit berbeda. Dia memakai syal untuk menutupi tanda di lehernya. Dia baru sadar jika tidak hanya di dadanya saja, tapi tanda itu juga tercetak jelas di lehernya.
Rasanya dia ingin menghajar orang yang sudah lancang mencumbu nya saat dia tidak sadar. Tapi sayangnya dia tidak tahu, siapa orang itu?
Hanya ada dia dan Zion di sana. Tapi jika di pikir-pikir, Zion tidak mungkin melakukan itu. Waktunya tidak akan cukup. Kecuali dia melakukannya dengan tergesa-gesa. Tapi melihat Zion yang kebingungan membuat Chaca yakin jika itu bukan perbuatan Zion. Apa dia melupakan sesuatu?
"Cha!!!" panggil Maya
"Apa?"
"Tuan Rey meminta konfirmasi secepatnya tentang lokasi yang akan kita pilih untuk pembangunan cabang di kota X."
"Ya sudah, Kak Maya bilang saja jika kita akan mengambil lokasi B."
"Gak sopan Cha, harusnya kau datang kesana dan mengatakannya langsung padanya." seru Maya.
"Aku malas kak."
"Kenapa? Apa karena dia bukan orang yang kau harapkan? "
Ucapan Maya memang benar. Dia tidak mau lagi bertemu dengan Reynand setelah tahu jika dia bukan Raka. Untuk apa dia terus bertemu dengan nya? Hanya membuat hati sakit saja.
"Cha, dengarkan aku!! Dari awal aku memberi saran untuk mencari tahu itu dengan tujuan agar kau tidak salah paham dan terus berharap. Sekarang kau tahu dia bukan Raka, tapi bukan berarti kau harus menghindarinya kan. Dia pasti juga merasa risih setiap kali kau menyebut nama Raka di depannya, bahkan kau membandingkan mereka. Tapi Tuan Rey tidak tahu apa-apa. Dia melakukan itu karena dia memang bukan Raka."
"Kau harus profesional Cha." sambung Maya.
Chaca menghela nafas panjang. Lagi-lagi Maya benar. Kenapa dia jadi seperti ini? Harusnya dia merasa lega karena mengetahui Reynand bukan Raka. Jadi dia tidak akan berharap lebih. Reynand sudah punya calon istri dan mungkin sebentar lagi mereka menikah. Jadi yang harus dia lakukan adalah menjalani hidup lebih baik dan menghilangkan bayang-bayang Raka.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke perusahaan Tuan Rey!!" ajak Chaca.
"Maaf, aku tidak bisa. Setelah ini aku ada meeting dengan klien di luar perusahaan."
"Kalau begitu, minta Kak Zi untuk bersiap."
"Zion akan ikut dengan ku karena klien kali ini berbeda dengan yang lainnya, Cha."
"Lagi?" pekik Chaca. Kemarin dia harus pergi sendiri dengan Reynand untuk mengecek lokasi. Dan sekarang dia harus kesana sendiri lagi. Astaga.. Mereka seperti melempar Chaca ke dalam kandang singa. Apa mereka tidak tahu jika Chaca berusaha mati-matian menahan rasa gugup jika di dekat Reynand? berbeda jika dengan yang lain. Mungkin chaca akan biasa saja. Tapi ini Reynand lho.
"Maaf ya Cha." seru Maya.
"Huft .. Baiklah, tolong bilang pada sopir untuk bersiap!!" Chaca hanya bisa pasrah. Reynand orang yang gampang-gampang susah. Tapi jika berurusan dengan pekerjaan, Dia ingin pemimpinnya langsung yang datang jika memang ada hal yang ingin di bicarakan. Bahkan ada yang langsung di tolak saat ada perusahaan yang ingin mengajukan kerjasama nya karena mereka mengirim wakil nya saja. Dan Chaca tidak ingin hal itu terjadi pada perusahaanya. Jadi untuk sementara waktu dia akan berurusan dengan Reynand secara langsung. Tapi setelah kerjasama ini berakhir, mungkin dia tidak akan lagi menjalin kerjasama dengan nya. Mungkin.
Chaca meminta Maya untuk menyiapkan apa saja yang di perlukan untuk bertemu dengan Reynand. Sedangkan dia menyiapkan mental nya lagi dan lagi. Kali ini dia tidak boleh gugup. Dan lagi, dia harus minta maaf tentang kejadian saat di villa Reynand di kota x.
__ADS_1
Berkas sudah di siapkan. Chaca menghela nafas panjang dan pergi dengan sopir. Dia menatap ke luar jendela dan menatap langit yang sedikit gelap. Seperti nya akan turun hujan lagi.
"Kita sudah sampai, Nona." seru sopir membuyarkan lamunan Chaca.
"Iya." jawab Chaca malas. Secepat ini dia sudah sampai di depan perusahaan RM Company. Rasanya dia tidak bersemangat sama sekali. Tapi dia harus profesional.
"Tunggu sebentar ya Pak!! Aku tidak akan lama."
"Aduh Non, tapi saya harus segera kembali ke kantor. Saya harus mengantar barang. Nanti saya akan mengirim si Parjo untuk menjemput nona."
Chaca lagi-lagi menghela nafas. Jika begitu kenapa tidak si Parjo saja yang mengantarnya? Ingin sekali dia mengumpat tapi dia hanya bisa diam dan melangkah masuk ke perusahaan. Sungguh hari yang sial. Pikirnya .
"Tuan Rey sudah menunggu anda, nona." seru resepsionis. Chaca hanya mengangguk dan langsung menuju lift. Dia akan menyelesaikan nya dengan cepat dan segera pergi dari sana.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"
Chaca membuka pintu perlahan. Reynand tersenyum dan berdiri. Dia mendekati Chaca dan mempersilahkan nya masuk.
"Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang." seru Reynand.
"Iya Tuan. Ini sudah menjadi tanggungjawab saya. Bagaimanapun Saya yang mengajukan kerjasama ini. Jadi saya harus profesional."
"Terimakasih." Chaca duduk di sofa tepat di depan Reynand.
"Jadi saya kemari ingin memberikan konfirmasi jika perusahaan kami akan mengambil lokasi yang kedua."
Reynand mengangguk paham. Dia mulai menghubungi seseorang untuk mengurus surat-surat tanah tersebut. Mereka masih harus menawar lahan tersebut dari si pemilik tanah.
"Kami akan memberitahu anda secepatnya jika semua sudah siap." seru Reynand
"Terimakasih Tuan. Tidak perlu terburu-buru. Anda bisa menghubungi saya saat anda sudah menentukan harga nya. Saya akan mendiskusikannya dengan yang lain nanti."
"Baiklah."
"Kalau begitu, Saya permisi." Chaca berdiri tapi langkahnya terhenti karena Reynand menahan tangannya.
"Kenapa terburu-buru nona? Di luar hujan. Tinggallah sebentar."
Chaca menatap ke luar jendela di ruangan Reynand. Dan memang benar, hujan turun dengan deras. Sial.. Lagi-lagi dia terjebak di satu ruangan dengan Reynand. Chaca kembali duduk dan mengambil ponselnya di dalam tas. Dia menghubungi parjo untuk menjemput nya. Tapi sungguh sial karena mobil parjo mogok di jalan. Chaca mendengus kesal. Mau tidak mau dia akan tinggal sebentar di ruangan Reynand sampai parjo datang
"Ada apa Nona?" tanya Reynand.
__ADS_1
"Sopir yang menjemput saya sedang dalam perjalanan kemari. Tapi sayangnya mobilnya mogok."
Reynand tertawa. Dia berpindah duduk di samping Chaca. Dan tentu saja jantung Chaca berdetak tidak karuan.
"Dari tadi saya penasaran. Kenapa anda memakai syal?" Reynand menyentuh Syal yang melingkar di leher Chaca. Dia ingin melepas nya tapi Chaca menahan tangan Reynand.
"A_apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin melihat, apa kau terluka?"
"A_aku tidak apa-apa." Chaca buru-buru berdiri. Tapi tubuhnya tiba-tiba tidak seimbang karena Reynand menarik tangannya sehingga dia jatuh di pangkuan pria tersebut.
"A_apa yang kau lakukan?" Chaca berusaha untuk bangun tapi Reynand menahan pinggang Chaca.
"Ja_jangan seperti ini Kak. Kau membuatku takut."
Reynand tersenyum. Dia memeluk Chaca dan menopang dagunya di bahu gadis itu. "Akhirnya kau memanggilku dengan sebutan Kak. Kakak senang Cha."
Deg
Chaca mendorong bahu Reynand hingga pelukannya terlepas. Dia menatap dalam kedua mata Reynand. Mata itu, mata yang dia rindukan. Tapi Chaca menggelengkan kepalanya menyadarkan diri. Ini salah. Dia bukan Raka. Chaca kembali memberontak di pangkuan Reynand. Tapi dengan cepat Reynand mendorong Chaca ke sofa dan mengukung gadis itu.
"A_apa yang kau lakukan? Me_menyingkirlah!!" seru Chaca terbata.
"Jika aku bilang, aku menginginkan mu, bagaimana?"
Deg
"A_apa kau bilang? Kau sudah gila ya?" teriak Chaca.
"Ya, Kau benar. Aku sudah gila. Dan aku tergila-gila pada mu, Chaca." Reynand mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Chaca lembut.
Chaca tersentak. Dia mendorong Reyna nd, tapi pria itu justru memperdalam ciumannya. Ini tidak benar, Reynand sudah mempunyai calon istri. Dia tidak mau di cap perusak hubungan orang.
Chaca terus berusaha menolak, Tapi Reynand semakin menjadi. Sebenarnya ada apa dengan pria ini? Kenapa dia terlihat berbeda. Apa dia sedang mencari pelampiasan?
Chaca.mendorong keras bahu Reynand hingga ciuman mereka terlepas. Mereka sama-sama mengatur nafas. Tapi lagi-lagi Chaca mendorong Reynand untuk menyingkir dari nya. Dan...
Plak
Chaca menampar Reynand. Tanpa berkata-kata, Chaca meninggalkan ruangan Reynand.
Pria itu hanya tersenyum kecut. Dia begitu merindukan kekasihnya. Tapi untuk memeluknya secara terang-terangan saja dia tidak bisa. Bahkan dia memaksa menciumnya. Tapi sebuah tamparan yang dia dapatkan.
__ADS_1
"Kakak ingin mengatakan jika Kakak adalah Raka, Cha. Reynand adalah Kakak." gumam Reynand