
"Apa loe yakin? Bukannya itu terlalu beresiko?"tanya Andhika yang saat ini tengah berbicara dengan Raka melalui telepon.
"Gue yakin.Untuk itu,gue pengen loe kasih tahu Kakek Wira untuk menyiapkan semua apa yang gue butuhkan."
Andhika terdiam.Bukan dia tidak mau,tapi apa yang akan Raka lakukan itu sangat beresiko.Bagaimana jika dia gagal?
"Gue tahu loe pasti ragu.Loe khawatir gue gagal.Tapi percaya sama gue Dhik.Gue pasti bisa.Lagipula gue juga udah konsultasi sama Dokter Rena mengenai hal ini."Raka mencoba meyakinkan Andhika dengan apa yang akan dia lakukan.Ini memang beresiko tinggi.Tapi ini juga demi kesembuhan Chaca.Waktu nya tidak banyak dan dia harus segera melakukan sesuatu untuk Chaca agar dia bisa pergi dengan tenang.
"Oke..Gue bakal bilang sama Kakek mengenai hal ini.Kapan loe akan melakukan nya?"
"Secepatnya."jawab Raka singkat.
Andhika nampak mengerutkan keningnya.Entah kenapa dia merasa jika Raka seperti terburu-buru.Ada apa sebenarnya?
"Kak..!!!!"
Samar-samar Andhika mendengar suara Chaca yang memanggil Raka."Chaca?"
Raka hanya menjawab dengan deheman.Dia menoleh dan mendapati Chaca yang berdiri di depan pintu.Dia tersenyum sejenak kearah Chaca dan kemudian mengakhiri sambungan teleponnya dengan Andhika.
"Ya udah,Chaca udah panggil gue buat minta di kelonin.Gue tutup dulu telepon nya."
"A_apa?Hei..."
Tut Tut Tut
Raka terkekeh.Pasti saat ini Andhika mengumpat dirinya.Biarlah Andhika berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya.Rasanya cukup menyenangkan mengerjai sahabat nya itu.
Dan benar saja.Setelah mendengar ucapan Raka, Andhika mengeluarkan sumpah serapah nya.Dia bahkan mengancam Raka jika sampai dia berani macam-macam pada Adiknya.
"Dasar menyebalkan..Awas saja jika dia berani macam-macam sama Chaca.Bakal gue gantung dia di kebon.Apa dia bilang tadi?ngelonin?Astaga... pikiran gue udah sampai ke mana-mana.Apa selama ini mereka udah...."
"Aish...Apa yang loe pikirkan Andhika?Gak mungkin Raka kek gitu sama Chaca.Tapi selama ini mereka tinggal bersama.Satu atap,satu kamar jadi bisa saja mereka.....Ah sudahlah.Awas saja kalau dia beneran melakukan hal yang iya-iya sama Chaca."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di kamar,Chaca memeluk Raka dengan posesif.Ini untuk pertama kalinya Chaca melakukan hal itu padanya.
"Kenapa?Hari ini Chaca beda banget."Seru Raka.
Chaca hanya menggelengkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu.Tapi hal itu membuat Chaca mencium bau aneh.Seperti bau darah dan obat.Chaca mendongakkan kepalanya."Kakak terluka?"
Deg
Jantung Raka berdetak kencang.Bagaimana bisa Chaca bertanya seperti itu?Apa gadis itu tahu sesuatu?
"Ke_kenapa Chaca nanya kek gitu?Siapa yang terluka?"
Chaca mengangkat tangannya dan mulai mengusap dada Raka.Hal itu membuat Raka gugup tapi pemuda itu berusaha untuk tetap tenang.
Raka memegang tangan Chaca dan mendorong tubuh gadis itu hingga berada di bawah Kungkungan nya.
"Kak!!!"pekik Chaca.
"Apa Chaca lagi menggoda Kakak? Kenapa pegang-pegang dada Kakak kek gitu,hm?"
"Jangan di sentuh kalau tidak mau bertanggungjawab."
Chaca menatap Raka seolah meminta penjelasan."Tanggungjawab?"
Raka mengangguk dan mendekatkan bibirnya di telinga gadis itu."Kalau adik Kakak bangun,Susah buat nidurinnya kalau gak di masukin punya Chaca."
Chaca melebarkan kedua matanya.Dia mendorong Raka hingga pemuda itu terguling dari atas tubuhnya."Mesum."Sungut Chaca.
Raka hanya tertawa dan membawa Chaca ke dalam pelukannya.Dia ingin mereka seperti ini seterusnya.Tapi sayangnya itu tidak mungkin terjadi.Raka hanya bisa berharap jika memang Chaca adalah jodohnya, Mereka akan di persatu kan kembali suatu hari nanti.
"Kak,Apa kakak tahu selama kakak pergi,setiap malam Chaca selalu mimpi buruk."
"O ya?Apa mimpi'in masa lalu Chaca?"
"Bukan.Chaca mimpi Kakak ninggalin Chaca untuk selama-lamanya."
__ADS_1
Deg
Jantung Raka kembali berdetak kencang.Apa arti semua ini?Bahkan Chaca mempunyai firasat seperti itu.Hal itu membuat perasaan nya tidak menentu.Apa mereka mempunyai suatu ikatan batin yang kuat?Bahkan Chaca bermimpi sesuatu yang akan terjadi padanya.
"Kak,Jangan tingglin Chaca ya!!Chaca gak akan sanggup tanpa Kakak "
Raka tersenyum dan memeluk erat tubuh mungil kekasihnya itu.Dia merasa bersalah karena harus meninggalkan Chaca.Tapi dia terpaksa melakukannya.Dia bodoh karena sekarang Chaca tergantung padanya.Untuk itu dia harus melakukan sesuatu agar Chaca bisa berdiri tegak tanpa dirinya.Dia tidak mau Chaca rapuh melihat kepergian nya.Chaca harus sembuh dari penyakitnya agar Chaca bisa menjalani hidup yang lebih baik.Walau tanpa dirinya.
"Kak!!"
"Iya..Kakak gak bakalan ninggalin Chaca."
Chaca tersenyum dan mengecup singkat bibir Raka.
"Kenapa Kakak merasa hari ini Chaca begitu agresif?Dari tadi Chaca berinisiatif cium kakak duluan.Biasanya kalau kakak mau cium Chaca,Chaca selalu menghindar."
Chaca mendelik dan memukul pelan lengan Raka.Apa maksudnya berkata seperti itu?Dia gak pernah menghindar waktu Raka mencium nya.Bahkan Raka yang selalu memaksanya walaupun pada akhirnya dia membalas ciuman itu dan menikmati nya.
"Kalau gak mau dicium ya udah."sungut Chaca.Dia melonggarkan pelukannya dan sedikit menjauh dari Raka.Tapi Raka tidak mau kalah.Dia Justru menarik Chaca dan kembali mengukung gadis itu.
"Bukannya gak mau.Tapi Chaca ciumnya cuma sekilas.Nanggung Cha,gak ada rasanya.Paling gak kalau mau cium kakak tu kek gini."Raka mendekatkan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya dengan bibir Chaca.
Awalnya Chaca tersentak mendapat serangan dadakan itu.Tapi lama kelamaan dia mulai membalas ciuman Raka dan menikmati permainan lidah pemuda itu.
Ini yang dia inginkan.Rasanya sudah lama mereka tidak melakukan nya.Rasa bibir yang membuat mereka Candu.Seolah tidak merasa jenuh untuk melakukan nya lagi dan lagi.
Mereka sudah sama-sama dewasa dan mengerti tapi Raka tidak pernah melakukan hal lebih selain berciuman dan itu membuat Chaca nyaman melakukan nya dengan pemuda itu.
Ya walaupun terkadang,Raka khilaf dan tangan nakalnya menjamah tubuh nya.Tapi tetap saja,pemuda itu menahan diri untuk tidak melakukan lebih.
Dia begitu menjaga Chaca.Bersamanya,Chaca merasa di lindungi.Tapi Chaca tidak tahu jika sebentar lagi dia akan melewati masa-masa sulit yang memaksanya untuk bertahan dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Raka melepaskan ciumannya dan menatap kedua mata kekasihnya."I Love You."
"I Love You Too."Chaca menarik tengkuk Raka dan kembali menempelkan bibir mereka.
__ADS_1