
Jam masih menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit dini
hari. Saat ini Arman berada di dalam gerbong kereta api menuju Bandung, tempat
ia akan mengadu nasibnya dengan mengikuti lomba debat Bahasa Arab. Tentunya,
degupan hatinya semakin menjadi-jadi bersamaan dengan roda kereta api yang
terus berputar melintasi rel. Semakin kencang berputar, semakin kencang juga
degupan hatinya.
Kereta api yang dinaiki Arman masih berada di Kediri dan
akan tiba di Bandung dua belas jam lagi. Orang-orang di sekelilingnya lebih
memilih untuk menjalani mimpinya masing-masing, termasuk Mas Ardan dan Kak
Latifah. Saking sepinya, mungkin hanya Arman yang masih tak bisa memejamkan
matanya malam ini. Pikirannya berkecamuk dan hatinya bergemuruh. Ia kalap, tak
tahu bagaimana caranya memejamkan matanya.
Arman meraih handphone-nya dari dalam saku celananya
lantas menyalakannya, berharap ada orang yang belum tidur dan tertarik untuk
diajak mengobrol. Ia geser layarnya ke atas dan ke bawah, ada beberapa yang
masih online, tapi hatinya tak tertarik kepada orang-orang itu. Terakhir
aktif ayah dan ibunya sudah sekitar dua jam yang lalu, Arman tak ingin
mengganggunya.
Ia putuskan untuk melihat status demi status teman-temannya,
tidak ada yang menarik. Ia cek nama Naila di kolom pencarian, tapi belum ada.
Tandanya, nomor Arman belum Naila simpan, padahal Arman sudah lama menyimpan
nomor Naila. Jika dipikir-pikir, memang Arman siapa? Apa ia termasuk orang
penting hingga setiap pemilik nomor yang disimpannya juga harus menyimpan
nomornya? Tentu tidak!
Menyadari itu, Arman melanjutkan keisengannya melihat setiap
status teman-temannya. Satu per satu hingga tak tersisa. Benar-benar tidak ada
yang menarik hatinya untuk sekadar membalas. Arman menoleh ke arah Kak Latifah
yang duduk di depannya, ia mengembangkan senyumnya. Sangat cantik meski baru
tersadar dari tidurnya.
“Belum tidur, Man?” Kata Kak Latifah sambil menggosok-gosok
area matanya. Mungkin ia malu jika ternyata ada kotoran di matanya yang
berhasil ditangkap oleh penglihatan Arman. Ia membenarkan duduknya dari yang
sebelumnya bersandar ke bahu Mas Ardan karena tak sengaja.
“Gak bisa tidur, kak.” Jawab Arman singkat sambil menatap
lawan bicaranya yang masih sibuk membersihkan kotoran di matanya.
“Gak usah grogi. Santai saja. Menang-kalah dalam kompetisi
itu sudah biasa.” Kak Latifah bak bidadari yang diutus Tuhan untuk menceramahi
Arman. Ia juga menjelma sebagai pembaca isi hati, seakan-akan ia bisa membaca
hati Arman. Terkesan ‘sok tahu’, meski nyatanya benar.
“Iya memang, kak. Cuma beban yang sedang saya pikul ini
tidak ringan. Saya akan berlomba di event nasional, membawa nama kampus,
dan juga lombanya bersama tim yang sudah dikenal oleh banyak tim di luar sana.
Kalau sampean gak menang, ya sudah jelas gara-gara saya kak.” Kata Arman
panjang lebar. Ia menjelaskan semua yang mengganjal di hatinya selama ini.
Padahal jika ia tahu, sebenarnya kedua kakak tingkatnya itu tidak pernah
mempermasalahkan hal itu.
Mendengar perkataan Arman, Kak Latifah tertawa kecil dan membuat
Mas Ardan yang duduk di sampingnya beringsut, masih tak sadarkan diri. Sedetik
kemudian perempuan itu berkata, “Gak masalah, Man. Mau kalah atau menang, mau
lomba hingga ke luar negeri pun, pihak kampus tidak akan memberikan kita
apa-apa. Hehe.”
Arman tak menjawab lagi. Humor yang dilontarkan oleh
seniornya itu tidak menarik dan tentu tidak membuat Arman tertawa. Hanya ada
sedikit senyum ragu di bibirnya. Sejenak kemudian Arman mengalihkan wajahnya ke
arah jendela di sampingnya. Ia memandang pemandangan gelap, hanya ada beberap
lampu yang masih menyala dari rumah-rumah yang jauh di luar sana.
Sangat gelap! Bahkan yang terlihat
di kaca jendela hanya pantulan wajahnya sendiri. Tapi Arman tak berputus asa,
ia tetap menatap kaca itu meski tanpa ada hasil yang nyata. Setidaknya, ia bisa
mendapat ketenangan dengan caranya itu.
Bayang-bayang wajah kedua orang tuanya berkelebat. Mereka
berdua tersenyum memandang anaknya yang sedang kebingungan. Melihat itu, mata
Arman berkaca-kaca. Ia khawatir mengecewakan keduanya dengan kekalahan. Arman
tidak pernah serapuh ini, padahal biasanya hatinya akan datang memberinya
motivasi, tapi tidak untuk kali ini.
Ia kembali melihat ke arah Kak Latifah dan menemukannya
kembali terlelap melanjutkan mimpinya. Ia menatap kedua wajah kakak tingkatnya
itu, satu per satu. Kekhawatirannya benar-benar memuncak. Arman tidak bisa
membayangkan jika kedua kakak tingkatnya itu kalah hanya gara-gara dirinya.
Padahal setahu Arman, keduanya sudah pernah mengikuti lomba debat hingga ke
Malaysia dan menang di sana.
Arman bingung dan kembali membuka handphone-nya.
Hingga akhirnya pikirannya memutuskan untuk mencari data tambahan untuk
memperkuat argumennya saat lomba esok hari. Ia membuka browser di handphone-nya
dan mencari data-data penguat itu. Beberapa menit ia membaca dan tidak
menemukan titik terang. Pikirannya sedang buntu dan tidak bisa diajak kompromi.
Tanpa berpikir panjang, ia mematikan handphone-nya dan memaksa matanya
agar mau terpejam.
***
Bandung, 15 Oktober 2018
Matahari mulai beringsut ke atas kepala. Ia menjejali setiap
apapun yang berada –jauh atau dekat- di bawahnya dengan sebuah sengatan.
Teriknya benar-benar menusuk hingga ke tulang-tulang. Membakar kulit hingga
__ADS_1
terasa kering se kering-keringnya. Belum lagi polusi udara dan posisi Arman dan
kedua kakak tingkatnya yang sedang terjebak macet. Paket lengkap membuat
hatinya –yang sebelumnya telah ‘dagdigdug’- semakin meronta-ronta, tapi entah apa yang ia inginkan.
Bandung. Ini kali pertama Arman mengunjungi Jawa Barat.
Perjalanan terjauh kedua di dalam hidupnya (setelah ziarah ‘Wali Wolu’ yang
hanya berkisar di Jawa Timur dan Jawa Tengah). Tapi tidak untuk kedua kakak
tingkatnya itu, selama ini Malaysia masih menjadi tujuan perjalanan terjauh
bagi mereka. Bahkan katanya, pada tahun ini juga mereka akan mendaftarkan diri
untuk mengikuti kompetisi lomba debat Bahasa Arab di Qatar mewakili Indonesia.
Keren, bukan?
Di dalam taksi online, Arman memikirkan cara
bagaimana ia bisa merasa nyaman. Memainkan handphone hingga menyapukan
pandangan ke segala arah demi mencari sesuatu yang membedakan antara Malang dan
Bandung, telah ia lakukan. Hasilnya sama saja, keduanya sama-sama panas pada siang hari, dan macet
–mungkin- memang menjadi permasalahan di setiap kota.
Di kursi depan –bersama sopir-, Kak Latifah sibuk memainkan handphone-nya,
begitu juga Mas Ardan yang duduk di samping Arman. Sebenarnya Arman ingin
mengobrol dengan keduanya, atau minimal salah satunya, untuk membicarakan
apapun, bahkan hingga pembahasan yang tak penting sekalipun.
Entah ada angin dari mana, Mas Ardan mematikan meletakkan handphone-nya
dan mulai melihat ke arah sekitar yang penuh dengan bejibunnya kendaraan. Mulai
dari becak, mobil, truk, sepeda, motor, nyaris semua ada. Mas Ardan tersenyum
lantas menatap Arman yang sedari sejenak sebelumnya bertanya-tanya tentang
senyumnya itu. Mas Ardan memulai obrolan di siang bolong itu, “Panas, ya, Man.
Sama saja seperti Malang.”
“Iya, Mas. Ngomong-ngomong, ini kali pertamaku ke Jawa Barat
loh, Mas.” Ucap Arman memberi pernyataan. Berharap dari itu, ia bisa mengundang
lelaki yang duduk di sampingnya itu
untuk berbincang-bincang lebih jauh.
“Ya maka dari itu, buat perjalanan pertamamu ini menjadi
sangat berkesan.” Kata Mas Ardan menimpali pernyataan Arman, sungguh di luar
dugaan. Bahkan Kak Latifah yang duduk di depan, turut membalikkan badan demi
melihat keduanya yang duduk di bagian belakang.
Semalam Kak Latifah bilang bahwa ia tidak mempedulikan
menang dan kalah, beda dengan Mas Ardan. Dari perkataannya barusan, ia
seakan-akan sedang mentarget untuk juara dalam kompetisi hari ini. Tentu saja
hal itu membuat Arman tersenyum kecut. Pesimisnya datang di saat yang tidak
tepat. Padahal jika kalian tahu, Arman bukan tipe orang yang mudah ciut. Selagi
ia bisa berusaha, tentu ia akan melakukannya semaksimal mungkin.
Di pesantrennya dulu, Arman pernah ambisi untuk mendapat
rangking kelas yang diperebutkan sekitar tiga ratusan orang. Motivasinya adalah
ustaznya yang selalu berharap kepada Arman agar bisa membanggakan kelasnya.
Menanggapi itu, Arman sangat menggebu-gebu mengabulkan hasrat ustaznya dengan
berkurang. Hingga akhirnya ia jatuh sakit dan trauma untuk berambisi lagi.
Melihat raut wajah Arman yang berubah, Kak Latifah turun
tangan untuk berbincang. Ia kembali menasihati Arman agar memperbaiki niat,
kemenangan itu nomor sekian. Jika niat yang utama telah tercapai, Insyaallah
niat-niat berikutnya akan ikut dengan sendirinya. Ia juga menjelaskan bahwa,
yang diperlukan dalam perdebatan itu adalah kontrol emosi, bagaimana sekiranya
emosi kita tidak amburadul saat sedang di podium. Katanya juga, jika emosi kita
sudah tidak terkontrol, argumen yang akan kita sampaikan juga akan berantakan.
Ilmu baru! Ya, ini benar-benar ilmu baru bagi Arman yang bisa dibilang masih
sangat awam dalam dunia perdebatan.
“Ah, sudahlah. Apa kata nanti. Terpenting dari sekarang, aku
minta maaf kepada kalian berdua jika ternyata nanti penampilanku tidak
maksimal, dan terima kasih atas ilmu-ilmu perdebatannya selama ini. Tapi di
sisi lain, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik.”
Arman menengahi semuanya. Mas Ardan dan Kak Latifah saling memandang dan
melontarkan senyuman. Dari cermin yang menggantung di tengah-tengah antara Kak
Latifah dan sopir, Arman melihat sopirnya juga tersenyum.
“Berjanjilah, Man!” Kata Kak Latifah masih dengan posisi
duduk yang sama, melihat Arman dari kursi depan. Perkataannya menggantung.
“Apa?” Tanya Arman singkat.
“Jangan kapok!” Katanya singkat lalu membalikkan badannya
lagi ke arah depan mobil. Sedangkan Arman di belakangnya, mulai mencerna
perkataan Kak Latifah itu. Demikianlah dan Arman terus memikirkan perkataan Kak
Latifah itu hingga akhirnya taksi online yang ia naiki kini tiba di
tempat tujuan.
***
Dengan lincahnya, Arman membalas sanggahan yang dilontarkan
oleh tim lawan. Wajah Arman serta gerak-geriknya sangat santai, ia berhasil
mengontrol emosinya. Ia berusaha agar tampil semaksimal mungkin. Tidak perlu menggebu-gebu,
terpenting semua argumen tersampaikan dengan jelas dan lantang. Semua yang ia
tahu dari senior-seniornya
di pesantren dulu –dan yang diajarkan kedua kakak tingkatnya saat latihan
akhir-akhir ini-, benar-benar ia aplikasikan dengan baik.
Bahasa yang ia gunakan juga tidak seperti biasanya. Arman
lebih menggunakan istilah-istilah yang ia anggap baru. Sebisa mungkin ia
menyusun kata demi kata hingga enak didengar dan pastinya sesuai kaidah Bahasa
Arab yang tepat. Ia
lincahkan juga gerak-gerik tangannya, berusaha menyembunyikan rasa groginya.
Setelah berhasil tampil, Arman kembali ke tempat duduknya
dan ia mendapatkan tepuk tangan dari kedua kakak tingkatnya. Arman tak percaya
__ADS_1
dengan apa yang barusan terjadi. Bagi kakak tingkatnya itu, penampilan Arman
sangat memukau dan sangat pantas untuk dikatakan sebagai ‘juarawan’. Mendengar
itu, Arman sangat bersyukur. Ini pengalaman pertama, dan setelah ini
pengalaman-pengalaman baru harus ia lalui.
Padahal jika mengingat saat di pesantren dulu, Arman –bisa
dikatakan sama sekali- tidak suka debat. Entah apa latar belakang
ketidaksukaannya itu. Yang jelas, Arman selalu menolak saat diutus untuk
mengikuti lomba debat Bahasa Arab.
Bukan hanya dari kedua kakak tingkatnya, Arman juga mendapat respon baik dari para
penonton. Juri yang sedari tadi tegang, turut mengembangkan senyumnya sejenak
setelah Arman turun dari podium. Entah mimpi apa Arman semalam. Ini benar-benar
di luar dugaan.
“Aku kok yakin bahwa kita akan juara ya, Man.” Senyum Mas
Ardan mengembang saat mengatakan itu di hadapan Arman.
“Amin. Semoga saja, mas.” Arman menimpali senyum kakak
tingkatnya itu. Tidak sama seperti senyum-senyumnya yang lalu, kali ini lebih
manis dan tidak terkesan karena terpaksa.
“Jangan merasa puas, Man! Setelah ini masih ada babak
perempat final, semi final, dan final. Insyaallah kamu akan melalui semua itu.”
Kali ini Kak Latifah memotivasi Arman. Senyumnya juga tak kalah manis. Heran
saja, sepanjang persiapan hingga kini mereka bertiga mempertaruhkan nama
jurusan dan kampus, Kak Latifah selalu keluar sebagai motivator.
“Amin.” Jawab Arman singkat.
“Lakukan yang terbaik, niatnya juga ditata dengan baik.
Jangan sampai lengah.” Mas Ardan juga menjelma sebagai motivator dadakan.
Mereka bertiga belum turun dari pentas perlombaan, tapi
ketiganya sudah santai bak sedang tiduran di atas ranjang. Degupan hati Arman
menyurut sedikit demi sedikit hingga hilang tak tersisa. Mereka menyusun
strategi untuk menggugurkan lawan, tapi tentu dengan cara yang sportif. Mulut
Arman tak henti-hentinya berkomat-kamit merapal doa-doa. Sejauh apapun
persiapannya, ia tetap yakin terhadap kekuatan doa.
Hingga akhirnya mereka turun dari pentas dan tim mereka
dinyatakan keluar sebagai salah satu tim yang masuk ke babak berikutnya. Mereka
bertiga terus merapal bait-bait doa. Mulutnya tak berhenti berkomat-kamit.
Keyakinan mereka sama; sama-sama optimis bahwa mereka bisa menyabet juara,
yakin bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan yakin bahwa doa mereka akan diijabahi. Mereka terus begitu hingga akhirnya mereka diputuskan untuk masuk ke babak final. Ini adalah
babak terakhir, babak penentuan; surga atau neraka, menang atau kalah.
Peraturan permainan masih sama seperti sebelumnya; semua
anggota dalam tim menyampaikan argumen sesuai porsinya. Begitu pun dengan apa
yang harus tim Arman lakukan. Mereka bertiga, satu per satu, maju untuk berdiri
di podium dan mulai menyampaikan argumen. Pertama giliran Arman, selanjutnya
Kak Latifah dan yang terakhir adalah Mas Ardan.
Sebenarnya yang masuk final adalah dua kelompok terbaik. Toh
kalaupun tim Arman gagal di babak ini, ia masih bisa meraih juara dua. Tapi
bagi Arman, semua harus dilakukan dengan totalitas, tanpa melewati batas yang
ada. Selagi ia masih berkesempatan untuk meraih juara satu, kenapa harus puas
dengan juara dua?
Lawannya bukan main-main. Mereka sering menjadi lawan Kak
Latifah dan Mas Ardan di berbagai babak final lomba debat Bahasa Arab. Semuanya
telah menduduki semester atas. Dari enam orang yang berada di atas pentas,
hanya Arman yang masih
semester satu. Bisa bertahan hingga babak terakhir, tentu sangat jauh dari apa
yang selama ini dipikirkan oleh
Arman.
***
Arman dan mulutnya dan hatinya terus merapal bait-bait doa.
Ia juga membaca shalawat sebanyak yang bisa ia lantunkan. Bersamaan dengan itu, dewan juri dan
panitia sedang berlalu-lalang menentukan para juarawannya, bejibun, yang satu
mendesak yang lain dan yang lain mencari kesibukan.
Di lain tempat, panitia pengisi acara telah memulai acara
penutupan di pentas. Sangat mewah! Kilatan lampu sorot berwarna-warni,
sedangkan lampu utama ruangan itu sengaja di matikan demi menimbulkan kesan luxury
in the dark. Semua peserta dan panitia dan siapapun yang ada di ruangan itu
berdecak kagum.
Acara demi acara terlewati hingga akhirnya tiba di acara
inti, yakni pembagian hadiah bagi para juarawan. Tentu saja, hati Arman
berdetak lebih kencang, bahkan lebih kencang dari apa yang ia rasakan saat
hendak naik ke podium debat. Sudah jelas sebenarnya, kalau bukan yang pertama,
ya jelas yang kedua.
“Terbaik kedua, kategori lomba Debat Bahasa Arab diraih
oleh..” Suara pembawa acara sangat menggelegar melalui pengeras suara. Beberapa
detik kemudian, sambil diiringi musik yang membuat hati semakin berdebar
kencang, ia kembali bersuara, “Sastra Arab Universitas Ulul Albab!”
Semua orang bertepuk tangan. Saling bersorak-sorai, bahkan
kedua kakak tingkat Arman itu. tapi tidak dengan Arman, ia kecewa dengan
hatinya sendiri yang terlalu berharap. Padahal jika dipikir lebih lanjut,
memang siapa dia? Masih newbie dan belum pantas untuk menjadi terbaik
pertama.
“Sudah. Jangan kecewa. Salahmu terlalu berharap. Jatuh?
Sakit kan? Jangan diulangi lagi. Masih banyak lomba yang lain. Bisa bertahan
hingga babak akhir saja sudah luar biasa.” Kata Mas Ardan sambil menepuk bahu
Arman.
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on Instagram!