
Waktu terus berputar. Jarum sedikit demi sedikit beringsut
dari detik satu ke detik yang lain. Dari menit satu ke menit yang lain. Dari
jam satu ke jam yang lain. Hingga terlahirlah suatu hari, yang terus berganti
ke hari berikutnya. Terus merambat menjadi minggu. Lalu ia saling terangkai
menjadi bulan. Selama itu pula lah Arman berstatus sebagai ‘mahasiswa culun’ di
Universitas Ulul Albab.
Jika mahasiswa lain merasa bahwa dirinya salah mengambil
jurusan, hati Arman justru merasa bahwa ia salah jalan; belajar di bangku
perkuliahan. Sampai akhirnya ia memutuskan sebuah keputusan yang dirasa
irasional oleh siapapun yang mendengarnya. Apa? Ia putus asa mencari teman
dekat dan memilih menjadi mahasiswa yang akan bergaul ‘saat dibutuhkan dan
membutuhkan’. Keputusan macam apa ini? Ah, tak apa lah. Biarkan Arman yang
menjalaninya.
Yang ada di pikirannya saat ini, nasi sudah menjadi bubur.
Ia terlanjur berada di dunia kampus, dan mau tak mau harus menjalaninya. Sekalipun
dirinya dan hatinya menyadari, bahwa ia akan terus mendapat gelar ‘mahasiswa
culun’ selama ia menelan ilmu-ilmu dosen. Pahit sih, tapi mau bagaimana lagi? Tidak
memungkinkan baginya untuk kembali ke pesantren yang dulu karena ada faktor
internal.
Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah menjalaninya meski
terkadang harus berhalusinasi memikirkan hal-hal yang tidak semestinya. Ia
berjanji kepada dirinya sendiri, akan mengembangkan bakatnya meski melalui
jalan yang berbeda. Ia akan membuktikan kepada dirinya sendiri –dan orang-orang
yang membutuhkan pembuktian- bahwa; ia juga bisa sukses! Ia juga yakin, setelah
kesuksesan itu benar-benar datang, ia akan mudah mendapatkan apa yang ia mau,
termasuk teman.
Siapa sangka, selang beberapa hari dari keputusannya itu, namanya
mulai disebut-sebut oleh hampir semua angkatan di Jurusan Sastra Arab itu. Tapi
mereka memandang pesantren masa lalunya Arman, Pondok Pesantren Nurul Abror,
bukan diri Arman sendiri. Arman tidak terlalu mempermasalahkan itu. Ia pun
tersadar bahwa mengemban nama almamater tentu tidaklah mudah. Bagaimana cara ia
mengharumkan namanya, bagaimana ia menjaga nama baiknya, semua berkelebat di
benak Arman.
Santri-santri Pondok Pesantren Nurul Abror yang terkenal
akan kepiawaiannya dalam berbahasa Arab, juga terkenal hingga di kampus Arman
kini. Kelasnya yang tinggi pun turut menjadi faktor nama Arman menjadi buah
bibir di kalangan jurusannya itu. Awalnya Arman bingung, bagaimana caranya
untuk memposisikan diri. Tapi selang berjalannya waktu, ia merasa ‘bodoh amat’,
terpenting tidak mengecewakan nama baik pesantrennya yang dulu itu.
Hingga akhirnya tibalah suatu pagi. Arman bergegas menuju
kelasnya secepat mungkin lantaran telah terlambat dari jam masuk. Ia tak
memikirkan apapun kecuali bagaimana caranya tiba di kelas sebelum habisnya
waktu toleransi untuk terlambat. Jika biasanya ia sesekali menghidupkan handphone-nya
saat sedang menuju kelas, kini ia menyimpannya di saku celana. Tidak ia sentuh
sama sekali.
Jarak asrama dan ruang kelasnya cukup jauh. Biasanya ia
menghabiskan waktu sepuluh menit untuk berjalan kaki. Tapi beda dengan hari
ini, ia hanya menempuhnya dalam waktu lima menit. Alasannya cuma satu, hanya
karena tidak ingin ditolak saat meminta izin untuk masuk kelas. Terlebih saat
ini adalah jadwal dosen yang sama sekali tidak memihak kepada mahasiswanya. Bisa
dibilang, killer lah. Beliau akan menolak setiap mahasiswanya yang
terlambat, tak pandang bulu!
Huft! Dengan leganya, ternyata Arman belum terlambat. Dosen killer itu belum datang. Tumben, biasanya beliau akan datang lebih awal dari jam
yang telah ditentukan. Bahkan tak jarang beliau duduk sendiri menunggu
mahasiswanya, dan mahasiswa yang pertama kali datang akan menjadi
‘santapannya’. Ia akan mendapat ‘siraman rohani’ yang keluar dari hati, tapi
sama sekali tak masuk ke dalam hati.
Arman masuk kelas dan serta merta meraih handphone-nya.
Ia menyalakannya dan mendapatkan notifikasi chat dari nomor baru. Dan termasuk
kebiasaan Arman saat menerima chat dari nomor baru, ia tidak spontan membuka
notifikasi itu, tapi ia matikan dulu lastseen dan fitur laporan
dibacanya. Setelah merasa lega, ia pun membuka notifikasi itu dan,
“Assalamualaikum, Man. Kamu ikut lomba debat Bahasa Arab mewakili jurusan kita,
ya!”
Sangat singkat dan membuat Arman terperanjat seketika. Siapa
sangka, mahasiswa yang paling terkenal dengan kepaiawaiannya dalam debat Bahasa
Arab di jurusan itu, mengirimi orang semacam Arman sebuah chat dan
mengajaknya untuk berpartisipasi dalam lomba di Bandung sana. Aneh rasanya,
tapi chat itu harus Arman putuskan sesegera mungkin, “Waalaikumsalam.
Boleh, mas. Tapi ajari saya dulu. Soalnya ini kali pertama saya ikut lomba
debat.”
Jujur saja, Arman memang sudah pantas untuk dikatakan lebih
bisa dari pada teman-temannya. Ada sebenarnya yang mungkin melebihi kemahiran
Arman, tapi ia belum terdeteksi keberadaannya oleh senior. Tapi sayangnya, ini
sungguh di luar dugaan. Arman benar-benar awam untuk masalah berdebat dan
mendebati. Terlebih jika harus menggunakan Bahasa Arab!
“Oke. Sepulang kuliah, kamu ketemu aku di kantor HMJ, ya!”
Tutup lelaki yang akhirnya Arman simpan nomornya dengan nama ‘SA Mas Ardan’ itu.
Arman tak lagi membalasnya sebab bingung harus berkata apa. Tiba-tiba otaknya
penuh dengan berbagai pikiran yang aneh-aneh, yang biasanya muncul setiap kali
ia hendak mengikuti lomba; bagaimana jika ia kalah? Bagaimana jika ia tidak
__ADS_1
bisa mengharumkan nama kampus? Bagaimana jika ia menjelekkan nama pesantrennya
sebab kekalahanku? Ah, ini tak mudah untuk Arman pikirkan seorang diri.
Perkuliahan berjalan begitu cepat, dan secepat itu pula
Arman sudah berada di kantor HMJ. Ia sedang berbicara dengan Mas Ardan yang
tadi pagi menyuruhnya untuk datang ke kantor berukuran dua kali tiga meter itu.
Keduanya saling bertukar pengalaman, berbicara tentang lomba dan rentetan
persiapan yang harus mereka jalani. “Nanti, kita tidak berdua kok. Ada Kak Latifah
juga yang gabung dengan tim kita.” Kata lelaki yang memiliki postur badan tinggi
itu kala keduanya hendak berpisah melanjutkan kesibukan masing-masing.
“Man, apa kau yakin dengan keputusanmu itu?” Tanya nafsunya
saat Arman melewati pintu kantor HMJ dan hendak memasang sepatunya. Ia memang
selalu berusaha merusak segalanya.
“Aku yakin dan ini adalah kesempatan bagiku untuk membuktikan
bahwa aku ada!” Arman menggertak nafsunya itu, dan membuatnya semakin menciut
dan hilang entah kemana.
Arman termasuk orang yang beruntung. Sebab, dari dua ratus
mahasiswa baru di Jurusan Sastra Arab itu, hanya ialah yang diajak untuk
menemani kakak tingkatnya dalam ajang perlombaan Bahasa Arab ini. Desas-desus
mahasiswa lain yang tak suka dengan keberadaannya, kini mulai muncul di
permukaan. Bersamaan dengan itu pula, ia benar-benar merasa bahwa ternyata
teman-teman sekelasnya kini mulai bersimpati kepadanya. Mereka membelanya dari
semprotan gosip-gosip yang tak henti-hentinya menghujam Arman bertubi-tubi.
Ada yang bilang kalau selama ini Arman telah mencari
perhatian kepada kakak tingkatnya lantaran ia merasa bahwa dirinyalah yang
paling bisa dari pada teman-teman lainnya. Padahal tidak pernah! Ada juga yang
bilang bahwa ia memang anti sosial lantaran terlalu menjaga image-nya
sebagai seorang santri. Padahal juga tidak sepenuhnya seperti itu! Bahkan ada
yang bilang juga, bahwa ia tak mau bergaul dengan teman-teman seangkatannya
sebab menganggap bahwa teman-temannya tak selevel dia. Justru ini gosip yang sangat
tampak bahwa pelontarnya memang mengada-ada!
Tapi hati Arman kini seperti baja. Baginya, cibiran seperti
itu telah sering ia rasakan selama berada di pesantrennya dulu. Keluh kesahnya
selalu ia curahkan kepada Anwari. Tapi kini Anwari telah tiada. Arman hanya
bisa mengamalkan semua yang telah Anwari ajarkan dulu di pesantren. Satu
perkataan yang pernah Anwari ucapkan saat sedang memotivasi Arman dan terus ia
ingat hingga kini, “Jangan terlalu bergantung kepadaku. Aku tidak akan bisa
senantiasa berada di sampingmu. Jadilah pribadi yang mandiri, yang tahan akan
cibiran orang.”
Hari berganti hari dan Arman terus berlatih bersama para
kakak tingkatnya. Ia mencari kosakata Bahasa Arab yang dianggap baru, baik dari
kamus atau dari kakak tingkatnya itu saat latihan. Istilah-istilah yang baru ia
dapatkan sejak bergabung dengan kedua kakak tingkatnya itu, Arman tulis rapi di
Arman saat sedang menulis salah satu istilah dalam dunia perdebatan.
Tidak hanya bersama kedua kakak tingkatnya. Di kamar, Arman
akan senantiasa menemani cermin besar yang menggantung di samping kasurnya itu.
menghadap bayangan dirinya yang sedang tersenyum di cermin, memotivasinya
lantas mengulang-ulang materi yang telah ia pelajari dari kakak tingkatnya itu.
Arman mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari teman-teman kamarnya.
Mereka tak pernah lelah dan jenuh mendengar Arman berlatih. Justru
mereka akan memberikan saran dan kritikan setiap Arman selesai berlatih. Sebenarnya
tidak semua dari mereka memahami dan bisa berbahasa Arab, tapi apa salahnya Arman
menerima saran dan kritiknya untuk kesuksesannya.
Hampir setiap sore, Arman akan datang ke halaman belakang
gedung fakultasnya untuk berlatih dan terus berlatih mengasah tata bicaranya
agar semakin lancar. Mereka bertiga sengaja memilihi tempat itu sebab tempatnya
teduh dan tersembunyi dari khalayak ramai. Sangat sunyi, sangat cocok untuk
berlatih debat yang identik dengan suara yang lantang.
Arman tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. ia tidak boleh jatuh
dan tersungkur sebab cibiran teman-temannya itu. Bahkan hingga saat tidak ada
yang mendukungnya lagi, ia akan mendukung dirinya sendiri untuk tetap bertahan
memperjuangkan nama kampus dan jurusannya di kancah event tingkat
nasional ini. “Kapan lagi bisa bertanding di event sebesar ini?” Kata
hatinya membesarkan diri.
Jujur saja, ini pengalaman pertama bagi Arman. Apapun yang
terjadi, ia akan memperjuangkannya semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan
dirinya, kedua orang tuanya, guru dan dosennya, temannya, dan terpenting kedua
kakak tingkatnya yang telah mengajaknya untuk bergabung dengan tim mereka. Dan
mungkin juga, ia ingin membungkam mulut teman-teman yang telah mencercanya
dengan cibiran yang datang bertubi-tubi.
“Man, kamu kok semangat banget sih?” Setelah berjemaah Salat
Maghrib, Rean, teman satu kelasnya bertanya penuh antusias.
“Motivasiku sangat simpel, Re. Aku senantiasa membayangkan
wajah kedua orang tuaku yang begitu meneduhkan hati.” Jawab Arman sangat
ringan.
“Aku perlu mencontohmu!” Tangan kanan Rean mengepal dan ia
satukan dengan tangan kirinya yang masih dibiarkan terbuka.
“Semoga lancar!” Tangan Arman turut menggenggam tangan Rean
yang tiba-tiba semangat mendengar motivasi dari teman sepantarnya.
***
Siang berganti malam dan malam berganti siang. Arman benar-benar
menomorsatukan kesempatannya itu tanpa mengesampingkan kewajibannya sebagai
__ADS_1
mahasantri (mahasiswa sekaligus santri). Dengan sangat tanggap, ia
menyelesaikan tugas-tugasnya lalu berlatih dan terus berlatih. Ia sengaja
mengurangi waktu tidurnya, kecuali kalau memang tertidur dan tak sadarkan diri
saat waktu bangunnya tiba.
Selama masa-masa itu, kemanapun ia berjalan, ia akan
senantiasa berbicara sendiri. Seperti orang gila? Iya! Seperti orang gila di
Arab sana. Tangannya tak bisa diam, selalu bergerak meski hati Arman selalu
menghalanginya. Entah sejak kapan ia hobi seperti itu, yang jelas ia sedang
menirukan gaya kedua kakak tingkatnya dan senior-seniornya di pesantren dulu
saat sedang berdiri di podium debat.
Hebatnya Arman, ia tidak mengesampingkan orang tuanya. Ia
akan senantiasa meminta doa kepada keduanya saat hendak melakukan sesuatu yang
baru, seperti lomba debat ini. Malam itu Arman sedang berada di kamarnya. Ia
sedang tidak mendapat tugas dari dosennya, tapi ia tidak ingin membuang-buang
waktu untuk sekadar memainkan handphone-nya tanpa ada manfaat yang
jelas. Makanya, ia buka aplikasi browser untuk mencari data-data terkait
tema debat yang akan ia ikuti itu.
HandphoneArman bebunyi dan mengundangnya untuk melihat
ke layarnya. Ia menemukan nama kontak ‘Ayah’ dan fotonya yang tegap berjas
terpampang jelas di sana. Tanpa ragu lagi, Arman segera mengangkat teleponnya
dan mendahului lelaki paruh baya yang berada di seberang sana untuk mengucapkan
salam. Mendengar itu, ayah Arman menjawab dengan lugas.
“Ada apa, yah?” Arman
menanyakan maksud ayahnya. Kalau hanya ingin menanyakan kabar, Pak Umar akan
mengirimi Arman sebuah chat,tidak sampai menelepon. Justru sebaliknya,
Arman yang terbiasa menelepon terlebih dahulu jika merasa rindu. Sampai Arman
bisa menyimpulkan, kalau ayahnya menelepon, berarti sedang ada ‘apa-apa’ di
rumahnya.
“Kakekmu sakit.
Sekarang dirawat di rumah sakit, tapi Alhamdulillah sudah mendingan.” Benar
saja dugaan Arman. Ayahnya tidak akan menelepon kecuali jika ada hal penting
yang perlu ia sampaikan tanpa bertele-tele.
“Tapi Arman dua
hari lagi akan lomba, yah.” Arman berada di titik dilema. Ia bingung harus
bagaimana; satu sisi ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti lomba pertamanya
itu, tapi ia juga tak enak jika tidak pulang dan menjumpai kakeknya walaupun hanya
sebentar.
“Gak masalah. Ayah
hanya mengabarimu saja. Kamu doakan saja kakekmu agar cepat sembuh.” Kata Pak
Umar dengan suara yang sangat berwibawa. Dari nadanya, ia memang sedang serius
dan tidak ingin membebani anaknya itu.
“Iya, yah. Pasti
Arman doakan. Memang, kakek sedang sakit apa?” Tanya Arman dengan penuh
antusias. Ia menghidupkan load
speaker di handphone-nya dan mendekatkannya ke telinganya. Hal itu semata-mata agar ia tidak
ketinggalan sedikit pun kabar dari ayahnya itu.
“Biasa, penyakit
orang tua.” Jawab ayahnya itu dengan singkat. Sebenarnya Arman masih bingung,
apa penyakit orang tua? Tapi Arman tidak ingin bertanya lebih lanjut agar
ayahnya tidak perlu mengeluarkan banyak suara guna menjawab pertanyaannya.
Sedetik kemudian, ayahnya kembali bersuara dan bertanya, “Kamu ikut lomba apa?”
“Debat Bahasa Arab,
yah. Padahal Arman tidak mumpuni dalam dunia perdebatan.” Meskipun ayahnya tak
bisa melihat raut wajah Arman, tapi dari nadanya beliau tahu bahwa anaknya itu
sedang cemberut.
“Tak apa. Terpenting
kamu sudah berusaha. Tapi kok, kamu tidak mengabari ayah sebelumnya?” Tanya Pak
Umar.
“Arman hanya tidak
ingin membebani ayah. Arman tidak ingin ayah tahu sebab Arman tidak yakin
dengan kapasitas Arman. Lagian, Arman bisa memakai uang tabungan Arman untuk
ongkosnya.” Jelas Arman dengan panjang lebar.
“Oh iya, lombanya
di mana?” Pak Umar kembali bertanya.
“Di Bandung, yah.”
“Wah, jauh ya.
Besok ayah transfer uang ke rekeningmu, deh.” Jawab Pak Umar dan tentu saja
membuat Arman gelagapan menjawab, “Ga.. Gak usah, yah. Uang Arman masih cukup.
Mending uangnya dibuat biaya berobat kakek saja.”
Sejak hidup di
pesantren hingga kini, Arman memang bukan tipe anak yang suka membebani
ayahnya. Selagi ia mampu dan merasa bahwa dirinya bisa menjalaninya tanpa bantuan
kedua orang tuanya, ia akan melakukannya sendiri. Termasuk dalam urusan
keuangan, ia rajin menabung agar tidak membebani kedua orang tuanya.
“Itu sudah
kewajiban ayah, nak. Kamu tidak boleh menolak. Assalamualaikum.” Tut.. tut..
tut.. Pak Umar juga keras kepala terlebih jika menyangkut urusan keluarganya.
“Waalaikumsalam.”
Jawab Arman dengan perasaan yang campur aduk; bahagia karena akan mendapat
tambahan uang saku, tapi tidak enak hati terhadap ayahnya itu.
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on Instagram!