
Seusai menunaikan Salat Isya, Arman kembali ke rumahnnya, begitupun dengan anak-anak didiknya. Sengaja ia beranjak lebih akhir dari mereka, agar mereka tak perlu merasa segan lantaran ada ustaz di depannya. Sebab hampir setiap malam, setiap selesai mengaji dan menunggu Azan Isya, Arman selalu mengingatkan bahwa; akhlak itu lebih penting dari pada ilmu. Ibarat makanan, akhlak adalah tepung dan ilmu adalah garamnya. Tepung jika diolah, meskipun tanpa garam masih bisa dimakan walau terasa hambar. Beda dengan garam, siapa yang mau memakannya banyak-banyak?
Seraya dengan itu, gemintang mulai meninggi dan memancarkan sinarnya. Sangat kecil di mata, bahkan nyaris tenggelam ditelan gelapnya malam. Langit tampak cerah, tak ada kabut yang menyelimuti gemintang itu. Biru kehitamannya menyejukkan bagi siapapun yang ingin melihatnya, membuat bersyukur setiap insan yang mau bertafakur. Suasana pedesaan yang sangat sunyi, turut menenangkan setiap hati penduduknya.
Deru angin terdengar sangat merdu di telinga. Ia menyapa siapapun yang dilaluinya, menyampaikan pesan-pesan dari jagat raya; agar tak lupa bersyukur atas bulir-bulir nikmat Tuhan. Bukan hanya manusia, hewan-hewan bahkan juga tumbuh-tumbuhan juga disapanya, diusik sedikit ketenangannya; agar tidak terlalu terbuai dengan kenyamanan.
Jauh di bawah langit yang menjadi pusat bergantungnya gemintang itu, ada Andi yang memilih untuk berjalan bersama Arman yang tak lain adalah ustaznya sendiri. Di atas bumi, mereka berdua berjalan saling bertukar ucapan. Yang satu menyalurkan ilmu, yang satunya lagi menyerapnya dengan lahap dan serakah. Sebab tadi ia tidak mendapatkan giliran untuk belajar mengaji, kini ia harus mendapatkan ilmu lain sebagai penggantinya.
“Kenapa kamu gak pulang bersama teman-temanmu saja?” Tanya Arman sambil melangkahkan kakinya sangat pelan. Ia tahu, bahwa bocah yang baru berusia delapan tahunan yang kini berada di sampingnya itu tidak ingin segera berpisah.
Sebenarnya ini bukan kali pertama Andi megakhirkan kepulangannya agar bisa jalan berdua dengan ustaznya itu. Dan tentunya, Arman pasti tahu; jawaban apa yang akan disampaikan oleh Andi untuk menimpali pertanyaannya yang sengaja ia tanyakan setiap pulang bersama Andi. Ya, setelah ini Andi akan memunculkan pertanyaan yang mulai berkelebat di otaknya.
“Kalau pulang bersama mereka, Andi tidak akan mendapatkan apa-apa, ustaz.” Jawab Andi dengan tenang sambil menatap ustaznya. Ia melontarkan sesungging senyuman manis ala anak kecil seumurannya dan spontan dibalas dengan senyuman yang tak kalah manis oleh Arman.
“Selalu begitu jawabannya.” Kata Arman. Tangannya bertengger di atas pundak Andi.
“Ustaz juga selalu menanyakan hal itu. Padahal ustaz tahu jawaban yang akan Andi lontarkan nantinya." Andi mencebik.
“Ya sudah, kamu mau bertanya apa lagi, Di?” Tanya Arman setelah sebelumnya terkekeh mendengar ucapan anak kecil yang berdiri di sampingnya itu.
“Begini, ustaz. Apakah kita salah, jika kita meminta imbalan atas perintah orang tua?” Tanyanya begitu lugu. Mungkin akhir-akhir ini ia sering disuruh-suruh oleh orang tuanya tapi tidak pernah mendapat balasan.
“Itu tandanya, kamu belum ikhlas berbakti kepada kedua orang tuamu.” Arman hanya menjawab singkat. Dengan itu ia berharap ada pertanyaan lanjutan dari Andi.
“Bukannya, ustaz pernah bilang; orang tua itu wajib menafkahi anak-anaknya, sebab anak adalah amanah dari Tuhan?” Di bawah sinar lampu pinggir jalan, Andi tampak mengernyitkan dahinya. Dari rautnya, ia seakan tidak terima dengan jawaban yang disampaikan ustaznya itu.
“Jangan hanya itu yang diingat. Kamu juga harus tahu dan harus ingat, bahwa kamu juga memiliki kewajiban yang harus kamu lakukan. Apa? Berbakti kepada orang tua. Paham?” Arman memberikan pemahaman yang dirasa timpang olehnya. Ia ingin membuka hati Andi agar tidak melihat dari satu sisi saja.
“Terus, kalau kita ingin sesuatu, apakah kita boleh memintanya kepada orang tua?” Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Andi itu?
“Itu hak kamu. Dengan syarat tidak boleh memaksakan kehendak; jika orang tuamu melarang, berarti beliau memandang bahwa hal itu tidak berfaedah untukmu.” Kali ini Arman sengaja memperirit omongannya. Ia memberi celah kepada Andi agar bisa mencerna jawabannya.
“Misalkan jika Andi benar-benar butuh, ustaz?”
“Kamu tinggal bilang kepada mereka bahwa kamu benar-benar butuh. Lagian, Di, orang tua itu tidak akan memberikan bara api kepada anaknya. Sebaliknya, mereka akan memberikan manisan dan semua hal yang baik-baik. Seandainya mereka punya uang, pasti akan dibelikan. Kalau tidak ada, apa kamu tega membiarkan mereka terlilit banyak hutang?”
Arman seperti sedang melemparkan bom atom kepada Andi yang berhasil membuatnya terdiam seketika, lalu berpikir panjang, lalu menyusun jawabannya, lalu menyampaikannya dengan nada menyerah, “Iya, sih.” Jawaban Andi sangat lirih. Telinga Arman nyaris tidak bisa menangkap suaranya lantaran angin berembus begitu cepat.
“Sudah dulu ya, Di. Intinya kamu harus memaksakan dirimu agar ikhlas melakukan kewajibanmu sebagai anak.” Arman menyudahi percakapannya dengan Andi malam ini, hal itu ia lakukan karena rumahnya telah berada di ambang mata.
“Insyaallah, ustaz. Mohon berkah doanya.” Kata Andi dengan nada menyerah, sebab ustaznya tidak searah dengan kemauannya. Setelah itu ia menyalami ustaznya, dan keduanya berpisah setelah sebelumnya saling mengucapkan salam.
__ADS_1
Saat membuka pintu rumah, Arman mendesah panjang lantaran merasa heran dengan pertanyaan Andi barusan. Anak zaman sekarang memang berbeda dengan anak-anak semasa kecilnya. Jika dulu sering kena marah karena terlalu lama bermain, sekarang lebih sering kena marah karena selalu mendekam di kamar dengan game gadget yang sudah canggih.
Anak zaman dulu cenderung lebih ikhlas menuruti perintah orang tuanya. Ia tidak perlu meminta banyak uang kalau sekadar untuk uang saku sekolah. Beda dengan anak sekarang yang meminta uang saku lebih, agar bisa membeli kuota internet. Permainannya juga, anak zaman dulu tidak perlu khawatir menjedanya saat tiba-tiba disuruh beli gula oleh ibunya. Sedangkan anak sekarang, notabenenya akan merasa keberatan saat harus menjeda game online-nya.
“Anak zaman sekarang memang suka aneh-aneh.” Hati Arman bergumam.
Arman masuk ke rumahnya setelah sebelumnya mengucapkan salam. Ia tak mendengar jawaban salam dari istrinya. Pikirnya dalam hati, mungkin istrinya sedang tidak mendengar lantaran sibuk menyiapkan makan malam seperti biasanya. Tapi apa salahnya mengucapkan salam, toh seandainya tidak dijawab oleh manusia, ia akan mendapat jawaban dari malaikat-malaikat yang mendengarnya?
Dengan langkah yang tetap tenang, Arman berjalan menuju kamarnya. Ia ingin menanggalkan baju kokonya dan menggantinya dengan kaus biasa. Malam adalah waktu yang tepat baginya untuk bersantai, setelah seharian mengajar dan mengajar. Pagi sampai siang ia mengajar di salah satu SMA negeri, sorenya mengajar di madrasah tempat Arman kecil dulu belajar agama, dan awal malamnya ia alokasikan untuk mengabdi kepada masyarakat dengan cara mengajar membaca Alquran.
Ia keluar dari kamarnya dengan tetap bersarung dan mengenakan kaus oblong. Ia berjalan menuju sudut-sudut rumahnya, mencari istrinya. Hingga benar saja, akhirnya ia menemukan istrinya sedang di dapur, menghadap kompor gas yang diatasnya sedang bertengger sebuah wajan berisikan ikan, yang sengaja baru digoreng agar terasa hangat saat dihidangkan.
Tidak mau berpikir lama, Arman pun mendekati istrinya dan memberinya kejutan dengan cara dipeluk dari belakang lalu meletakkan dagunya di bahu istri tercintanya itu. Arman paham betul kesukaan istrinya itu; diberi kejutan dengan cara dipeluk dari belakang. Jika ditanya kenapa suka diperlakukan seperti itu, maka jawaban satu-satunya adalah, “Karena aku sangat suka dengan kehangatan yang kamu beri.”
Benar saja, istrinya tidak menolak –dan tidak pernah merasa bosan- meski telah diperlakukan begitu nyaris setiap pulang ke rumah. Bagi Arman, hal itu tentu tidak menjadi beban lantaran ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk melakukannya, toh dia juga senang melakukannya. Terpenting baginya, bagaimana istrinya merasa nyaman dengannya. Terlebih saat ini, saat istrinya sedang mengandung anak pertamanya.
“Sudah datang?” Tanya istri Arman sambil tetap menatap ke arah penggorengan yang ada di depannya, mengaduk-aduknya berkali, membolak-balik ikan yang sedang berendam di minyak goreng panas itu.
“Heem..” Jawab Arman sambil tetap membenamkan dagunya di bahu sang istri. Tangannya masih tetap melingkar di perut buncit istrinya. Sejenak setelah itu, ia mengelus lembut perut istrinya itu, khawatir membuat anak yang berada di dalamnya gelisah.
“Kok gak ngucapin salam?” Suara lembut istrinya kembali muncul.
“Kamunya saja yang terlalu sibuk masak, sampai tak peduli dengan kedatanganku.” Alih-alih menjawab pertanyaan istrinya, Arman malah berpura-pura cemburu.
Arman tak menimpali perkataan istrinya itu, ia justru mengalihkan pandangannya dari mata sang istri. Ia juga tidak membalas pelukan istrinya. Kali ini misinya harus berhasil; pura-pura cemburu. Sebisa mungkin, ia menahan senyumannya. Padahal jika kalian tahu, hati Arman berdegup sangat cepat. Ia tidak bisa bertahan dengan keadaan ini, terlebih saat mendapati istrinya malah memperlakukannya seperti itu.
“Kalau masih cemburu, aku cium loh.” Tanya istri Arman yang sedikit membuat hatinya seakan ingin melompat keluar sebab terkejut. Ia tidak pernah berpikir bahwa istrinya bisa melontarkan rayuan mematikan seperti itu. Selama ini, biasanya hanya Arman yang aktif merayu. Istrinya terkesan pasif dan menerima semua perlakuan Arman dengan senang hati, selagi tidak merugikannya.
“Cium saja kalau bisa.” Dasar! Hati Arman mengutuk mulut Arman yang telah mengeluarkan ucapan itu. Apa gunanya pura-pura cemburu, jika akhirnya menerima saat dirinya akan dicium oleh sosok perempuan yang sedang memeluknya itu?
“Kan biasanya kamu yang memulai.” Istrinya justru menantangnya agar bisa berkuasa dalam permainan kali ini.
“Mau?” Kali ini bukan cuma mulut yang dikutuk hatinya, matanya juga turut dikutuk lantaran berbinar bak kucing yang sedang menemukan ikan.
Alih-alih menjawab pertenyaan suaminya itu, sang istri malah memejamkan matanya dan mengalihkan pelukannya ke punggung suaminya agar bisa lebih erat. Ia tidak mengucapkan apa-apa, seakan sedang pasrah terhadap apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Samar-samar matanya sedikit terbuka, mungkin juga ia tidak mau melewatkan kesempatan melihat bibir suaminya menyentuh bibirnya di bawah sinar lampu dapur malam ini.
Bak sedang dihipnotis, napas Arman berderu begitu kencang, keluar-masuk melalui rongga hidungnya, menerpa wajah istrinya yang kini berjarak kurang lebih sepuluh centimeter di depan wajahnya. Begitu kencang sebab nafsunya kini sedang memuncak. Wajah pasrah istrinya yang sedang menampilkan senyum tipisnya, membuat hatinya seakan diterpa badai petir.
Wajah Arman semakin mendekat dan semakin dekat lagi. Kumis tipis yang bertengger di atas bibirnya berlambai sebab dilalui deru napas yang semakin kencang menjadi-jadi. Istrinya masih tetap seperti sedia kala; memejamkan mata sambil sesekali tampak mengintip dari sela-sela bulu mata lentiknya. Hingga tersisa jarak dua centimeter bibir mereka berdua akan bertemu, tiba-tiba..
“Ah, kelamaan!” Istrinya membalikkan badan dan menghadap ke ikan-ikan yang tengah berenang di wajan berisi minyak goreng panas itu.
__ADS_1
“Aaah, sayang!” Arman memeluk istrinya dari belakang erat-erat, merasa kecewa sebab gagal menikmati bibir mungil istrinya itu. Ia membenamkan wajahnya di punggung sang istri lantaran merasa malu mendapati dirinya yang begitu nafsu.
“Apaan, sih. Sudah mau jadi ayah kok kelakuannya masih kayak bocah.” Istrinya menyeringai. Ia merasa sangat senang karena bisa menipu suaminya. Ia berhasil membubarkan cemberut suaminya yang muncul karena cemburu saat ia lebih fokus memasak. Meski ia tidak tahu, bahwa tadi suaminya hanya sedang bersandiwara.
“Awas nanti malam kamu minta, ya!” Kata Arman dengan nada seolah mengancam. Ia melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkar di tubuh istrinya itu. Ia membiarkan istrinya agar leluasa menyelesaikan masak dan mereka akan makan malam berdua.
Arman beranjak, meninggalkan istrinya dan menuju ke meja makan setelah sebelumnya mengambil laptopnya di kamarnya. Sambil menunggu istrinya, ia mencari hiburan melalui alat berbentuk persegi panjang tersebut. Ia membuka apapun yang bisa dibuka, folder demi folder hingga akhirnya terfokus saat melihat folder berisi foto-foto semasa kuliah S1-nya enam tahun yang lalu.
Satu per satu foto ia lihat dengan seksama, berusaha mengingat kembali nama-nama orang yang berada di dalamnya. Fawaz, Zaki, Robi, dan masih banyak lagi. Teman seasrama, teman kelas, teman organisasi, dan foto-fotonya saat mengikuti berbagai acara. Sangat banyak, kurang lebih ada lima ribu tujuh ratusan foto di folder itu.
Hingga akhirnya Arman terperanjat saat melihat foto berisi enam wajah; dirinya sendiri, Alfian, Zami, Nisa, Nunung, dan Naila. Enam serangkai yang dulu pernah berkeluh-kesah bersama, bermain bersama, belajar bersama, dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan bersama. Tapi kini, semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sangat sulit untuk menghubungi atau dihubungi, mungkin hanya satu minggu sekali. Itu pun hanya melalui grup obrolan.
Jika mengingat masa itu, yang ada hanyalah rasa ingin selalu bersama. Terlebih Naila, yang telah merubah hidup Arman menjadi lebih berwarna. Naila lah yang menjadi alasannya bangun pagi-pagi dan semangat berangkat ke kampus. Jarak kampus dan pesantren tempat ia tinggal yang dibilang cukup jauh, tidak pernah menjadi kendala meski harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Gara-gara Naila pula, Arman di-bully teman-temannya lantaran mau melakukan apapun yang Naila mau. Di mata teman-temannya, Arman tak lebih dari seonggok manusia yang lebih pasnya disebut dengan ‘budak cinta’. Tapi berbeda dengan keempat temannya itu, menurut mereka; Arman dan Naila adalah pasangan yang sangat serasi dan diharapkan bisa terus berlanjut ke jenjang pelaminan.
Tapi siapa sangka, orang tua Naila lebih memilih untuk menjodohkannya dengan pria lain pilihannya. Padahal mereka tahu, ada lima orang sahabat yang sering datang ke rumahnya saat liburan semester. Bahkan mereka juga tahu, bahwa salah satunya telah memiliki hubungan khusus dengan anak semata wayangnya itu. Siapa lagi kalau bukan Arman?
Dan inilah yang telah membuat Arman nyaris putus asa dan lebih memilih untuk berhenti kuliah. Pak Umar, ayah Arman, dibuat bingung lantaran anaknya tiba-tiba kehilangan semangat dan tidak mau menyampaikan alasannya. Sangat miris, jika kalian tahu Arman waktu itu. Bagaimana tidak? Dibilang Arman tergila-gila, tentu bukan hal yang berlebihan.
“Makan malam sudah siap!” Tiba-tiba istri Arman datang dan membubarkan lamunannya. Ia membawa dua piring menggunakan kedua tangannya. Yang satu berisi ikan, satunya lagi berisi kangkung tumis kesukaan Arman.
Melihat itu, Arman gelagapan dan sigap mematikan laptopnya. Ia tidak ingin istrinya tahu tentang apa yang telah ia lakukan barusan; meratapi takdir dengan sebuah foto perempuan yang terpampang di layar laptop. Meski, usahanya tampak gagal lantaran istrinya sampai ke hadapannya saat laptop belum benar-benar mati.
“Habis ngapain?” Tanya istri Arman yang mendapati suaminya sedang gelagapan.
“E.. Enggak, kok. Cuma lihat-lihat foto barusan.” Jawab Arman. Wajahnya tidak bisa dikondisikan, benar-benar terlihat gugup.
“Kenapa laptopnya dimatikan?” Mata istri Arman menatapnya dengan pandangan intimidasi setelah sebelumnya melipat kedua tangannya di atas meja makan.
“Ya.. Ya, karena kita mau makan.” Alih-alih membalas tatapan istrinya, Arman lebih memilih mengambil piring lalu mencentong nasi sambil sesekali melirik ke arah istrinya yang tak henti-henti menatapnya penuh curiga.
Mereka berdua pun melangsungkan makan malam, nyaris tanpa saling bertukar pandang. Hal itu tak lain sebab Arman yang tidak berani menatap istrinya. Beda dengan istrinya yang sejak duduk barusan selalu menatapnya bak tatapan polisi terhadap pelaku kriminal yang sedang diinterogasinya.
Seusai mereka berdua makan, istrinya langsung mengambilkan minum untuk Arman lalu membersihkan meja makan dari piring-piring kotor. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, begitu pula dari mulut Arman. Hingga akhirnya ia selesai mencuci piring kotor, Arman pun berdiri sambil membawa laptopnya.
“Kalau mau tidur, tidur duluan saja. Aku masih mau menulis novel.” Kata Arman sambil membelai kepala istrinya yang tertutup kerudung.
“Ya sudah. Aku ke kamar dulu. Semoga novelnya kembali best seller dan anakmu bangga memiliki ayah seorang novelis sepertimu.” Istrinya menampakkan senyum lebar-lebar sambil mengelus perutnya sendiri.
Arman mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang, dan istrinya hanya memejamkan mata menerima itu. Istrinya pun masuk ke kamar dan membiarkan pintu tetap terbuka, khawatir suaminya tiba-tiba mengantuk dan ingin tidur bersamanya. Bersamaan dengan itu pula, hati Arman berkata, “Maafkan aku, sayang!”
__ADS_1
Bersambung...
Follow @muhammadnailur on Instagram!