Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Rencana Terapi


__ADS_3

Setelah saling mengungkapkan perasaan masing-masing,Raka mengajak Chaca untuk kembali ke kamar.Mereka berbaring di tempat yang sama dan saling berhadap-hadapan dengan tumpukan bantal yang menjadi pembatas antara mereka.


Raka mendengus kesal, Wajahnya terlihat cemberut.Diam-diam Dia meremas kasar bantal sialan yang menjadi penghalang antara dirinya dan Chaca.Ingin rasanya Dia membuang jauh bantal sialan itu.Ck...Harus nya dia menyingkirkan nya tadi.Karena bantal-bantal itu,Dia jadi tidak bisa tidur memeluk kekasihnya.


"Kak..!!"


"Hm..''


Chaca mengerutkan keningnya mendengar sahutan dari Raka yang terlihat tidak senang.


"Kakak kenapa ketus gitu jawabnya?"


"Gak papa.."


"Gak papa gimana?"


Raka menghela nafas pelan dan menatap Chaca."Ada apa?". tanya Raka lembut


"Kakak tahu dari mana kalau Chaca sakit?"


Raka menatap dalam mata teduh Chaca."Chaca ingat waktu Kakak marah besar ke Chaca sampai Chaca menangis ketakutan?"


Chaca terdiam dan mulai mengingat-ingat kejadian yang di maksud oleh Raka.Tapi memori Chaca menolak untuk mengingat nya hingga Chaca menggelengkan kepalanya.


"Chaca menangis ketakutan dan diemin Kakak.Bahkan Chaca gak mau Kakak sentuh .Itu buat Kakak sakit..Kakak takut.Takut Chaca membenci Kakak."terang Raka.


Itu adalah satu kenangan pahit yang Sulit untuk Raka lupakan.Bahkan untuk mengingat nya pun Raka tidak berani.Di mana Orang yang Dia Cintai meringkuk ketakutan, Tubuhnya bergetar dan terus berteriak histeris.Dan yang lebih menyakitkan setelah keadaan Chaca tenang,Justru Chaca terlihat seperti mayat hidup yang tidak bisa mengekspresikan sesuatu.


"Apa hubungannya kejadian itu dengan Kakak tahu penyakit Chaca?"

__ADS_1


"Kakak hanya berfikir jika telah terjadi sesuatu yang membuat Chaca seperti itu.Jadi Kakak coba berkonsultasi dengan Dokter psikolog.Dan ya... kemungkinan Chaca sudah melewati suatu kejadian yang membuat Chaca mengalami trauma ".terang Raka bohong


Raka tidak mungkin mengatakan jika Dia tahu semua itu dari Andhika, Karena Chaca sendiri yang tidak ingin siapapun tahu tentang identitas nya.Dan Raka ingin Chaca sendiri yang jujur padanya tentang siapa Dia sebenarnya.


"Kakak akan bantu Chaca melakukan terapi biar Chaca sembuh.Chaca mau kan?"


"T_terapi?"


Raka mengangguk dan meyakinkan Chaca bahwa masih ada kesempatan untuk sembuh.Dan Raka yakin Chaca bisa melewati semua nya.


Cukup lama Chaca terdiam.Terapi?Satu hal yang di takuti Chaca.Dia takut semua itu sia-sia.Bahkan Kakeknya pun sudah melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan nya tapi hasilnya nihil.Setiap kali ada yang membentak atau bersuara keras pada Chaca, tubuhnya akan merespon dengan cepat dan bayangan masa lalu itu muncul di memori Chaca sehingga Chaca tenggelam dalam kenangan kelam itu dan membuat nya histeris.


"Cha..!!!".Panggil Raka.


''Chaca mau kan mencobanya dengan Kakak?.Ini semua juga demi Chaca.Chaca harus bisa melawan rasa takut Chaca.Lagipula bagaimana nanti jika suatu hari Chaca bertemu orang yang sudah membuat Chaca seperti ini'."


Deg


Chaca melihat tangannya yang bergetar, Keringat dingin menetes di pelipis nya.Matanya mulai berembun.Chaca menggeleng-gelengkan kepalanya..Tidak.Dia tidak ingin bertemu dengan nya.


Melihat hal itu,Raka menggenggam tangan Chaca erat.Dia mencoba menyadarkan Chaca.


"Chaca..!!Chaca..!! Lihat Kakak!!.."


"Hei...Lihat Kakak..!!"


Raka menakup wajah Chaca.Sejenak pandangan mereka bertemu.Raka menghapus air mata Chaca dan memberikan kecupan manis di bibir gadis itu.


"Ada Kakak..Jangan takut."

__ADS_1


Perlahan Chaca mulai tenang.Dia menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa takutnya.


"Chaca gak yakin akan berhasil Kak.Mendengar Kakak menyebutnya saja rasa nya ....."


"Ssstt...Kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya jika kita tidak mencobanya.."


"Tapi Kak..Chaca takut."lirih Chaca.


"Ada Kakak..Chaca cukup percaya sama Kakak.Kita akan lawan rasa takut Chaca bersama-sama ."


Chaca melihat kesungguhan di mata Raka.Dan hal itu membuat nya bimbang.Di satu Sisi Dia yakin jika Dia bisa.Tapi di sisi lain Dia takut..Takut kenangan yang ingin Dia lupakan muncul kembali.


"Cha..!!."


Chaca memejamkan matanya sejenak dan mengangguk pelan."Iya Kak ."


Raka tersenyum.Ini awal yang bagus karena Chaca setuju melakukan terapi lagi.Dan kali ini Dia akan pastikan jika Chaca akan sembuh dan hidup normal.


"Sudah malam.Tidur.."Chaca menyusun kembali bantal di tengah-tengah mereka dan membelakangi Raka dan mulai memejamkan matanya.Dia tidak mau membahas itu lagi.Dia sudah mengambil keputusan besar dengan mau melakukan terapi lagi.Tapi Dia akan mencoba percaya jika terapi kali ini akan berhasil.Semoga..


Sementara itu Raka terlihat memanyunkan bibirnya melihat Chaca yang tidur membelakangi nya.


Awalnya Dia berharap Chaca akan berterimakasih dan memeluknya.Dengan begitu dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini.Tapi seperti nya hal itu tidak sesuai ekspektasi nya.


Raka menatap langit-langit di kamar nya.Sesekali dia melirik Chaca yang masih setia membelakangi nya.Raka berdecak karena Kekasihnya sangat tidak peka.Tapi tiba-tiba muncul ide brilian di otak Raka.Dia memiringkan tubuhnya menghadap Chaca . Sejenak dia memperhatikan nafas Chaca yang mulai teratur.Dia yakin Chaca sudah tertidur.


Perlahan Dia menyingkirkan bantal-bantal sialan itu dan menarik pelan tubuh Chaca tanpa mengganggu tidur nya.


Raka memposisikan tubuh Chaca seolah-olah gadis itu tidur memeluk dirinya.Bibir Raka mengembang.Dia tidak sabar melihat ekspresi kekasih nya itu besok pagi..

__ADS_1


Lihatlah..Dia melewati batas dan tidur memeluk Raka.Sungguh sangat cerdik Kau Raka.


__ADS_2