
Arman memilih ruang tamu
untuk menjadi tempat ia menulis. Sambil ditemani kopi yang baru ia bikin
sendiri, ia mulai membuka laptop. Ia kembali mencari foto yang tadi, yang di
dalamnya terdapat wajah Naila. Dari foto itu, ia berharap bisa mendapat banyak
inspirasi, toh yang ditulis tak lain adalah cerita masa lalunya.
Suara keyboard laptopnya
pun mulai berbunyi. Ia mulai merangkai kata demi kata. Begini ceritanya;
Malang, 8 Agustus 2018
Pagi ini cuaca sangat cerah. Matahari yang
bersinar begitu terang, menghangatkan sejagat raya dan semua makhluk yang
menginjakkan kaki di atasnya. Semilir angin pagi ditambah dinginnya suasana
pegunungan, menjadikan pagi ini terasa hangat. Perpaduan langit biru dan
semburat putih awan-awan yang tak terlalu tebal, pasti memancing penikmatnya agar senantiasa berucap
syukur kepada Tuhannya.
Burung-burung mulai keluar dari sangkarnya,
mencari nafkah agar bisa memberi makan anak-anaknya yang masih tertatih untuk
terbang sebab masih mungil. Ia berputar-putar mengawasi keadaan sekitar agar
bisa selamat saat melancarkan; aksinya mencuri padi atau makanan apapun yang ringan dan bisa
dibawa oleh tubuh kecilnya. Sebab jika suasana sedang tidak aman, ia khawatir akan mendapati
peluru pemburu mendarat di tubuhnya. Dengan
begitu anak-anak di sangkarnya akan kesulitan untuk
mendapatkan makanan. Kecuali kalau memang ada burung lain yang berbaik hati
mengadopsinya.
Sedangkan di atas bumi, seorang lelaki
tampan dengan alis tebal dan mata yang sedikit lebar sedang merapikan rambutnya
di kaca mobil sesaat setelah melewati gerbang Universitas Ulul Albab, salah
satu kampus Islam terbesar di daerah Malang, Jawa Timur. Dari wajahnya, tampaknya masih berumur delapan
belas tahun. Ia berhasil menyeret semua pandangan agar
terfokus ke arahnya, meski ia tidak pernah bermaksud untuk itu dan tidak ingin
hal itu terjadi.
Tubuhnya yang sedikit
jenjang, dengan badan yang cukup berisi namun tidak pantas jika dibilang gemuk,
memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun yang memutuskan untuk memanjakan
matanya. Tapi sekali lagi, ia tidak mau peduli dengan
itu. Baginya, tubuh hanyalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dirawat
sebisa mungkin.Bukan malah menjadi ‘umpan’
untuk menarik lawan jenis.
"Ah, di atas langit masih ada langit.
Di atas ketampananku, masih banyak ketampanan yang dimiliki lelaki
lain." Salah satu sisi hatinya sedang bijak, berbisik kepada sisi yang
satunya agar tetap rendah hati.
"Ini kesempatanmu untuk menggaet perempuan mana yang
kamu mau!" Benar saja, yang namanya nafsu pasti akan terus menggoda hingga titik darah penghabisan.
"Kalau begitu, apa gunanya kamu
belajar di pesantren lama-lama?" Sisi satunya menimpali membuat hatinya
kembali hening, bergeming di tengah keramaian tempat ia berada pagi ini.
Ia terus berjalan menyibak kerumunan
orang-orang yang tak lain juga mahasiswa baru. Tak seperti kebanyakan lelaki
yang 'merasa' bahwa dirinya tampan, ia melemparkan senyuman manis -yang membuat
lesung di pipi tirusnya muncul- kepada siapapun yang tersapu oleh pandangannya.
Tampak begitu ramah dan tenang, tidak ada kesan grogi sama sekali di wajahnya. Meski ia tahu;
sekitar empat puluh menit lagi, ospek akan dilaksanakan.
Secepat itu ia menyapa semua orang dengan
senyumannya, secepat itu pula banyak mata yang telah ia buat berbinar pagi ini.
Satu mulut mulai membicarakannya, berharap mendapatkan pernyataan serupa dari
mulut lainnya. Tak hanya itu, banyak hati juga yang telah ia buat berdegup
lebih kencang, melebihi kencangnya hati yang grogi sebab akan bertemu dengan
kakak-kakak panitia ospek yang 'katanya' garang seperti ospek-ospek di
televisi.
Baju putih dan celana hitam, ia kenakan
dengan rapi sebagaimana mahasiswa baru lainnya yang sedang bejibun menanti
momen pertama masa perkuliahannya. Kopiah hitam, tas ransel hitam, sepatu yang
juga berwarna hitam, dan jas almamater turut menempel di badannya. Tidak ada
yang istimewa sebenarnya. Hanya karena ketampanan dan keramahannya, ia
benar-benar telah membuat orang-orang di sekitarnya tiba-tiba ingin mengarang
cerita dengan tajuk 'Cinta Pandangan Pertama'.
"Hai, bro!" Tiba-tiba ada lelaki
seumurannya yang datang menghampirinya, ia tersenyum begitu lebar menatapnya
sejenak lalu mengulurkan tangannya.
"Eh, hai!" Jawabnya singkat, lalu
menjawab uluran tangan lelaki itu setelah sebelumnya membalasnya dengan
senyuman yang tak kalah manis dan lebar.Beda dengan hatinya yang berkata, “Masih ada ya, orang sok akrab di bumi
ini.”
"Kenalkan, namaku Zami, Zamzami Maulana. Jurusan
Sastra Inggris, dari Surabaya." Katanya, mulai menyebutkan identitas
dirinya.
"Wah, satu fakultas kita, ya. Aku Ahmad
Arman Nasrullah. Jurusan Sastra Arab, dari Probolinggo." Timpalnya sambil
menunjukkan kartu identitas yang menggantung di lehernya.
Ya, Ahmad Arman Nasrullah, atau yang lebih
sering dipanggil dengan Arman; salah satu mahasiswa baru dengan latar belakang
pendidikan yang sangat berbeda dengan Zami, yang menurut kelanjutan perkenalannya adalah
lulusan salah satu SMA favorit di Surabaya. Bagaimana tidak? Arman hanyalah
lulusan pesantren, yang baru kali ini -sejak enam tahun lalu-, ia akan
merasakan 'dunia luar' dan berbaur lagi di dalam kelas dengan perempuan.
"Wah! Keren, ya. Sastra Arab. Kalau
bukan pakar Bahasa
Arab, gak bakal ambil jurusan itu." Ujar Zami dengan wajah yang
__ADS_1
berbinar-binar, merasa takjub saat Arman menyebutkan jurusannya. Terasa begitu
'waw', padahal menurut Arman biasa-biasa saja.
"Kalau begitu, Sastra Inggris justru
lebih waw, Zam. Secara, Bahasa Internasional gitu, belum lagi yang dipilih adalah
sastranya. Pasti sulit banget itu untuk aku yang awam banget dalam Bahasa Inggris." Arman
memberi pernyataan sekiranya tidak ada yang diunggulkan di antara keduanya.
Sebab menurutnya, semua jurusan di bangku perkuliahan itu sama saja; tergantung
siapa yang mau menjalaninya.
Bzz.. bzz..
Handphone yang berada di dalam saku Arman
bergetar sebab sengaja ia silent sebelumnya. Dengan sigap ia meraihnya lalu
mengecek siapa di seberang sana yang sedang ingin berbicara dengannya, ternyata
ibunya. Secepat ia mengetahui itu, secepat itu pula ia menggeser gambar telepon
berwarna hijau yang tertera di handphone-nya ke arah kanan, mengangkat telepon
setelah sebelumnya memotong obrolannya dengan Zami.
"Assalamualaikum, bu." Begitulah Arman,
sangat kalem jika harus berinteraksi dengan kedua orang yang sangat berharga di
hidupnya, meski sedang tidak bertatapan langsung. Terlebih ibunya.
"Waalaiikumsalam, le. Gimana pagi
ini?" Suara ibunya sangat jelas.
"Alhamdulillah lancar-lancar saja, bu.
Ini Arman sedang di jalan menuju lapangan untuk ikut ospek." Katanya,
berusaha menjelaskan apa yang sedang ia kerjakan.
"Sudah sarapan?" Ibunya tidak
pernah lelah untuk menanyakan hal ini akhir-akhir ini.
"Sudah, bu."
"Alhamdulillah." Ibunya turut
bersyukur, "Gak usah grogi, panitia ospek itu hanya ingin menguji mentalmu. Di
luar acara, mereka orang baik, kok."
"Enggih, bu. Mohon doanya."
Ujarnya masih dengan muka tertunduk dan Zami masih berjalan di sampingnya.
"Insyaallah. Ya sudah, ibu berangkat
ngajar dulu. Assalamualaikum." Kata ibunya lalu mematikan telepon sebelum Arman sempat
menjawab salamnya.
"Waalaiikumsalam." Jawab hati Arman.
Dibilang 'anak mama', bisa dikatakan iya.
Sebab akhir-akhir ini, tepatnya saat Arman memilih untuk melanjutkan
pendidikannya di bangku perkuliahan, ibunya selalu memantau tindak-tanduknya.
Bahkan lebih ketat dari saat pertama kali Arman masuk pesantren, yang saat itu hampir setiap
hari selalu mendapat telepon dari ibunya. Maksudnya cumasatu; menanyakan hal-hal yang
sejatinya bisa Arman lakukan dengan mandiri.
Begitulah ibunya, ibu Uswatun Hasanah. Posisi
Arman yang baru lulus dari pesantren, tidak serta-merta membuat hati ibunya
tenang. Justru karena itu, beliau merasa bahwa Arman masih perlu diarahkan
sebab dirasa baru menjalani pergaulan 'dunia luar', tidak seperti saat ia di
pesantren. Bagi beliau juga, 'dunia luar' seakan lebih memprihatinkan dari pada
"Oh iya, kenapa kamu pilih Sastra
Arab?" Tanya Zami pada Arman dengan penuh semangat.
"Aku bisanya cuma Bahasa Arab, enggak bisa Bahasa Inggris. Dengan
Sastra Arab, aku berharap bisa mengetahui ilmu Bahasa Arab yang belum sempat aku pelajari di
pesantren kemarin." Arman menjelaskan panjang lebar tentang pilihannya
itu.
"Aku malah sebaliknya. Enggak suka
sama sekali dengan bahasa Arab dan antek-anteknya." Timpal Zami lalu
tertawa terbahak-bahak.
"Jadi karena itu kamu pilih Sastra
Inggris?" Tanya Arman sambil mencebik setengah tersenyum.
"Iyalah." Ucap Zami, masih dengan
semangat yang menggebu.
"Jawabannya hasil plagiat, ih. Kreatif
dong." Ujar Arman sambil merangkul bahu Zami dengan tangan kanannya.
"Hahaha.." Zami tertawa. Kali ini
lebih lepas dari pada tawa sebelumnya.
"Aku senang bisa kenal sama
kamu." Ujar Arman, "Padahal aku kira, aku akan kesulitan mendapatkan
teman di sini."
"Sama, aku juga senang." Zami
turut merangkul bahu Arman dengan tangan kirinya.
"Plagiat lagi, nih." Mereka
berdua tertawa lepas, tak peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Secepat itu mereka mengenal, secepat itu
pula mereka akrab. Sungguh di luar ekspektasi masing-masing, lebih-lebih Arman.
Padahal jika diingat-ingat, Arman bukanlah tipe orang yang mudah akrab. Apalagi
saat pertama masuk pesantren enam tahun yang lalu, Arman sangat kesulitan untuk
mendapatkan teman yang bisa diajak berbincang dengan asyik.
Tapi berbeda dengan yang dialaminya bersama
Zami saat ini. Lelaki asal Surabaya dengan kumis tipis yang bertengger di atas
bibirnya itu hebat; bisa melarutkan suasana. Terasa asyik, meski awalnya
terkesan sok akrab. Keduanya yang ternyata satu fakultas, juga menjadi
pendukung hati Arman untuk langsung percaya kepada Zami. Kata orang-orang,
teman kuliah yang akrab sejak pertama perkuliahan itu akan terus langgeng
hingga lulus, bahkan hingga lama menjadi alumni.
Mereka terus berjalan, menyibak ribuan
mahasiswa baru yang turut meramaikan kampus pagi ini. Berbincang tentang banyak
hal dan masih saling merangkulkan tangan di bahu lawannya. Mungkin kalau kalian
melihatnya, kalian akan menyangka bahwa mereka berasal dari sekolah yang sama. Telah akrab jauh sebelumnya. Padahal nyatanya, melihat rupanya -sebelum akhirnya bertemu di
kampus- pun sama sekali belum pernah.
"Eh, Man, lihat
deh." Bisik Zami di telinga Arman sambil menunjuk ke arah bawah pohon
__ADS_1
mangga.
Mata Arman sontak
mengikuti arah yang menjadi objek jari telunjuk Zami. Beberapa detik ia
memantapkan, apa atau siapa yang sebenarnya ditunjuk
oleh Zami. Hingga akhirnya pandangan Arman mendarat tepat di wajah seorang
gadis yang duduk di sana, lengkap dengan pernak-pernik ospeknya.
Duduk sendiri, tampak begitu anggun
menyembunyikan wajahnya di balik kerudung putih. Sangat sempurna dan layak
mendapatkan banyak jempol, pasti cantiknya natural. Sebab, hari-hari ospek
adalah hari-hari yang 'diharamkan' untuk berdandan, kecuali menggunakan bedak
dan itupun tidak boleh terlalu tebal. Maka tak heran jika ada asumsi; jika
kalian ingin tahu mahasiswi yang cantiknya natural, lihat dia saat masa-masa
ospeknya.
Arman masih tidak yakin bahwa yang dimaksud
teman barunya itu adalah si perempuan itu. Andai
dia punya nyali dan tidak mau peduli dengan latar belakang pendidikannya,
mungkin dia akan mendatangi perempuan itu untuk memastikan sekaligus pemanasan
sebelum mengenal lebih dekat. Sebab dari warna tali yang menggantung di
lehernya, ia tahu bahwa gadis itu ternyata satu jurusan dengannya; Sastra Arab.
"Yang mana, Zam?"
Tanya Arman, berpura-pura tidak tahu maksud Zami.
"Itu loh, yang duduk
di bawah pohon mangga." Jawabnya dengan mata yang belum berkedip sama
sekali sejak pertama menunjuk ke arahnya.
"Kenapa? Kamu kenal?" Arman memastikan
lagi. Ia melongo ke arah Zami.
"Enggak, sih."Jawaban Zami singkat.
"Lantas?" Arman mengerutkan
dahinya, merasa heran.
"Cantik!" Kata Zami lirih. Nyaris tak terdengar sebab bertabrakan dengan
gema suara yang dihasilkan oleh para mahasiswa baru yang sedang mengikuti
kontes berbicara.
"Heleh," Arman mengusap muka Zami
dan membubarkan lamunannya seketika, "untung dia enggak melihatmu saat
menunjuk ke arahnya."
"Kenapa, memang?" Zami tak
mengerti maksud Arman.
"Bisa malu lah, aku." Arman
memberi alasan yang lantas membuat Zami terkekeh geli.
"Ciyeehh!" Zami menggelitik
pinggang Arman lalu sedikit berlari menghindarinya, khawatir ia membalas.
"Eh, apaan sih." Ujar Arman
kesal.
Sejak lulus dari SD, Arman memang tidak
pernah bergaul dengan perempuan, kecuali ibu dan saudara-saudaranya. Bukan
karena apatis, tapi karena ingin menjaga image-nya sebagai santri yang biasanya
lebih disorot oleh tetangga. Sekali berbuat kesalahan, pasti akan diterkam
dengan beribu hujatan. Mereka lupa, atau mungkin hanya pura-pura lupa, bahwa Arman
juga manusia yang disengaja atau tidak, pasti akan berbuat salah.
Bahkan selama itu pula, dia menjadi jarang
keluar rumah dan memilih untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Tidak peduli
para tetangga berkata apa tentangnya, terpenting sejauh dirinya merasa benar
dan tidak melanggar aturan, ia akan tetap enjoy menjalani hidupnya. Toh dia
makan bukan hasil meminta kepada orang-orang yang membicarakannya di belakang.
Maka tidak heran, jika pagi ini wajah Arman
sedikit memerah karena malu lantaran digoda seperti itu oleh teman yang baru ia
kenal, Zami. Dia sadar bahwa dirinya teramat kaku dan kikuk jika harus
membicarakan soal perempuan, terlebih jika perempuan itu telah membuatnya
terpana. Seperti yang terjadi pagi ini.
"Lihat noh kalungnya, warnanya sama
seperti punyamu, biru. Berarti satu jurusan, dong." Zami mengetahui alur
pikiran Arman saat pertama kali melihat perempuan itu.
Alih-alih menimpali Zami, Arman lebih
memilih untuk mempercepat jalannya meninggalkan Zami yang sesekali masih
melirik ke arah perempuan itu. Ia berjalan sekitar dua meter berada di depan.
Kali ini ia merasa benar-benar dibuat salah tingkah oleh Zami. Ia benar-benar
merasa malu, khawatir si gadis melihat mereka berdua saat Zami menunjuknya
tadi.
Beda dengan Arman, Zami malah sama sekali
tidak merasa bersalah. Ia tidak merasa bersalah kepada Arman yang telah ia buat
salah tingkah, juga tidak merasa bersalah kepada perempuan itu karena telah membicarakannya
dari kejauhan. Ia masih memperlambat jalannya, berjalan di belakang Arman, tak
lain hanya ingin melirik dan melirik ke arah perempuan itu.
"Yaelah. Ayo buruan,
Zam!" Ajak Arman setelah sebelumnya membalikkan badannya menghadap ke arah
Zami, "Sudah jam berapa, ini?"
"Santai saja kali,
Zak." Zami tersenyum kikuk saat didapati
melirik ke arah perempuan itu.
"Kena hukum kakak-kakak panitia, baru
tahu rasa." Arman cemberut, ternyata temannya tidak sependapat dengannya
dalam urusan perempuan. Sabar Arman, usia perkenalan ini terlalu belia untuk
men-judge bahwa Zami bukanlah teman yang baik. Siapa tahu, di balik semua yang
tampak di mata Arman kali ini ada ribuan kebaikan yang sengaja disimpan agar
tak terkesan sombong.
Arman membalikkan
badannya dan berjalan ke arah lapangan, tanpa menggubris Zami yang lebih
memilih berjalan di belakangnya agar bisa leluasa melirik perempuan yang sedang
duduk di bawah pohon mangga itu.
__ADS_1
Bersambung...
Follow @muhammadnailur on Instagram!