Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Kerjasama 3


__ADS_3

Chaca memilih pulang ke Apartemen nya. Hari ini hatinya benar-benar kacau. Reynand, pria itu benar-benar membuat Chaca muak. Apa yang sebenarnya Reynand inginkan darinya? Dia mengatakan jika dia bukan Raka. Dia tidak suka di bandingkan dengan Raka. Tapi sekarang dengan lancang dia mencium Chaca. Bahkan dia kembali mengingatkan sesuatu yang berhubungan dengan Raka.


Chaca melempar tasnya ke sembarang tempat. Dia masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dia menangis bahkan sesekali dia berteriak. Sekilas kenangan dengan Raka muncul di ingatan nya. Saat pertama kali mereka bertemu, Raka yang selalu menolongnya. Bahkan Chaca ingat saat pertama kali mereka berciuman. Itu adalah kenangan terindah yang dia miliki. Raka selalu menjaganya, menghiburnya dengan mengajaknya ke tempat yang indah seperti pantai, bahkan mereka menginap di Villa Raka. Ingin rasanya Chaca kembali ke masa-masa itu.


"Kak Raka!!! Hiks hiks... Chaca kangen kak!! Chaca ingin ikut kakak!!"


"Maafin Chaca yang gak bisa menepati janji ke Kakak. Chaca tidak bisa berpaling dari Kakak. Chaca gak bisa jalani hidup tanpa Kakak. Maaf."


Cukup lama Chaca berada di kamar mandi. Dia mencoba menyegarkan pikirannya dengan berdiam diri di bawah guyuran shower. Dan tak berapa lama, Chaca keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Setelah ini dia harus kembali ke perusahaan karena ini masih jam kerja dan dia malah pulang ke apartemen. Jika Maya tahu pasti dia sudah mendengar ceramah dadakan dari wanita itu. Tapi, mungkin dengan berbagi cerita dengan Maya, Chaca akan merasa lebih tenang. Maya punya saran yang bisa membuat dia sedikit lebih tenang.


Chaca sudah rapi dengan menggunakan blazer dan celana panjang. Dia mengoleskan sedikit make up di wajahnya dan tidak lupa menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang merah akibat terlalu lama menangis. Dia juga sudah menyiapkan jawaban jika nanti ada yang bertanya padanya.


Hujan sudah reda. Chaca berangkat ke perusahaan dengan taksi. Dia menatap keluar jendela dan melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Langit juga masih mendung. Apa akan turun hujan lagi? Hah... Langit bahkan tahu apa yang Chaca rasakan.


Taksi berhenti di depan perusahaan Chaca. Gadis itu turun dan berlari masuk ke perusahaan karena lagi-lagi hujan turun.


Dia langsung menuju ke ruangannya dan mengerjakan pekerjaannya. Sepertinya Maya dan Zion belum kembali. Karena berkas-berkas yang dia tinggal saat ke perusahaan Reynand tadi masih terlihat utuh.


Chaca menghela nafas panjang dan mulai berkutat dengan laptop dan kertas-kertas di mejanya.


Tok Tok Tok


"Masuk!!" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.


"Cha."


Deg

__ADS_1


*****


Sementara itu, Andhika mengendarai mobilnya menuju perusahaan RM Company. Dia bermaksud menjalin kerjasama dengan perusahaan Reynand agar lebih mudah mencari tahu tentang Reynand dari dekat.


Dia sudah menyuruh orang-orang nya untuk mencari informasi tentang Reynand, tapi hasilnya sangat tidak memuaskan. Mereka bilang Reynand tinggal di New York sejak kecil dan hidup dengan pamannya. Dia membangun perusahaan pertama nya di sana dan lama kelamaan dia membangun cabang di berbagai negara. salah satunya di sini. Informasi yang di berikan sama sekali tidak berkaitan dengan Raka. Tapi Andhika tidak percaya begitu saja. Mungkin Reynand bisa menipu orang lain, tapi tidak dengan dirinya.


Bagaimanapun mereka sudah saling mengenal sejak lama. Bahkan Andhika tahu seperti apa sahabat nya itu. Karena itu, Andhika akan melihat secara dekat, apakah Reynand adalah Raka atau bukan.


Andhika sampai di perusahaan RM Company. Dia memberikan kunci pada penjaga untuk di parkirkan. Setelahnya dia pergi ke bagian resepsionis untuk menanyakan keberadaan Reynand dan memberitahu maksud dari kedatangannya.


"Mohon tunggu sebentar tuan!!" Resepsionis tersebut menghubungi seseorang dan Andhika yakin itu adalah Reynand.


"Baik Tuan." Resepsionis menutup sambungan telepon dan berkata pada Andhika jika Reynand bersedia bertemu dengan nya.


Tidak mau menunggu lama, Andhika bergegas ke ruangan Reynand setelah mendapatkan informasi letak ruangan Presdir RM Company tersebut.


Tok Tok Tok


"Masuk!!" seru Reynand dari dalam ruangan nya.


Andhika membuka pintu perlahan dan menyapa si pemilik perusahaan.


"Selamat Siang Tuan Rey. Maaf mengganggu anda." seru Andhika


"Tidak apa-apa Tuan Dhika. Silahkan duduk!!"


"Terimakasih." Andhika duduk di kursi depan meja Reynand. Dia melihat rambut Reynand yang basah. Apa dia baru saja mandi? pikir Andhika

__ADS_1


"Jadi, ada yang bisa saya bantu, Tuan Andhika?"


"Begini Tuan Rey, maksud kedatangan saya kemari adalah untuk mengajukan permohonan kerjasama dengan perusahaan Anda." terang Andhika. Dia menyerahkan proposal pada Reynand dan Pria itu terlihat serius memeriksa proposal milik Andhika. "Ok.. Saya terima kerjasama ini." seru Reynand.


"Terimakasih Tuan Rey."


"Tapi sebelum itu, apakah saya boleh bertanya? Kenapa perusahaan besar seperti WJ Company mau bekerjasama dengan perusahaan kecil milikku ini? Jika anda mau, anda bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan lain yang lebih besar dari perusahaan saya."


Andhika tersenyum dan berkata, " Perusahaan WJ Company memang perusahaan besar. Dan itu adalah perusahaan milik Kakek saya. Jika saat ini perusahaan itu masih di pegang oleh Kakek atau Ayah saya, Mungkin mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang anda katakan tadi. Tapi sekarang justru saya yang di percaya untuk memegang perusahaan itu. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, saya masih belajar. Jika anda merasa perusahaan anda adalah perusahaan kecil, jadi tidak ada salahnya jika aku menjalin kerjasama dengan anda bukan." terang Andhika.


Reynand hanya tersenyum tipis. Dia tidak menyangka Andhika akan memberi jawaban yang begitu detail. Pria itu terlalu merendah. Pikir Reynand.


"Baiklah, Kita langsung saja membahas kerjasama kita. Walau saya sudah mempelajari proposal anda, tapi saya ingin mendengar langsung proyek yang anda tawarkan." seru Reynand.


"Baiklah." Andhika mulai menjelaskan proyek kerjasama yang dia tawarkan pada Reynand. Tapi di tengah-tengah pembahasan, ponsel Reynand berbunyi.


"Maaf." ucapnya pada Andhika. Dia mengerutkan keningnya saat mendapat panggilan telepon dari anak buahnya. Dia menggeser tombol warna hijau dan menempelkan ponsel di telinganya.


"Ada apa?" tanya Reynand.


"......."


Reynand melebarkan matanya. Dia segera mematikan ponselnya dan pergi begitu saja.


Andhika terlihat bingung. Tapi dia memutuskan untuk mengikuti Reynand. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Reynand terlihat panik setelah menerima panggilan telepon? pikirnya.


Andhika mengikuti mobil Reynand dari belakang. Sungguh dia penasaran. Apalagi Reynand mengendarai mobilnya begitu cepat. Sepertinya telah terjadi sesuatu.

__ADS_1


Mobil Reynand terparkir sempurna di depan Bar. Pria itu terlihat keluar dari mobil dan masuk dengan tergesa-gesa. Tidak ingin tertinggal, Andhika juga melakukan hal yang sama. Tapi sesampainya di dalam. Dia justru di kejutkan dengan pemandangan yang membuatnya geram.


__ADS_2