Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Mahasiswa Culun (I)


__ADS_3

Hidup sendiri di tanah rantau tentu tidak mudah. Yang


namanya sendiri, pasti tidak ada yang mendampingi. Baik keluarga, teman,


sahabat, atau sejenisnya. Seperti yang saat ini sedang menimpa Arman. Ia merasa


sepi di tengah-tengah keramaian. Keluarga di rumah dan sahabat-sahabatnya di


pesantren yang biasanya hadir di setiap suka dan dukanya, kini tidak turut


serta merasakan keluh kesahnya dalam menjalani kehidupan sebagai ‘mahasiswa


culun’.


Pagi itu, adalah hari pertama bagi mahasiswa baru


Universitas Ulul Albab menjalani perkuliahan. Jika biasanya ia mengisi setiap


paginya dengan tidur lantaran sering begadang malam harinya, tidak untuk hari


ini. Ia menjadikan hari pertamanya sebagai hari yang sangat spesial. Ia


berpakaian rapi sebagaimana peraturan kampus, memakai minyak wangi, sangat


necis! Bahkan mungkin jika kedua orang tuanya melihatnya hari ini, mereka akan


terkejut mendapati dirinya memiliki anak setampan Arman.


Hawa dingin Kota Malang kali ini benar-benar ia rasakan. Saat


ia harus melawan air demi bisa tampil setampan dan seharum mungkin, saat


menyusuri area kampus yang belum kotor dengan polusi, saat matahari belum


meninggi dan menyengat siapapun yang berada di bawahnya, ia harus berangkat ke


kelas. Tepat pada jam enam lewat dua puluh menit ia telah sampai di kelas. Ia


mendapat jadwal jam setengah tujuh untuk hari pertamanya.


“Eh, kita sekelas?” Arman terperanjat saat melihat Nisa


masuk ke dalam ruang kelas Arman.


“Loh, iya? Ruang A 303 kan? Matkul Maharah Qiraah? Kelas A, bukan?”


Nisa juga tak kalah heboh mendapati dirinya duduk sekelas dengan Arman.


“Iya, benar!” Arman tertawa. Ia merasa takdir Allah yang


tengah ia jalani teramat lucu untuk dirinya.


“Wah, aku sekelas sama syekh, dong.” Nisa memegang kedua


pipi tembamnya. Ia seakan tak percaya bisa sekelas dengan Arman yang ia anggap


sebagai mahasiswa termahir dalam bidang Bahasa Arab di angkatannya itu.


“Haha. Bisa saja! Nunung di kelas sini juga?” Tanya Arman


bermaksud memastikan bahwa ada orang lain yang telah ia kenal selain Nisa.


Sayangnya Nisa malah menjawab sebaliknya dan berkata, “Enggak, mas. Dia di


kelas F.”


“Wah, sayang ya. Kalau temanmu yang satunya itu?” Arman


kembali bertanya, tapi kali ini beda. Rasa berharapnya lebih tinggi. Ia


berharap agar Nisa mengiyakan bahwa Naila juga satu kelas dengannya. Tapi


nahas, ternyata Nisa menyebutkan abjad lain untuk kelas Naila, kelas E.


Dari hasil placement test kemarin, Arman ditakdirkan tidak


satu kelas dengan Naila. Ia sedikit merasa sedih lantaran takdir sedang tidak


berpihak kepadanya. Padahal jauh sebelum hari ini ia telah tahu bahwa; jika


sebuah doa tidak terkabulkan hari ini, maka akan terkabulkan esok atau lusa


atau tulat atau tubin atau hari-hari berikutnya. Toh jika tetap tidak


terkabulkan, maka Allah akan menggantinya dengan cara yang lebih baik dan layak


untuk si pemohon.


Jika memang benar demikian adanya, apakah Naila bukan


jodohnya lantaran takdir tidak memberikan isyarat untuk itu? Coba pikirkan,


sejak awal saja tidak ada jalan bagi Arman untuk berkenalan dengan Naila. Atau


jangan-jangan, Nisalah yang justru akan menjadi jodoh Arman karena hanya dialah


-dari ketiga perempuan yang telah ia kenal itu- yang ternyata satu kelas?


Oh tidak, Arman! Kau tak perlu mendahului takdir. Kau hanya


perlu berdoa dan berusaha, selebihnya biarkan Allah yang mengatur jalannya. Toh


pada kenyataannya, ini masih semester satu. Masih terlalu muda untuk memikirkan


hal sesakral pernikahan. Masih ada tujuh semester lagi setelah ini.


Perjalananmu masih panjang. Pikirkan cita-citamu dan biarkan alam semesta


menggiring Naila agar berkenan untuk hinggap di hatimu!


Secepat jam menunjukkan pukul setengah tujuh pas, secepat


itu pula teman-teman sekelasnya tiba dan memenuhi kelasnya. Yang laki-laki


bergerombol dengan teman-teman yang laki-laki, saling berjabat dan mengenalkan


dirinya masing-masing. Tak terkecuali dengan Arman, ia juga memperkenalkan


dirinya dan bangga dikala menyebutkan bahwa dirinya adalah jebolan pesantren.


Begitupun dengan yang perempuan. Sambil menunggu dosen


datang, mereka saling berkenalan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum adam.


Bedanya, suara mereka lebih nyaring dari pada suara gerombolan laki-laki. Bukan


hanya karena suara perempuan memang diciptakan seperti itu, tapi jumlah mereka lebih


banyak dari pada jumlah laki-laki di kelas itu; satu banding dua!


Benar ternyata, di kelas itu bukan Arman saja yang jebolan


pesantren. Sesuai dengan dugaannya semalam, ia akan satu kelas dengan


orang-orang yang mayoritas adalah jebolan pesantren-pesantren ternama di


Indonesia. Di situlah titik kebahagiaan bagi Arman, saat ia bisa saling


bertukar pengalaman, mendapat ilmu baru dari teman yang sepantar dengannya, dan


tentunya bisa menjadi titik terang bagi Bahasa Arab yang pernah ia pelajari.


Fadil, Rean, Dana, Hanif, Nur, Rahman, Afdal, Asror,


Mubarok, dan Jalal. Itu lah nama-nama teman sekelas Arman yang laki-laki. Untuk


yang perempuan ia belum hafal satu per satu. Tapi yang jelas, -sekali lagi- dua


puluh lima orang yang ada di kelas itu adalah jebolan pesantren ternama. Hanya


beberapa yang nama pesantrennya masih terkesan asing di telinga Arman. Secepat

__ADS_1


mereka berkenalan, secepat itu pula mereka saling menghafal nama satu dan yang


lain.


Jika kalian ingin membayangkan suasana kelas Arman pagi itu,


bayangkan saja pasar yang penuh dengan pembeli dan penjual yang sibuk


menawarkan barang dagangannya sembari menyebutkan satu per satu harganya. Ya,


seperti itu. Yang ini jauh berbeda dari apa yang sempat Arman pikirkan; kelas


tertinggi pasti akan diisi dengan anak-anak yang kalem. Biasanya begitu!


Tapi kenyataan berkata lain, ternyata teman sekelasnya mudah


akrab antar satu dan yang lain. Dari kaum hawa, ada satu orang yang


menggilirkan kertas ke gerombolan kaum adam. Ia meminta nomor WhatsApp


masing-masing orang yang ada di kelas itu, bermaksud untuk membuat grup obrolan


untuk kelas mereka satu semester ke depan.


Sejurus kemudian, ada notifikasi di handphone para


manusia yang kini sedang berada di dalam satu ruangan itu. SA Afifah telah


membuat grup “Sastra Arab A-lim-“, dan SA Afifah menambahkan Anda,


dua notifikasi itu terpampang jelas di handphone Arman. Kalau kalian


bertanya-tanya kenapa ada kontak Afifah di handphone Arman, maka


jawabannya adalah begini;


Sekitar setengah bulan sebelum perkuliahan dimulai, ada grup


obrolan yang beranggotakan semua mahasiswa baru Jurusan Sastra Arab. Enam puluh


persen dari total keseluruhan, telah Arman simpan kontaknya. Untuk


menyeragamkan, Arman menambahkan SA di setiap awal nama sebagai singkatan dari


‘Sastra Arab’. Nah, kebetulan Afifah adalah salah satu dari sekian anak yang


disimpan nomornya, dan kebetulan juga saat ini mereka juga satu kelas.


Sayangnya, menyimpan kontak tak selalu berarti mengenal si pemilik kontak.


Tiba-tiba dosen untuk matakuliah pertamanya datang, lalu


beliau mengucapkan salam, lalu salamnya dijawab oleh semua mahasiswa yang ada


di kelas itu, lalu beliau duduk dan melemparkan senyum kepada semua orang yang


ada di hadapannya. “Hal ‘araftum ismi? Apakah kalian sudah tahu nama


saya?” Dosen itu menanyakan sebuah pertanyaan yang tentu semua mahasiswa di


ruangan itu tidak akan mengiyakan.


“Perkenalkan, nama saya Syamsul Maarif, dosen Maharah Qiraah


di kelas A.” Beliau memperkenalkan diri di hadapan teman-teman sekelas Arman,


dan Arman juga tentunya. Beliau berdiri tegap, perutnya sedikit buncit,


tangannya beliau masukkan ke dalam saku celananya.


“Maaf, karena saya telah bebuat zalim kepada kalian. Saya


telat masuk kelas, membuat kalian sedikit rugi membayar UKT mahal-mahal.”


Perkataannya memunculkan dua puluh lima senyuman di dua puluh lima wajah


berbeda. Ada yang sampai menampakkan giginya, tapi juga banyak yang tidak.


menzalimi kalian seperti ini. Saya punya anak yang harus saya antarkan ke


sekolahnya dulu, dia bayar SPP setiap bulannya, dan tentu saya tidak ingin rugi


dengan cara membuat anak saya telat berangkat ke sekolah. Kalau kalian, ya


terserah kalian. Toh yang membayar UKT kalian bukan saya!” Sontak perkataan


beliau itu mengundang gelak tawa seisi ruangan. Sebagian ada yang bertepuk


tangan, lalu diikuti oleh yang lainnya.


Demikianlah dan perkuliahan pada hari pertama, dirasa


berjalan lancar oleh Arman dan teman-teman sekelasnya. Sangat berkesan, bertemu


dan berkenalan dengan teman-teman yang ‘pakar-pakar’ dan dosen-dosen lulusan


Timur Tengah. Hari itu Arman harus banyak-banyak bersyukur sebab merasa tak


salah kelas, bahkan tak salah jurusan.


***


Di lain tempat, kedua orang tua Arman –yang kini sangat


pantas disebut sebagai ‘orang tua’- sibuk mengajar. Ayahnya, Pak Umar mengajar


di salah satu SMA negeri di kecamatannya. Ibunya, Bu Uswatun juga mengajar,


tapi di SD swasta. Mereka berdua sedang berusaha mendidik generasi bangsa agar


menjadi bibit yang unggul, yang bisa diandalkan oleh masyarakatnya.


“Alhamdulillah, anak saya hari ini mulai berkuliah.” Kata


Pak Umar kepada rekan kerjanya di kantor sekolah.


“Wah, selamat ya, pak!” Kata lelaki yang memakai dasi


berwarna gelap, sulit dideskripsikan.


“Wah, jurusan apa, pak?” Kata satunya lagi.


“Wah, kuliah dimana, pak?” Dan kata satunya lagi.


Pak Umar menjawab satu per satu pertanyaan itu. Beliau memang


selalu disegani oleh rekan kerjanya. Umurnya yang telah mendekati usia pensiun,


membuat rekan kerjanya menganggapnya sebagai orang tua di kantor itu. Termasuk


juga si kepala sekolah yang secara usia lebih muda dari pada Pak Umar. Motivasi


beliau selalu ditunggu-tunggu setiap harinya; mulai dari soal perjodohan,


ekonomi keluarga, hingga masalah sepele yang seharusnya bisa dihadapi oleh


setiap guru. Apa lagi kalau bukan soal murid nakal?


***


Di kelas empat tempat Bu Uswatun mengajar, beliau berdiri di


samping papan, di depan murid-muridnya. Beliau bukan tipe guru yang galak,


sebab beliau tahu bahwa manusia-manusia yang sedang duduk menatapnya dari arah


depan itu bukan anaknya sendiri. Di sini, beliau hanya berposisi sebagai


pengabdi masyarakat dan bangsa dan juga negara.


“Kalian tahu anak bu guru yang namanya Kak Arman?” Tanya Bu

__ADS_1


Uswatun kepada murid-muridnya yang notabenenya adalah anak-anak tetangganya


sendiri.


“Iya, bu.” Semua murid yang berada di kelas itu mengiyakan,


hampir saja bersamaan.


“Dia sekarang kuliah di Malang. Jurusan Sastra Arab.” Kata


Bu Uswatun, lagi, dengan nada menggebu-gebu.


“Wah, pintar Bahasa Arab dong, bu?” Tanya salah seorang


siswi di kelas itu.


“Pastinya dong. Nah, kalian kan juga anak-anak bu guru, jadi


kalian harus pintar seperti Kak Arman, agar kedua orang tua kalian bangga


kepada kalian, dan tidak menyesal memiliki anak seperti kalian!” Ujar Bu


Uswatun, masih dengan nada menggebu-gebu. Beliau mendapat banyak senyuman atas


motivasinya itu.


***


Arman kembali duduk di balkon asrama. Kali ini bukan


gemintang yang dinikmatinya, tapi semburat jingga senja yang sangat indah


dengan matahari yang tampak bulat sempurna. Burung-burung berkeliaran, mencari


apa yang bisa ia cari. Mahasantri bejibun, keluar masuk dari asrama tempat


Arman tinggal. Jam setengah lima sore seperti saat ini adalah jam makan mereka


yang tidak terbiasa makan malam.


Bersama itu pula, Arman tersadar bahwa ia belum menyimpan


kontak Naila, begitupun sebaliknya. Arman menghidupkan handphone-nya


lalu bergegas mencari grup obrolan Sastra Arab angkatannya. Ada banyak kontak


yang belum sempat ia simpan, salah satunya milik Naila. Ia mencari nomor yang


diduga milik Naila, tentu saja ia menemukan sebuah nomor bernama ‘Izzat


al-Maula’ dengan dua lambang ‘love’ berwarna merah jambu di belakangnya.


Sedetik setelah itu, ia menekan nomor itu lalu menyimpannya


langsung. ‘SA Naila’, begitu Arman menyimpannya. Sengaja tidak dibuat berbeda,


khawatir timbul kecurigaan di kalangan teman-temannya. Sebuah kebahagiaan


tersendiri bagi Arman yang telah berhasil menemukan nomor Naila dengan usahanya


sendiri.


Naila memang sosok yang indah, sulit dideskripsikan. Ada berjuta


bunga yang mengisi hati Arman saat melihatnya, meski baru tiga kali; sebelum


ospek, ketika ospek, dan saat placement test kemarin. Mendapati dirinya


tidak satu kelas dengan perempuan yang berhasil mencuri hatinya itu, ia


terpuruk lunglai.


“Arman!” Hati Arman kembali muncul menyapanya, Arman tahu


bahwa hatinya akan menasihatinya lagi. Tentu saja, Arman tidak menghiraukannya


dan membiarkannya berbicara panjang lebar dulu dan akan Arman jawab setelahnya,


“Jujur, aku sedih melihatmu! Kau bukan Arman yang dulu; yang aktif menguatkan


aku sebagai hatinya.”


Hatinya membentak dirinya, aneh. Biasanya, dia yang mewek


terlebih dahulu saat sedang berdebat dengan Arman. Kenapa tiba-tiba ia muncul


dan memasang wajah seram, membuat niat Arman untuk menjawabnya semakin menciut?


Kenapa tiba-tiba dia marah? Apa salah Arman kepadanya? Arman masih


bertanya-tanya tentang apa yang terjadi antara dirinya dan hatinya.


“Kau berubah, Arman! Makanya, aku juga harus berubah agar


kau tak terlarut dalam kenyamananmu itu!” Sekali lagi, hati Arman benar-benar


membentak Arman. Ia telah membuat Arman terperanjat. Lidahnya kelu, tidak bisa


mengucapkan satu kata pun.


Arman bingung memikirkan kata apa yang pantas untuk ia


ucapkan kepada hatinya, hingga kata-kata itu benar-benar muncul dari mulutnya, “Tapi


hati..”


Belum selesai berbicara, hati Arman membungkam mulut Arman


agar tak melanjutkan perkataanya. Sejurus kemudian, ia berkata kepada Arman, “Jelaskan


hubunganmu dengan Naila!”


“Naila bukan siapa-siapaku, hati! Naila hanya teman


sejurusanku dan aku belum mengenalnya hingga detik ini. Sekarang giliranku


bertanya, kenapa kamu berubah?” Arman menjelaskan sekenanya dan sejujurnya.


“Karena kau telah mengharapkan hal-hal yang tak pasti dari


perempuan yang juga tak pasti itu!” Nada hati sama sekali tidak turun, tetap


tinggi dan membuat Arman semakin kikuk.


“Bukankah, waktu itu kamu telah menyuruhku untuk


menikahinya?” Arman bingung lantaran hatinya telah berkata lain, tidak sama


seperti perkataannya saat ospek kemarin.


“Bahkan hingga saat ini aku tetap menyarankan itu. Tapi tidak


begini caranya, Man! Kau tidak boleh terpuruk hanya karena satu orang


perempuan! Kamu harus bangkit, Man. Sadarlah, di luar sana ada kedua orang


tuamu yang menantikan kesuksesanmu, ada cita-cita yang sedang menunggumu untuk


dijemput, ada banyak orang yang menyayangimu, termasuk aku!” Hati Arman terus


mencerca Arman agar segera bangkit dari keteledorannya itu.


Arman tertunduk lesu. Kali ini ia benar-benar kalap, tidak


bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan hatinya. Padahal biasanya, hatinya


sangat lembut. Kali ini beda, ia menyala-nyala seperti kobaran api yang sangat


sulit dipadamkan. Mencambuk Arman dengan kata-kata pedasnya. Arman tertunduk!


Bersambung...

__ADS_1


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2