
Keesokan harinya,Maya di buat panik karena Chaca tiba-tiba demam.Dia menelepon Zion untuk datang ke apartemen Chaca karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Bagaimana keadaan Chaca?"tanya Zion yang baru saja datang.Dia kelihatannya buru-buru sampai-sampai lupa memakai bajunya.
Maya memalingkan wajahnya malu dan berkata,"Aku sudah mengompresnya tapi panasnya tidak mau turun.Aku ingin menghubungi dokter tapi aku hanya punya nomor dokter pribadi keluarga Tuan Wira."
"Jangan!!!Jangan telepon dokter pribadi Tuan Wira.Nanti Tuan Wira tahu keadaan Chaca."
"Lalu bagaimana Zi?"
"Aku akan membeli obat di apotek.Kau buatkan bubur untuk Chaca.Nanti jika dia sudah bangun,dia bisa langsung makan dan minum obat."
"Ba_baiklah tapi akan lebih baik jika kau memakai bajumu dulu."Maya pergi ke dapur untuk membuat bubur.Sedangkan Zion tersadar dengan dirinya yang belum memakai baju dan berlari ke apartemennya.
"Haish.. Kenapa aku bisa lupa."gumamnya malu.Pantas saja tadi Maya tidak mau melihatnya.Sungguh memalukan.
Untungnya hari ini adalah hari Minggu jadi mereka tidak pergi ke kantor.
Maya berkutat dengan peralatan dapur.Dia membuat bubur untuk Chaca sekaligus membuat sarapan untuk dirinya dan Zion.
Setelah Maya selesai dengan masakannya,dia kembali ke kamar Chaca dan ternyata gadis itu belum bangun.Maya menghela nafas panjang dan membiarkan Chaca untuk istirahat.
Maya kembali ke ruang tengah dan tak berapa lama Zion datang."Bagaimana?
Maya menggelengkan kepalanya.Dia duduk diruang tamu dan berkata,"aku rasa Chaca tidak tidur tapi enggan untuk bangun."
"Kenapa begitu?"Zion meletakkan kantong plastik berisi obat penurun panas di meja dan duduk di samping Maya.
"Hal itu pasti berat untuk nya.Makanya dia berharap hal ini hanya mimpi."
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Gak ada yang bisa kita lakukan.Biarkan dia memenangkan pikirannya dulu.Untuk sementara aku yang akan menghandle perusahaan.Kau jaga Chaca.Kau sudah lama bersama Chaca.Kau pasti tahu apa yang Chaca butuhkan."
Zion mengangguk paham.Tapi tak berapa lama perut Zion berbunyi dan itu membuat pria itu malu dan salah tingkah.
"Kau lapar?"
Zion tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Dasar perut sialan.
__ADS_1
"Aku sudah masak.Ayo kita sarapan bersama!!!"ajak Maya yang di jawab anggukan oleh Zion.
Mereka pergi ke ruang makan dan duduk berhadapan.Maya mengerutkan keningnya karena baru sadar jika wajah Zion penuh dengan lebam.
"Zi,wajahmu kenapa lebam begitu?"tanya Maya penasaran.
"O_oh i_ini...A_aku tidak sengaja bertemu preman semalam waktu mencari makan."jawabnya terbata.Zion melanjutkan makannya dan sesekali melirik Maya berharap wanita itu percaya dengan apa yang dia katakan.
Maya menatap curiga Zion.Jika Zion lapar,kenapa harus keluar?dia bisa memesannya lewat online kan.Dan lagi,Maya tahu jika Zion adalah pengawal pribadi Chaca.Apa mungkin dengan kemampuan Zion yang hebat bisa kalah dengan preman dan membuat wajahnya lebam seperti itu?
Maya ingin bertanya lebih lanjut tapi belum sempat ia bersuara,dia melihat Chaca yang menuruni anak tangga.
"Chaca!!"Maya membantu Chaca dan menuntun gadis itu duduk di ruang makan.
"Chaca kenapa turun?Chaca kan lagi sakit.Kalau butuh apa-apa panggil saja kita."
"Iya Cha.Maya bener.Chaca mau apa biar aku ambilin."timpal Zion.
"Chaca gak papa kak.Udah mendingan.Chaca cuma gak mau merepotkan kalian."ucap Chaca yang terdengar masih lemas.
"Kita gak merasa di repotkan Cha.Justru ini adalah tanggung jawab kita."
"Kak Zi mengatakan sesuatu?"
"Ti_tidak."
"Tunggu sebentar!!"Maya mengambilkan bubur dan air hangat untuk Chaca.
"Kakak suapi ya,habis itu minum obat biar cepat sembuh."
Chaca tersenyum dan mengangguk pelan.Kepalanya memang masih pusing tapi dia sudah merasa baikan.
Setelah selesai makan dan minum obat,Maya membantu Chaca untuk kembali ke kamarnya.Sedangkan Zion kembali ke apartemennya.
"Cha, untuk beberapa hari ini kau tidak usah berangkat kerja dulu.Biar aku yang menghandle perusahaan."
"Tidak Kak.Chaca baik-baik saja.Chaca gak mau merepotkan kalian."
Maya tersenyum dan menggenggam tangan Chaca."Aku tidak tahu apa yang kau alami selama ini.Tapi aku sedikit tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai karena aku juga pernah mengalaminya.Bedanya aku masih bisa melihat pria itu,tapi sayangnya dia sudah dengan wanita lain."
__ADS_1
"Astaga..Kak Maya....."
"Aku tidak apa-apa.Untuk itu kau juga harus begitu.Jika pertemuan mu dengan Tuan Rey membuat hati mu ragu,aku sarankan kau cari kebenarannya."
"Maksud Kak Maya?"
"Begini Cha,seberapa mirip Tuan Rey dengan kekasihmu,pasti ada perbedaannya.Saat ini kau pasti ragu bukan?Tuan Rey adalah kekasih mu atau bukan.Untuk itu kau harus mencari tahu."
Maya tersenyum melihat Chaca yang terdiam.Dia tidak ingin memberi harapan untuk gadis itu tapi dia ingin gadis itu bangkit dan menerima kenyataan.Walau pada akhirnya itu akan menyakitkan
"Aku akan membantumu jika kau ingin mencari tahu tentang Tuan Rey.Tapi kau harus mengikuti caraku.Yang pasti aku tidak ingin kau terbawa perasaan saat melakukannya."
"Pikirkan baik-baik Cha.Tidak perlu terburu-buru.Dan jika kau setuju, beritahu aku.Aku mempunyai banyak rencana untuk membantumu.Dan satu lagi, jangan sampai Zion tahu akan hal ini.Karena kalau boleh jujur,Aku sedikit curiga padanya."
"Sekarang istirahatlah!!aku akan pulang sebentar untuk mengambil baju ganti.Untuk sementara aku akan menemanimu.Dan pikirkan baik-baik ucapan ku tadi Cha."Maya meninggalkan Chaca yang terdiam.Maya berharap Chaca mau mengikuti saran dari nya.
Dan memang benar,saat ini hati Chaca kembali bimbang.
Setelah kejadian tadi malam,Chaca terus meyakinkan dirinya jika itu semua adalah mimpi.Raka sudah lama pergi dan pria di depannya itu bukanlah kekasihnya.Apalagi pria itu sudah mempunyai calon istri.
Semalam, setelah Maya tidur, Chaca terbangun dan pergi ke balkon.Dia menatap langit malam yang gelap.Sepertinya akan turun hujan.
Dan benar saja,tak berapa lama hujan turun.Chaca menengadahkan tangannya merasakan tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya.
"Bahkan langit pun tahu apa yang Chaca rasakan."gumam gadis itu.
Chaca merosotkan tubuh nya.Ucapan pria itu kembali terngiang di pikirannya.
"Sekali lagi maaf Nona.Saya tidak mengenal anda dan nama saya bukan Raka tapi Reynand Abrism Maheer."
"Maaf gadis kecil, Mungkin kau salah mengenali orang.Pria ini adalah Rey,dia pemilik perusahaan RM Company.Dan aku adalah Calista,calon istri Rey."
Chaca menggeleng-gelengkan kepalanya.Dia berusaha menerimanya.Dan benar kata Zion.Dia bukan Raka.
Chaca kembali ke dalam kamar dan mengganti bajunya.Dia merasa bersalah pada Maya karena mengkhawatirkannya.Untuk itu dia sudah memutuskan untuk melupakan semuanya.Dan jika nanti dia di pertemuankan lagi dengan Reynand,Dia akan meminta maaf.
Tapi sekarang,ucapan Maya membuatnya kembali bimbang.Haruskah dia melakukannya?tapi apa yang diucapkan Maya ada benarnya.Tidak ada salahnya dia mencari tahu.Semirip apapun Rey dengan Raka, pasti ada sesuatu yang membuat mereka berbeda.
"Aku harus memastikan sekali lagi jika dia bukan Kak Raka."
__ADS_1