
Secepat Arman meninggalkan Zami sendiri, secepat itu pula ia
kembali mengkhawatirkan placement test-nya. Ia mempercepat langkahnya menuju
fakultas, tempat ia akan mengikuti tes penempatan kelas itu. Ia lihat beberapa
teman sejurusannya yang belum ia kenal. Ia bingung, apakah harus sok akrab
seperti yang dilakukan Zami kepadanya atau hanya berdiam diri membiarkan semua
mengalir apa adanya?
Sejurus kemudian, ia memantapkan diri agar tidak melakukan
tindakan konyol seperti yang dilakukan Zami. Semua akan berjalan dengan lancar
saat perkuliahan dimulai besok. Tanpa diminta, semua akan memperkenalkan diri
kepada teman sekelas masing-masing. Termasuk Arman, mahasiswa baru yang di
pesantrennya dulu pernah dijuluki sebagai ‘Snowman’ itu.
“Arman, ya?” Tanya seorang perempuan yang tentu tidak Arman
kenali sebelumnya. Arman kikuk, bingung harus menjawab apa. Ini perempuan
pertama –selain keluarganya- yang berani menyapa Arman sejak masuk pesantren
enam tahun yang lalu. Untungnya perempuan itu melanjutkan perkataan dengan
menyebutkan namanya, “Aku Nisa. Nisa Aulia Febriana. Yang waktu itu pasangin
twibbon di fotomu sebagai persyaratan ospek universitas.”
Oh, Nisa. Jadi ini yang namanya Nisa yang pernah Arman chat secara pribadi untuk meminta bantuan memasangkan twibbon lantaran Arman
tidak mempunyai aplikasi edit foto di handphone-nya. Cukup cantik, pasti
pintar. Arman bisa menebak itu sejak setelah ia me-stalking akun
Instagramnya dan menemukan foto Nisa sedang memegang piala bertuliskan ‘Juara 1
Cerdas-Cermat Putri’.
“Eh, iya. Aku Arman. Ahmad Arman Nasrullah. Terima kasih ya,
untuk twibbonnya.” Arman memasang senyum lebar-lebar. Ia menatap wajah
perempuan itu, seakan sedang meminta harapan agar bisa berteman dengan orang
pintar sepertinya. Darinya juga ia berharap, semoga ke depannya Arman tak lagi
kikuk saat bertemu dan berbicara dan berhadapan langsung dengan perempuan.
“Alumni Pesantren Nurul Abror, nih. Pasti kelas atas lah.”
Nisa yang sedang bersama temannya itu, tertawa kecil sambil menutupi gigi gingsul
yang dimilikinya. Temannya juga begitu, ia ikut tertawa mendengar celetukan
Nisa.
Ya, Arman adalah alumni Pesantren Nurul Abror; salah satu
pesantren ternama di Jawa Timur yang telah mencetak ribuan alumni yang berhasil
menjadi orang terpandang di masyarakat. Kebanyakan jadi kyai dan mendirikan
pesantren di rumahnya masing-masing. Ada juga yang terjun ke dunia
pemerintahan, bahkan juga banyak yang muncul di televisi mengisi kuliah tujuh
menit menjelang Azan Maghrib.
Pesantren Nurul Abror juga terkenal sebagai pesantren yang
menekankan Ilmu Alat (Kaidah Bahasa Arab) dan juga Bahasa Arabnya. Banyak
santri-santri di sana yang pernah menyabet kejuaraan di pelbagai perhelatan
lomba kebahasa-araban atau membaca kitab kuning karya ulama klasik. Maka tidak
heran, jika para alumninya sangat banyak yang melanjutkan pendidikan di
Al-Azhar University, Istanbul University, dan universitas-universitas Timur
Tengah ternama lainnya.
Seperti Arman misalnya, tanpa sepengetahuan kedua orang
tuanya, ia telah mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikannya di King Saud
University,Riyadh, Arab Saudi. Telah memenuhi semua persyaratan dan berkasnya.
Bisa dikata, kurang-lebih delapan puluh persen ia akan resmi menjadi mahasiswa
di sana.
Bayangan tentang umrah setiap bulan, ziarah ke makam
Rasulullah dan para sahabatnya, berjalan-jalan ke laut merah, belanja di
Al-Balad, dan berkunjung ke destinasi lainnya, semua telah tertata rapi di
benaknya. Sayangnya semua harus kandas, sebab yang lebih penting dari semua itu
adalah rida kedua orang tuanya. Tanpa rida mereka berdua, percuma ia belajar
jauh-jauh meninggalkan tanah kelahirannya.
“Hehe. Biasa saja. Masih sama-sama belajar. Kalau ini, siapa
namanya?” Arman mengalihkan pembicaraan. Ia tidak suka dipuji lantaran tak
ingin terbang tinggi kalau akhirnya akan dijatuhkan ke bumi juga.
“Ainur Rohmah, mas. Panggil saja Nunung.” Jawab perempuan
berkacamata yang kini sedang berdiri di samping Nisa itu. Ia juga satu jurusan
dengan Arman dan Nisa, Sastra Arab.
“Kalian sekamar?” Tanya Arman sambil menunjuk ke arah
keduanya.
“Iya. Sebenarnya ada lagi satu yang dari Jurusan Sastra Arab
di kamar. Tapi dia sudah berangkat duluan tadi.” Nisa memperjelas semuanya.
“Ya sudah. Naik, yuk!” Arman pun mengajak mereka berdua
untuk menaiki tangga menuju tempat pelaksanaan placement test itu.
Bersanding, tapi tetap menjaga jarak. Selain menjaga image-nya sebagai
alumi pesantren, Arman juga tahu bahwa kampusnya adalah kampus Islami. Lagian,
mereka bertiga baru saling mengenal lebih jauh.
Selama menuju ruang itu pula, Arman mengetahui bahwa mereka
berasal dari kota yang berbeda. Arman dari Probolinggo, Nisa dari Malang, dan
Nunung dari Surabaya. Saling bertukar alasan kenapa memilih Sastra Arab, dan
dihasilkan satu kesimpulan bahwa ketiganya ternyata sama-sama telah belajar
Bahasa Arab, dan dirasa telah cocok dengan jurusan tertua kedua –setelah
Jurusan Pendidikan Agama Islam- di Universitas Ulul Albab itu.
Hingga akhirnya keduanya tiba di ruang yang sangat megah, Home
Theater Fakultas Adab dan Budaya. Biasanya anak-anak Sastra Arab
__ADS_1
menyebutnya dengan Qoatul Masrahiyah. Ruangan yang didesain memiliki
banyak kursi yang tersusun rapi, dibagi menjadi dua sisi. Dinginnya AC
menjadikan suasana di dalam ruangan itu justru mirip dengan bioskop. Ada lampu
sorot yang menghadap ke arah pentas, di pentas ada beberapa kursi mewah dan
meja dan podium.
“Ar-rijal fii yasaarii wan nisaa’ fii yamiinii. Yang
laki-laki di sisi kiri saya, yang perempuan di sini kanan saya.” Perintah
lelaki berkacamata melalui pengeras suara ruangan yang sangat menggelegar itu.
Pada akhirnya diketahui bahwa beliau adalah kepala jurusan.
Jam telah menunjukkan pukul delapan pas, tapi kepala jurusan
itu menunda untuk memulai tes lantaran mahasiswa yang datang masih sekitar
tujuh puluh lima persen dari total keseluruhan. Selama itu pula, beliau
mengenalkan diri; namanya Ustaz Romli Abdurrahman, S1 di Universitas Ulul Albab
dan S2 di Umm Al-Qura university. Pantas saja kalau beliau diangkat
sebagai kepala jurusan.
Kata beliau, masih menunggu sempurnanya mahasiswa
yang datang, Jurusan Sastra Arab adalah jurusan dengan peminat terbanyak kedua
setelah Jurusan Psikologi di kampus ini. Sontak saja, semua yang hadir di
ruangan itu tepuk tangan dengan meriah. Mereka merasa bahwa mereka adalah dua
ratus orang terbaik yang telah berhasil menjadi mahasiswa terpilih. Semua
tersenyum, termasuk pria yang kerap disapa dengan sebutan Ustaz Romli itu.
Sekitar sepuluh menit berbicara di depan, syahdan Ustaz
Romli itu memulai tes penentuan kelas dengan dibantu sekretarisnya. Semua hati berdebar.
Seandainya telinga bisa mendengar suara-suara hati, pasti ruangan itu akan
terasa riuh sebab gemuruh hati yang saling bersahutan dan terus-terusan. Yang
terbayang di otak setiap individu hanya satu; kelas yang sesuai dengan
kapasitas dirinya.
Tiga puluh menit berlalu dan para mahasiswa belum ada yang
berani mengeluarkan suaranya. Terasa hening, bahkan nyamuk-nyamuk yang biasanya
beterbangan di sekitar telinga juga turut tak berani berkata-kata. Hanya
sesekali ada bunyi bolpoin jatuh, kocokan penghapus bolpoin, dan deham yang
ditahan-tahan.
Selama tiga puluh menit itu, Arman telah selesai mengerjakan
semua soal yang ada di hadapannya. Tidak ada yang tersisa, semua terjawab
sesuai dengan apa yang diketahui oleh Arman. Soal tentang kosakata, pergantian
bentuk bentuk tunggal dan jamak, penyusunan kosakata acak, semua terjawab
dengan baik dan –menurut Arman- sudah benar.
Tiga puluh menit berikutnya, Arman gunakan untuk mengoreksi
kembali jawaban-jawabannya. Ia membaca lagi semua soalnya kemudian ia cocokkan
lagi dengan jawabannya. Dalam waktu setengah jam, ia telah berhasil mengoreksi
pernah dipercaya untuk mengajar Bahasa Arab di pesantrennya dulu. Tapi Arman
tetap tawaduk, berpura-pura tidak tahu tentu lebih baik untuk dirinya dari pada
harus mencongkakkan diri di hadapan teman-temannya.
Sejurus kemudian, Ustaz Romli mengakhiri tes penentuan kelas
hari itu. Arman dengan sigap mengumpulkan lembar jawabannya, pertama dari dua
ratus mahasiswa baru Jurusan Sastra Arab. Bukan karena sombong, tapi lebih
karena faktor kedisiplinannya. Ia berpikir, dengan mengumpulkan secepat mungkin
ia bisa berkontribusi dalam menghormati waktu dosen-dosen yang turut menjaga
ketertiban ruang itu. Toh dia sudah sangat yakin dengan jawabannya sendiri.
Hebatnya Arman, ia juga bisa mengondisikan hatinya agar
tidak meremehkan teman-temannya yang masih mengulur-ulur waktu agar bisa
mengerjakan soal lebih lama. Arman justru tetap tenang, meski sebagian mata
telah melihatnya sinis. Ada saja yang tidak suka saat ia mengumpulkan lembar
jawaban pertama kali. Arman tak peduli itu, semua orang berhak untuk menyukai
dan membencinya.
Oh iya, ada satu orang yang sedari tadi pagi ingin ia temui,
lebih tepatnya ingin ia tatap mukanya demi mengobati rasa rindu yang bersarang
di hatinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Naila yang tempo hari duduk bersamanya
saat ospek hari pertama. Ia menyapu semua perempuan yang berada di ruangan itu
dengan pandangannya, hingga akhirnya kedua matanya tertuju pada seseorang yang
mengenakan kerudung warna merah jambu.
Yeay! Mata Arman berhasil menangkap keberadaan perempuan
yang bernama Naila itu. Yang lebih mengejutkan lagi, ia duduk bersama Nisa dan
Nunung yang baru ia kenal tadi pagi sebelum menuju ke ruangan ini. Mereka
saling mengobrol, seakan telah akrab dan berasal dari satu sekolah. “Ah, kali
saja mereka baru saling mengenal.” Hati Arman menepis semua yang berkelebat di
dalam benaknya.
Rasa rindu di hatinya sedikit terobati sejenak setelah
memandang Naila. Entah apa yang ada di hatinya, hati Arman telah berubah. Hati yang
biasanya biasa saja saat bertemu dengan perempuan, kini justru ada rasa yang
tak biasa sejak sosok Naila hadir di dalam cerita hidupnya. Apakah ini yang
dinamakan cinta?
Secepat semua mahasiswa baru di ruangan itu mengumpulkan lembar
jawabannya, secepat itu pula seisi ruangan itu bubar. Ada yang mendapat kenalan
baru, tapi juga banyak yang masih takut untuk berbuat apa-apa, Arman salah
satunya. Ia tak menyapa siapapun, khawatir akan ada karma yang menimpanya
(pernah mengatakan bahwa Zami sok akrab).
Di luar ruangan yang kira-kira berukuran dua puluh lima kali
__ADS_1
dua puluh meter itu, Arman kembali bertemu Nisa dan Nunung. Kali ini ada Naila
di samping mereka, ia tampak sibuk dengan handphone-nya. Tak menghiraukan
Nisa dan Nunung yang sedang mengobrol dengan Arman. Hati Arman juga, ia merasa
malu jika harus bertanya tentang Naila. Entah, rasanya beda saja dengan situasi
saat berkenalan dengan Nunung tadi pagi.
Hingga akhirnya keempatnya tiba di lantai dasar, mata Arman
masih sesekali mencuri-curi pandang ke arah Naila. Nisa dan Nunung juga tidak
peka, mereka berdua tidak berkeinginan untuk mengenalkan Naila kepada Arman. Mereka
justru lebih memilih membiarkan Naila fokus kepada handphone-nya.
“Eh, aku duluan, ya!” Tiba-tiba Naila berpamit untuk
mendahului Nisa dan Nunung dan Arman yang pasti sedang kecewa lantaran gagal
berkenalan dengan Naila.
Hati Arman berteriak dalam diam. Ia menyesali keterlambatannya
dalam berkenalan. Lemah! Arman malu kepada dirinya sendiri sebab tidak bisa
mengalahkan egonya. Berkali-kali ia mengumpat kepada dirinya yang terkesan
seperti seorang pecundang itu. Aneh saja rasanya, ia biasa-biasa saja saat
menanyakan nama Nunung, tapi justru tidak dengan Naila.
“Iya!” Jawab Nisa dan Nunung nyaris bersamaan.
Entah kemana Naila akan pergi meninggalkan mereka berdua.
Arman malah sangat tidak berhak untuk tahu itu. Suka-suka Naila mau kemana ia
pergi. Nisa dan Nunung tampaknya tidak ingin mengetahuinya juga. Arman merasa
sebagian semangatnya hilang. Jika boleh jatuh dan berlutut saat itu, ia akan melakukannya
tanpa malu. Sayangnya sifat egois di dirinya melarang untuk melakukan itu.
“Mas, kamu pasti masuk kelas tertinggi ya?” Kata Nunung
sambil mendekap buku catatan di dadanya. Entah itu pertanyaan atau bagaimana,
tapi dari nadanya sepertinya itu pertanyaan.
“Entah ya, Nung.” Kata Arman menampakkan senyuman di
wajahnya.
“Ya, pasti lah.” Nisa menimpali, “Alumni Nurul Abror gitu,
loh.”
“Memang, alumni NA. itu banyak yang keren-keren, kecuali
yang tidak keren. Nah, aku masuk dalam pengecualian itu.” Ujar Arman sambil
melambatkan langkahnya menyeimbangi langkah Nisa dan Nunung.
“Halah. Buktinya tadi selesai duluan.” Tepis Nisa membuat
Arman hanya tertawa kecil mendengarnya.
“Tahu gak, mas. Kata temanku yang barusan itu, soal yang
barusan itu sangat sulit. Katanya juga, mas termasuk hebat karena bisa
menaklukkannya dan bisa mengumpulkan pertama.” Perkataan Nunung itu berhasil
membuat Arman terperanjat.
“Oh, ya?” Ujar Arman karena merasa sangat kaget mendengar
pernyataan Nunung barusan.
“Kenapa tiba-tiba salah tingkah begitu?” Nisa menutup
mulutnya. Ia menyembunyikan senyumnya yang terkesan menertawakan Arman itu.
“Oh, enggak. Kaget saja karena aku dibilang hebat. Padahal biasa-biasa
saja. Mana yang bilang belum kenal aku juga.” Arman tertawa terbahak setelah
berhasil mengalihkan fokus Nisa yang sempat berabe itu. Dari perkataannya, ia
juga memancing mereka berdua agar mengenalkan Naila kepadanya.
Tapi usahanya sia-sia. Nisa dan Nunung tampak tak tertarik
untuk membahas Naila. Mereka berdua tertawa dengan sikap Arman. Tidak ada yang
lebih penting bagi Nisa kecuali untuk mengatakan, “Keren dong, belum kenal saja
sudah kesemsem.”
“Semakin ngawur saja omongannya. Sudah ah, aku lapar. Belum sarapan
dari pagi. Aku pergi dulu, ya!” Kata Arman lantas meninggalkan kedunya yang
masih tertawa.
***
Malamnya, Arman tak henti-hentinya mengecek situs wes sistem
informasi akademik miliknya. Ia tidak sabar ingin mengetahui kelasnya. Berkali-kali
sejak seusai kegiatan berjemaah tadi. Kata Ustaz Romli, semua kelas akan sampai
kepada pemiliknya paling lambat jam sembilan malam. Hingga pukul sembilan
kurang sepuluh menit pun, jadwal Arman belum muncul juga.
Sambil mencari sinyal, Arman duduk di balkon asramanya. Menatap
langit yang gelap yang dihiasi berjuta bintang yang kelap-kelip. Bulan bertengger
sembari menatap bumi dan semua manusia yang menatapnya. Arman sangat bersyukur,
cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan hingga bangku perkuliahan, kini
benar-benar tercapai. Padahal yang ada di pikirannya saat pertama kali Pak Umar
(ayah Arman) memutuskan agar Arman belajar di pesantren; keinginan untuk
sekolah tinggi harus ia buang jauh-jauh.
Sedetik kemudian, Arman kembali menghidupkan handphone-nya.
Ia mengecek kembali situs web sistem informasi akademiknya lagi. Dan ternyata,
Alhamdulillah! Arman benar-benar ditakdirkan masuk di kelas tertinggi. Yang terbesit
di hatinya saat itu juga, semoga ia satu kelas dengan Naila. Bidadari yang
Tuhan utus untuk menjadi mahasiswi di jurusannya, mengganggu kefokusan belajar setiap
lelaki yang mengenalnya.
Bintang-bintang di langit turut tersenyum melihat Arman yang
sedang senyum-senyum bak baru mendapatkan hadiah. Sebagian mereka justru
tersenyum sinis melihat tingkah Arman itu. Mereka seakan telah mengetahui
takdir, akankah Arman benar-benar satu kelas dengan Naila esok hari?
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on Instagram!