
Plak
"Akh....!!!"Calista tersungkur setelah mendapatkan tamparan keras dari Reynand.Pria itu membungkuk dan mencengkeram pipi Calista dengan erat sampai-sampai wanita itu merintih kesakitan.
"Apa kau tahu kesalahan mu,hah?"Reynand menatap tajam Calista.Dia paling tidak suka disentuh tanpa seijinnya.
"Ma_maafkan aku,Tuan.A_aku tidak sengaja.Sungguh."ucapnya ketakutan.Dia mencoba meyakinkan Reynand karena dia tidak ingin pria itu murka.Sungguh bodoh karena dia berani mencium bos nya itu.
"Harusnya kau tahu Calista,aku paling tidak suka di sentuh tanpa seijinku.Tubuhku dan hatiku sudah ada pemiliknya.Dan kau hanyalah bawahanku.Harusnya kau mengerti batasan mu."tatapan Reynand begitu mengerikan.Sampai-sampai Calista gemetar ketakutan.Harusnya wanita itu tahu seringai bosnya.Tapi dengan berani dia mengambil inisiatif mencium pipi pria itu.
"Ma_maaf Bos."
Reynand melepas cengkeramannya dengan kasar dan menegakkan tubuhnya."Aku memberimu kesempatan.Jika kau mengulanginya lagi,aku tidak akan segan untuk melenyapkan mu.Sekarang enyahlah dari hadapan ku!!"
"Te_terimakasih Bos."Calista berdiri dan langsung keluar dari ruangan Reynand.Dia beruntung karena lolos dari maut.Harusnya dia tidak melebihi batas.Walaupun sebenarnya dia menaruh hati pada bosnya itu.Tapi Calista lebih sayang dengan nyawanya dan dia berharap tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Siapa yang tidak menginginkan Reynand?pria tampan dan kaya dengan postur tubuh yang atletis.Dia bahkan menjadi pemimpin mafia Black blood generasi kedua setelah pemimpin pertama meninggal.
Tidak ada yang tahu identitas Reynand karena dia menyembunyikan dengan rapi.Dia dikenal dengan sebutan Angel of Death di dunia bawah karena dia tidak akan segan membunuh musuhnya dengan sadis.Bahkan mafia Tiger berhasil dia musnahkan tanpa tersisa.
Reynand mengusap wajahnya kasar.Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku ingin kau terus mengawasinya!!jangan sampai lengah."ucapnya pada seseorang di seberang sana.
Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya,Reynand memutuskan sambungan telepon dan membanting ponselnya begitu saja.
Brakh
Prang
"Arrgh...!!!!"teriaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di lobby, Chaca tengah menggerutu karena Zion tidak juga kembali.Pria itu membuatnya kesal karena meninggalkan nya sendiri di kandang singa.
Ya, baginya Reynand adalah singa.Tatapan mata pria itu sangat tajam seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Kak Zi mana sih?katanya cuma sebentar."Chaca menghentakkan kakinya kesal.Ekspresi gadis itu sungguh menggemaskan di mata para karyawan yang melihatnya.Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani menyapa Chaca karena mereka harus bekerja.Jika sampai bos mereka tahu,maka habislah mereka.
__ADS_1
"Cha..!!!"
Chaca menoleh ke asal suara yang memanggilnya.Zion terlihat buru-buru menghampirinya.Tapi Chaca sudah terlanjur kesal.Dia berkacak pinggang dan melotot kearah pria itu.
"Kak Zi kemana aja,hah?kenapa lama sekali?"tanya Chaca kesal.Sudah di tinggal sendiri, sekarang di buat menunggu.Siapa yang tidak kesal?
"A_aku ke toilet."
"Memangnya toiletnya ada di mana?di Amerika? Kenapa kakak gak balik-balik?Kakak tahu,Chaca harus menghadapi Tuan Rey sendirian.Gimana kalau sampai Chaca melakukan kesalahan,hah?"
"Ta_tapi Tuan Rey sudah menandatangani surat perjanjian nya kan?"
"Bukan masalah it....."
Ucapan Chaca tertahan saat mendengar suara ponsel Zion yang berdering.
"Sebentar!!Aku angkat telepon dulu."Lagi-lagi Zion menjauh dari Chaca saat menerima sambungan telepon dari seseorang.Dan hal itu membuat Chaca penasaran.Siapa sebenarnya yang menelepon Zion?.
"Ba..."belum sempat Zion menjawab,sambungan telepon sudah terputus."Ck.. lagi-lagi bertindak seenaknya."gerutu Zion dalam hati.Dia memasukkan ponselnya kedalam saku dan menghampiri Chaca.
"Siapa yang menelepon?"tanya Chaca penasaran.Entah kenapa dia merasa Zion seperti menyembunyikan sesuatu dari nya.
Chaca hanya ber-oh ria.Dia tidak ingin bertanya lebih lanjut karena percuma.Pria itu tidak akan mengaku.
"Ya sudah.Kita kembali ke perusahaan atau ..."
"Ke perusahaan.Ada yang ingin aku bahas dengan Kak Maya."potong Chaca.
Zion mengangguk dan meminta Chaca menunggu karena dia harus mengambil mobil yang diparkir di basemen perusahaan.
Tidak butuh waktu lama,Zion sudah memarkir mobilnya di depan perusahaan dan membuka pintu mobil untuk Chaca.Sekarang mereka akan kembali ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Selama di perjalanan, Chaca terlihat memejamkan mata.Dia lelah?tidak.Dia hanya mencoba menetralkan detak jantungnya saat berada di ruangan yang sama dengan Reynand tadi.
Dia tidak bisa melupakan tatapan tajam pria itu.Tatapan yang sama persis dengan Raka.Hanya saja, Raka memiliki sisi lembut saat bersamanya.Apalagi saat Reynand memegang bahunya, jantung Chaca rasanya mau meledak karena berdetak begitu kencang.Bahkan dia sampai lupa caranya bernafas saat wajah pria itu begitu dekat dengan nya.
Chaca membuka matanya dan menatap keluar jendela.Ini tidak benar.Perasaan ini tidak benar.Reynand sudah mempunyai calon istri.Dan dia dengan lancang menyukai pria itu.Dia tidak ingin di cap sebagai orang ketiga atau perusak hubungan orang lain.Tapi hatinya tidak bisa berbohong.Semakin dekat dengan Reynand,Chaca semakin yakin jika pria itu adalah Raka.
"Kita sudah sampai."
__ADS_1
Ucapan Zion membuyarkan lamunan Chaca.Gadis itu menghela nafas dan turun dari mobil.Saat ini yang dia tuju adalah ruangan Maya.Dia yakin jika sekretaris itu sudah selesai meeting dengan klien.
Tok Tok Tok
"Masuk!!"teriak Maya dari dalam ruangan nya.
Chaca masuk setelah mendapat ijin si empunya.
"Chaca!! Bagaimana?"tanya Maya.
"Sukses."Chaca mengangkat map yang ada di tangannya dan memberikan pada Maya.
"Tuan Rey menambah beberapa poin dan aku menyetujui nya."lanjut Chaca.
Maya memeriksa surat perjanjian itu.Tidak buruk ,Setidaknya poin itu tidak merugikan kedua belah pihak.Pikir Maya.
Chaca duduk di depan Maya dan memejamkan matanya.Hal itu membuat Maya bingung.Ada apa dengan gadis itu?
"Cha,Kau baik-baik saja?"tanya Maya.
"Entahlah kak.Tadi Chaca melihat Reynand bermesraan dengan Calista.Hati Chaca sakit kak.Rasanya Chaca ingin menyerah.Tapi semakin di dekat Reynand,Chaca semakin yakin jika Rey adalah Raka."
"Dari awal aku sudah bilang kan,Ini akan menyakitkan.Tapi kau harus mengikuti kata hati mu.Bagaimanapun kenyataan nya Nanti ,kau harus menerimanya dengan lapang dada."Seru Maya.Dia tahu bagaimana perasaan Chaca.Dan itu tidaklah mudah.Tapi dengan keyakinan yang Chaca miliki dia berharap Chaca tidak menyerah begitu saja.
"Tapi Kak, mereka seperti sengaja melakukannya.Padahal resepsionis sudah mengatakan padanya jika Chaca datang.Tapi sampai di sana dia bersikap seolah tidak ada siapa-siapa selain mereka."gerutu Chaca.
Maya terkekeh dan berkata,"apa kau sedang cemburu?"goda Maya.
Chaca berdecak dan kembali memejamkan matanya.
"Jika kau merasa begitu,kau harus membalasnya."lanjut Maya.
Chaca membuka matanya dan menatap Maya."Membalasnya?"
"Ya.Buat Tuan Rey cemburu."
Chaca terdiam.Cemburu?entah kenapa dia teringat peringatan Rey tentang Roger.Apa itu bisa di sebut cemburu?atau Reynand hanya mengkhawatirkan nya?
"Kenapa kau diam?"tanya Maya.
__ADS_1
"Tidak.Aku hanya sedang berfikir, kira-kira baju apa yang pantas Chaca pakai untuk malam Minggu nanti."seringai Chaca.