Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Tidak Terduga (I)


__ADS_3

Waktu terus berputar. Jarum sedikit demi sedikit beringsut


dari detik satu ke detik yang lain. Dari menit satu ke menit yang lain. Dari


jam satu ke jam yang lain. Hingga terlahirlah suatu hari, yang terus berganti


ke hari berikutnya. Terus merambat menjadi minggu. Lalu ia saling terangkai


menjadi bulan. Selama itu pula lah Arman berstatus sebagai ‘mahasiswa culun’ di


Universitas Ulul Albab.


Jika mahasiswa lain merasa bahwa dirinya salah mengambil


jurusan, hati Arman justru merasa bahwa ia salah jalan; belajar di bangku


perkuliahan. Sampai akhirnya ia memutuskan sebuah keputusan yang dirasa


irasional oleh siapapun yang mendengarnya. Apa? Ia putus asa mencari teman


dekat dan memilih menjadi mahasiswa yang akan bergaul ‘saat dibutuhkan dan


membutuhkan’. Keputusan macam apa ini? Ah, tak apa lah. Biarkan Arman yang


menjalaninya.


Yang ada di pikirannya saat ini, nasi sudah menjadi bubur.


Ia terlanjur berada di dunia kampus, dan mau tak mau harus menjalaninya. Sekalipun


dirinya dan hatinya menyadari, bahwa ia akan terus mendapat gelar ‘mahasiswa


culun’ selama ia menelan ilmu-ilmu dosen. Pahit sih, tapi mau bagaimana lagi? Tidak


memungkinkan baginya untuk kembali ke pesantren yang dulu karena ada faktor


internal.


Sekarang, yang perlu ia lakukan adalah menjalaninya meski


terkadang harus berhalusinasi memikirkan hal-hal yang tidak semestinya. Ia


berjanji kepada dirinya sendiri, akan mengembangkan bakatnya meski melalui


jalan yang berbeda. Ia akan membuktikan kepada dirinya sendiri –dan orang-orang


yang membutuhkan pembuktian- bahwa; ia juga bisa sukses! Ia juga yakin, setelah


kesuksesan itu benar-benar datang, ia akan mudah mendapatkan apa yang ia mau,


termasuk teman.


Siapa sangka, selang beberapa hari dari keputusannya itu, namanya


mulai disebut-sebut oleh hampir semua angkatan di Jurusan Sastra Arab itu. Tapi


mereka memandang pesantren masa lalunya Arman, Pondok Pesantren Nurul Abror,


bukan diri Arman sendiri. Arman tidak terlalu mempermasalahkan itu. Ia pun


tersadar bahwa mengemban nama almamater tentu tidaklah mudah. Bagaimana cara ia


mengharumkan namanya, bagaimana ia menjaga nama baiknya, semua berkelebat di


benak Arman.


Santri-santri Pondok Pesantren Nurul Abror yang terkenal


akan kepiawaiannya dalam berbahasa Arab, juga terkenal hingga di kampus Arman


kini. Kelasnya yang tinggi pun turut menjadi faktor nama Arman menjadi buah


bibir di kalangan jurusannya itu. Awalnya Arman bingung, bagaimana caranya


untuk memposisikan diri. Tapi selang berjalannya waktu, ia merasa ‘bodoh amat’,


terpenting tidak mengecewakan nama baik pesantrennya yang dulu itu.


Hingga akhirnya tibalah suatu pagi. Arman bergegas menuju


kelasnya secepat mungkin lantaran telah terlambat dari jam masuk. Ia tak


memikirkan apapun kecuali bagaimana caranya tiba di kelas sebelum habisnya


waktu toleransi untuk terlambat. Jika biasanya ia sesekali menghidupkan handphone-nya


saat sedang menuju kelas, kini ia menyimpannya di saku celana. Tidak ia sentuh


sama sekali.


Jarak asrama dan ruang kelasnya cukup jauh. Biasanya ia


menghabiskan waktu sepuluh menit untuk berjalan kaki. Tapi beda dengan hari


ini, ia hanya menempuhnya dalam waktu lima menit. Alasannya cuma satu, hanya


karena tidak ingin ditolak saat meminta izin untuk masuk kelas. Terlebih saat


ini adalah jadwal dosen yang sama sekali tidak memihak kepada mahasiswanya. Bisa


dibilang, killer lah. Beliau akan menolak setiap mahasiswanya yang


terlambat, tak pandang bulu!


Huft! Dengan leganya, ternyata Arman belum terlambat. Dosen killer itu belum datang. Tumben, biasanya beliau akan datang lebih awal dari jam


yang telah ditentukan. Bahkan tak jarang beliau duduk sendiri menunggu


mahasiswanya, dan mahasiswa yang pertama kali datang akan menjadi


‘santapannya’. Ia akan mendapat ‘siraman rohani’ yang keluar dari hati, tapi


sama sekali tak masuk ke dalam hati.


Arman masuk kelas dan serta merta meraih handphone-nya.


Ia menyalakannya dan mendapatkan notifikasi chat dari nomor baru. Dan termasuk


kebiasaan Arman saat menerima chat  dari nomor baru, ia tidak spontan membuka


notifikasi itu, tapi ia matikan dulu lastseen dan fitur laporan


dibacanya. Setelah merasa lega, ia pun membuka notifikasi itu dan,


“Assalamualaikum, Man. Kamu ikut lomba debat Bahasa Arab mewakili jurusan kita,


ya!”


Sangat singkat dan membuat Arman terperanjat seketika. Siapa


sangka, mahasiswa yang paling terkenal dengan kepaiawaiannya dalam debat Bahasa


Arab di jurusan itu, mengirimi orang semacam Arman sebuah chat dan


mengajaknya untuk berpartisipasi dalam lomba di Bandung sana. Aneh rasanya,


tapi chat itu harus Arman putuskan sesegera mungkin, “Waalaikumsalam.


Boleh, mas. Tapi ajari saya dulu. Soalnya ini kali pertama saya ikut lomba


debat.”


Jujur saja, Arman memang sudah pantas untuk dikatakan lebih


bisa dari pada teman-temannya. Ada sebenarnya yang mungkin melebihi kemahiran


Arman, tapi ia belum terdeteksi keberadaannya oleh senior. Tapi sayangnya, ini


sungguh di luar dugaan. Arman benar-benar awam untuk masalah berdebat dan


mendebati. Terlebih jika harus menggunakan Bahasa Arab!


“Oke. Sepulang kuliah, kamu ketemu aku di kantor HMJ, ya!”


Tutup lelaki yang akhirnya Arman simpan nomornya dengan nama ‘SA Mas Ardan’ itu.


Arman tak lagi membalasnya sebab bingung harus berkata apa. Tiba-tiba otaknya


penuh dengan berbagai pikiran yang aneh-aneh, yang biasanya muncul setiap kali


ia hendak mengikuti lomba; bagaimana jika ia kalah? Bagaimana jika ia tidak

__ADS_1


bisa mengharumkan nama kampus? Bagaimana jika ia menjelekkan nama pesantrennya


sebab kekalahanku? Ah, ini tak mudah untuk Arman pikirkan seorang diri.


Perkuliahan berjalan begitu cepat, dan secepat itu pula


Arman sudah berada di kantor HMJ. Ia sedang berbicara dengan Mas Ardan yang


tadi pagi menyuruhnya untuk datang ke kantor berukuran dua kali tiga meter itu.


Keduanya saling bertukar pengalaman, berbicara tentang lomba dan rentetan


persiapan yang harus mereka jalani. “Nanti, kita tidak berdua kok. Ada Kak Latifah


juga yang gabung dengan tim kita.” Kata lelaki yang memiliki postur badan tinggi


itu kala keduanya hendak berpisah melanjutkan kesibukan masing-masing.


“Man, apa kau yakin dengan keputusanmu itu?” Tanya nafsunya


saat Arman melewati pintu kantor HMJ dan hendak memasang sepatunya. Ia memang


selalu berusaha merusak segalanya.


“Aku yakin dan ini adalah kesempatan bagiku untuk membuktikan


bahwa aku ada!” Arman menggertak nafsunya itu, dan membuatnya semakin menciut


dan hilang entah kemana.


Arman termasuk orang yang beruntung. Sebab, dari dua ratus


mahasiswa baru di Jurusan Sastra Arab itu, hanya ialah yang diajak untuk


menemani kakak tingkatnya dalam ajang perlombaan Bahasa Arab ini. Desas-desus


mahasiswa lain yang tak suka dengan keberadaannya, kini mulai muncul di


permukaan. Bersamaan dengan itu pula, ia benar-benar merasa bahwa ternyata


teman-teman sekelasnya kini mulai bersimpati kepadanya. Mereka membelanya dari


semprotan gosip-gosip yang tak henti-hentinya menghujam Arman bertubi-tubi.


Ada yang bilang kalau selama ini Arman telah mencari


perhatian kepada kakak tingkatnya lantaran ia merasa bahwa dirinyalah yang


paling bisa dari pada teman-teman lainnya. Padahal tidak pernah! Ada juga yang


bilang bahwa ia memang anti sosial lantaran terlalu menjaga image-nya


sebagai seorang santri. Padahal juga tidak sepenuhnya seperti itu! Bahkan ada


yang bilang juga, bahwa ia tak mau bergaul dengan teman-teman seangkatannya


sebab menganggap bahwa teman-temannya tak selevel dia. Justru ini gosip yang sangat


tampak bahwa pelontarnya memang mengada-ada!


Tapi hati Arman kini seperti baja. Baginya, cibiran seperti


itu telah sering ia rasakan selama berada di pesantrennya dulu. Keluh kesahnya


selalu ia curahkan kepada Anwari. Tapi kini Anwari telah tiada. Arman hanya


bisa mengamalkan semua yang telah Anwari ajarkan dulu di pesantren. Satu


perkataan yang pernah Anwari ucapkan saat sedang memotivasi Arman dan terus ia


ingat hingga kini, “Jangan terlalu bergantung kepadaku. Aku tidak akan bisa


senantiasa berada di sampingmu. Jadilah pribadi yang mandiri, yang tahan akan


cibiran orang.”


Hari berganti hari dan Arman terus berlatih bersama para


kakak tingkatnya. Ia mencari kosakata Bahasa Arab yang dianggap baru, baik dari


kamus atau dari kakak tingkatnya itu saat latihan. Istilah-istilah yang baru ia


dapatkan sejak bergabung dengan kedua kakak tingkatnya itu, Arman tulis rapi di


Arman saat sedang menulis salah satu istilah dalam dunia perdebatan.


Tidak hanya bersama kedua kakak tingkatnya. Di kamar, Arman


akan senantiasa menemani cermin besar yang menggantung di samping kasurnya itu.


menghadap bayangan dirinya yang sedang tersenyum di cermin, memotivasinya


lantas mengulang-ulang materi yang telah ia pelajari dari kakak tingkatnya itu.


Arman mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari teman-teman kamarnya.


Mereka tak pernah lelah dan jenuh mendengar Arman berlatih. Justru


mereka akan memberikan saran dan kritikan setiap Arman selesai berlatih. Sebenarnya


tidak semua dari mereka memahami dan bisa berbahasa Arab, tapi apa salahnya Arman


menerima saran dan kritiknya untuk kesuksesannya.


Hampir setiap sore, Arman akan datang ke halaman belakang


gedung fakultasnya untuk berlatih dan terus berlatih mengasah tata bicaranya


agar semakin lancar. Mereka bertiga sengaja memilihi tempat itu sebab tempatnya


teduh dan tersembunyi dari khalayak ramai. Sangat sunyi, sangat cocok untuk


berlatih debat yang identik dengan suara yang lantang.


Arman tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. ia tidak boleh jatuh


dan tersungkur sebab cibiran teman-temannya itu. Bahkan hingga saat tidak ada


yang mendukungnya lagi, ia akan mendukung dirinya sendiri untuk tetap bertahan


memperjuangkan nama kampus dan jurusannya di kancah event tingkat


nasional ini. “Kapan lagi bisa bertanding di event sebesar ini?” Kata


hatinya membesarkan diri.


Jujur saja, ini pengalaman pertama bagi Arman. Apapun yang


terjadi, ia akan memperjuangkannya semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan


dirinya, kedua orang tuanya, guru dan dosennya, temannya, dan terpenting kedua


kakak tingkatnya yang telah mengajaknya untuk bergabung dengan tim mereka. Dan


mungkin juga, ia ingin membungkam mulut teman-teman yang telah mencercanya


dengan cibiran yang datang bertubi-tubi.


“Man, kamu kok semangat banget sih?” Setelah berjemaah Salat


Maghrib, Rean, teman satu kelasnya bertanya penuh antusias.


“Motivasiku sangat simpel, Re. Aku senantiasa membayangkan


wajah kedua orang tuaku yang begitu meneduhkan hati.” Jawab Arman sangat


ringan.


“Aku perlu mencontohmu!” Tangan kanan Rean mengepal dan ia


satukan dengan tangan kirinya yang masih dibiarkan terbuka.


“Semoga lancar!” Tangan Arman turut menggenggam tangan Rean


yang tiba-tiba semangat mendengar motivasi dari teman sepantarnya.


***


Siang berganti malam dan malam berganti siang. Arman benar-benar


menomorsatukan kesempatannya itu tanpa mengesampingkan kewajibannya sebagai

__ADS_1


mahasantri (mahasiswa sekaligus santri). Dengan sangat tanggap, ia


menyelesaikan tugas-tugasnya lalu berlatih dan terus berlatih. Ia sengaja


mengurangi waktu tidurnya, kecuali kalau memang tertidur dan tak sadarkan diri


saat waktu bangunnya tiba.


Selama masa-masa itu, kemanapun ia berjalan, ia akan


senantiasa berbicara sendiri. Seperti orang gila? Iya! Seperti orang gila di


Arab sana. Tangannya tak bisa diam, selalu bergerak meski hati Arman selalu


menghalanginya. Entah sejak kapan ia hobi seperti itu, yang jelas ia sedang


menirukan gaya kedua kakak tingkatnya dan senior-seniornya di pesantren dulu


saat sedang berdiri di podium debat.


Hebatnya Arman, ia tidak mengesampingkan orang tuanya. Ia


akan senantiasa meminta doa kepada keduanya saat hendak melakukan sesuatu yang


baru, seperti lomba debat ini. Malam itu Arman sedang berada di kamarnya. Ia


sedang tidak mendapat tugas dari dosennya, tapi ia tidak ingin membuang-buang


waktu untuk sekadar memainkan handphone-nya tanpa ada manfaat yang


jelas. Makanya, ia buka aplikasi browser  untuk mencari data-data terkait


tema debat yang akan ia ikuti itu.


HandphoneArman bebunyi dan mengundangnya untuk melihat


ke layarnya. Ia menemukan nama kontak ‘Ayah’ dan fotonya yang tegap berjas


terpampang jelas di sana. Tanpa ragu lagi, Arman segera mengangkat teleponnya


dan mendahului lelaki paruh baya yang berada di seberang sana untuk mengucapkan


salam. Mendengar itu, ayah Arman menjawab dengan lugas.


“Ada apa, yah?” Arman


menanyakan maksud ayahnya. Kalau hanya ingin menanyakan kabar, Pak Umar akan


mengirimi Arman sebuah chat,tidak sampai menelepon. Justru sebaliknya,


Arman yang terbiasa menelepon terlebih dahulu jika merasa rindu. Sampai Arman


bisa menyimpulkan, kalau ayahnya menelepon, berarti sedang ada ‘apa-apa’ di


rumahnya.


“Kakekmu sakit.


Sekarang dirawat di rumah sakit, tapi Alhamdulillah sudah mendingan.” Benar


saja dugaan Arman. Ayahnya tidak akan menelepon kecuali jika ada hal penting


yang perlu ia sampaikan tanpa bertele-tele.


“Tapi Arman dua


hari lagi akan lomba, yah.” Arman berada di titik dilema. Ia bingung harus


bagaimana; satu sisi ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti lomba pertamanya


itu, tapi ia juga tak enak jika tidak pulang dan menjumpai kakeknya walaupun hanya


sebentar.


“Gak masalah. Ayah


hanya mengabarimu saja. Kamu doakan saja kakekmu agar cepat sembuh.” Kata Pak


Umar dengan suara yang sangat berwibawa. Dari nadanya, ia memang sedang serius


dan tidak ingin membebani anaknya itu.


“Iya, yah. Pasti


Arman doakan. Memang, kakek sedang sakit apa?” Tanya Arman dengan penuh


antusias. Ia menghidupkan load


speaker di handphone-nya dan mendekatkannya ke telinganya. Hal itu semata-mata agar ia tidak


ketinggalan sedikit pun kabar dari ayahnya itu.


“Biasa, penyakit


orang tua.” Jawab ayahnya itu dengan singkat. Sebenarnya Arman masih bingung,


apa penyakit orang tua? Tapi Arman tidak ingin bertanya lebih lanjut agar


ayahnya tidak perlu mengeluarkan banyak suara guna menjawab pertanyaannya.


Sedetik kemudian, ayahnya kembali bersuara dan bertanya, “Kamu ikut lomba apa?”


“Debat Bahasa Arab,


yah. Padahal Arman tidak mumpuni dalam dunia perdebatan.” Meskipun ayahnya tak


bisa melihat raut wajah Arman, tapi dari nadanya beliau tahu bahwa anaknya itu


sedang cemberut.


“Tak apa. Terpenting


kamu sudah berusaha. Tapi kok, kamu tidak mengabari ayah sebelumnya?” Tanya Pak


Umar.


“Arman hanya tidak


ingin membebani ayah. Arman tidak ingin ayah tahu sebab Arman tidak yakin


dengan kapasitas Arman. Lagian, Arman bisa memakai uang tabungan Arman untuk


ongkosnya.” Jelas Arman dengan panjang lebar.


“Oh iya, lombanya


di mana?” Pak Umar kembali bertanya.


“Di Bandung, yah.”


“Wah, jauh ya.


Besok ayah transfer uang ke rekeningmu, deh.” Jawab Pak Umar dan tentu saja


membuat Arman gelagapan menjawab, “Ga.. Gak usah, yah. Uang Arman masih cukup.


Mending uangnya dibuat biaya berobat kakek saja.”


Sejak hidup di


pesantren hingga kini, Arman memang bukan tipe anak yang suka membebani


ayahnya. Selagi ia mampu dan merasa bahwa dirinya bisa menjalaninya tanpa bantuan


kedua orang tuanya, ia akan melakukannya sendiri. Termasuk dalam urusan


keuangan, ia rajin menabung agar tidak membebani kedua orang tuanya.


“Itu sudah


kewajiban ayah, nak. Kamu tidak boleh menolak. Assalamualaikum.” Tut.. tut..


tut.. Pak Umar juga keras kepala terlebih jika menyangkut urusan keluarganya.


“Waalaikumsalam.”


Jawab Arman dengan perasaan yang campur aduk; bahagia karena akan mendapat


tambahan uang saku, tapi tidak enak hati terhadap ayahnya itu.


Bersambung...

__ADS_1


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2