
Chaca berdiri di depan perusahaan Reynand. Dia menunggu jemputan datang. Tapi karena masih hujan, mungkin Parjo akan terlambat datang.
Rasanya Chaca ingin segera pergi dari sana. Dia takut Reynand akan mengejarnya. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Kenapa dia tiba-tiba menciumnya?
Chaca memegang bibirnya. Ciuman pria itu masih terasa di sana. "Astaga.. Apa yang kau pikirkan Cha? Lupakan!! Dia pasti sedang mencari pelampiasan saja." Chaca menggelengkan kepalanya. Dia harus melupakannya. Walau sebenarnya dia menikmati ciuman itu. Tapi....
DIN DIN
Chaca tersentak saat mendengar suara klakson mobil di depannya. Dia menyipitkan matanya mencoba melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
"Reynand." gumam Chaca
Ya, pria itu adalah Reynand. Reynand turun dari mobil dan menarik Chaca untuk masuk ke mobilnya.
"Masuk!!"
"Ma_maaf Tuan Rey, saya bisa pulang sendiri." tolak Chaca. Tapi Reynand tidak suka di bantah. Dia memaksa Chaca untuk masuk ke mobilnya.
Jantung Chaca berdebar kencang. Bukan karena Reynand yang duduk di sampingnya. Tapi saat ini dia duduk di sebelah kemudi. Sekilas bayangan saat mobil yang dia naiki bersama Raka muncul bagaikan rekaman film yang berputar. Chaca memegang kepalanya, dia merasa pusing dan terus berteriak.
Reynand tahu apa yang terjadi, tapi dia tidak menghentikan mobilnya. Dia justru menambah kecepatan dan menghentikan mobilnya di tempat peristiwa naas itu terjadi.
__ADS_1
Reynand melepas seatbelt dan merengkuh Chaca dalam pelukannya. "Maaf!!! Maafin Kakak, Cha."
Chaca sudah tidak bisa mendengar ucapan Reynand lagi. Dia seolah kembali dalam peristiwa itu. Hatinya sakit. Dia terus menangis. Tempat ini adalah tempat di mana dia kehilangan kebahagiaannya. Chaca mendorong Reynand dan menamparnya.
Plak
"Kenapa kau membawaku kemari? Apa kau mencari informasi tentang diri ku selama ini? Apa sebenarnya mau mu?" Chaca keluar dari mobil. Dia berjalan ketempat dimana mobil Raka meledak. Di bawah rintikan hujan, Chaca merosotkan tubuhnya ke tanah dan kembali menangis.
"Kak Raka..!!" isakan Chaca memanggil Raka terdengar memilukan. Reynand tidak tahan lagi. Dia turun dari mobil dan mendekati Chaca. Dia membantu Chaca berdiri dan memeluknya.
"Sampai kapan kau akan menangisi ku, Hah? Apa aku begitu berharga untukmu? Kau bodoh Chaca. Kau bodoh!! Harusnya kau jalani hidup mu dengan baik seperti janjimu padaku. Bukan seperti ini. Kau terlihat kuat di depan semua orang. Tapi kau rapuh saat di depanku."
Chaca mengurai pelukan Reynand. "Apa maksudmu berkata seperti itu?"
Deg
"Ja_janji?"
"Kau lupa? Apa aku perlu mengingatkannya?" Reynand diam sejenak menatap Chaca yang terlihat bingung. Tapi ekspresi Chaca terlihat menggemaskan untuk nya. Reynand kembali memeluk Chaca dan berkata, "Apapun yang terjadi, Chaca harus menghadapinya dengan lapang dada. Jangan sekali-kali terpuruk dalam kesedihan."
Deg
__ADS_1
"Kakak seneng Chaca menjadi lebih baik. Teruslah seperti ini. Seperti Chaca yang kakak kenal. Apapun yang terjadi, Chaca harus menghadapinya dengan lapang dada. Jangan sekali-kali terpuruk dalam kesedihan. "
"Chaca.. Dengerin Kakak!! Chaca udah janji sama Kakak. Dan sekarang Kakak pengen Chaca nepatin janji Chaca. Ikut Zion."
Sekilas, ucapan Raka terngiang di kepala Chaca. Janji itu, Janji yang pernah dia ucapkan. Tapi....
Chaca mendorong Reynand hingga pelukan mereka terlepas. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa tahu tentang janji itu?" teriak Chaca. Dia sangat marah karena merasa di permainkan. Kemarin Reynand menunjukkan jika dia bukan Raka dengan memperkenalkan Clarissa dan membuktikan padanya jika dia berbeda dengan Raka. Tapi sekarang? Dia berbicara seolah dia adalah Raka.
"KENAPA KAU DIAM SAJA, SIALAN? JAWAB AKU!!" untuk pertama kalinya Chaca berteriak karena marah. Bahkan dia berani mengumpat secara terang-terangan. Dan hal itu membuat Reynand kurang senang.
"Jangan mengumpat Cha!! Kakak gak suka."
Chaca tertawa. Air matanya yang mengalirpun tak terlihat karena hujan yang membasahi tubuh mereka. Dia terlihat seperti orang bodoh. Sangat sangat bodoh.
"Dengar Tuan Reynand yang terhormat!! Aku tidak akan percaya dengan semua ucapan mu. Yang kau tunjukkan padaku adalah nyata dan yang kau katakan adalah dusta. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menjadi Raka." Chaca meninggalkan Reynand yang masih mematung mencerna ucapan Chaca. Ini memang salahnya karena tidak jujur. Dia selalu menunjukkan pada Chaca jika dia dan Raka adalah orang yang berbeda. Tapi semakin berada di dekat Chaca, Reynand semakin tidak bisa menahan diri.
Reynand mengusap wajahnya kasar. Dia menatap Chaca yang sudah berada di dalam taksi yang perlahan semakin menjauh. Kini dia merasa dilema. Dia mengatakan yang sebenarnya tapi Chaca tidak percaya. Dia harus meyakinkan Chaca agar bisa melindunginya karena musuh sudah mulai bergerak. Dia tidak mungkin diam-diam melindungi Chaca seperti dulu. Karena saat ini Chaca adalah target mereka.
Semua di luar dugaannya. Reynand pikir, mereka hanya ingin memancingnya untuk mengetahui identitas aslinya dengan mendekati Chaca. Tapi ternyata, mereka justru ingin menghancurkan keluarga Joseph. Ini tidak bisa di biarkan.
Sepertinya dia harus meminta bantuan Andhika. Apalagi sekarang Andhika sedang mencari tahu tentang dirinya. Mungkin dengan mengatakan semuanya pada Andhika, dia tidak akan khawatir dengan Chaca. Andhika bisa waspada pada musuh dan melindungi Chaca selama dia berkonsentrasi melawan musuh.
__ADS_1
Reynand kembali ke mobilnya. Dia menghubungi Anak buanya untuk mengikuti Chaca kemanapun gadis itu pergi dan melaporkan nya padanya. Saat ini Zion tidak bersama Chaca. Dan hal itu membuatnya khawatir. Musuh bisa kapan saja mengincar Chaca. Untuk itu dia harus bergerak cepat dan mencari di mana keberadaan musuhnya agar bisa menghancurkan mereka semua.