
Chaca memapah wanita yang sedang sekarat itu ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.Kebetulan Rumah Sakit itu dekat dengan rumah nya.Rumah sakit yang pernah menolak memeriksa ibu nya karena mereka tidak mempunyai uang waktu itu.Tapi saat ini Chaca mempunyai uang yang banyak.Dia bertekad jika sampai Rumah sakit itu menolak memeriksa wanita yang dibawanya itu,Dia akan menuntut rumah sakit tersebut.
Entah dari mana keberanian itu muncul.Tapi saat ini Chaca merasa ada jiwa yang berbeda di dalam dirinya.Dia merasa dia bisa melakukannya.Bahkan dia lupa dengan Raka.Yang ada dipikiran nya adalah meyelamatkan wanita itu.
"Ibu harus bertahan.Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit"seru Chaca.
Wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk.Dia melirik kebelakang dan mengacungkan jempolnya ke arah Raka.
"Seperti nya Chaca berhasil."ujar dokter Rena saat melihat tanda yang diberikan oleh wanita yang di papah Chaca.
"Jangan senang dulu.Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya."Raka menyusul Chaca di ikuti Wira, Andhika dan dokter Rena.
Ya, semua ini adalah rencana Raka.Dia meminta bantuan Wira untuk mencari orang-orang untuk berakting seperti yang terjadi pada kehidupan Chaca sebelumnya.Dan menciptakan suasana yang tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Chaca.
Dia melakukan hal itu demi kesembuhan Chaca.Ini adalah metode penyembuhan yang ekstrim karena resiko yang di ambil sangat besar.
Tapi untungnya Chaca bisa melewati tahap pertama.Dan sekarang gadis itu akan menghadapi ujian kedua,di mana Saat ini gadis itu sudah sampai di rumah sakit.
"Kenapa sepi?"gumam Chaca yang masih terdengar oleh Wanita yang bersamanya.
"Kita coba masuk dulu ya Bu."tanpa menunggu jawaban dari wanita itu,Chaca membawa Wanita itu untuk masuk ke rumah sakit.Tapi lagi-lagi tidak ada siapapun di sana.Chaca membawa wanita itu untuk berbaring di brankar sedangkan dirinya pergi mencari dokter.
"Ibu tunggu di sini.Chaca akan cari dokter dulu."Chaca meninggalkan wanita itu sendiri dan mencari dokter yang biasa berjaga.
__ADS_1
"Dokter!!! Dokter!!!"teriak Chaca.Tapi tidak ada satupun orang di sana."Kenapa sepi sekali? rumah sakit ini seperti tidak berpenghuni."Saat bermonolog, tiba-tiba lampu di lorong Rumah sakit mati dan hal itu membuat tempat di mana Chaca berada menjadi gelap.
Chaca tersungkur.Sejenak ingatan saat Chaca di kurung oleh ayah nya terlintas di pikiran nya.Dia ketakutan dan ingin berteriak.Tapi dia teringat jika dia tidak berada di ruang sempit tempat ayahnya dulu mengurungnya.Dia sadar jika saat ini dia berada di rumah sakit dan sedang bersama wanita yang sekarat.
Perlahan Chaca berdiri.Dia mengambil ponselnya dan menyalakan Flashlight dari ponselnya.Dia menelusuri lorong Rumah sakit sambil terus memanggil dokter.Dan tidak berapa lama lampu kembali menyala dan itu membuat Chaca lega.Dia melihat ada dokter perempuan yang berjalan di lorong tersebut dan meminta nya untuk menolong wanita yang di bawanya.
"Dokter!! Tolong Ibu!!Dia sedang kesakitan."seru Chaca yang dijawab anggukan oleh sang dokter.Tapi sesampainya mereka di tempat Chaca membaringkan wanita itu,ada dua suster yang terlihat memeriksa wanita itu dan kemudian menutup seluruh tubuh wanita itu dengan selimut
"A_apa yang kalian lakukan?kenapa kalian melakukan itu pada ibu?"
"Maaf nona.Tapi ibu anda sudah tiada."
deg
Itu tidak mungkin.Chaca menggelengkan kepalanya tidak percaya.Dia meminta dokter yang datang dengan nya untuk memeriksa sekali lagi.Tapi ternyata memang benar.Wanita itu sudah tiada.
"Ini bukan salah anda, nona.Tapi ini sudah takdir.Semua manusia akan mati dengan cara yang berbeda-beda.Dan kita hanya tinggal menunggu waktu saja.Jadi berhenti menyalahkan diri sendiri Nona."seru sang dokter.
Chaca menatap dokter itu sejenak.Apa yang di katakan dokter itu memang benar.Walaupun dia bisa menolong nya tapi Tuhanlah yang berkehendak.
Chaca menghapus air matanya dan meminta kedua suster itu untuk membantu nya mengurus pemakaman wanita itu.Karena dia sendiri tidak tahu siapa keluarga nya.Kedua suster itu mengangguk setuju.Dan mulai mengurus semuanya.
Chaca keluar dari rumah sakit tersebut dan kembali ke rumah lamanya.Di sana dia masuk ke kamar ibunya dan melihat foto-foto dirinya dengan ibunya.Dia mengambil salah satu foto tersebut dan memeluknya
__ADS_1
"Ibu..Hiks hiks..Chaca gagal menolong nya bu.Chaca gagal.Hiks hiks...Andai Chaca bisa lebih awal menolong nya.Mungkin wanita itu...."
"Cha..!!!"
Ucapan Chaca terhenti.Dia mendongakkan kepalanya dan melihat Raka yang berdiri di depan pintu.
"Kak Raka!!"lirihnya.
Raka tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.Chaca berlari ke arah Raka.Dia menangis di pelukan pemuda itu.
Raka ikut menangis.Tapi dia menangis bahagia karena Chaca berhasil melewatinya.Setelah melihat apa yang terjadi pada Chaca, dokter Rena bisa menyimpulkan jika Chaca berhasil melawan traumanya terhadap gelap dengan tetap sadar akan situasi yang gadis itu hadapi.Di tambah kondisi Chaca yang masih sadar saat kembali ke rumah lamanya.Itu juga membuktikan Chaca sembuh dari penyakitnya.
Raka mengajak Chaca untuk pulang.Tapi gadis itu menolak.Dia ingin menghadiri pemakaman wanita yang di tolongnya tadi.Ini gawat karena sebenarnya wanita itu tidak mati alias masih hidup.Itu hanya rekayasa dan si penulis skenario sedang berdiri di depan nya.
Raka memberi kode pada Kakek Wira sang sutradara untuk menyiapkan sebuah gundukan tanah agar Chaca percaya jika wanita itu sudah di makam kan.
Wira mengangguk dan meminta anak buahnya menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Raka.
Di sebuah pemakaman,Chaca berdiri di depan gundukan tanah buatan anak buah Wira.Gadis itu jongkok di depan gundukan tanah tersebut dan terus meminta maaf.
Raka sekuat tenaga menahan tawanya.Dia tidak menyangka jika skenario yang dia buat benar-benar terlihat nyata untuk kekasihnya itu.
"Sudah hampir sore.Kita pulang ya!!"ajak Raka dan di jawab anggukan oleh Chaca.
__ADS_1
Di perjalanan Chaca hanya diam tapi masih dalam keadaan sadar.Raka mencoba menghibur nya dengan mengatakan semua akan baik-baik saja.Chaca hanya merespon dengan senyuman.Dan meminta Raka untuk berhenti di sebuah restoran karena dia sangat lapar.
Raka tersenyum dan mengiyakan permintaan Chaca.Karena dia sendiri juga lapar.Banyak kejadian yang Chaca lalui hari ini.Dan hal itu membuat Raka senang.Dia bersyukur metode ekstrim yang dia lakukan berhasil.Jadi dia tidak perlu khawatir saat meninggalkan chaca nanti.Tapi sebelum itu Raka masih harus membuat Chaca kembali ke kehidupan nya yang nyata.Dia ingin melihat keberanian gadis itu mengakui siapa dirinya?dan baru setelah nya Raka bisa pergi dengan tenang.