
Di ruang bawah tanah yang pengap dan penuh dengan bau anyir, seorang pria paruh baya sedang menyiksa anak buahnya yang berkhianat pada organisasi yang dia pimpin.
"Katakan!!! Untuk siapa kau menjual informasi tentang organisasi ku?" tanyanya pada anak buahnya yang sudah sekarat. Pria itu hanya diam. Dia tahu, walaupun dia memberitahu siapa orang yang membayarnya sekalipun, itu tidak akan menyelamatkan nyawanya. Apalagi keselamatan keluarganya juga terancam. Jadi lebih baik dia diam.
"Pilihan yang salah." Pria paruh baya itu menarik pelatuk dan menembak anak buahnya tepat di kepalanya hingga pria itu kehilangan nyawanya.
Prok Prok Prok
"Wah wah wah...kau sangat kejam Tuan Danu." seru seseorang yang baru saja datang.
Pria paruh baya yang bernama Danu hanya menatap malas orang itu. Dia memerintahkan anak buahnya yang lain untuk membereskan mayat itu.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Danu.
"Ck.. apa aku tidak boleh menemui ayahku sendiri."
"Cih... Sejak kapan kau merindukan Ayah, Roger? Selama ini di otakmu hanya ada wanita, wanita dan wanita." gerutu Danu
Roger tertawa keras. Dia memang pecinta wanita. Dia selalu menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bersama para wanita. Tapi itu dulu sebelum bertemu dengan Chaca.
Saat pesta pertunangan Andhika dan Sivanya, Roger datang sebagai rekan bisnis dari Yoga. Awalnya dia hanya ingin tahu bagaimana keluarga itu karena Danu menjadi kan Keluarga Joseph sebagai target selanjutnya. Tapi setelah bertemu dengan Chaca, hati Roger bergetar. Jantungnya berdetak kencang. Dan malam itu juga dia berambisi untuk mendapatkan Chaca.
Bukan tanpa alasan kenapa Keluarga Joseph menjadi target mereka. Itu karena saat melakukan perjalanan bisnis, Danu bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang yang sangat ingin dia habisi. Siapa lagi jika bukan Raka.
Ya, Danu Arsen Georgian adalah orang yang selama ini di cari Raka. Dia gila akan kekuasaan dan menghabisi semua keturunan Carlos. Bahkan dia memanfaatkan Arkan untuk mencapai tujuannya.
Dan target terakhir adalah Raka. Tapi sayangnya Raka menghilang entah kemana. Danu terus mencari keberadaan Raka dan organisasi milik Carlos.
Hingga beberapa tahun kemudian, Danu menemukan Raka. Dia tidak menyangka jika Raka begitu mirip dengan Carlos. Danu meminta Arkan untuk menghabisi Raka tapi justru peperangan di menangkan oleh Raka. Dan semenjak saat itu juga, Raka menjadi target terakhir Danu. Dia ingin anak buah nya menangkap Raka hidup-hidup karena dia ingin mengetahui keberadaan organisasi Carlos yang tiba-tiba menghilang setelah kematian Carlos. Tapi siapa sangka, Saat anak buah Danu menyerang Raka, mereka melihat dengan mata kepala sendiri jika Raka tewas dalam kecelakaan maut.
Danu merasa menang walaupun dia belum bisa menghancurkan organisasi milik Carlos karena organisasi itu sudah menghilang sejak lama dan tidak ada lagi keturunan Carlos yang akan memimpin organisasi itu lagi.
Tapi setahun setelah kematian Raka, Danu bertemu dengan pria yang mirip dengan Raka. Dia adalah Reynand.
Danu memerintahkan anak buahnya untuk mencari informasi tentang Reynand. Dan ternyata Reynand dan Raka adalah orang yang berbeda. Tapi Danu belum puas. Dia meminta putranya, Roger untuk mendekati Reynand. Dan selama berteman dengan Reynand, Roger tidak menemukan kejanggalan apapun. Apalagi setelah tahu jika Chaca bekerjasama dengan Reynand. Pria itu bersikap biasa saja. Di tambah Roger sengaja mempertemukan Reynand dengan Andhika. Tidak ada reaksi apapun. Dan hal itu membuatnya yakin jika Reynand bukanlah Raka.
"Katakan!!! Ada apa kau datang kemari?" tanya Danu
"Aku menginginkan cucu Wira, Yah. Aku harap kau tidak membunuhnya."
Danu menatap sinis putranya. Sejak kapan dia peduli dengan wanita? Pasti nanti setelah bosan dia akan membuangnya seperti sampah. pikir Danu
"Aku serius Yah. Jangan kau sakiti dia. Hanya aku yang boleh melakukannya. Dia bagian ku. Dan akau akan bersenang-senang dengan nya sebentar lagi."
__ADS_1
"Apa yang kau rencanakan, Roger?"
"Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya ingin hidup dengannya. Itu saja. Jadi aku harap, Ayah tidak membuat putra mu ini bersedih karena kehilangan wanitanya." Roger pergi setelah memberi peringatan pada Danu.
"Hidup dengannya? Cih... Aku tidak percaya. Tapi baiklah.. Aku akan melepaskan wanita itu demi kau, Roger. Tapi tidak untuk keluarga nya. Wira Ardian Joseph, Tunggu kehancuran mu!! Dan aku akan menjadi satu-satunya orang yang berkuasa di sini. Hahahaha "
*****
Roger mengendarai mobilnya ke perusahaan Chaca. Dia berencana mengajak Chaca untuk makan siang. Dan dia berharap Chaca tidak menolaknya. Karena dia sudah menyiapkan kejutan untuk gadis itu.
Sesampainya di perusahaan Chaca, Roger memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk. Cuaca sangat buruk akhir-akhir ini. Tapi cuaca seperti ini sangat mendukung untuk melakukan rencananya. Dan dia akan membuat Chaca menjadi miliknya. Dia sudah tidak sabar menantikan hal itu
Tok Tok Tok
''Masuk!!"
Roger membuka pintu perlahan. Bibirnya mengembang melihat pujaan hatinya tengah serius bekerja sehingga tidak menyadari kehadirannya.
"Cha.!!!"
Chaca mendongak melihat orang yang memanggilnya. "Kak Roger?"
Roger tersenyum dan duduk di depan Chaca. " Kau sedang sibuk ya?"
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Roger
"Belum."
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Anggap saja sebagai ganti makan malam kita yang berantakan."
Chaca terdiam memikirkan ajakan Roger. Mungkin tidak apa-apa menerimanya. Mungkin dengan begini dia bisa melupakan perlakuan Reynand. Dia juga bisa mencoba membuka hati untuk Roger
"Bagaimana?" tanya Roger
Chaca mengangguk setuju. Dia merapikan kembali berkas-berkas yang belum dia kerjakan dan pergi dengan Roger.
Roger membukakan pintu belakang untuk Chaca. Tapi chaca menolak. Dia ingin duduk di depan dan Roger tidak keberatan. Itu bagus karena dia tidak akan terlihat seperti sopir.
"Kita akan makan di mana?" tanya Chaca. Dia seolah melupakan trauma yang takut duduk di samping kemudi.
"Nanti kau juga akan tahu "
Mereka tidak tahu jika sedari tadi ada mobil yang mengikuti mereka. Dia adalah anak buah Reynand.
__ADS_1
Mobil Roger terparkir sempurna di depan bar. Dia turun terlebih dahulu dan membuka payung untuk berlindung dari hujan. Dia mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Chaca.
Chaca menatap sekilas tempat yang mereka datangi. Bar? kenapa Roger membawanya ke Bar siang-siang begini.
"Ayo masuk!!" ajak Roger
"Tapi kak, kenapa kita kemari?"
"Tenang aja. Kalau siang tidak seperti malam. Tapi jika kau merasa tidak nyaman, aku kan memesan ruang terpisah. Atau kau ingin makan di tempat lain?"
"Tidak usah. Disini saja."
Diam-diam Roger menyeringai. Dia berhasil membawa Chaca kemari dan sekarang tinggal menjalankan rencana kedua.
Dia mengajak Chaca untuk masuk. Memang Bar itu tidak seramai saat malam. Mereka mengganti tempat yang biasa digunakan untuk bersenang-senang itu menjadi sebuah restoran. Tapi tetap saja musik yang di putar membuat kepala Chaca pusing. Di tambah bau alkohol di mana-mana.
Roger membawa Chaca duduk di tempat yang berada di sudut. Dia memesan makanan untuk mereka berdua dan tidak lupa, Roger memesan wine.
Dari kejauhan, seseorang memerhatikan keduanya. Dia merasa jika Roger berniat tidak baik pada Chaca. Untuk itu dia menghubungi Reynand.
"Ada apa?" tanya Reynand di seberang sana
"Tuan, ada pria yang mengajak Nona ke Bar. Sekarang mereka memesan makanan. Tapi saya perhatikan seperti nya pria itu mempunyai niat buruk pada Nona." terang anak buah Reynand
Sambungan telepon di matikan sepihak oleh Reynand. Dan anak buah Reynand hanya bisa mengawasi Chaca dari jarak jauh.
"Kau juga harus minum Cha. Agar kau terbiasa. Apalagi cuaca sedang dingin. Ini akan menghangatkan mu" seru Roger menuangkan wine ke gelas Chaca.
"Benarkah?"
"Yeah.. Mari bersulang!!"
Ting
Suara dua gelas beradu. Mereka menenggak habis wine di gelas masing-masing.
Dan benar saja, tubuh Chaca mulai menghangat. Dia meminta Roger untuk menuangkan lagi wine untuk nya. Entah sudah berapa gelas Chaca meminumnya. Tapi kini kesadaran gadis itu mulai menghilang.
Roger menyeringai. Dia membantu Chaca berdiri dan membawanya ke kamar yang biasa dia pakai untuk bermain dengan wanita-wanita nya.
"Hari ini juga kau akan menjadi milik ku sayang. Hanya milikku." Roger mengusap pelan pipi Chaca dan beralih ke leher. Rasanya Roger sudah tidak sabar . Dia mengendus leher Chaca dan menciumi nya. Tapi tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dengan keras yang membuat Roger terkejut
BRAKH
__ADS_1