Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Menginap


__ADS_3

Kini mereka sampai di lokasi kedua. Letaknya sangat strategis dengan akses yang mudah di lewati. Bahkan tempatnya luas dan lingkungan nya sangat ramah. Tapi masih ada satu lagi lokasi yang harus mereka cek. Baru Chaca bisa menentukan lokasi mana yang akan dia pilih. Sedangkan hari sudah semakin sore. Memang untuk menempuh perjalanan dari lokasi pertama ke lokasi kedua hanya memakan waktu 15 menit. Tapi itu jika tidak ada kendala seperti sekarang ini. Hujan. Dan pastinya karena hujan jalanan menjadi macet.


"Kita ke lokasi terakhir." ajak Reynand.


Chaca hanya mengangguk setuju dan berharap semua cepat selesai. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam 3 lebih. Sudah dipastikan mereka akan pulang malam nanti.


Chaca sudah sangat lelah. Dia ingin berendam air hangat dan tidur memeluk guling nya. Tapi semua hanya angan-angan Chaca saja karena mereka masih harus mengecek lokasi terakhir.


"Jika kau lelah, tidurlah disini!!" ucap Rey menepuk bahunya.


"Ti_tidak.. Aku tidak lelah."


"Ck." Rey berdecak dan menarik Chaca agar bersandar di bahunya.


"Aku tahu kau lelah. Jadi tidurlah sebentar. Nanti Aku akan membangunkan mu jika kita sudah sampai." ucap Rey lembut.


Chaca ingin menolak tapi entah kenapa dia merasa nyaman seperti itu. Aroma tubuh Rey begitu sangat menenangkan. Hingga tidak butuh waktu lama, Chaca tertidur di bahu Rey.


Reynand melirik Chaca sekilas dan tersenyum. "Dasar!!" Rey mengangkat tangannya memeluk bahu gadis itu. "Aku merindukanmu sayang." batin Reynand.


Kini mereka sampai di lokasi terakhir. Tapi Reynand tidak tega membangunkan Chaca. Jadi dia membiarkan Chaca tidur lebih lama di bahunya apalagi cuaca semakin buruk dan tidak memungkinkan untuk mereka mengecek lokasi terakhir.


"Tuan, baru saja ada informasi jika terjadi longsor di jalan yang kita lewati. Itu satu-satunya jalan kita untuk pulang." seru sopir Reynand.


"Kapan kita bisa melewatinya?"


"Mungkin besok pagi."

__ADS_1


Rey diam sejenak. Dia menatap Chaca yang masih terlelap. Walaupun mereka selesai mengecek lokasi saat ini tapi mereka tidak bisa pulang karena akses jalan satu-satunya yang mereka lewati tertutup longsor.


"Kita ke Villa sekarang!! dan minta Tio untuk merekam lokasi ini dan kirim padaku."


"Baik Tuan."


******


Chaca mengeliat merasa nyaman diatas tempat tidur yang empuk. Dia mengeratkan selimutnya yang hangat karena cuaca yang buruk membuat hawa dingin menusuk sampai ke tulang rusuknya. Terlalu berlebihan memang, tapi dia ingin seperti ini sejenak karena dia malas untuk beranjak.


Tunggu dulu!!! tempat tidur yang empuk? selimut? bukankah dia sedang berada di dalam mobil bersama Rey? Mereka akan mengecek lokasi terakhir untuk cabang yang akan di bangun perusahaan Chaca. Tapi kenapa dia merasa berada di tempat tidur yang nyaman?


Perlahan Chaca membuka matanya. Dia menyipitkan matanya dan meneliti setiap sudut ruang tempat dia berada. Tunggu!! Ini dimana?


Chaca segera terbangun. Dia menyibak selimut dan melihat jika bajunya masih utuh. "Huft... syukurlah!! tapi ini di mana?"


Sejenak dia merasa de Javu. Dulu dia juga tertidur di taksi bersama Raka dan saat dia terbangun, dia sudah berada di atas tempat tidur yang empuk dengan selimut tebal yang hangat. Tapi sekarang, siapa yang membawanya kemari? Apa Reynand?


"Kau sudah bangun?"


Chaca menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang yang dia kenal. "Tuan Rey? kalau boleh tahu, ini di mana? dan kenapa aku bisa ada di sini?"


"Saat kita berdua, tidak usah memanggilku tuan, cukup panggil namaku saja. Atau kau bisa memanggilku kakak seperti kau memanggil Roger."


Chaca hanya tersenyum. Dia tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak. Entahlah, dia merasa aneh jika harus memanggilnya Kakak karena Rey sudah punya calon istri. Jadi itu akan membuat Chaca tidak enak dengan Calista.


"Jadi, ini di mana?" tanya Chaca mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ini di Villa ku. Tadi kau tidur sangat pulas dan aku tidak tega membangunkanmu. Jadi ya .....


"Lalu lokasinya?"


"Tenang saja!! aku sudah meminta Tio untuk merekam lokasi nya untuk mu. Jadi kau bisa memilihnya nanti."


Chaca menghela nafas lega. Setidaknya pekerjaan mereka selesai hari ini. Dia melihat jam tangannya yang sudah menunjuk di angka 6. Itu artinya belum terlalu malam jika mereka pulang sekarang.


"Kita akan menginap." seru Rey yang tahu apa yang di pikirkan Chaca.


"Jalan yang kita lewati tertutup longsor jadi kita tidak bisa pulang malam ini. Mungkin besok lagi kita bisa pulang."


"A_apa? longsor?"


"Iya, dan itu satu-satunya jalan untuk kita pulang."


Chaca merasa kedua kakinya lemas. Jika mereka tidak bisa pulang malam ini, itu artinya mereka akan menginap? berada di dalam mobil yang sama saja sudah membuat jantung nya mau meledak apalagi sekarang mereka berada dalam satu atap.


"Makan malam sudah siap. Apa kau mau makan malam sekarang? Aku membuat makanan kesukaan mu. Makanan seafood."


Deg


Chaca menatap Reynand. Darimana dia tahu makanan kesukaannya?


"Asisten Zi yang memberitahuku apa makanan kesukaan mu. Aku juga sudah memberitahunya keadaan kita disini." terang Reynand.


Chaca menghela nafas kasar. Dia mengira Rey tahu tentang dirinya. Seperti Raka yang tahu akan dirinya. Tapi tunggu dulu!!!

__ADS_1


"Begini Cha, seberapa mirip Tuan Rey dengan kekasihmu, pasti ada perbedaannya. Saat ini kau pasti ragu bukan? Tuan Rey adalah kekasih mu atau bukan. Untuk itu kau harus mencari tahu."


Chaca teringat ucapan Maya. Memang benar wajah mereka sangat mirip. Tapi ada satu yang bisa membuktikan pria yang berada di depannya ini Raka atau bukan. Dan Chaca rasa, Chaca harus membuktikannya.


__ADS_2