Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Terluka


__ADS_3

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat,Raka mengajak Chaca untuk pulang.Tapi Chaca menolak karena takut Raka akan membawa nya ke kediaman keluarga kakeknya.


"Kita pulang ya!!"ajak Raka.Tapi Chaca menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak.


"Kenapa?"


"Chaca gak mau balik ke rumah kakek.Di sana gak ada Kak Raka."lirih Chaca


Raka tersenyum dan membawa chaca kepelukan nya."Siapa bilang kakak mau bawa Chaca kesana?"


Chaca mendongakkan kepalanya."Lalu?"


"Kakak mau ajak Chaca pulang ke apartemen Kakak.Kakak laper,pengen di masakin Chaca."ujarnya


Chaca tersenyum dan mengangguk setuju.Mereka bergandengan tangan pulang ke apartemen Raka yang tidak jauh dari taman tersebut.


Sesampainya di apartemen,Chaca langsung berperang dengan peralatan dapur.Dia begitu lihai meracik bumbu dan memotong bahan-bahan makanan.


Kali ini Chaca tidak memasak makanan yang mengandung Seafood.Dia tidak mau alergi Raka kambuh lagi.Biarlah dia mengalah dengan tidak memakan makanan kesukaannya saat bersama Raka.


Hug


Raka memeluk Chaca dari belakang.Membuat gadis itu terkejut."Kak..Chaca lagi masak.Jangan ganggu!!"


"Kakak gak ganggu.Kakak cuma pengen peluk Chaca aja."Raka menopang dagu nya di bahu Chaca.Aroma Vanilla dari tubuh Chaca membuat nya tenang dan nyaman.


"Iya..Tapi Chaca gak bisa gerak kak.Kakak tunggu di meja makan.Sebentar lagi masakannya matang.''


"Chaca masak apa?"


"Masakan sederhana,Ayam goreng,Sop buntut sama sambal."


Raka mengerutkan keningnya."Chaca gak bikin makanan kesukaan Chaca sendiri?"tanyanya.Karena setiap Chaca masak, Gadis itu pasti akan memasak masakan seafood.


"Chaca gak mau Kak Raka sakit lagi."jawab Chaca singkat.


Raka tersenyum dan mengecup pipi Chaca dari belakang."Kakak gak bakalan sakit lagi.Kalau Chaca pengen makan makanan seafood,Chaca buat aja."


Chaca menggelengkan kepalanya.Dia mematikan kompor dan membalikkan badannya."Chaca gak mau makan atau masak masakan seafood kalau lagi sama Kakak.Chaca takut Kakak kayak kemarin.Kesakitan.Jadi Chaca masak makanan yang gak ada seafood nya.Kakak paling suka sama Sop kan?Jadi Chaca buat sop buntut buat kakak."


"Tapi kakak lebih suka makan kamu sayang."Bisik Raka.


Blush


Mendengar ucapan Raka membuat wajah Chaca memerah.Apa katanya tadi? memakannya?Itu kata-kata ambigu tapi Chaca cukup paham dengan apa yang Raka katakan.


Chaca memeluk leher Raka dan mengecup singkat bibir pemuda itu."Kalau pengen makan Chaca,halalin dulu Chaca nya.Baru Gas keun."

__ADS_1


Raka tertawa lepas.Dia mengusap kepala Chaca dan kembali ke ruang makan.


Chaca memindahkan masakan nya ke piring dan menyajikan nya di meja makan.


"Hmm.. Kelihatan nya enak."puji Raka.


Chaca hanya tersenyum dan mengambilkan makanan untuk Raka.


"Setelah ini ada yang pengen Kakak omongin sama Chaca."


"Apa?"


"Nanti aja.Sekarang kita makan dulu."


Chaca hanya mengangguk dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Selesai makan,Chaca membereskan meja makan dan mencuci piring nya.Setelah itu dia menyusul Raka yang sudah lebih dulu ke kamar.


"Kak!!"Chaca masuk ke kamar Raka.Tapi pemuda itu tidak ada . Mungkin dia sedang mandi.Pikir Chaca.


Cklek


Chaca menoleh dan melihat Raka yang baru saja keluar dari kamar mandi lengkap dengan bajunya.Gadis itu nampak mengerutkan keningnya.Tidak biasanya Raka keluar dengan baju lengkap.Biasanya dia hanya keluar dengan celana pendeknya atau lebih parahnya hanya selembar handuk yang melilit di pinggang nya.


"Kenapa bengong?"tanya Raka membuyarkan lamunan Chaca.


"Jadi,apa yang pengen kakak bicarakan?"


Raka duduk di sofa dan menepuk tempat duduk di sampingnya.Chaca tersenyum dan duduk di samping pemuda itu dan memeluk nya.


"Kakak denger Chaca gagal melakukan terapi."


Deg


Chaca melonggarkan pelukannya dan menegakkan tubuhnya."Maaf.Chaca gak bermaksud kayak gitu.Waktu dokter tanya-tanya ke Chaca, entah kenapa tiba-tiba Chaca merasa berada di ruangan yang gelap.Chaca takut,Chaca udah teriak minta tolong tapi gak ada yang denger.Chaca......"


"Ssttt.. Sudah jangan diterusin.Itu bukan salah Chaca.Jadi Chaca gak perlu minta maaf.Harusnya kakak yang minta maaf karena gak ada di samping chaca waktu terapi."


Chaca menatap Raka intens."Sebenarnya selama beberapa hari ini,Kakak kemana? kenapa nomor kakak gak aktif?Kakak udah gak sayang ya sama chaca..."


"Hei...Chaca kok ngomongnya kek gitu?"


"Habisnya Kakak ninggalin Chaca.Gak kasih kabar.Gak bisa di hubungi.Jadi Chaca kira...."


Cup


Raka menarik tengkuk Chaca dan mencium bibir gadis itu.Tapi Chaca justru mendorong Raka hingga ciuman mereka terlepas.

__ADS_1


"Cha..."


"Jangan cium Chaca..Nanti Kakak masukin obat tidur lagi ke mulut Chaca."Sungut Chaca.


Raka tertawa lepas.Sepertinya kekasih nya takut ditinggal lagi.Tapi mau bagaimana lagi.Dia terpaksa melakukan nya


"Maaf..Kakak gak bermaksud kek gitu.Kakak ada urusan penting.Makanya..."


"Terus kalau ada urusan penting jadi Kakak seenaknya kek gitu sama Chaca?"potong Chaca dengan mata yang berembun.


"Kakak tahu?Yang kakak lakukan itu jahat."lanjut Chaca.


Bukannya merasa bersalah justru Raka tertawa terpingkal-pingkal.Dan tentu saja hal itu membuat Chaca marah dan memukul dada Raka.


Bugh


Bugh


"Kenapa tertawa?Kakak pikir itu lucu hah?"


Raka menahan kedua tangan Chaca agar berhenti memukul nya.Dia sedikit meringis saat Chaca melakukan itu.Padahal itu hanya pukulan biasa.Tapi ekspresi Raka berhasil membuat Chaca khawatir.


"Kakak gak papa?apa sakit?Maaf Chaca terlalu keras mukulny."


"Kakak Gak papa.Chaca belum mandi kan?Sana mandi dulu gih."Raka mengalihkan pembicaraan.Dan untungnya Chaca menurut dan langsung pergi ke kamar mandi.


Setelah Chaca tidak terlihat,Raka meringis memegang dadanya.Dia membuka bajunya dan terlihat luka nya yang kembali terbuka dan mengeluarkan darah.


Raka berdecak dan keluar dari kamar.Dia harus segera membersihkan nya agar Chaca tidak melihatnya.


"Sial..Kenapa luka nya terbuka lagi."Raka mengusap darah yang keluar dari luka di dadanya.Luka yang berbentuk horisontal sepanjang 10 cm . Seperti luka sayatan oleh senjata tajam.


"Gue harus tutupi ini.Jangan sampai Chaca tahu.Dan besok gue bakal ajak dia buat terapi lagi.Waktu gue gak banyak dan sebelum gue pergi Chaca harus sembuh.Agar gue bisa pergi dengan tenang."


Raka menghubungi Zion untuk datang dan meminta bantuan nya membalut luka nya agar tidak terlihat.


"Harusnya Bos masih di rawat."Seru Zion saat membalut luka Raka.


"Gue udah ingkari janji gue sama Chaca.Setidaknya Gue harus menebus nya."


"Jadi bos tetep akan...."


"Iya..Gue akan tetep menjalankan rencana kita.Dan gue harap loe jagain Chaca saat gue gak ada."


"Tapi Bos...."


"Kalau sudah selesai,loe boleh pergi."

__ADS_1


Zion terdiam sejenak dan langsung pergi setelah selesai mengobati Raka. Apapun yang ia katakan,Raka tidak akan mendengarkannya.Rencana itu cukup beresiko dan bisa membahayakan nyawanya.Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintah Raka.


__ADS_2