Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Malam Pertama


__ADS_3

Reynand dan Chaca sudah bersiap. Mereka menuruni anak tangga dan menemui keluarga mereka yang saat ini berkumpul di meja makan.


"Kakek, Ayah, bunda!!!" panggil Chaca.


Semua mata menatap Chaca dan Reynand yang sudah berganti baju dan terlihat rapi.


"Kalian mau kemana?" tanya Grace


"Kami mau kembali ke apartemen Kak Rey, Bun."


"Kenapa buru-buru?" kali ini pertanyaan di lontarkan oleh Yoga.


"Anda seperti tidak pernah muda saja, Tuan. Tentu saja mereka sudah tidak sabar untuk malam pertama." timpal Lukas


Yoga berdecak. Bukannya dia tidak tahu, tapi ini masih siang untuk melakukan hal itu. Lagipula mereka baru saja resmi menjadi sepasang suami istri, apa mereka tidak bisa bersabar sebentar lagi dan berkumpul dengan mereka untuk berbincang-bincang.


"Kenapa harus ke apartemen, Rey?" tanya Andhika.


"Aku tidak mau membuat telinga mu ternodai oleh suara Chaca."


"Ck... Dasar menyebalkan." gerutu Andhika. Dia jadi ingin cepat-cepat menikah jika begini caranya. Andhika melirik Sivanya dan menyenggol pelan lengannya.


"Apa?" tanya sivanya


"Nikah yuk!!"


Sivanya melotot kan matanya. Apa dia tidak salah dengar? Sejak kapan Andhika menjadi agresif seperti itu? bahkan mereka menunda pernikahan mereka karena Andhika masih belajar mengurus perusahaan. Sedangkan dia masih kuliah.


"Makanya, kalau di suruh orang tua cepet nikah itu dengerin!! Sekarang liat Chaca Gercep jadi pengen kan?" celetuk Grace


"Ihh .. Bunda." Sivanya begitu malu mendengar ucapan calon mertua nya itu. sangat mengena di hati.

__ADS_1


"Ya udah, Chaca sama Kak Rey pergi dulu ya, besok kami kesini lagi."


Grace, Yoga dan Wira bergantian memeluk Chaca. Mereka seolah berat membiarkan Chaca pergi. Padahal besok mereka akan bertemu lagi. Tapi mereka merasa sangat berbeda. Mungkin karena sekarang ada yang lebih berhak atas Chaca daripada mereka. Sekarang Chaca adalah tanggung jawab Reynand. Dan Chaca pasti akan ikut kemanapun Suaminya pergi.


"Ya sudah, Chaca pergi dulu. Besok Chaca kemari lagi." seru Chaca


"Iya sayang, hati-hati di jalan." seru Grace.


"Jaga Chaca baik-baik. Jangan buat dia menangis. Atau jika tidak....


Lagi-lagi Yoga mengancam Reynand. Tapi bukannya takut, Reynand justru tertawa pelan. Dia tidak bisa berjanji untuk tidak membuat Chaca menangis malam ini. Karena dia sudah berencana untuk menghabiskan waktu dengan Chaca di bawah selimut.


Reynand menuntun Chaca masuk ke mobilnya. Dia mengitari mobil dan masuk di belakang kemudi. Reynand terlihat menghela nafas panjang. Dia ingin segera sampai ke apartemen karena dia sudah tidak sabar membuka kadonya. Ya, walaupun dia sudah membukanya terlebih dahulu, tapi tidak akan ada kata bosan untuk membuka kadonya setiap hari.


Reynand menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia melirik Chaca yang diam menatap ke luar jendela. Sepertinya ada yang di dipikirkan istrinya itu.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di apartemen Raka. Reynand memarkirkan mobilnya dengan sempurna di basemen. Dia keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Chaca.


Chaca tersenyum. Wajahnya memerah mendengar Reynand yang menggodanya. Sungguh hatinya berdebar tidak menentu saat ini. Apalagi mereka ke apartemen untuk melakukan ritual malam pertama yang pernah mereka lakukan sebelumnya.


Reynand menggenggam tangan Chaca. Dia bisa merasakan jika ada yang mengganggu pikiran Chaca. Antara khawatir dan gugup. Mungkin itu yang wanita itu rasakan saat ini.


Reynand menekan sandi apartemen nya. Pintu terbuka dan Chaca masuk lebih dulu. Tapi tiba-tiba tangannya di tarik Reynand dan tubuh nya sudah di himpit ke dinding.


"Kak.." pekik Chaca


"Kakak sudah tidak tahan sayang." Reynand menyambar bibir ranum istrinya. Dia menuntun Chaca ke sofa dan membaringkannya di sana tanpa melepaskan ciuman mereka. Bahkan Reynand langsung membuka bajunya hingga dia bertelanjang dada.


Chaca mencoba mengimbangi permainan lidah Reynand. Tapi dia kewalahan karena Reynand begitu agresif.


"Emmptt.." Chaca memukul bahu Reynand karena nafasnya sudah menipis sekarang.

__ADS_1


Reynand melepas ciumannya dan menatap Chaca dengan nafas yang memburu. "Kenapa?"


"Chaca kehabisan nafas kak."


Reynand tersenyum. Dia bangun dan mengangkat Chaca duduk di pangkuannya dengan posisi menghadap kearahnya. Reynand kembali mencium Chaca. Tapi kali ini dia melakukannya dengan sangat lembut.


Chaca terbuai, dia bahkan mengerang di tengah ciuman mereka karena tangan Reynand yang saat ini ada dia atas benda kenyal miliknya. Dan dengan sekali sentakan, baju Chaca sudah tidak berbentuk.


Chaca tidak perduli lagi, toh mereka sudah melihat satu sama lain. Dan mereka juga sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Jadi dia tidak akan segan lagi untuk melakukan hal itu.


Mereka saling mengecap dan bertukar Saliva. Dan entah bagaimana kini mereka sama-sama polos dengan Chaca yang berada di pangkuan Reynand.


"Chaca yang pimpin ya." pinta Reynand


Chaca mengangguk malu. Dia mengarahkan benda keras yang sudah berdiri tegak itu ke lubang kenikmatan milik nya. Dan dengan sekali dorongan, benda itu terbenam sempurna di dalam sana.


"Ah..."


Chaca memulai permainannya. Walau dia belum pengalaman, tapi dengan nalurinya, Chaca melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan dia bisa membuat Reynand melayang.


"Terimakasih sayang. Kakak suka kerja keras Chaca." seru Reynand setelah mereka mengakhiri kegiatan panas mereka


Chaca mengangguk memeluk leher Reynand. Ini sungguh gila. Dia bisa melakukan hal itu. Dia pasti terlihat agresif tadi. Dan hal itu membuatnya sangat malu


"Kita istirahat sebentar. Setelah itu kita lanjutin lagi."


Chaca menegakkan tubuhnya. Lagi? Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika Reynand melakukan nya terus menerus. Pasti pinggangnya akan sakit lagi


Reynand terkekeh melihat wajah cemberut Chaca. Dia mengusap wajah Chaca dan berkata, "Ada apa sayang? Apa ada yang mengganggu pikiran mu? Apa ini masalah pertarungan Kakak besok?"


deg

__ADS_1


__ADS_2