
Hidup sendiri di tanah rantau tentu tidak mudah. Yang
namanya sendiri, pasti tidak ada yang mendampingi. Baik keluarga, teman,
sahabat, atau sejenisnya. Seperti yang saat ini sedang menimpa Arman. Ia merasa
sepi di tengah-tengah keramaian. Keluarga di rumah dan sahabat-sahabatnya di
pesantren yang biasanya hadir di setiap suka dan dukanya, kini tidak turut
serta merasakan keluh kesahnya dalam menjalani kehidupan sebagai ‘mahasiswa
culun’.
Pagi itu, adalah hari pertama bagi mahasiswa baru
Universitas Ulul Albab menjalani perkuliahan. Jika biasanya ia mengisi setiap
paginya dengan tidur lantaran sering begadang malam harinya, tidak untuk hari
ini. Ia menjadikan hari pertamanya sebagai hari yang sangat spesial. Ia
berpakaian rapi sebagaimana peraturan kampus, memakai minyak wangi, sangat
necis! Bahkan mungkin jika kedua orang tuanya melihatnya hari ini, mereka akan
terkejut mendapati dirinya memiliki anak setampan Arman.
Hawa dingin Kota Malang kali ini benar-benar ia rasakan. Saat
ia harus melawan air demi bisa tampil setampan dan seharum mungkin, saat
menyusuri area kampus yang belum kotor dengan polusi, saat matahari belum
meninggi dan menyengat siapapun yang berada di bawahnya, ia harus berangkat ke
kelas. Tepat pada jam enam lewat dua puluh menit ia telah sampai di kelas. Ia
mendapat jadwal jam setengah tujuh untuk hari pertamanya.
“Eh, kita sekelas?” Arman terperanjat saat melihat Nisa
masuk ke dalam ruang kelas Arman.
“Loh, iya? Ruang A 303 kan? Matkul Maharah Qiraah? Kelas A, bukan?”
Nisa juga tak kalah heboh mendapati dirinya duduk sekelas dengan Arman.
“Iya, benar!” Arman tertawa. Ia merasa takdir Allah yang
tengah ia jalani teramat lucu untuk dirinya.
“Wah, aku sekelas sama syekh, dong.” Nisa memegang kedua
pipi tembamnya. Ia seakan tak percaya bisa sekelas dengan Arman yang ia anggap
sebagai mahasiswa termahir dalam bidang Bahasa Arab di angkatannya itu.
“Haha. Bisa saja! Nunung di kelas sini juga?” Tanya Arman
bermaksud memastikan bahwa ada orang lain yang telah ia kenal selain Nisa.
Sayangnya Nisa malah menjawab sebaliknya dan berkata, “Enggak, mas. Dia di
kelas F.”
“Wah, sayang ya. Kalau temanmu yang satunya itu?” Arman
kembali bertanya, tapi kali ini beda. Rasa berharapnya lebih tinggi. Ia
berharap agar Nisa mengiyakan bahwa Naila juga satu kelas dengannya. Tapi
nahas, ternyata Nisa menyebutkan abjad lain untuk kelas Naila, kelas E.
Dari hasil placement test kemarin, Arman ditakdirkan tidak
satu kelas dengan Naila. Ia sedikit merasa sedih lantaran takdir sedang tidak
berpihak kepadanya. Padahal jauh sebelum hari ini ia telah tahu bahwa; jika
sebuah doa tidak terkabulkan hari ini, maka akan terkabulkan esok atau lusa
atau tulat atau tubin atau hari-hari berikutnya. Toh jika tetap tidak
terkabulkan, maka Allah akan menggantinya dengan cara yang lebih baik dan layak
untuk si pemohon.
Jika memang benar demikian adanya, apakah Naila bukan
jodohnya lantaran takdir tidak memberikan isyarat untuk itu? Coba pikirkan,
sejak awal saja tidak ada jalan bagi Arman untuk berkenalan dengan Naila. Atau
jangan-jangan, Nisalah yang justru akan menjadi jodoh Arman karena hanya dialah
-dari ketiga perempuan yang telah ia kenal itu- yang ternyata satu kelas?
Oh tidak, Arman! Kau tak perlu mendahului takdir. Kau hanya
perlu berdoa dan berusaha, selebihnya biarkan Allah yang mengatur jalannya. Toh
pada kenyataannya, ini masih semester satu. Masih terlalu muda untuk memikirkan
hal sesakral pernikahan. Masih ada tujuh semester lagi setelah ini.
Perjalananmu masih panjang. Pikirkan cita-citamu dan biarkan alam semesta
menggiring Naila agar berkenan untuk hinggap di hatimu!
Secepat jam menunjukkan pukul setengah tujuh pas, secepat
itu pula teman-teman sekelasnya tiba dan memenuhi kelasnya. Yang laki-laki
bergerombol dengan teman-teman yang laki-laki, saling berjabat dan mengenalkan
dirinya masing-masing. Tak terkecuali dengan Arman, ia juga memperkenalkan
dirinya dan bangga dikala menyebutkan bahwa dirinya adalah jebolan pesantren.
Begitupun dengan yang perempuan. Sambil menunggu dosen
datang, mereka saling berkenalan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum adam.
Bedanya, suara mereka lebih nyaring dari pada suara gerombolan laki-laki. Bukan
hanya karena suara perempuan memang diciptakan seperti itu, tapi jumlah mereka lebih
banyak dari pada jumlah laki-laki di kelas itu; satu banding dua!
Benar ternyata, di kelas itu bukan Arman saja yang jebolan
pesantren. Sesuai dengan dugaannya semalam, ia akan satu kelas dengan
orang-orang yang mayoritas adalah jebolan pesantren-pesantren ternama di
Indonesia. Di situlah titik kebahagiaan bagi Arman, saat ia bisa saling
bertukar pengalaman, mendapat ilmu baru dari teman yang sepantar dengannya, dan
tentunya bisa menjadi titik terang bagi Bahasa Arab yang pernah ia pelajari.
Fadil, Rean, Dana, Hanif, Nur, Rahman, Afdal, Asror,
Mubarok, dan Jalal. Itu lah nama-nama teman sekelas Arman yang laki-laki. Untuk
yang perempuan ia belum hafal satu per satu. Tapi yang jelas, -sekali lagi- dua
puluh lima orang yang ada di kelas itu adalah jebolan pesantren ternama. Hanya
beberapa yang nama pesantrennya masih terkesan asing di telinga Arman. Secepat
__ADS_1
mereka berkenalan, secepat itu pula mereka saling menghafal nama satu dan yang
lain.
Jika kalian ingin membayangkan suasana kelas Arman pagi itu,
bayangkan saja pasar yang penuh dengan pembeli dan penjual yang sibuk
menawarkan barang dagangannya sembari menyebutkan satu per satu harganya. Ya,
seperti itu. Yang ini jauh berbeda dari apa yang sempat Arman pikirkan; kelas
tertinggi pasti akan diisi dengan anak-anak yang kalem. Biasanya begitu!
Tapi kenyataan berkata lain, ternyata teman sekelasnya mudah
akrab antar satu dan yang lain. Dari kaum hawa, ada satu orang yang
menggilirkan kertas ke gerombolan kaum adam. Ia meminta nomor WhatsApp
masing-masing orang yang ada di kelas itu, bermaksud untuk membuat grup obrolan
untuk kelas mereka satu semester ke depan.
Sejurus kemudian, ada notifikasi di handphone para
manusia yang kini sedang berada di dalam satu ruangan itu. SA Afifah telah
membuat grup “Sastra Arab A-lim-“, dan SA Afifah menambahkan Anda,
dua notifikasi itu terpampang jelas di handphone Arman. Kalau kalian
bertanya-tanya kenapa ada kontak Afifah di handphone Arman, maka
jawabannya adalah begini;
Sekitar setengah bulan sebelum perkuliahan dimulai, ada grup
obrolan yang beranggotakan semua mahasiswa baru Jurusan Sastra Arab. Enam puluh
persen dari total keseluruhan, telah Arman simpan kontaknya. Untuk
menyeragamkan, Arman menambahkan SA di setiap awal nama sebagai singkatan dari
‘Sastra Arab’. Nah, kebetulan Afifah adalah salah satu dari sekian anak yang
disimpan nomornya, dan kebetulan juga saat ini mereka juga satu kelas.
Sayangnya, menyimpan kontak tak selalu berarti mengenal si pemilik kontak.
Tiba-tiba dosen untuk matakuliah pertamanya datang, lalu
beliau mengucapkan salam, lalu salamnya dijawab oleh semua mahasiswa yang ada
di kelas itu, lalu beliau duduk dan melemparkan senyum kepada semua orang yang
ada di hadapannya. “Hal ‘araftum ismi? Apakah kalian sudah tahu nama
saya?” Dosen itu menanyakan sebuah pertanyaan yang tentu semua mahasiswa di
ruangan itu tidak akan mengiyakan.
“Perkenalkan, nama saya Syamsul Maarif, dosen Maharah Qiraah
di kelas A.” Beliau memperkenalkan diri di hadapan teman-teman sekelas Arman,
dan Arman juga tentunya. Beliau berdiri tegap, perutnya sedikit buncit,
tangannya beliau masukkan ke dalam saku celananya.
“Maaf, karena saya telah bebuat zalim kepada kalian. Saya
telat masuk kelas, membuat kalian sedikit rugi membayar UKT mahal-mahal.”
Perkataannya memunculkan dua puluh lima senyuman di dua puluh lima wajah
berbeda. Ada yang sampai menampakkan giginya, tapi juga banyak yang tidak.
menzalimi kalian seperti ini. Saya punya anak yang harus saya antarkan ke
sekolahnya dulu, dia bayar SPP setiap bulannya, dan tentu saya tidak ingin rugi
dengan cara membuat anak saya telat berangkat ke sekolah. Kalau kalian, ya
terserah kalian. Toh yang membayar UKT kalian bukan saya!” Sontak perkataan
beliau itu mengundang gelak tawa seisi ruangan. Sebagian ada yang bertepuk
tangan, lalu diikuti oleh yang lainnya.
Demikianlah dan perkuliahan pada hari pertama, dirasa
berjalan lancar oleh Arman dan teman-teman sekelasnya. Sangat berkesan, bertemu
dan berkenalan dengan teman-teman yang ‘pakar-pakar’ dan dosen-dosen lulusan
Timur Tengah. Hari itu Arman harus banyak-banyak bersyukur sebab merasa tak
salah kelas, bahkan tak salah jurusan.
***
Di lain tempat, kedua orang tua Arman –yang kini sangat
pantas disebut sebagai ‘orang tua’- sibuk mengajar. Ayahnya, Pak Umar mengajar
di salah satu SMA negeri di kecamatannya. Ibunya, Bu Uswatun juga mengajar,
tapi di SD swasta. Mereka berdua sedang berusaha mendidik generasi bangsa agar
menjadi bibit yang unggul, yang bisa diandalkan oleh masyarakatnya.
“Alhamdulillah, anak saya hari ini mulai berkuliah.” Kata
Pak Umar kepada rekan kerjanya di kantor sekolah.
“Wah, selamat ya, pak!” Kata lelaki yang memakai dasi
berwarna gelap, sulit dideskripsikan.
“Wah, jurusan apa, pak?” Kata satunya lagi.
“Wah, kuliah dimana, pak?” Dan kata satunya lagi.
Pak Umar menjawab satu per satu pertanyaan itu. Beliau memang
selalu disegani oleh rekan kerjanya. Umurnya yang telah mendekati usia pensiun,
membuat rekan kerjanya menganggapnya sebagai orang tua di kantor itu. Termasuk
juga si kepala sekolah yang secara usia lebih muda dari pada Pak Umar. Motivasi
beliau selalu ditunggu-tunggu setiap harinya; mulai dari soal perjodohan,
ekonomi keluarga, hingga masalah sepele yang seharusnya bisa dihadapi oleh
setiap guru. Apa lagi kalau bukan soal murid nakal?
***
Di kelas empat tempat Bu Uswatun mengajar, beliau berdiri di
samping papan, di depan murid-muridnya. Beliau bukan tipe guru yang galak,
sebab beliau tahu bahwa manusia-manusia yang sedang duduk menatapnya dari arah
depan itu bukan anaknya sendiri. Di sini, beliau hanya berposisi sebagai
pengabdi masyarakat dan bangsa dan juga negara.
“Kalian tahu anak bu guru yang namanya Kak Arman?” Tanya Bu
__ADS_1
Uswatun kepada murid-muridnya yang notabenenya adalah anak-anak tetangganya
sendiri.
“Iya, bu.” Semua murid yang berada di kelas itu mengiyakan,
hampir saja bersamaan.
“Dia sekarang kuliah di Malang. Jurusan Sastra Arab.” Kata
Bu Uswatun, lagi, dengan nada menggebu-gebu.
“Wah, pintar Bahasa Arab dong, bu?” Tanya salah seorang
siswi di kelas itu.
“Pastinya dong. Nah, kalian kan juga anak-anak bu guru, jadi
kalian harus pintar seperti Kak Arman, agar kedua orang tua kalian bangga
kepada kalian, dan tidak menyesal memiliki anak seperti kalian!” Ujar Bu
Uswatun, masih dengan nada menggebu-gebu. Beliau mendapat banyak senyuman atas
motivasinya itu.
***
Arman kembali duduk di balkon asrama. Kali ini bukan
gemintang yang dinikmatinya, tapi semburat jingga senja yang sangat indah
dengan matahari yang tampak bulat sempurna. Burung-burung berkeliaran, mencari
apa yang bisa ia cari. Mahasantri bejibun, keluar masuk dari asrama tempat
Arman tinggal. Jam setengah lima sore seperti saat ini adalah jam makan mereka
yang tidak terbiasa makan malam.
Bersama itu pula, Arman tersadar bahwa ia belum menyimpan
kontak Naila, begitupun sebaliknya. Arman menghidupkan handphone-nya
lalu bergegas mencari grup obrolan Sastra Arab angkatannya. Ada banyak kontak
yang belum sempat ia simpan, salah satunya milik Naila. Ia mencari nomor yang
diduga milik Naila, tentu saja ia menemukan sebuah nomor bernama ‘Izzat
al-Maula’ dengan dua lambang ‘love’ berwarna merah jambu di belakangnya.
Sedetik setelah itu, ia menekan nomor itu lalu menyimpannya
langsung. ‘SA Naila’, begitu Arman menyimpannya. Sengaja tidak dibuat berbeda,
khawatir timbul kecurigaan di kalangan teman-temannya. Sebuah kebahagiaan
tersendiri bagi Arman yang telah berhasil menemukan nomor Naila dengan usahanya
sendiri.
Naila memang sosok yang indah, sulit dideskripsikan. Ada berjuta
bunga yang mengisi hati Arman saat melihatnya, meski baru tiga kali; sebelum
ospek, ketika ospek, dan saat placement test kemarin. Mendapati dirinya
tidak satu kelas dengan perempuan yang berhasil mencuri hatinya itu, ia
terpuruk lunglai.
“Arman!” Hati Arman kembali muncul menyapanya, Arman tahu
bahwa hatinya akan menasihatinya lagi. Tentu saja, Arman tidak menghiraukannya
dan membiarkannya berbicara panjang lebar dulu dan akan Arman jawab setelahnya,
“Jujur, aku sedih melihatmu! Kau bukan Arman yang dulu; yang aktif menguatkan
aku sebagai hatinya.”
Hatinya membentak dirinya, aneh. Biasanya, dia yang mewek
terlebih dahulu saat sedang berdebat dengan Arman. Kenapa tiba-tiba ia muncul
dan memasang wajah seram, membuat niat Arman untuk menjawabnya semakin menciut?
Kenapa tiba-tiba dia marah? Apa salah Arman kepadanya? Arman masih
bertanya-tanya tentang apa yang terjadi antara dirinya dan hatinya.
“Kau berubah, Arman! Makanya, aku juga harus berubah agar
kau tak terlarut dalam kenyamananmu itu!” Sekali lagi, hati Arman benar-benar
membentak Arman. Ia telah membuat Arman terperanjat. Lidahnya kelu, tidak bisa
mengucapkan satu kata pun.
Arman bingung memikirkan kata apa yang pantas untuk ia
ucapkan kepada hatinya, hingga kata-kata itu benar-benar muncul dari mulutnya, “Tapi
hati..”
Belum selesai berbicara, hati Arman membungkam mulut Arman
agar tak melanjutkan perkataanya. Sejurus kemudian, ia berkata kepada Arman, “Jelaskan
hubunganmu dengan Naila!”
“Naila bukan siapa-siapaku, hati! Naila hanya teman
sejurusanku dan aku belum mengenalnya hingga detik ini. Sekarang giliranku
bertanya, kenapa kamu berubah?” Arman menjelaskan sekenanya dan sejujurnya.
“Karena kau telah mengharapkan hal-hal yang tak pasti dari
perempuan yang juga tak pasti itu!” Nada hati sama sekali tidak turun, tetap
tinggi dan membuat Arman semakin kikuk.
“Bukankah, waktu itu kamu telah menyuruhku untuk
menikahinya?” Arman bingung lantaran hatinya telah berkata lain, tidak sama
seperti perkataannya saat ospek kemarin.
“Bahkan hingga saat ini aku tetap menyarankan itu. Tapi tidak
begini caranya, Man! Kau tidak boleh terpuruk hanya karena satu orang
perempuan! Kamu harus bangkit, Man. Sadarlah, di luar sana ada kedua orang
tuamu yang menantikan kesuksesanmu, ada cita-cita yang sedang menunggumu untuk
dijemput, ada banyak orang yang menyayangimu, termasuk aku!” Hati Arman terus
mencerca Arman agar segera bangkit dari keteledorannya itu.
Arman tertunduk lesu. Kali ini ia benar-benar kalap, tidak
bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan hatinya. Padahal biasanya, hatinya
sangat lembut. Kali ini beda, ia menyala-nyala seperti kobaran api yang sangat
sulit dipadamkan. Mencambuk Arman dengan kata-kata pedasnya. Arman tertunduk!
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on Instagram!