Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Hari Penentuan (I)


__ADS_3

Hari ini adalah hari penentuan! Arman akan mengikuti tes penentuan


kelas, dan perkuliahan akan dimulai sejak besok. Nilai tesnya hari ini akan


menentukan abjad kelasnya. Tapi Arman, dan teman-temannya juga, tak perlu


merasa risau lantaran nilainya tidak turut menentukan indeks prestasi


kumulatifnya. Yang perlu ia lakukan saat mengerjakan tes hanyalah; mengerjakan


sebisanya dan meninggalkan soal-soal yang sulit untuk dijawab. Hal itu harus


benar-benar dilakukan, sebab jika sampai salah kelas, akan berakibat fatal.


Arman menyiapkan apa yang harus ia siapkan. Bolpoin, pensil,


penghapus, semuanya ia masukkan ke dalam tasnya. Ia juga menyiapkan dirinya


sendiri, mencoba mengingat-ingat kembali semua yang telah ia pelajari di


pesantrennya dulu. Kosakata Bahasa Arab beserta kaidahnya, ia ulang-ulang


kembali hingga paham dan nyaris hafal.


Baginya saat ini, jika ia dirasa mampu dan layak untuk masuk ke


kelas tertinggi, kenapa harus berpura-pura tidak tahu agar masuk ke kelas yang


rendah? Toh seandainya nanti kelasnya terlalu tinggi baginya, ia akan berusaha


semaksimal mungkin agar bisa dikatakan ‘layak’ berada di kelas itu. Bukankah dengan


begitu ia bisa tekun belajar dan tidak berleha-leha? Yang terbesit di


pikirannya saat ini, ia bisa mendapat ilmu dan pengalaman baru dengan cara


bergabung dengan teman-teman yang juga mahir sepertinya. Tentunya juga, para


dosen akan memperlakukan mahasiswa di kelas itu dengan perlakuan yang berbeda.


Tung! Handphone Arman berbunyi, pertanda ada orang yang


sedang ingin mengobrol dengannya; bisa jadi penting atau tidak. Tapi ia tidak


pernah memikirkan hal itu, baginya itu tidak terlalu penting. Ia akan membalas


setiap chat yang datang di Handphone-nya tanpa terkecuali. Ia hanya


mempertimbangkan kenyamanan orang lain terhadapnya, toh tingkahnya kepada orang


lain akan menentukan tingkah orang lain kepadanya.


Seperti saat ini, saat ia baru selesai mengenakan celana dan


hendak mengenakan baju untuk segera bergegas ke fakultas. Chat datang


menghampiri Handphone-nya dan ia tidak ingin orang yang berada di


seberang sana jenuh lantaran harus menunggu jawaban darinya. Ia harus menunda


untuk mengenakan baju, ia duduk di kasurnya, menampakkan dada bidangnya yang


mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


Ia mengetuk dua kali layar sentuh Handphone-nya,


menampilkan sembilan titik yang tertata rapi. Kemudian dengan sigapnya, ia


menggambar pola kuncinya. Ia melihat satu notifikasi bertuliskan nama teman


yang baru ia kenal sekitar seminggu yang lalu. Ya, Zami. Ia mengirimkan satu chat. Tidak panjang rupanya. Hanya berisi sapaan, “Man!”


Arman dan Zami yang tinggal di asrama yang berbeda, membuat Zami


selalu mengirimkan chat –begitu juga Arman- saat merasa bosan dengan


keadaan. Arman memaklumi temannya itu, lantaran dunia pesantren justru harus ia


rasakan saat belajar di bangku perkuliahan; saat harus sibuk dengan banyak


tugas. Makanya, tak heran jika Zami sering merasa bosan. Beda dengan Arman yang


sudah enam tahun belajar di pesantren sejak kelulusannya dari bangku sekolah


dasar.


Arman pun menjawab dengan menanyakan apa kemauan temannya itu. Ia


tidak mau bertele-tele pada saat situasi seperti ini, dimana ia harus bergegas menjalankan


kegiatan yang dirasa sangat wajib untuk ia ikuti. Sembari menunggu jawaban dari


Zami, Arman meraih baju yang tergantung di gantungan baju, memakainya, menutup


dada bidang yang konon menjadi pusat perhatian para perempuan itu.


Benar saja, ternyata Zami sedang merasa bosan berada di asrama. Ia


ingin merasakan dunia masa lalunya, saat ia bebas bermain kesana-kemari saat


liburan weekend. Bukan malah mengurung di kamar berukuran lima kali tiga


meter yang berisi enam orang seperti saat ini. Tentu saja Arman menolaknya,


sebab tes penempatan kelas ini sangat penting baginya.


Arman tak menghiraukan temannya lagi, meski setelah itu Zami


mengiriminya banyak chat spam. Bunyi handphone-nya terdengar


berkali-kali, bahkan hingga Arman telah siap untuk berangkat ke fakultas. Ia tidak


peduli dengan tingkah Zami yang kekanak-kanakan itu. Baginya –sebagai teman


yang berusaha menjadi teman yang baik-, tidak harus melulu mengabulkan


permintaan temannya itu. Minimal, dengan menjadikan Arman sebagai teman, Zami


bisa menemukan jati dirinya, sedikit dewasa dari hari-hari sebelumnya.


Arman turun ke lantai satu, memakai sepatu, lantas pergi meninggalkan


asramanya. Ia menyusuri kompleks Pesantren At-Taqwa, pesantren yang harus


ditinggali oleh setiap mahasiswa baru di Universitas Ulul Albab ini. Sangat


syahdu di hatinya, tiba-tiba ia merindukan pesantrennya yang dulu. Ia mengingat


betul, bagaimana semangat para santri di sana dalam mempelajari ilmu agama.


Padahal mereka sadar; mereka dibebani peraturan yang super ketat. Bisa dibilang,


dilatih agar tidak mudah terhanyut arus zaman yang semakin hari semakin gila.


Gedung-gedung asrama di sini, baginya lebih mirip dengan hotel


lantaran dipenuhi dengan fasilitas yang memadai. Wi-Fi, kasur yang empuk,


lemari yang lebar, kamar mandi yang tak perlu mengantri panjang, hingga kipas


angin yang menggantung di setiap kamar, semua ada. Hatinya berkata bahwa, tidak


berlebihan jika menganggap mahasantri (istilah untuk mahasiswa yang sambil


menyantri) yang tinggal di sini dan tidak betah, sebagai anak mama.


Jika dibandingkan dengan pesantrennya yang dulu, tentu sangat


jauh. Jangankan kasur, alas untuk tidur saja tidak ada. Kulit langsung beradu


dengan dinginnya lantai, hanya dipisah dengan kaus yang sama sekali tidak bisa


diajak kompromi. Hanya saat sedang sakit, santri-santri di sana akan


menggunakan sejadahnya sebagai alas untuk mengistirahatkan badannya. Wi-Fi


apalagi, semua alat elektronik dilarang untuk dibawa, termasuk handphone.


Ada sih, tapi khsusus dewan guru yang notabenenya telah berhenti dari pesantren,


namun tetap mengabdi di pesantren.


Sangat rindang, pepohonan tinggi menjulang yang ditumbuhi


daun-daun yang rindang. Sangat sejuk. Arman suka berjalan di bawah pepohonan

__ADS_1


seperti ini. Seperti halnya saat belajar di pesantrennya yang dulu, ia memilih


untuk belajar di taman, di bawah pohon besar yang rindang. Ia cenderung lebih


suka menyendiri untuk mendapatkan ketenangan. Hanya pada akhir-akhir masa


belajarnya di pesantren, ia dekat dengan Anwari. Anwari telah meninggal dunia tepat


dua bulan yang lalu.


Bayang-bayang Anwari tiba-tiba menghampiri benak Arman, membuat


matanya kembali berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Sudah tiga tahun enam bulan mereka


berdua bersahabat, orang tua masing-masing saling mengenal sahabat anaknya,


bahkan juga saling menganggap anak. Selama itu pula, dimana ada Arman di situ


pasti ada Anwari yang menemani, begitupun sebaliknya. Keduanya telah menyatukan


nama mereka dengan sebutan ‘Duo A’.


Makan, bermain, belajar, bahkan hingga mengantre di kamar mandi,


mereka lakukan bersama. Tiada hari tanpa cerita baru, yang lebih menyenangkan


tentunya. Bagi Arman, Anwari tentu sahabat terbaiknya. Terkadang ia menyesali,


kenapa baru tiga tahun yang lalu ia bisa dekat dengan Anwari, padahal keduanya


telah lama tinggal bersama di satu asrama, tepatnya sejak tahun pertama Arman


belajar di pesantren.


Tapi sayang, kini Anwari hanyalah bayang-bayang. Semua memori


tentang Anwari, masih tersimpan rapi di benak Arman. Rencananya, ia akan


membungkus semua itu dalam benda berbentuk persegi empat berisi


berlembar-lembar kata bernama ‘Novel’. Novelis sepertinya tentu mampu memoles


cerita hidupnya dan mencurahkannya semua dalam sebuah karya. Motivasinya, hanya


agar semua orang merasakan apa yang sedang ia rasakan.


***


An, aku rindu..


Langitku tak lagi biru


Dia gelap, sepertinya hujan akan


menghantam hatiku dengan derasnya.


Halilintar tiba-tiba menyambar


Mengejutkan relung hati yang sedang


melamun memikirkanmu.


Gelegar guntur di mana-mana


Bergemuruh di dalam jiwa.


Sesekali hadir topan yang tak sopan


Memorak-porandakan keping demi keping


kenanganku bersamamu.


Menyaksikan kita yang tak lagi satu;


Bunga-bunga ikut layu


Sayap kupu-kupu patah, sama sekali tak


indah


Sungai mengeruh, muara pun riuh


Lautan tak mau melantunkan


deburan-deburan ombaknya yang dulu merdu


Bulan mengerutkan keningnya


Bahkan, matahari redup, nyaris padam


tak bercahaya.


An, aku rindu terbang bersamamu


Menyusuri jutaan angan yang kau


siratkan


Dengan segenap asa yang waktu itu


terasa begitu sempurna


Memandang jauh masa depan dengan


keindahan tak berbatas


Sungguh, aku membeku dalam rindumu,


An.


***


“Woi! Bengong saja jombloku yang satu ini!” Zami tiba-tiba datang


dan membuat Arman terkejut setengah mati.


“Apa sih, Zam. Ngagetin saja.” Arman menepuk punggung Zami. Tangannya


yang sedikit kekar mampu membuat Zami sidikit terpelanting.


“Idiih. Gitu doang langsung marah.” Zami mengerutkan dahinya


melihat Arman yang berubah menjadi galak.


Melihat temannya berkata seperti itu, hati Arman merasa bersalah. Ia


bingung harus berbuat bagaimana kepada temannya itu. Ia ingin meminta maaf,


tapi sifat ego di hatinya muncul; jelas-jelas Zami yang salah, ia membuat Arman


terkejut.


Tak boleh begitu, Arman! Kau harus menepis egomu itu. Terlalu belia


untuk bermusuhan. Siapa tahu nanti justru Zami yang bisa menjadi pengganti


Anwari, meski rasa kehilangan masih saja membuat hatimu perih.


“Iya iya, maaf!” Arman merangkul bahu Zami. Ia mendekatkan


mulutnya ke telinga temannya itu.


“Main, yuk! Jangan terlalu rajin, hari Minggu loh sekarang.” Kata


Zami sambil meraih tangan Arman yang bertengger di bahunya.


“Maaf, Zam. Ini penting, tidak bisa ditinggalkan. Placement


test, loh. Kalau aku gak kebagian kelas bagaimana?” Ucap Arman mengutarakan


isi hatinya.


“Yaelah, Man. Kalau kamu gak ikut, palingan juga ditaruh di kelas


paling bawah. Santai deh, gak bakalan kehabisan kelas.” Zami menjawab setelah


sebelumnya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Arman yang dirasa


irasional.


“Doakan, temanmu justru ingin berada di kelas yang tertinggi!”


Arman berbisik yang lantas membuat Zami mencebik seketika. Sementara Arman


hanya melihat wajah temannya itu, ingin tahu bagaimana reaksinya sambil

__ADS_1


menunggu jawabannya. Akankah dianggap sombong?


“Iya iya, pakar Bahasa Arab!” Ketus Zami lalu membuang muka ke


arah yang berlawanan dengan arah Arman.


Arman pun tertawa dengan respon Zami itu. Ia berusaha menepis rasa


di hatinya yang mengatakan; Zami bukan orang baik. Justru ia sedang beranggapan


bahwa temannya itu adalah teman yang baik, yang akan mengingatkan Arman agar


tak terbang terlalu tinggi, agar senantiasa membumi sebagaimana kebanyakan


manusia.


Padahal jika Zami –dan kalian juga- tahu, Arman hanya ingin


membanggakan kedua orang tuanya. Meski kenyataannya, kedua orang tua Arman (Pak


Umar dan Bu Uswatun) tidak pernah mau peduli dengan prestasi anaknya itu. Seperti


semalam, saat Arman menelepon ibunya dan meminta doa agar berhasil masuk kelas


tertinggi, kira-kira jawaban ibunya apa? “Ibu tidak peduli, kamu mau kelas A atau


kelas Z sekalipun. Ibu hanya ingin kamu belajar yang rajin, mendoakan ibu agar senantiasa


diberi kesehatan dan rezeki yang lancar!”


“Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?” Tanya Arman yang melihat


temannya tampil sangat rapi pagi ini. Rambutnya tampak klimis sebab minyak


rambut.


“Main lah.” Jawab Zami ketus.


“Sudah berani main sendiri nih, ceritanya.” Arman menggoda Zami.


Zami tak menjawab, entah apa yang sedang berkelebat di benaknya.


“Jalan sama siapa, anak mama?” Arman kembali menggoda Zami dengan


sebutan ‘anak mama’. Hal itu membuat mimik muka Zami berubah, mengernyitkan


dahi seakan tak terima dikatakan seperti itu.


“Jangan panggil aku ‘anak mama’, Man!” Bentak Zami yang membuat


Arman tertegun melihatnya. Hatinya sangat kacau lantaran telah salah berucap. Ia


tak berani menjawab apa-apa. Arman terlalu lemah menghadapi suasana seperti


ini. Jiwa introvernya tiba-tiba muncul ke permukaan. Ia bingung harus bagaimana.


Ya, tentu saja, Arman lebih memilih untuk berdiam diri. Ia mengutuk


dirinya berkali-kali lantaran dibuat kikuk sekikuk-kikunya oleh temannya itu. Mulutnya


terkunci rapat. Otaknya buntu tak mampu bekerja dengan lancar. Ia berjalan,


menjauhi Zami sebisa mungkin. Bukan karena tak peduli, ia hanya ingin


menenangkan diri, mencerna semua kejadian barusan dan menerima kenyataan bahwa


ia benar-benar salah kali ini.


Di belakangnya, Zami juga berpikir bahwa dirinya telah bersalah


lantaran membentak Arman yang notabenenya lebih tua dari padanya. Selain berpikir


bahwa hal itu tidak baik, ia juga baru sadar bahwa temannya itu adalah seorang


introver dan baru menghadapi ‘dunia luar’.  Ia harus mengalah, meski sejatinya ia tidak salah.


Hingga keduanya terpisah dengan jarak sekitar sepuluh meter, Zami


berlari ke arahnya. Suara hentakan sandalnya membuat kaget Arman yang masih


tercenung mencerna semuanya. Arman berbalik, dan mendapati Zami telah berdiri


di belakangnya. Arman tambah bingung, mungkin Zami akan menghajarnya habis-habisan.


Ternyata tidak, Zami justru meraih tangan kanan Arman dan


menggenggamnya erat-erat. Matanya berkaca-kaca, begitu juga dengan mata Arman


yang sedang menatapnya lekat-lekat. Keduanya saling terbungkam, terharu dengan


orang yang sedang berada di depannya. Meski di awal perkenalannya Zami terkesan


sok kenal, tapi bagi Arman hal itu tidak terlalu buruk. Ia bisa menerima Zami


dan berjanji akan mengimbangi sifatnya yang masih kekanak-kanakan.


“Maafkan aku, Man!” Zami memulai pembicaraan setelah terjeda


beberapa menit saat terakhir ia membentak Arman.


“Maafkan aku juga, Zam!” Arman membalas genggaman temannya itu. Ia


menahan air mata yang sudah berada di pelupuknya, tak ingin dilihat orang lain


bahwa sejatinya ia yang masih cengeng.


“Seharusnya aku tidak membentakmu!” Zami berhambur memeluk Arman. Ia


tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, toh kompleks pesantren belum


terlalu ramai. Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk tidur, ya ada sebagian


dari mereka yang lebih memilih untuk mengisinya dengan mengikuti car free


day di pusat kota Malang sana.


“Aku yang tak seharusnya mengataimu seperti itu.” Arman melepaskan


pelukan Zami lantas memegang lengan temannya itu kuat-kuat, menatap matanya


lekat-lekat.


“Maafkan aku, Man!” Zami menunduk, ia tak mampu lagi membendung


air matanya.


“Sudah, Zam. Aku yang salah.” Perkataan Arman itu seakan meminta


Zami agar membubarkan air mata yang mengalir di pipinya itu.


Keduanya terdiam, saling bertukar tatapan. Saling membaca pikiran


masing-masing, apa yang harus diperbuat saat sedang begini? Zami memulai


senyuman ala baby face-nya, Arman menimpalinya dengan senyuman yang tak


kalah manisnya. Hingga akhirnya Zami mengakhiri dengan melihat jam stainless-nya,


mendapati jam menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit. Spontan saja,


Arman bertanya tentang jam dan Zami jawab sesuai dengan apa yang ia lihat


dengan mata kepalanya sendiri barusan.


“Ya sudah, aku ke fakultas dulu, ya.” Arman menepuk bahu kiri


Zami.


“Semoga sukses ya, Man!” Tangan Zami menengadah, mendoakan


temannya itu.


Arman pergi meninggalkan Zami yang masih mematung melihatnya. Sementara


jauh di atas pohon, ada sepasang burung yang sedang menyaksikan keduanya. Sedari


tadi saling bertukar pendapat, saling bertaruhan tentang apa yang terjadi kepada


sepasang manusia di bawahnya. Burung jantan terbang pergi meninggalkan burung


betina. Ia malu, ia kalah dalam taruhan lantaran menebak bahwa dua menusia yang


sedang bertengkar di bawahnya itu –yang sejatinya ia sendiri tidak mengetahui


nama keduanya- akan berpisah dan tidak akan jadi berteman selama-lamanya.

__ADS_1


Bersambung...


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2