Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Hari Penentuan (II)


__ADS_3

Secepat Arman meninggalkan Zami sendiri, secepat itu pula ia


kembali mengkhawatirkan placement test-nya. Ia mempercepat langkahnya menuju


fakultas, tempat ia akan mengikuti tes penempatan kelas itu. Ia lihat beberapa


teman sejurusannya yang belum ia kenal. Ia bingung, apakah harus sok akrab


seperti yang dilakukan Zami kepadanya atau hanya berdiam diri membiarkan semua


mengalir apa adanya?


Sejurus kemudian, ia memantapkan diri agar tidak melakukan


tindakan konyol seperti yang dilakukan Zami. Semua akan berjalan dengan lancar


saat perkuliahan dimulai besok. Tanpa diminta, semua akan memperkenalkan diri


kepada teman sekelas masing-masing. Termasuk Arman, mahasiswa baru yang di


pesantrennya dulu pernah dijuluki sebagai ‘Snowman’ itu.


“Arman, ya?” Tanya seorang perempuan yang tentu tidak Arman


kenali sebelumnya. Arman kikuk, bingung harus menjawab apa. Ini perempuan


pertama –selain keluarganya- yang berani menyapa Arman sejak masuk pesantren


enam tahun yang lalu. Untungnya perempuan itu melanjutkan perkataan dengan


menyebutkan namanya, “Aku Nisa. Nisa Aulia Febriana. Yang waktu itu pasangin


twibbon di fotomu sebagai persyaratan ospek universitas.”


Oh, Nisa. Jadi ini yang namanya Nisa yang pernah Arman chat secara pribadi untuk meminta bantuan memasangkan twibbon lantaran Arman


tidak mempunyai aplikasi edit foto di handphone-nya. Cukup cantik, pasti


pintar. Arman bisa menebak itu sejak setelah ia me-stalking akun


Instagramnya dan menemukan foto Nisa sedang memegang piala bertuliskan ‘Juara 1


Cerdas-Cermat Putri’.


“Eh, iya. Aku Arman. Ahmad Arman Nasrullah. Terima kasih ya,


untuk twibbonnya.” Arman memasang senyum lebar-lebar. Ia menatap wajah


perempuan itu, seakan sedang meminta harapan agar bisa berteman dengan orang


pintar sepertinya. Darinya juga ia berharap, semoga ke depannya Arman tak lagi


kikuk saat bertemu dan berbicara dan berhadapan langsung dengan perempuan.


“Alumni Pesantren Nurul Abror, nih. Pasti kelas atas lah.”


Nisa yang sedang bersama temannya itu, tertawa kecil sambil menutupi gigi gingsul


yang dimilikinya. Temannya juga begitu, ia ikut tertawa mendengar celetukan


Nisa.


Ya, Arman adalah alumni Pesantren Nurul Abror; salah satu


pesantren ternama di Jawa Timur yang telah mencetak ribuan alumni yang berhasil


menjadi orang terpandang di masyarakat. Kebanyakan jadi kyai dan mendirikan


pesantren di rumahnya masing-masing. Ada juga yang terjun ke dunia


pemerintahan, bahkan juga banyak yang muncul di televisi mengisi kuliah tujuh


menit menjelang Azan Maghrib.


Pesantren Nurul Abror juga terkenal sebagai pesantren yang


menekankan Ilmu Alat (Kaidah Bahasa Arab) dan juga Bahasa Arabnya. Banyak


santri-santri di sana yang pernah menyabet kejuaraan di pelbagai perhelatan


lomba kebahasa-araban atau membaca kitab kuning karya ulama klasik. Maka tidak


heran, jika para alumninya sangat banyak yang melanjutkan pendidikan di


Al-Azhar University, Istanbul University, dan universitas-universitas Timur


Tengah ternama lainnya.


Seperti Arman misalnya, tanpa sepengetahuan kedua orang


tuanya, ia telah mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikannya di King Saud


University,Riyadh, Arab Saudi. Telah memenuhi semua persyaratan dan berkasnya.


Bisa dikata, kurang-lebih delapan puluh persen ia akan resmi menjadi mahasiswa


di sana.


Bayangan tentang umrah setiap bulan, ziarah ke makam


Rasulullah dan para sahabatnya, berjalan-jalan ke laut merah, belanja di


Al-Balad, dan berkunjung ke destinasi lainnya, semua telah tertata rapi di


benaknya. Sayangnya semua harus kandas, sebab yang lebih penting dari semua itu


adalah rida kedua orang tuanya. Tanpa rida mereka berdua, percuma ia belajar


jauh-jauh meninggalkan tanah kelahirannya.


“Hehe. Biasa saja. Masih sama-sama belajar. Kalau ini, siapa


namanya?” Arman mengalihkan pembicaraan. Ia tidak suka dipuji lantaran tak


ingin terbang tinggi kalau akhirnya akan dijatuhkan ke bumi juga.


“Ainur Rohmah, mas. Panggil saja Nunung.” Jawab perempuan


berkacamata yang kini sedang berdiri di samping Nisa itu. Ia juga satu jurusan


dengan Arman dan Nisa, Sastra Arab.


“Kalian sekamar?” Tanya Arman sambil menunjuk ke arah


keduanya.


“Iya. Sebenarnya ada lagi satu yang dari Jurusan Sastra Arab


di kamar. Tapi dia sudah berangkat duluan tadi.” Nisa memperjelas semuanya.


“Ya sudah. Naik, yuk!” Arman pun mengajak mereka berdua


untuk menaiki tangga menuju tempat pelaksanaan placement test itu.


Bersanding, tapi tetap menjaga jarak. Selain menjaga image-nya sebagai


alumi pesantren, Arman juga tahu bahwa kampusnya adalah kampus Islami. Lagian,


mereka bertiga baru saling mengenal lebih jauh.


Selama menuju ruang itu pula, Arman mengetahui bahwa mereka


berasal dari kota yang berbeda. Arman dari Probolinggo, Nisa dari Malang, dan


Nunung dari Surabaya. Saling bertukar alasan kenapa memilih Sastra Arab, dan


dihasilkan satu kesimpulan bahwa ketiganya ternyata sama-sama telah belajar


Bahasa Arab, dan dirasa telah cocok dengan jurusan tertua kedua –setelah


Jurusan Pendidikan Agama Islam- di Universitas Ulul Albab itu.


Hingga akhirnya keduanya tiba di ruang yang sangat megah, Home


Theater Fakultas Adab dan Budaya. Biasanya anak-anak Sastra Arab

__ADS_1


menyebutnya dengan Qoatul Masrahiyah. Ruangan yang didesain memiliki


banyak kursi yang tersusun rapi, dibagi menjadi dua sisi. Dinginnya AC


menjadikan suasana di dalam ruangan itu justru mirip dengan bioskop. Ada lampu


sorot yang menghadap ke arah pentas, di pentas ada beberapa kursi mewah dan


meja dan podium.


“Ar-rijal fii yasaarii wan nisaa’ fii yamiinii. Yang


laki-laki di sisi kiri saya, yang perempuan di sini kanan saya.” Perintah


lelaki berkacamata melalui pengeras suara ruangan yang sangat menggelegar itu.


Pada akhirnya diketahui bahwa beliau adalah kepala jurusan.


Jam telah menunjukkan pukul delapan pas, tapi kepala jurusan


itu menunda untuk memulai tes lantaran mahasiswa yang datang masih sekitar


tujuh puluh lima persen dari total keseluruhan. Selama itu pula, beliau


mengenalkan diri; namanya Ustaz Romli Abdurrahman, S1 di Universitas Ulul Albab


dan S2 di Umm Al-Qura university. Pantas saja kalau beliau diangkat


sebagai kepala jurusan.


Kata beliau, masih menunggu sempurnanya mahasiswa


yang datang, Jurusan Sastra Arab adalah jurusan dengan peminat terbanyak kedua


setelah Jurusan Psikologi di kampus ini. Sontak saja, semua yang hadir di


ruangan itu tepuk tangan dengan meriah. Mereka merasa bahwa mereka adalah dua


ratus orang terbaik yang telah berhasil menjadi mahasiswa terpilih. Semua


tersenyum, termasuk pria yang kerap disapa dengan sebutan Ustaz Romli itu.


Sekitar sepuluh menit berbicara di depan, syahdan Ustaz


Romli itu memulai tes penentuan kelas dengan dibantu sekretarisnya. Semua hati berdebar.


Seandainya telinga bisa mendengar suara-suara hati, pasti ruangan itu akan


terasa riuh sebab gemuruh hati yang saling bersahutan dan terus-terusan. Yang


terbayang di otak setiap individu hanya satu; kelas yang sesuai dengan


kapasitas dirinya.


Tiga puluh menit berlalu dan para mahasiswa belum ada yang


berani mengeluarkan suaranya. Terasa hening, bahkan nyamuk-nyamuk yang biasanya


beterbangan di sekitar telinga juga turut tak berani berkata-kata. Hanya


sesekali ada bunyi bolpoin jatuh, kocokan penghapus bolpoin, dan deham yang


ditahan-tahan.


Selama tiga puluh menit itu, Arman telah selesai mengerjakan


semua soal yang ada di hadapannya. Tidak ada yang tersisa, semua terjawab


sesuai dengan apa yang diketahui oleh Arman. Soal tentang kosakata, pergantian


bentuk bentuk tunggal dan jamak, penyusunan kosakata acak, semua terjawab


dengan baik dan –menurut Arman- sudah benar.


Tiga puluh menit berikutnya, Arman gunakan untuk mengoreksi


kembali jawaban-jawabannya. Ia membaca lagi semua soalnya kemudian ia cocokkan


lagi dengan jawabannya. Dalam waktu setengah jam, ia telah berhasil mengoreksi


pernah dipercaya untuk mengajar Bahasa Arab di pesantrennya dulu. Tapi Arman


tetap tawaduk, berpura-pura tidak tahu tentu lebih baik untuk dirinya dari pada


harus mencongkakkan diri di hadapan teman-temannya.


Sejurus kemudian, Ustaz Romli mengakhiri tes penentuan kelas


hari itu. Arman dengan sigap mengumpulkan lembar jawabannya, pertama dari dua


ratus mahasiswa baru Jurusan Sastra Arab. Bukan karena sombong, tapi lebih


karena faktor kedisiplinannya. Ia berpikir, dengan mengumpulkan secepat mungkin


ia bisa berkontribusi dalam menghormati waktu dosen-dosen yang turut menjaga


ketertiban ruang itu. Toh dia sudah sangat yakin dengan jawabannya sendiri.


Hebatnya Arman, ia juga bisa mengondisikan hatinya agar


tidak meremehkan teman-temannya yang masih mengulur-ulur waktu agar bisa


mengerjakan soal lebih lama. Arman justru tetap tenang, meski sebagian mata


telah melihatnya sinis. Ada saja yang tidak suka saat ia mengumpulkan lembar


jawaban pertama kali. Arman tak peduli itu, semua orang berhak untuk menyukai


dan membencinya.


Oh iya, ada satu orang yang sedari tadi pagi ingin ia temui,


lebih tepatnya ingin ia tatap mukanya demi mengobati rasa rindu yang bersarang


di hatinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Naila yang tempo hari duduk bersamanya


saat ospek hari pertama. Ia menyapu semua perempuan yang berada di ruangan itu


dengan pandangannya, hingga akhirnya kedua matanya tertuju pada seseorang yang


mengenakan kerudung warna merah jambu.


Yeay! Mata Arman berhasil menangkap keberadaan perempuan


yang bernama Naila itu. Yang lebih mengejutkan lagi, ia duduk bersama Nisa dan


Nunung yang baru ia kenal tadi pagi sebelum menuju ke ruangan ini. Mereka


saling mengobrol, seakan telah akrab dan berasal dari satu sekolah. “Ah, kali


saja mereka baru saling mengenal.” Hati Arman menepis semua yang berkelebat di


dalam benaknya.


Rasa rindu di hatinya sedikit terobati sejenak setelah


memandang Naila. Entah apa yang ada di hatinya, hati Arman telah berubah. Hati yang


biasanya biasa saja saat bertemu dengan perempuan, kini justru ada rasa yang


tak biasa sejak sosok Naila hadir di dalam cerita hidupnya. Apakah ini yang


dinamakan cinta?


Secepat semua mahasiswa baru di ruangan itu mengumpulkan lembar


jawabannya, secepat itu pula seisi ruangan itu bubar. Ada yang mendapat kenalan


baru, tapi juga banyak yang masih takut untuk berbuat apa-apa, Arman salah


satunya. Ia tak menyapa siapapun, khawatir akan ada karma yang menimpanya


(pernah mengatakan bahwa Zami sok akrab).


Di luar ruangan yang kira-kira berukuran dua puluh lima kali

__ADS_1


dua puluh meter itu, Arman kembali bertemu Nisa dan Nunung. Kali ini ada Naila


di samping mereka, ia tampak sibuk dengan handphone-nya. Tak menghiraukan


Nisa dan Nunung yang sedang mengobrol dengan Arman. Hati Arman juga, ia merasa


malu jika harus bertanya tentang Naila. Entah, rasanya beda saja dengan situasi


saat berkenalan dengan Nunung tadi pagi.


Hingga akhirnya keempatnya tiba di lantai dasar, mata Arman


masih sesekali mencuri-curi pandang ke arah Naila. Nisa dan Nunung juga tidak


peka, mereka berdua tidak berkeinginan untuk mengenalkan Naila kepada Arman. Mereka


justru lebih memilih membiarkan Naila fokus kepada handphone-nya.


“Eh, aku duluan, ya!” Tiba-tiba Naila berpamit untuk


mendahului Nisa dan Nunung dan Arman yang pasti sedang kecewa lantaran gagal


berkenalan dengan Naila.


Hati Arman berteriak dalam diam. Ia menyesali keterlambatannya


dalam berkenalan. Lemah! Arman malu kepada dirinya sendiri sebab tidak bisa


mengalahkan egonya. Berkali-kali ia mengumpat kepada dirinya yang terkesan


seperti seorang pecundang itu. Aneh saja rasanya, ia biasa-biasa saja saat


menanyakan nama Nunung, tapi justru tidak dengan Naila.


“Iya!” Jawab Nisa dan Nunung nyaris bersamaan.


Entah kemana Naila akan pergi meninggalkan mereka berdua.


Arman malah sangat tidak berhak untuk tahu itu. Suka-suka Naila mau kemana ia


pergi. Nisa dan Nunung tampaknya tidak ingin mengetahuinya juga. Arman merasa


sebagian semangatnya hilang. Jika boleh jatuh dan berlutut saat itu, ia akan melakukannya


tanpa malu. Sayangnya sifat egois di dirinya melarang untuk melakukan itu.


“Mas, kamu pasti masuk kelas tertinggi ya?” Kata Nunung


sambil mendekap buku catatan di dadanya. Entah itu pertanyaan atau bagaimana,


tapi dari nadanya sepertinya itu pertanyaan.


“Entah ya, Nung.” Kata Arman menampakkan senyuman di


wajahnya.


“Ya, pasti lah.” Nisa menimpali, “Alumni Nurul Abror gitu,


loh.”


“Memang, alumni NA. itu banyak yang keren-keren, kecuali


yang tidak keren. Nah, aku masuk dalam pengecualian itu.” Ujar Arman sambil


melambatkan langkahnya menyeimbangi langkah Nisa dan Nunung.


“Halah. Buktinya tadi selesai duluan.” Tepis Nisa membuat


Arman hanya tertawa kecil mendengarnya.


“Tahu gak, mas. Kata temanku yang barusan itu, soal yang


barusan itu sangat sulit. Katanya juga, mas termasuk hebat karena bisa


menaklukkannya dan bisa mengumpulkan pertama.” Perkataan Nunung itu berhasil


membuat Arman terperanjat.


“Oh, ya?” Ujar Arman karena merasa sangat kaget mendengar


pernyataan Nunung barusan.


“Kenapa tiba-tiba salah tingkah begitu?” Nisa menutup


mulutnya. Ia menyembunyikan senyumnya yang terkesan menertawakan Arman itu.


“Oh, enggak. Kaget saja karena aku dibilang hebat. Padahal biasa-biasa


saja. Mana yang bilang belum kenal aku juga.” Arman tertawa terbahak setelah


berhasil mengalihkan fokus Nisa yang sempat berabe itu. Dari perkataannya, ia


juga memancing mereka berdua agar mengenalkan Naila kepadanya.


Tapi usahanya sia-sia. Nisa dan Nunung tampak tak tertarik


untuk membahas Naila. Mereka berdua tertawa dengan sikap Arman. Tidak ada yang


lebih penting bagi Nisa kecuali untuk mengatakan, “Keren dong, belum kenal saja


sudah kesemsem.”


“Semakin ngawur saja omongannya. Sudah ah, aku lapar. Belum sarapan


dari pagi. Aku pergi dulu, ya!” Kata Arman lantas meninggalkan kedunya yang


masih tertawa.


***


Malamnya, Arman tak henti-hentinya mengecek situs wes sistem


informasi akademik miliknya. Ia tidak sabar ingin mengetahui kelasnya. Berkali-kali


sejak seusai kegiatan berjemaah tadi. Kata Ustaz Romli, semua kelas akan sampai


kepada pemiliknya paling lambat jam sembilan malam. Hingga pukul sembilan


kurang sepuluh menit pun, jadwal Arman belum muncul juga.


Sambil mencari sinyal, Arman duduk di balkon asramanya. Menatap


langit yang gelap yang dihiasi berjuta bintang yang kelap-kelip. Bulan bertengger


sembari menatap bumi dan semua manusia yang menatapnya. Arman sangat bersyukur,


cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan hingga bangku perkuliahan, kini


benar-benar tercapai. Padahal yang ada di pikirannya saat pertama kali Pak Umar


(ayah Arman) memutuskan agar Arman belajar di pesantren; keinginan untuk


sekolah tinggi harus ia buang jauh-jauh.


Sedetik kemudian, Arman kembali menghidupkan handphone-nya.


Ia mengecek kembali situs web sistem informasi akademiknya lagi. Dan ternyata,


Alhamdulillah! Arman benar-benar ditakdirkan masuk di kelas tertinggi. Yang terbesit


di hatinya saat itu juga, semoga ia satu kelas dengan Naila. Bidadari yang


Tuhan utus untuk menjadi mahasiswi di jurusannya, mengganggu kefokusan belajar setiap


lelaki yang mengenalnya.


Bintang-bintang di langit turut tersenyum melihat Arman yang


sedang senyum-senyum bak baru mendapatkan hadiah. Sebagian mereka justru


tersenyum sinis melihat tingkah Arman itu. Mereka seakan telah mengetahui


takdir, akankah Arman benar-benar satu kelas dengan Naila esok hari?


Bersambung...

__ADS_1


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2