
"Maafin kakak, Cha. Maaf." Rey melihat kedua tangannya yang bergetar. Tangan ini, tangan yang sudah menghilangkan banyak nyawa. Dia tidak tahu jika akhirnya akan terjebak di dunia hitam.
Awalnya dia ingin mengubah sistem keamanan dan cara kerja organisasi kakeknya. Tapi kenyataan yang Rey dapatkan membuatnya melenceng dari tujuan awal. Dia sangat murka, dia berambisi untuk membalaskan dendam atas kematian kedua orangtuanya. Untuk itu, Rey mengasah kemampuan nya dan menjadi yang terkuat di dunia hitam untuk memancing 'Dia' keluar dari tempat persembunyiannya.
Rey sudah Mengantongi satu nama yang diyakininya adalah 'Dia'. Saat pertama kali Rey menjalin kerjasama dengan perusahaan besar di negara lain, Rey bertemu dengan orang yang menunjukkan ekspresi terkejut saat melihat wajahnya. Dia juga mendapatkan informasi dari anggota nya jika ada seseorang yang berusaha mencari tahu tentang dirinya. Jadi sudah di pastikan orang itu adalah 'Dia'.
Dan saat ini 'Dia' sedang berada di tanah air untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Wira. Entah apa tujuannya. Yang jelas, dia tidak akan membiarkan 'Dia' menyakiti Chaca.
Tapi walaupun begitu, Rey sangat waspada. Rey takut, 'Dia' mendekati keluarga Chaca hanya untuk memancing reaksi Rey dan Rey berharap 'Dia' tidak menyakiti Chaca dan yang lain. Untuk itu, dia tidak bisa terus berada di dekat Chaca kecuali saat menjalin kerjasama dengan perusahaan Chaca. Biarlah untuk saat ini Chaca membenci dirinya dan menganggap dirinya bukan Raka. Karena memang dia bukan Raka lagi tapi Reynand Abrism Maheer.
Setelah keadaan nya membaik, Rey berdiri dan memutuskan melihat keadaan Chaca. Dia menyusul Chaca di kamar nya. Tapi sayang, pintunya terkunci dari dalam. Tapi Rey tidak kehilangan akal. Dia menggunakan kunci duplikat untuk membuka pintu kamar Chaca.
Cklek
Yang pertama kali Rey lihat adalah tubuh mungil gadis yang meringkuk di atas tempat tidur. Rey mendekat dan ikut berbaring di samping Chaca.
__ADS_1
Rey menatap mata Chaca yang bengkak. Ada butiran air mata di sudut mata Chaca. Rey yakin Chaca menangis karena dirinya.
"Maaf sayang. Kakak belum bisa berada di samping mu. Beri kakak waktu dan biarkan kita seperti ini dulu. Tunggu Kakak. Kakak akan datang dan memeluk Chaca. Dan kakak berjanji, jika semua sudah selesai, kakak tidak akan melepas Chaca lagi. I Love You, my girl." Rey mencium bibir Chaca dan ikut tidur disampingnya.
*****
Keesokan harinya, Chaca terbangun dengan keadaan yang mengenaskan. Matanya bengkak karena menangis semalaman dan ada lingkaran hitam di sana. Dia bangun dan menatap dirinya di cermin wastafel.
"Kau sungguh terlihat menyedihkan, Chaca. Harusnya kau tahu, dari awal itu tidak mungkin. Kak Raka sudah lama pergi. Reynand jelas bukan Kak Raka. Mereka berbeda. Sekarang kau percaya bukan?" Chaca berbicara dengan dirinya di cermin. Dia menghela nafas panjang dan mencuci wajahnya. Setelah ini lebih baik dia pulang sendiri. Dia tidak mau duduk satu mobil dengan Reynand. Setidaknya biarkan hatinya tenang dulu.
Ya, seperti nya itu bukan ide yang buruk. Dia akan mengajak Zion nanti.
Chaca hanya mencuci muka dan gosok Gigi. Dia tidak mempunyai baju ganti jika ingin mandi. Biarlah sementara dia bersikap masa bodoh pada tubuhnya. Toh dia sudah ingin pulang.
Chaca melihat wajahnya di cermin Dia mengoleskan makeup untuk menyamarkan lingkaran hitam di matanya. Dia juga memakai kacamata hitamnya untuk menutupi matanya yang bengkak. Dan jangan lupa, parfum untuk menyamarkan bau badannya yang belum mandi.
__ADS_1
"Perfect. Walaupun Chaca belum mandi, tapi itu tidak mengurangi kecantikan Chaca." gumamnya. Dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Ini masih terlalu pagi. Jadi lebih baik dia bergegas sebelum Rey bangun.
Chaca keluar dari kamar nya. Langkah nya terhenti saat melihat sopir Rey berdiri di dekat anak tangga.
"Ada apa pak? kenapa berdiri di situ?" tanya Chaca.
"Saya di tugaskan Tuan Rey untuk mengantar Nona pulang."
Chaca mengerutkan keningnya. Mengantar nya pulang? lalu dia....
"Tuan Rey sudah pulang semalam karena ada urusan yang harus dia kerjakan. Beliau ingin berpamitan dengan anda, tapi beliau tidak mau mengganggu istirahat anda." seru pak sopir.
Chaca mendengus kesal. Niatnya ingin pergi lebih dulu tapi justru dia yang di tinggal.
Sebenarnya ada urusan apa, sampai-sampai pria itu harus pergi tadi malam. Tapi bukannya jalur lintas yang mereka lalui ditutup karena longsor? Ah sudahlah. Yang terpenting Chaca tidak bertemu dengan Rey pagi ini. Dia masih harus menenangkan hatinya dan menerima kenyataan jika Rey bukanlah Raka. Mungkin setelah ini juga, dia harus mulai membuka hatinya untuk orang lain masuk mengisi hatinya yang kosong. Ya, dia akan mencobanya nanti.
__ADS_1