
Hari ini adalah hari penentuan! Arman akan mengikuti tes penentuan
kelas, dan perkuliahan akan dimulai sejak besok. Nilai tesnya hari ini akan
menentukan abjad kelasnya. Tapi Arman, dan teman-temannya juga, tak perlu
merasa risau lantaran nilainya tidak turut menentukan indeks prestasi
kumulatifnya. Yang perlu ia lakukan saat mengerjakan tes hanyalah; mengerjakan
sebisanya dan meninggalkan soal-soal yang sulit untuk dijawab. Hal itu harus
benar-benar dilakukan, sebab jika sampai salah kelas, akan berakibat fatal.
Arman menyiapkan apa yang harus ia siapkan. Bolpoin, pensil,
penghapus, semuanya ia masukkan ke dalam tasnya. Ia juga menyiapkan dirinya
sendiri, mencoba mengingat-ingat kembali semua yang telah ia pelajari di
pesantrennya dulu. Kosakata Bahasa Arab beserta kaidahnya, ia ulang-ulang
kembali hingga paham dan nyaris hafal.
Baginya saat ini, jika ia dirasa mampu dan layak untuk masuk ke
kelas tertinggi, kenapa harus berpura-pura tidak tahu agar masuk ke kelas yang
rendah? Toh seandainya nanti kelasnya terlalu tinggi baginya, ia akan berusaha
semaksimal mungkin agar bisa dikatakan ‘layak’ berada di kelas itu. Bukankah dengan
begitu ia bisa tekun belajar dan tidak berleha-leha? Yang terbesit di
pikirannya saat ini, ia bisa mendapat ilmu dan pengalaman baru dengan cara
bergabung dengan teman-teman yang juga mahir sepertinya. Tentunya juga, para
dosen akan memperlakukan mahasiswa di kelas itu dengan perlakuan yang berbeda.
Tung! Handphone Arman berbunyi, pertanda ada orang yang
sedang ingin mengobrol dengannya; bisa jadi penting atau tidak. Tapi ia tidak
pernah memikirkan hal itu, baginya itu tidak terlalu penting. Ia akan membalas
setiap chat yang datang di Handphone-nya tanpa terkecuali. Ia hanya
mempertimbangkan kenyamanan orang lain terhadapnya, toh tingkahnya kepada orang
lain akan menentukan tingkah orang lain kepadanya.
Seperti saat ini, saat ia baru selesai mengenakan celana dan
hendak mengenakan baju untuk segera bergegas ke fakultas. Chat datang
menghampiri Handphone-nya dan ia tidak ingin orang yang berada di
seberang sana jenuh lantaran harus menunggu jawaban darinya. Ia harus menunda
untuk mengenakan baju, ia duduk di kasurnya, menampakkan dada bidangnya yang
mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
Ia mengetuk dua kali layar sentuh Handphone-nya,
menampilkan sembilan titik yang tertata rapi. Kemudian dengan sigapnya, ia
menggambar pola kuncinya. Ia melihat satu notifikasi bertuliskan nama teman
yang baru ia kenal sekitar seminggu yang lalu. Ya, Zami. Ia mengirimkan satu chat. Tidak panjang rupanya. Hanya berisi sapaan, “Man!”
Arman dan Zami yang tinggal di asrama yang berbeda, membuat Zami
selalu mengirimkan chat –begitu juga Arman- saat merasa bosan dengan
keadaan. Arman memaklumi temannya itu, lantaran dunia pesantren justru harus ia
rasakan saat belajar di bangku perkuliahan; saat harus sibuk dengan banyak
tugas. Makanya, tak heran jika Zami sering merasa bosan. Beda dengan Arman yang
sudah enam tahun belajar di pesantren sejak kelulusannya dari bangku sekolah
dasar.
Arman pun menjawab dengan menanyakan apa kemauan temannya itu. Ia
tidak mau bertele-tele pada saat situasi seperti ini, dimana ia harus bergegas menjalankan
kegiatan yang dirasa sangat wajib untuk ia ikuti. Sembari menunggu jawaban dari
Zami, Arman meraih baju yang tergantung di gantungan baju, memakainya, menutup
dada bidang yang konon menjadi pusat perhatian para perempuan itu.
Benar saja, ternyata Zami sedang merasa bosan berada di asrama. Ia
ingin merasakan dunia masa lalunya, saat ia bebas bermain kesana-kemari saat
liburan weekend. Bukan malah mengurung di kamar berukuran lima kali tiga
meter yang berisi enam orang seperti saat ini. Tentu saja Arman menolaknya,
sebab tes penempatan kelas ini sangat penting baginya.
Arman tak menghiraukan temannya lagi, meski setelah itu Zami
mengiriminya banyak chat spam. Bunyi handphone-nya terdengar
berkali-kali, bahkan hingga Arman telah siap untuk berangkat ke fakultas. Ia tidak
peduli dengan tingkah Zami yang kekanak-kanakan itu. Baginya –sebagai teman
yang berusaha menjadi teman yang baik-, tidak harus melulu mengabulkan
permintaan temannya itu. Minimal, dengan menjadikan Arman sebagai teman, Zami
bisa menemukan jati dirinya, sedikit dewasa dari hari-hari sebelumnya.
Arman turun ke lantai satu, memakai sepatu, lantas pergi meninggalkan
asramanya. Ia menyusuri kompleks Pesantren At-Taqwa, pesantren yang harus
ditinggali oleh setiap mahasiswa baru di Universitas Ulul Albab ini. Sangat
syahdu di hatinya, tiba-tiba ia merindukan pesantrennya yang dulu. Ia mengingat
betul, bagaimana semangat para santri di sana dalam mempelajari ilmu agama.
Padahal mereka sadar; mereka dibebani peraturan yang super ketat. Bisa dibilang,
dilatih agar tidak mudah terhanyut arus zaman yang semakin hari semakin gila.
Gedung-gedung asrama di sini, baginya lebih mirip dengan hotel
lantaran dipenuhi dengan fasilitas yang memadai. Wi-Fi, kasur yang empuk,
lemari yang lebar, kamar mandi yang tak perlu mengantri panjang, hingga kipas
angin yang menggantung di setiap kamar, semua ada. Hatinya berkata bahwa, tidak
berlebihan jika menganggap mahasantri (istilah untuk mahasiswa yang sambil
menyantri) yang tinggal di sini dan tidak betah, sebagai anak mama.
Jika dibandingkan dengan pesantrennya yang dulu, tentu sangat
jauh. Jangankan kasur, alas untuk tidur saja tidak ada. Kulit langsung beradu
dengan dinginnya lantai, hanya dipisah dengan kaus yang sama sekali tidak bisa
diajak kompromi. Hanya saat sedang sakit, santri-santri di sana akan
menggunakan sejadahnya sebagai alas untuk mengistirahatkan badannya. Wi-Fi
apalagi, semua alat elektronik dilarang untuk dibawa, termasuk handphone.
Ada sih, tapi khsusus dewan guru yang notabenenya telah berhenti dari pesantren,
namun tetap mengabdi di pesantren.
Sangat rindang, pepohonan tinggi menjulang yang ditumbuhi
daun-daun yang rindang. Sangat sejuk. Arman suka berjalan di bawah pepohonan
__ADS_1
seperti ini. Seperti halnya saat belajar di pesantrennya yang dulu, ia memilih
untuk belajar di taman, di bawah pohon besar yang rindang. Ia cenderung lebih
suka menyendiri untuk mendapatkan ketenangan. Hanya pada akhir-akhir masa
belajarnya di pesantren, ia dekat dengan Anwari. Anwari telah meninggal dunia tepat
dua bulan yang lalu.
Bayang-bayang Anwari tiba-tiba menghampiri benak Arman, membuat
matanya kembali berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Sudah tiga tahun enam bulan mereka
berdua bersahabat, orang tua masing-masing saling mengenal sahabat anaknya,
bahkan juga saling menganggap anak. Selama itu pula, dimana ada Arman di situ
pasti ada Anwari yang menemani, begitupun sebaliknya. Keduanya telah menyatukan
nama mereka dengan sebutan ‘Duo A’.
Makan, bermain, belajar, bahkan hingga mengantre di kamar mandi,
mereka lakukan bersama. Tiada hari tanpa cerita baru, yang lebih menyenangkan
tentunya. Bagi Arman, Anwari tentu sahabat terbaiknya. Terkadang ia menyesali,
kenapa baru tiga tahun yang lalu ia bisa dekat dengan Anwari, padahal keduanya
telah lama tinggal bersama di satu asrama, tepatnya sejak tahun pertama Arman
belajar di pesantren.
Tapi sayang, kini Anwari hanyalah bayang-bayang. Semua memori
tentang Anwari, masih tersimpan rapi di benak Arman. Rencananya, ia akan
membungkus semua itu dalam benda berbentuk persegi empat berisi
berlembar-lembar kata bernama ‘Novel’. Novelis sepertinya tentu mampu memoles
cerita hidupnya dan mencurahkannya semua dalam sebuah karya. Motivasinya, hanya
agar semua orang merasakan apa yang sedang ia rasakan.
***
An, aku rindu..
Langitku tak lagi biru
Dia gelap, sepertinya hujan akan
menghantam hatiku dengan derasnya.
Halilintar tiba-tiba menyambar
Mengejutkan relung hati yang sedang
melamun memikirkanmu.
Gelegar guntur di mana-mana
Bergemuruh di dalam jiwa.
Sesekali hadir topan yang tak sopan
Memorak-porandakan keping demi keping
kenanganku bersamamu.
Menyaksikan kita yang tak lagi satu;
Bunga-bunga ikut layu
Sayap kupu-kupu patah, sama sekali tak
indah
Sungai mengeruh, muara pun riuh
Lautan tak mau melantunkan
deburan-deburan ombaknya yang dulu merdu
Bulan mengerutkan keningnya
Bahkan, matahari redup, nyaris padam
tak bercahaya.
An, aku rindu terbang bersamamu
Menyusuri jutaan angan yang kau
siratkan
Dengan segenap asa yang waktu itu
terasa begitu sempurna
Memandang jauh masa depan dengan
keindahan tak berbatas
Sungguh, aku membeku dalam rindumu,
An.
***
“Woi! Bengong saja jombloku yang satu ini!” Zami tiba-tiba datang
dan membuat Arman terkejut setengah mati.
“Apa sih, Zam. Ngagetin saja.” Arman menepuk punggung Zami. Tangannya
yang sedikit kekar mampu membuat Zami sidikit terpelanting.
“Idiih. Gitu doang langsung marah.” Zami mengerutkan dahinya
melihat Arman yang berubah menjadi galak.
Melihat temannya berkata seperti itu, hati Arman merasa bersalah. Ia
bingung harus berbuat bagaimana kepada temannya itu. Ia ingin meminta maaf,
tapi sifat ego di hatinya muncul; jelas-jelas Zami yang salah, ia membuat Arman
terkejut.
Tak boleh begitu, Arman! Kau harus menepis egomu itu. Terlalu belia
untuk bermusuhan. Siapa tahu nanti justru Zami yang bisa menjadi pengganti
Anwari, meski rasa kehilangan masih saja membuat hatimu perih.
“Iya iya, maaf!” Arman merangkul bahu Zami. Ia mendekatkan
mulutnya ke telinga temannya itu.
“Main, yuk! Jangan terlalu rajin, hari Minggu loh sekarang.” Kata
Zami sambil meraih tangan Arman yang bertengger di bahunya.
“Maaf, Zam. Ini penting, tidak bisa ditinggalkan. Placement
test, loh. Kalau aku gak kebagian kelas bagaimana?” Ucap Arman mengutarakan
isi hatinya.
“Yaelah, Man. Kalau kamu gak ikut, palingan juga ditaruh di kelas
paling bawah. Santai deh, gak bakalan kehabisan kelas.” Zami menjawab setelah
sebelumnya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Arman yang dirasa
irasional.
“Doakan, temanmu justru ingin berada di kelas yang tertinggi!”
Arman berbisik yang lantas membuat Zami mencebik seketika. Sementara Arman
hanya melihat wajah temannya itu, ingin tahu bagaimana reaksinya sambil
__ADS_1
menunggu jawabannya. Akankah dianggap sombong?
“Iya iya, pakar Bahasa Arab!” Ketus Zami lalu membuang muka ke
arah yang berlawanan dengan arah Arman.
Arman pun tertawa dengan respon Zami itu. Ia berusaha menepis rasa
di hatinya yang mengatakan; Zami bukan orang baik. Justru ia sedang beranggapan
bahwa temannya itu adalah teman yang baik, yang akan mengingatkan Arman agar
tak terbang terlalu tinggi, agar senantiasa membumi sebagaimana kebanyakan
manusia.
Padahal jika Zami –dan kalian juga- tahu, Arman hanya ingin
membanggakan kedua orang tuanya. Meski kenyataannya, kedua orang tua Arman (Pak
Umar dan Bu Uswatun) tidak pernah mau peduli dengan prestasi anaknya itu. Seperti
semalam, saat Arman menelepon ibunya dan meminta doa agar berhasil masuk kelas
tertinggi, kira-kira jawaban ibunya apa? “Ibu tidak peduli, kamu mau kelas A atau
kelas Z sekalipun. Ibu hanya ingin kamu belajar yang rajin, mendoakan ibu agar senantiasa
diberi kesehatan dan rezeki yang lancar!”
“Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?” Tanya Arman yang melihat
temannya tampil sangat rapi pagi ini. Rambutnya tampak klimis sebab minyak
rambut.
“Main lah.” Jawab Zami ketus.
“Sudah berani main sendiri nih, ceritanya.” Arman menggoda Zami.
Zami tak menjawab, entah apa yang sedang berkelebat di benaknya.
“Jalan sama siapa, anak mama?” Arman kembali menggoda Zami dengan
sebutan ‘anak mama’. Hal itu membuat mimik muka Zami berubah, mengernyitkan
dahi seakan tak terima dikatakan seperti itu.
“Jangan panggil aku ‘anak mama’, Man!” Bentak Zami yang membuat
Arman tertegun melihatnya. Hatinya sangat kacau lantaran telah salah berucap. Ia
tak berani menjawab apa-apa. Arman terlalu lemah menghadapi suasana seperti
ini. Jiwa introvernya tiba-tiba muncul ke permukaan. Ia bingung harus bagaimana.
Ya, tentu saja, Arman lebih memilih untuk berdiam diri. Ia mengutuk
dirinya berkali-kali lantaran dibuat kikuk sekikuk-kikunya oleh temannya itu. Mulutnya
terkunci rapat. Otaknya buntu tak mampu bekerja dengan lancar. Ia berjalan,
menjauhi Zami sebisa mungkin. Bukan karena tak peduli, ia hanya ingin
menenangkan diri, mencerna semua kejadian barusan dan menerima kenyataan bahwa
ia benar-benar salah kali ini.
Di belakangnya, Zami juga berpikir bahwa dirinya telah bersalah
lantaran membentak Arman yang notabenenya lebih tua dari padanya. Selain berpikir
bahwa hal itu tidak baik, ia juga baru sadar bahwa temannya itu adalah seorang
introver dan baru menghadapi ‘dunia luar’. Ia harus mengalah, meski sejatinya ia tidak salah.
Hingga keduanya terpisah dengan jarak sekitar sepuluh meter, Zami
berlari ke arahnya. Suara hentakan sandalnya membuat kaget Arman yang masih
tercenung mencerna semuanya. Arman berbalik, dan mendapati Zami telah berdiri
di belakangnya. Arman tambah bingung, mungkin Zami akan menghajarnya habis-habisan.
Ternyata tidak, Zami justru meraih tangan kanan Arman dan
menggenggamnya erat-erat. Matanya berkaca-kaca, begitu juga dengan mata Arman
yang sedang menatapnya lekat-lekat. Keduanya saling terbungkam, terharu dengan
orang yang sedang berada di depannya. Meski di awal perkenalannya Zami terkesan
sok kenal, tapi bagi Arman hal itu tidak terlalu buruk. Ia bisa menerima Zami
dan berjanji akan mengimbangi sifatnya yang masih kekanak-kanakan.
“Maafkan aku, Man!” Zami memulai pembicaraan setelah terjeda
beberapa menit saat terakhir ia membentak Arman.
“Maafkan aku juga, Zam!” Arman membalas genggaman temannya itu. Ia
menahan air mata yang sudah berada di pelupuknya, tak ingin dilihat orang lain
bahwa sejatinya ia yang masih cengeng.
“Seharusnya aku tidak membentakmu!” Zami berhambur memeluk Arman. Ia
tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, toh kompleks pesantren belum
terlalu ramai. Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk tidur, ya ada sebagian
dari mereka yang lebih memilih untuk mengisinya dengan mengikuti car free
day di pusat kota Malang sana.
“Aku yang tak seharusnya mengataimu seperti itu.” Arman melepaskan
pelukan Zami lantas memegang lengan temannya itu kuat-kuat, menatap matanya
lekat-lekat.
“Maafkan aku, Man!” Zami menunduk, ia tak mampu lagi membendung
air matanya.
“Sudah, Zam. Aku yang salah.” Perkataan Arman itu seakan meminta
Zami agar membubarkan air mata yang mengalir di pipinya itu.
Keduanya terdiam, saling bertukar tatapan. Saling membaca pikiran
masing-masing, apa yang harus diperbuat saat sedang begini? Zami memulai
senyuman ala baby face-nya, Arman menimpalinya dengan senyuman yang tak
kalah manisnya. Hingga akhirnya Zami mengakhiri dengan melihat jam stainless-nya,
mendapati jam menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Spontan saja,
Arman bertanya tentang jam dan Zami jawab sesuai dengan apa yang ia lihat
dengan mata kepalanya sendiri barusan.
“Ya sudah, aku ke fakultas dulu, ya.” Arman menepuk bahu kiri
Zami.
“Semoga sukses ya, Man!” Tangan Zami menengadah, mendoakan
temannya itu.
Arman pergi meninggalkan Zami yang masih mematung melihatnya. Sementara
jauh di atas pohon, ada sepasang burung yang sedang menyaksikan keduanya. Sedari
tadi saling bertukar pendapat, saling bertaruhan tentang apa yang terjadi kepada
sepasang manusia di bawahnya. Burung jantan terbang pergi meninggalkan burung
betina. Ia malu, ia kalah dalam taruhan lantaran menebak bahwa dua menusia yang
sedang bertengkar di bawahnya itu –yang sejatinya ia sendiri tidak mengetahui
nama keduanya- akan berpisah dan tidak akan jadi berteman selama-lamanya.
__ADS_1
Bersambung...
Follow @muhammadnailur on Instagram!