
Kini Chaca dan Rey berada di ruang makan. Dan, Wow... Banyak sekali makanan yang tersaji di meja. Apa ada orang lain selain mereka yang akan ikut makan? tapi yang Chaca lihat hanya ada mereka berdua di sana. Bukankah ini namanya pemborosan? kenapa dia tidak menyiapkan makanan yang cukup untuk mereka saja? Ya, Chaca akui kebanyakan orang kaya memang seperti itu. Boros.
Baiklah lupakan tentang makanan!! Sekarang yang harus Chaca perhatian adalah Reynand. Dia terlihat makan dengan tenang. Tapi.....
"Kenapa kau diam saja? kau tidak suka makanan nya?" tanya Reynand.
"Aku suka. Sangat suka." Chaca mengambil makanan kesukaannya. Seafood. Entah sudah berapa lama Chaca tidak memakannya. Terakhir dia makan seafood sebelum tahu Raka punya alergi terhadap seafood. Dan sekarang di depannya banyak sekali jenis makanan dari seafood.
Chaca makan dengan perlahan. Sesekali dia memperhatikan Reynand. Kenapa dia tidak mengambil salah satu seafood di meja? Apa dia tidak menyukainya? atau dia alergi?
Memikirkan hal itu entah kenapa jantung Chaca semakin berdebar. Benarkah Rey alergi seafood? apa mungkin dia.....
"Ada apa denganmu?" tanya Rey.
"Kau tidak makan seafood? apa kau tidak menyukainya? atau kau punya alergi?" tanya Chaca.
Rey terdiam. Dia meletakkan peralatan makannya dan menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Ya, aku hanya ingin tahu saja. Kau menyiapkan makanan begitu banyak. Terutama seafood. Tapi kau sama sekali tidak mencicipi nya."
"Aku tidak menyukai seafood. Aku merasa seafood sangat..." Rey menunjukkan ekspresi seperti jijik.
"Seafood itu enak untuk orang yang menyukainya." sanggah Chaca.
"Aku tahu. Tadi kau bertanya padaku kan? Aku tidak menyukainya. Membayangkan mereka menggeliat membuat ku tidak menyukai apapun jenis seafood. Terutama cumi-cumi."
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Ada apa? kau tidak percaya?"
Chaca terdiam. Apa dia terlalu berlebihan? Tapi entah kenapa dia tidak percaya dengan ucapan Rey. "Maaf, sepertinya aku terlalu berlebihan. Kak Raka juga tidak menyukai Seafood jadi....
"Apa kau sedang membandingkanku dengan nya?" Rey menatap Chaca intens. Dia tidak suka di bandingkan dengan orang lain. Ini adalah dirinya yang sekarang. Kenapa harus ada orang yang masih terikat dengan masa lalu jika masa depan lebih indah.
Rey pergi meninggalkan meja makan. Dia ingin marah, tapi dia tidak berhak melakukan hal itu. lagipula itu bukan urusannya. Dia tahu jika Chaca masih belum bisa melupakan Raka.
Sedangkan Chaca, dia mencerna ucapan Rey. Sepertinya dia sudah keterlaluan. Tidak seharusnya dia menyebut nama Raka lagi. Pasti Rey tersinggung dengan ucapannya. Apa itu artinya dia sudah salah selama ini? Dia bukan Raka.
Chaca memutuskan untuk mengejar Reynand. Dia harus minta maaf.
"Tuan Rey!! tunggu sebentar !!" seru Chaca.
Rey berhenti dan berbalik. "Ada apa Nona?"
Reynand mendekati Chaca, terus mendekat hingga mau tidak mau Chaca mundur karena Reynand terlalu dekat. Tapi sayangnya dia tidak bisa lagi mundur karena terpojok di dinding.
Reynand mendekatkan wajah. Sungguh jantung Chaca rasanya mau meledak. Bahkan hembusan nafas beraroma mint milik Rey begitu terasa di wajah Chaca.
"Aku tahu wajahku ini mirip dengan kekasihmu yang sudah tiada. Tapi aku Reynand, nona Chaca. Reynand Abrism Maheer. Aku bisa terima saat kau menganggapku Raka. Tapi aku tidak terima jika kau membandingkan ku dengannya. Bahkan aku rela menjadi Raka untuk mu malam itu." Rey menatap bibir seksi Chaca. Dia menelan salivanya kasar dan berkata, "Aku tidak keberatan untuk melakukannya lagi."
"A_apa? melakukan apa?" tanya Chaca gugup.
"Kau tidak ingat?" Rey melihat Chaca yang menggelengkan kepalanya. Sungguh sangat menggemaskan. Apalagi gadis itu terlihat gugup sekarang.
"Haruskah aku membantumu mengingatnya?" Rey mendekatkan wajahnya. Bahkan bibir mereka nyaris bertemu. Tapi Chaca segera mendorong pria itu dan kembali ke ruang makan.
__ADS_1
Sungguh, Chaca tidak sanggup. Tadi itu, apa Rey ingin menciumnya? apa yang sebenarnya terjadi malam itu? apa dia dan Rey..... Tidak!!! itu tidak mungkin. Chaca memegang dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Dia menghela nafas panjang untuk menetralkan jantungnya. Bahkan kedua tangannya bergetar hebat. Oh My God...
Hug
Chaca terlonjak saat merasakan tangan kekar memeluknya dari belakang. Jantungnya kehilangan kendali. Apalagi saat pria itu menopang dagunya di bahu Chaca. Hembusan nafasnya begitu terasa di leher Chaca, membuatnya meremang.
"Kenapa kau menghindar? Aku tidak keberatan menjadi Raka mu malam ini." seru Rey.
"Ma_maaf Tuan Rey. A_aku minta maaf. Tapi sampai kapanpun, kau tidak akan bisa menjadi Kak Raka untuk ku."
"Benarkah?" Rey membalikkan tubuh Chaca agar berhadapan dengan nya. "apa itu artinya kau percaya jika aku bukan Raka?"
Chaca diam menatap kedua mata Reynand. Dia ingin percaya tapi hatinya selalu berkata lain. Apa karena dia tidak bisa melupakan Raka?
"Kenapa kau diam? kau tidak percaya bukan?" Rey melirik makanan di meja. Dia mengambil udang goreng dan memakannya. Chaca sempat terkejut, Dia ingin menghentikan Reynand karena takut Rey akan kesakitan. Tapi sejenak dia sadar jika yang sekarang berada di depan nya bukanlah Raka.
"Sekarang kau percaya jika aku bukan Raka bukan? lihat!! bahkan aku rela makan makanan yang tidak aku suka demi menunjukkan padamu jika aku bukan kekasihmu, jadi apa ada hadiah untuk ku? aku tidak keberatan walau hanya kecupan." Lagi-lagi Rey mendekatkan wajahnya, tapi dengan cepat Chaca menghindar.
"Ini sudah malam. Aku istirahat dulu. Permisi!!" Chaca meninggalkan Rey sendiri. Hatinya sakit karena mendapatkan kenyataan jika pria itu bukan Raka. Ya, sejak awal harus nya dia tahu itu tidak mungkin. Raka sudah lama pergi. Bahkan dia begitu tega pergi di depan matanya.
Chaca masuk ke kamar yang tadi dia tempati dan menguncinya. Dia menangis sejadi-jadinya. Biarlah dia menangis sebentar. Sebentar saja.
Sedang Rey, dia berlari ke kamar nya dan juga mengunci pintunya. Dia membuka tas kerjanya. Bahkan karena tergesa-gesa, dia mengeluarkan semua isi tasnya hingga berkas-berkas miliknya berserakan. Tapi sepertinya apa yang dia cari tidak ketemu. Rey memegang dadanya yang terasa sakit. Dia membuka laci dan mengeluarkan semuanya isinya hingga dia menemukan barang yang dia cari. Sebuah botol obat. Tak tanggung-tanggung, dia mengeluarkan beberapa butir dan menelannya sekaligus.
Rey merosotkan tubuhnya dan bersandar pada sisi tempat tidur. Dia menghela nafas perlahan dan sakit di dadanya berangsur membaik. Bahkan wajahnya yang tadinya memerah kini sudah mulai pulih perlahan.
"Maafin Kakak, Cha!! Maaf!!!" Rey tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis karena tidak bisa berkata jujur pada Chaca dan malah menyakitinya. Semua itu berawal dari pertemuan nya dengan Arkan.
__ADS_1