
Keesokan harinya, Seperti biasa Chaca menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Raka.Dia begitu bersemangat karena Raka berjanji akan mengajaknya jalan-jalan.Lalu bagaimana dengan sekolah Chaca? setelah Raka meminta Wira untuk memperketat keamanan untuk Chaca,Wira memutuskan untuk memberi homeschooling untuk Chaca. Wira menjadikan terapi Chaca sebagai alasan agar Chaca tidak curiga.
Awalnya Chaca menolak tapi dengan berbagai alasan yang dilontarkan Wira, akhirnya Chaca setuju.Gadis itu juga tidak ingin Sahabat-sahabat nya tahu tentang penyakitnya.
Beberapa hari tinggal di kediaman keluarga Joseph membuat Chaca merasa bosan karena harus berada di rumah terus menerus.Tapi sekarang, walaupun seharian berada di dalam rumah,dia tidak akan keberatan karena ada Raka di sampingnya.Yah seperti nya Chaca sudah benar-benar bucin pada Raka.
Bibir Chaca terus mengembang membayangkan dirinya yang akan pergi dengan Raka nanti.Dia sudah tidak sabar.
Hug
Raka memeluk Chaca dari belakang membuat gadis itu tersentak.Tapi walaupun begitu,gadis itu terlihat biasa saja.
"Kakak sudah bangun?"tanya Chaca.
Raka mengangguk dan menopang dagunya di bahu Chaca.Dia menghirup aroma tubuh Chaca yang membuat candu dirinya.
"Chaca masak apa?"
"Nasi goreng sama telur mata sapi.Kakak mau yang lain?"Chaca memiringkan kepalanya menatap Raka yang memejamkan matanya di bahunya.
"Apapun yang Chaca masak,Kakak suka."
"Ya udah.Sekarang Kakak mandi dulu sana."
"Pengen kek gini dulu Cha."
"Iihh...Chaca masih masak Kak.Kakak mandi dulu habis itu kita sarapan bareng.Katanya mau ajak Chaca jalan-jalan."
Raka membuka matanya.Dia menegakkan kepalanya dan mengecup singkat pipi Chaca."Kakak mandi dulu."Setelah mengatakan hal itu,Dia kembali ke kamar untuk bersiap.
Tapi sesampainya di kamar,Raka tidak langsung mandi.Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Andhika.
"Apa semua sudah siap?"tanya Raka saat panggilan nya terhubung dengan Andhika.
"Udah.Sesuai keinginan loe.Tapi Ka,apa loe yakin ini akan berhasil?"
"Kenapa?Loe ragu?"
Iya.Andhika dan keluarga nya ragu dan sangat takut dengan apa yang akan Raka lakukan.Mereka takut hal itu akan membuat penyakit Chaca semakin parah.Atau mungkin malah lebih dari itu.
"Gue cuma butuh loe percaya sama gue.Selebihnya serahin ke gue."seru Raka.
__ADS_1
"Oke..Gue akan coba untuk percaya sama loe.Gue serahin semuanya ke elo."
"Thanks."Raka mematikan sambungan telepon nya.Dia menghela nafas panjang dan kemudian pergi ke kamar mandi.
Di kamar mandi,Raka membuka kancing bajunya satu persatu dan terlihat perban yang membalut luka di dadanya.Dia memgusap pelan lukanya
"Kau memikul tanggungjawab yang berat dan Wanita hanya akan membuat mu lemah.Untuk itu jika kau ingin menjadi lebih kuat,Jangan jatuh cinta."
Raka mengepalkan tangannya."Maafin Kakak Cha.Maafin Kakak."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chaca melihat pemandangan dari jendela mobil.Bibirnya terus mengembang.Ini yang sangat ia sukai.Pergi berdua dengan kekasihnya.
"Sebenarnya kita mau kemana Kak?"tanya Chaca penasaran.Raka sama sekali tidak memberitahu nya kemana mereka akan pergi.Dan hal itu membuat nya penasaran.Apa pemuda itu punya kejutan untuk nya?
"Nanti Chaca juga tahu."jawab Raka singkat.
Chaca berdecak mendengar jawaban Raka.Tapi mau kemanapun pemuda itu membawanya pasti itu adalah tempat yang sangat indah dan menyenangkan.
Ya..Itulah yang di pikirkan Chaca.Tapi sayang nya itu tidak sesuai angan-angan gadis itu.Semakin kemari Chaca Semakin merasa gelisah.Jalan yang mereka lewati terlihat tidak asing untuk nya.
"Kak!!Kakak gak salah jalan kan?"tanya Chaca
"Tidak apa-apa."Chaca memilih diam.Matanya tidak lagi melihat pemandangan yang terlihat dari jendela mobilnya.Dia takut apa yang dia pikirkan itu benar.Walaupun sudah bertahun-tahun Chaca tidak melewati jalan ini,tapi dia sangat yakin.Jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju neraka.
"Kita udah sampai."ucap Raka membuyarkan lamunan Chaca.
"A_apa sudah sampai?"
Raka mengangguk dan mulai turun dari mobil.Dia mengitari mobil nya dan membukakan pintu untuk Chaca.Dengan perasaan ragu, Chaca turun dari mobil.
Deg
Raka mengajak Chaca pergi ke suatu tempat yang tidak asing untuk nya.Dia terdiam sejenak.Tubuhnya tiba-tiba bergetar.Kelebatan kenangan kelam di masa lalunya tiba-tiba muncul di pikiran nya.Peristiwa menyakitkan yang tidak akan pernah Chaca lupakan dan sudah mendarah daging itu terlihat jelas di depan nya.
"Ayo...!!"Raka menggenggam tangan Chaca dan menuntunnya ke sebuah bangunan yang tidak asing untuk nya.
Chaca menghentikan langkahnya, membuat Raka ikut terhenti.Raka melihat tangan Chaca yang bergetar hebat dan basah karena keringat.Dia tahu pasti kenangan buruk itu terbayang kembali di ingat gadis itu.Tapi Raka mencoba menyadarkan Chaca dan kembali menuntunnya masuk kedalam.
Air mata Chaca terus mengalir.Dia ingin berteriak tapi mulutnya seolah terkunci dan tanpa dia sadari Raka sudah tidak ada di sampingnya.Pintu juga tiba-tiba tertutup rapat.Chaca tersungkur dan terus memanggil Raka tapi pemuda itu seolah hilang di telan bumi.Kini yang ada hanya bayangan kejadian-kejadian kelam yang membuat Chaca meringkuk ketakutan.
__ADS_1
"Jangan !!hiks hiks...Jangan!!Chaca mohon jangan!!!"
Brakh
Pyarrr
Suara benda yang terjatuh membuat Chaca tersentak dan semakin ketakutan.Dia histeris dan menangis.Dia ingin keluar tapi dia begitu takut untuk menggerakkan kakinya.
Hingga tiba-tiba di depan Chaca terlihat seorang wanita yang di aniaya oleh seorang pria.
"DASAR TIDAK BERGUNA.WANITA PENYAKITAN.KAU HANYA MEMBUAT BEBAN UNTUK KU."teriak pria itu
"A_ampun Mas..Jangan siksa aku lagi hiks hiks.."wanita itu terus memohon pada si pria tapi si pria seolah menulikan telinga nya dan terus menyiksa si wanita
Melihat hal itu tubuh Chaca semakin gemetar.Dia menarik keras rambutnya."PERGI..!!!!JANGAN SAKITI IBU!!!PERGI KALIAN!!!!AARRGGHHH...."
"Cha_chaca..tolong ibu nak.."
Chaca berhenti berteriak.Dia melihat wanita itu merangkak meminta bantuan nya.Sedangkan pria itu terus menyiksa wanita itu.
"I_ibu.."lirih Chaca.
"Tolong Cha.."suara wanita itu terdengar sangat lemah mengingatkan saat-saat terakhir dia bersama ibunya.
Chaca menggeleng-gelengkan kepalanya.Dia tidak mau kehilangan lagi.Dia mengumpulkan keberanian untuk menolong wanita yang dia kira adalah ibunya itu.
Chaca berdiri dengan kedua kaki yang bergetar bahkan tidak sanggup untuk menopang tubuhnya.Tapi Chaca terus berusaha.Dia mencari sesuatu untuk menolong wanita itu hingga dia melihat kayu balok.Chaca mengambil nya dan dengan keberanian yang dia miliki,chaca berteriak dan memukuli si pria.
"JANGAN SAKITI IBU LAGI!!AYAH JAHAT .AYAH PANTAS MATI."Chaca terus memukuli pria itu hingga tidak sadarkan diri.
Melihat hal itu, entah kenapa Chaca merasa sangat puas.Akhirnya dia bisa membalas perbuatan pria yang begitu kejam menyiksa ibunya.
"Cha..!!!"panggilan wanita itu menyadarkan Chaca.Gadis itu membuang kayu yang berada di tangannya dan menolong wanita itu.
"I_ibu gak papa kan?ibu baik-baik saja?"
Wanita itu tersenyum dan mengangguk.Dia terus mengucapkan terimakasih pada Chaca.
"Ayo kita keluar dari sini!!kita harus segera kerumah sakit."ajak Chaca.
Wanita itu tidak menolak.Chaca membantu wanita itu berdiri dan memapah nya keluar dari rumah jahanam itu.
__ADS_1
Semua yang baru saja terjadi tidak lepas dari pandangan Wira,Raka, Andhika dan Dokter Rena.Mereka terharu dengan perjuangan Chaca demi menolong wanita itu.Walau pada awalnya mereka tidak tega melihat Chaca yang terus berteriak histeris.Tapi dengan apa yang mereka lihat.Bisa di simpulkan jika Chaca berhasil melewati nya.Hanya perlu mengujinya sekali lagi untuk membuktikan jika mental Chaca sudah membaik atau ini hanya bersifat sementara.