Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Tidak Terduga (II)


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit dini


hari. Saat ini Arman berada di dalam gerbong kereta api menuju Bandung, tempat


ia akan mengadu nasibnya dengan mengikuti lomba debat Bahasa Arab. Tentunya,


degupan hatinya semakin menjadi-jadi bersamaan dengan roda kereta api yang


terus berputar melintasi rel. Semakin kencang berputar, semakin kencang juga


degupan hatinya.


Kereta api yang dinaiki Arman masih berada di Kediri dan


akan tiba di Bandung dua belas jam lagi. Orang-orang di sekelilingnya lebih


memilih untuk menjalani mimpinya masing-masing, termasuk Mas Ardan dan Kak


Latifah. Saking sepinya, mungkin hanya Arman yang masih tak bisa memejamkan


matanya malam ini. Pikirannya berkecamuk dan hatinya bergemuruh. Ia kalap, tak


tahu bagaimana caranya memejamkan matanya.


Arman meraih handphone-nya dari dalam saku celananya


lantas menyalakannya, berharap ada orang yang belum tidur dan tertarik untuk


diajak mengobrol. Ia geser layarnya ke atas dan ke bawah, ada beberapa yang


masih online, tapi hatinya tak tertarik kepada orang-orang itu. Terakhir


aktif ayah dan ibunya sudah sekitar dua jam yang lalu, Arman tak ingin


mengganggunya.


Ia putuskan untuk melihat status demi status teman-temannya,


tidak ada yang menarik. Ia cek nama Naila di kolom pencarian, tapi belum ada.


Tandanya, nomor Arman belum Naila simpan, padahal Arman sudah lama menyimpan


nomor Naila. Jika dipikir-pikir, memang Arman siapa? Apa ia termasuk orang


penting hingga setiap pemilik nomor yang disimpannya juga harus menyimpan


nomornya? Tentu tidak!


Menyadari itu, Arman melanjutkan keisengannya melihat setiap


status teman-temannya. Satu per satu hingga tak tersisa. Benar-benar tidak ada


yang menarik hatinya untuk sekadar membalas. Arman menoleh ke arah Kak Latifah


yang duduk di depannya, ia mengembangkan senyumnya. Sangat cantik meski baru


tersadar dari tidurnya.


“Belum tidur, Man?” Kata Kak Latifah sambil menggosok-gosok


area matanya. Mungkin ia malu jika ternyata ada kotoran di matanya yang


berhasil ditangkap oleh penglihatan Arman. Ia membenarkan duduknya dari yang


sebelumnya bersandar ke bahu Mas Ardan karena tak sengaja.


“Gak bisa tidur, kak.” Jawab Arman singkat sambil menatap


lawan bicaranya yang masih sibuk membersihkan kotoran di matanya.


“Gak usah grogi. Santai saja. Menang-kalah dalam kompetisi


itu sudah biasa.” Kak Latifah bak bidadari yang diutus Tuhan untuk menceramahi


Arman. Ia juga menjelma sebagai pembaca isi hati, seakan-akan ia bisa membaca


hati Arman. Terkesan ‘sok tahu’, meski nyatanya benar.


“Iya memang, kak. Cuma beban yang sedang saya pikul ini


tidak ringan. Saya akan berlomba di event nasional, membawa nama kampus,


dan juga lombanya bersama tim yang sudah dikenal oleh banyak tim di luar sana.


Kalau sampean gak menang, ya sudah jelas gara-gara saya kak.” Kata Arman


panjang lebar. Ia menjelaskan semua yang mengganjal di hatinya selama ini.


Padahal jika ia tahu, sebenarnya kedua kakak tingkatnya itu tidak pernah


mempermasalahkan hal itu.


Mendengar perkataan Arman, Kak Latifah tertawa kecil dan membuat


Mas Ardan yang duduk di sampingnya beringsut, masih tak sadarkan diri. Sedetik


kemudian perempuan itu berkata, “Gak masalah, Man. Mau kalah atau menang, mau


lomba hingga ke luar negeri pun, pihak kampus tidak akan memberikan kita


apa-apa. Hehe.”


Arman tak menjawab lagi. Humor yang dilontarkan oleh


seniornya itu tidak menarik dan tentu tidak membuat Arman tertawa. Hanya ada


sedikit senyum ragu di bibirnya. Sejenak kemudian Arman mengalihkan wajahnya ke


arah jendela di sampingnya. Ia memandang pemandangan gelap, hanya ada beberap


lampu yang masih menyala dari rumah-rumah yang jauh di luar sana.


Sangat gelap! Bahkan yang terlihat


di kaca jendela hanya pantulan wajahnya sendiri. Tapi Arman tak berputus asa,


ia tetap menatap kaca itu meski tanpa ada hasil yang nyata. Setidaknya, ia bisa


mendapat ketenangan dengan caranya itu.


Bayang-bayang wajah kedua orang tuanya berkelebat. Mereka


berdua tersenyum memandang anaknya yang sedang kebingungan. Melihat itu, mata


Arman berkaca-kaca. Ia khawatir mengecewakan keduanya dengan kekalahan. Arman


tidak pernah serapuh ini, padahal biasanya hatinya akan datang memberinya


motivasi, tapi tidak untuk kali ini.


Ia kembali melihat ke arah Kak Latifah dan menemukannya


kembali terlelap melanjutkan mimpinya. Ia menatap kedua wajah kakak tingkatnya


itu, satu per satu. Kekhawatirannya benar-benar memuncak. Arman tidak bisa


membayangkan jika kedua kakak tingkatnya itu kalah hanya gara-gara dirinya.


Padahal setahu Arman, keduanya sudah pernah mengikuti lomba debat hingga ke


Malaysia dan menang di sana.


Arman bingung dan kembali membuka handphone-nya.


Hingga akhirnya pikirannya memutuskan untuk mencari data tambahan untuk


memperkuat argumennya saat lomba esok hari. Ia membuka browser di handphone-nya


dan mencari data-data penguat itu. Beberapa menit ia membaca dan tidak


menemukan titik terang. Pikirannya sedang buntu dan tidak bisa diajak kompromi.


Tanpa berpikir panjang, ia mematikan handphone-nya dan memaksa matanya


agar mau terpejam.


***


Bandung, 15 Oktober 2018


Matahari mulai beringsut ke atas kepala. Ia menjejali setiap


apapun yang berada –jauh atau dekat- di bawahnya dengan sebuah sengatan.


Teriknya benar-benar menusuk hingga ke tulang-tulang. Membakar kulit hingga

__ADS_1


terasa kering se kering-keringnya. Belum lagi polusi udara dan posisi Arman dan


kedua kakak tingkatnya yang sedang terjebak macet. Paket lengkap membuat


hatinya –yang sebelumnya telah ‘dagdigdug’- semakin meronta-ronta, tapi entah apa yang ia inginkan.


Bandung. Ini kali pertama Arman mengunjungi Jawa Barat.


Perjalanan terjauh kedua di dalam hidupnya (setelah ziarah ‘Wali Wolu’ yang


hanya berkisar di Jawa Timur dan Jawa Tengah). Tapi tidak untuk kedua kakak


tingkatnya itu, selama ini Malaysia masih menjadi tujuan perjalanan terjauh


bagi mereka. Bahkan katanya, pada tahun ini juga mereka akan mendaftarkan diri


untuk mengikuti kompetisi lomba debat Bahasa Arab di Qatar mewakili Indonesia.


Keren, bukan?


Di dalam taksi online, Arman memikirkan cara


bagaimana ia bisa merasa nyaman. Memainkan handphone hingga menyapukan


pandangan ke segala arah demi mencari sesuatu yang membedakan antara Malang dan


Bandung, telah ia lakukan. Hasilnya sama saja, keduanya sama-sama panas pada siang hari, dan macet


–mungkin- memang menjadi permasalahan di setiap kota.


Di kursi depan –bersama sopir-, Kak Latifah sibuk memainkan handphone-nya,


begitu juga Mas Ardan yang duduk di samping Arman. Sebenarnya Arman ingin


mengobrol dengan keduanya, atau minimal salah satunya, untuk membicarakan


apapun, bahkan hingga pembahasan yang tak penting sekalipun.


Entah ada angin dari mana, Mas Ardan mematikan meletakkan handphone-nya


dan mulai melihat ke arah sekitar yang penuh dengan bejibunnya kendaraan. Mulai


dari becak, mobil, truk, sepeda, motor, nyaris semua ada. Mas Ardan tersenyum


lantas menatap Arman yang sedari sejenak sebelumnya bertanya-tanya tentang


senyumnya itu. Mas Ardan memulai obrolan di siang bolong itu, “Panas, ya, Man.


Sama saja seperti Malang.”


“Iya, Mas. Ngomong-ngomong, ini kali pertamaku ke Jawa Barat


loh, Mas.” Ucap Arman memberi pernyataan. Berharap dari itu, ia bisa mengundang


lelaki yang duduk di sampingnya itu


untuk berbincang-bincang lebih jauh.


“Ya maka dari itu, buat perjalanan pertamamu ini menjadi


sangat berkesan.” Kata Mas Ardan menimpali pernyataan Arman, sungguh di luar


dugaan. Bahkan Kak Latifah yang duduk di depan, turut membalikkan badan demi


melihat keduanya yang duduk di bagian belakang.


Semalam Kak Latifah bilang bahwa ia tidak mempedulikan


menang dan kalah, beda dengan Mas Ardan. Dari perkataannya barusan, ia


seakan-akan sedang mentarget untuk juara dalam kompetisi hari ini. Tentu saja


hal itu membuat Arman tersenyum kecut. Pesimisnya datang di saat yang tidak


tepat. Padahal jika kalian tahu, Arman bukan tipe orang yang mudah ciut. Selagi


ia bisa berusaha, tentu ia akan melakukannya semaksimal mungkin.


Di pesantrennya dulu, Arman pernah ambisi untuk mendapat


rangking kelas yang diperebutkan sekitar tiga ratusan orang. Motivasinya adalah


ustaznya yang selalu berharap kepada Arman agar bisa membanggakan kelasnya.


Menanggapi itu, Arman sangat menggebu-gebu mengabulkan hasrat ustaznya dengan


berkurang. Hingga akhirnya ia jatuh sakit dan trauma untuk berambisi lagi.


Melihat raut wajah Arman yang berubah, Kak Latifah turun


tangan untuk berbincang. Ia kembali menasihati Arman agar memperbaiki niat,


kemenangan itu nomor sekian. Jika niat yang utama telah tercapai, Insyaallah


niat-niat berikutnya akan ikut dengan sendirinya. Ia juga menjelaskan bahwa,


yang diperlukan dalam perdebatan itu adalah kontrol emosi, bagaimana sekiranya


emosi kita tidak amburadul saat sedang di podium. Katanya juga, jika emosi kita


sudah tidak terkontrol, argumen yang akan kita sampaikan juga akan berantakan.


Ilmu baru! Ya, ini benar-benar ilmu baru bagi Arman yang bisa dibilang masih


sangat awam dalam dunia perdebatan.


“Ah, sudahlah. Apa kata nanti. Terpenting dari sekarang, aku


minta maaf kepada kalian berdua jika ternyata nanti penampilanku tidak


maksimal, dan terima kasih atas ilmu-ilmu perdebatannya selama ini. Tapi di


sisi lain, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik.”


Arman menengahi semuanya. Mas Ardan dan Kak Latifah saling memandang dan


melontarkan senyuman. Dari cermin yang menggantung di tengah-tengah antara Kak


Latifah dan sopir, Arman melihat sopirnya juga tersenyum.


“Berjanjilah, Man!” Kata Kak Latifah masih dengan posisi


duduk yang sama, melihat Arman dari kursi depan. Perkataannya menggantung.


“Apa?” Tanya Arman singkat.


“Jangan kapok!” Katanya singkat lalu membalikkan badannya


lagi ke arah depan mobil. Sedangkan Arman di belakangnya, mulai mencerna


perkataan Kak Latifah itu. Demikianlah dan Arman terus memikirkan perkataan Kak


Latifah itu hingga akhirnya taksi online yang ia naiki kini tiba di


tempat tujuan.


***


Dengan lincahnya, Arman membalas sanggahan yang dilontarkan


oleh tim lawan. Wajah Arman serta gerak-geriknya sangat santai, ia berhasil


mengontrol emosinya. Ia berusaha agar tampil semaksimal mungkin. Tidak perlu menggebu-gebu,


terpenting semua argumen tersampaikan dengan jelas dan lantang. Semua yang ia


tahu dari senior-seniornya


di pesantren dulu –dan yang diajarkan kedua kakak tingkatnya saat latihan


akhir-akhir ini-, benar-benar ia aplikasikan dengan baik.


Bahasa yang ia gunakan juga tidak seperti biasanya. Arman


lebih menggunakan istilah-istilah yang ia anggap baru. Sebisa mungkin ia


menyusun kata demi kata hingga enak didengar dan pastinya sesuai kaidah Bahasa


Arab yang tepat. Ia


lincahkan juga gerak-gerik tangannya, berusaha menyembunyikan rasa groginya.


Setelah berhasil tampil, Arman kembali ke tempat duduknya


dan ia mendapatkan tepuk tangan dari kedua kakak tingkatnya. Arman tak percaya

__ADS_1


dengan apa yang barusan terjadi. Bagi kakak tingkatnya itu, penampilan Arman


sangat memukau dan sangat pantas untuk dikatakan sebagai ‘juarawan’. Mendengar


itu, Arman sangat bersyukur. Ini pengalaman pertama, dan setelah ini


pengalaman-pengalaman baru harus ia lalui.


Padahal jika mengingat saat di pesantren dulu, Arman –bisa


dikatakan sama sekali- tidak suka debat. Entah apa latar belakang


ketidaksukaannya itu. Yang jelas, Arman selalu menolak saat diutus untuk


mengikuti lomba debat Bahasa Arab.


Bukan hanya dari kedua kakak tingkatnya, Arman juga mendapat respon baik dari para


penonton. Juri yang sedari tadi tegang, turut mengembangkan senyumnya sejenak


setelah Arman turun dari podium. Entah mimpi apa Arman semalam. Ini benar-benar


di luar dugaan.


“Aku kok yakin bahwa kita akan juara ya, Man.” Senyum Mas


Ardan mengembang saat mengatakan itu di hadapan Arman.


“Amin. Semoga saja, mas.” Arman menimpali senyum kakak


tingkatnya itu. Tidak sama seperti senyum-senyumnya yang lalu, kali ini lebih


manis dan tidak terkesan karena terpaksa.


“Jangan merasa puas, Man! Setelah ini masih ada babak


perempat final, semi final, dan final. Insyaallah kamu akan melalui semua itu.”


Kali ini Kak Latifah memotivasi Arman. Senyumnya juga tak kalah manis. Heran


saja, sepanjang persiapan hingga kini mereka bertiga mempertaruhkan nama


jurusan dan kampus, Kak Latifah selalu keluar sebagai motivator.


“Amin.” Jawab Arman singkat.


“Lakukan yang terbaik, niatnya juga ditata dengan baik.


Jangan sampai lengah.” Mas Ardan juga menjelma sebagai motivator dadakan.


Mereka bertiga belum turun dari pentas perlombaan, tapi


ketiganya sudah santai bak sedang tiduran di atas ranjang. Degupan hati Arman


menyurut sedikit demi sedikit hingga hilang tak tersisa. Mereka menyusun


strategi untuk menggugurkan lawan, tapi tentu dengan cara yang sportif. Mulut


Arman tak henti-hentinya berkomat-kamit merapal doa-doa. Sejauh apapun


persiapannya, ia tetap yakin terhadap kekuatan doa.


Hingga akhirnya mereka turun dari pentas dan tim mereka


dinyatakan keluar sebagai salah satu tim yang masuk ke babak berikutnya. Mereka


bertiga terus merapal bait-bait doa. Mulutnya tak berhenti berkomat-kamit.


Keyakinan mereka sama; sama-sama optimis bahwa mereka bisa menyabet juara,


yakin bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan yakin bahwa doa mereka akan diijabahi. Mereka terus begitu hingga akhirnya mereka diputuskan untuk masuk ke babak final. Ini adalah


babak terakhir, babak penentuan; surga atau neraka, menang atau kalah.


Peraturan permainan masih sama seperti sebelumnya; semua


anggota dalam tim menyampaikan argumen sesuai porsinya. Begitu pun dengan apa


yang harus tim Arman lakukan. Mereka bertiga, satu per satu, maju untuk berdiri


di podium dan mulai menyampaikan argumen. Pertama giliran Arman, selanjutnya


Kak Latifah dan yang terakhir adalah Mas Ardan.


Sebenarnya yang masuk final adalah dua kelompok terbaik. Toh


kalaupun tim Arman gagal di babak ini, ia masih bisa meraih juara dua. Tapi


bagi Arman, semua harus dilakukan dengan totalitas, tanpa melewati batas yang


ada. Selagi ia masih berkesempatan untuk meraih juara satu, kenapa harus puas


dengan juara dua?


Lawannya bukan main-main. Mereka sering menjadi lawan Kak


Latifah dan Mas Ardan di berbagai babak final lomba debat Bahasa Arab. Semuanya


telah menduduki semester atas. Dari enam orang yang berada di atas pentas,


hanya Arman yang masih


semester satu. Bisa bertahan hingga babak terakhir, tentu sangat jauh dari apa


yang selama ini dipikirkan oleh


Arman.


***


Arman dan mulutnya dan hatinya terus merapal bait-bait doa.


Ia juga membaca shalawat sebanyak yang bisa ia lantunkan. Bersamaan dengan itu, dewan juri dan


panitia sedang berlalu-lalang menentukan para juarawannya, bejibun, yang satu


mendesak yang lain dan yang lain mencari kesibukan.


Di lain tempat, panitia pengisi acara telah memulai acara


penutupan di pentas. Sangat mewah! Kilatan lampu sorot berwarna-warni,


sedangkan lampu utama ruangan itu sengaja di matikan demi menimbulkan kesan luxury


in the dark. Semua peserta dan panitia dan siapapun yang ada di ruangan itu


berdecak kagum.


Acara demi acara terlewati hingga akhirnya tiba di acara


inti, yakni pembagian hadiah bagi para juarawan. Tentu saja, hati Arman


berdetak lebih kencang, bahkan lebih kencang dari apa yang ia rasakan saat


hendak naik ke podium debat. Sudah jelas sebenarnya, kalau bukan yang pertama,


ya jelas yang kedua.


“Terbaik kedua, kategori lomba Debat Bahasa Arab diraih


oleh..” Suara pembawa acara sangat menggelegar melalui pengeras suara. Beberapa


detik kemudian, sambil diiringi musik yang membuat hati semakin berdebar


kencang, ia kembali bersuara, “Sastra Arab Universitas Ulul Albab!”


Semua orang bertepuk tangan. Saling bersorak-sorai, bahkan


kedua kakak tingkat Arman itu. tapi tidak dengan Arman, ia kecewa dengan


hatinya sendiri yang terlalu berharap. Padahal jika dipikir lebih lanjut,


memang siapa dia? Masih newbie dan belum pantas untuk menjadi terbaik


pertama.


“Sudah. Jangan kecewa. Salahmu terlalu berharap. Jatuh?


Sakit kan? Jangan diulangi lagi. Masih banyak lomba yang lain. Bisa bertahan


hingga babak akhir saja sudah luar biasa.” Kata Mas Ardan sambil menepuk bahu


Arman.


Bersambung...

__ADS_1


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2