Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Flashback Ospek (I)


__ADS_3

Arman memilih ruang tamu


untuk menjadi tempat ia menulis. Sambil ditemani kopi yang baru ia bikin


sendiri, ia mulai membuka laptop. Ia kembali mencari foto yang tadi, yang di


dalamnya terdapat wajah Naila. Dari foto itu, ia berharap bisa mendapat banyak


inspirasi, toh yang ditulis tak lain adalah cerita masa lalunya.


Suara keyboard laptopnya


pun mulai berbunyi. Ia mulai merangkai kata demi kata. Begini ceritanya;



Malang, 8 Agustus 2018


Pagi ini cuaca sangat cerah. Matahari yang


bersinar begitu terang, menghangatkan sejagat raya dan semua makhluk yang


menginjakkan kaki di atasnya. Semilir angin pagi ditambah dinginnya suasana


pegunungan, menjadikan pagi ini terasa hangat. Perpaduan langit biru dan


semburat putih awan-awan yang tak terlalu tebal, pasti memancing penikmatnya agar senantiasa berucap


syukur kepada Tuhannya.


Burung-burung mulai keluar dari sangkarnya,


mencari nafkah agar bisa memberi makan anak-anaknya yang masih tertatih untuk


terbang sebab masih mungil. Ia berputar-putar mengawasi keadaan sekitar agar


bisa selamat saat melancarkan; aksinya mencuri padi atau makanan apapun yang ringan dan bisa


dibawa oleh tubuh kecilnya. Sebab jika suasana sedang tidak aman, ia khawatir akan mendapati


peluru pemburu mendarat di tubuhnya. Dengan


begitu anak-anak di sangkarnya akan kesulitan untuk


mendapatkan makanan. Kecuali kalau memang ada burung lain yang berbaik hati


mengadopsinya.


Sedangkan di atas bumi, seorang lelaki


tampan dengan alis tebal dan mata yang sedikit lebar sedang merapikan rambutnya


di kaca mobil sesaat setelah melewati gerbang Universitas Ulul Albab, salah


satu kampus Islam terbesar di daerah Malang, Jawa Timur. Dari wajahnya, tampaknya masih berumur delapan


belas tahun. Ia berhasil menyeret semua pandangan agar


terfokus ke arahnya, meski ia tidak pernah bermaksud untuk itu dan tidak ingin


hal itu terjadi.


Tubuhnya yang sedikit


jenjang, dengan badan yang cukup berisi namun tidak pantas jika dibilang gemuk,


memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun yang memutuskan untuk memanjakan


matanya. Tapi sekali lagi, ia tidak mau peduli dengan


itu. Baginya, tubuh hanyalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan dirawat


sebisa mungkin.Bukan malah menjadi ‘umpan’


untuk menarik lawan jenis.


"Ah, di atas langit masih ada langit.


Di atas ketampananku, masih banyak ketampanan yang dimiliki lelaki


lain." Salah satu sisi hatinya sedang bijak, berbisik kepada sisi yang


satunya agar tetap rendah hati.


"Ini kesempatanmu untuk menggaet perempuan mana yang


kamu mau!" Benar saja, yang namanya nafsu pasti akan terus menggoda hingga titik darah penghabisan.


"Kalau begitu, apa gunanya kamu


belajar di pesantren lama-lama?" Sisi satunya menimpali membuat hatinya


kembali hening, bergeming di tengah keramaian tempat ia berada pagi ini.


Ia terus berjalan menyibak kerumunan


orang-orang yang tak lain juga mahasiswa baru. Tak seperti kebanyakan lelaki


yang 'merasa' bahwa dirinya tampan, ia melemparkan senyuman manis -yang membuat


lesung di pipi tirusnya muncul- kepada siapapun yang tersapu oleh pandangannya.


Tampak begitu ramah dan tenang, tidak ada kesan grogi sama sekali di wajahnya. Meski ia tahu;


sekitar empat puluh menit lagi, ospek akan dilaksanakan.


Secepat itu ia menyapa semua orang dengan


senyumannya, secepat itu pula banyak mata yang telah ia buat berbinar pagi ini.


Satu mulut mulai membicarakannya, berharap mendapatkan pernyataan serupa dari


mulut lainnya. Tak hanya itu, banyak hati juga yang telah ia buat berdegup


lebih kencang, melebihi kencangnya hati yang grogi sebab akan bertemu dengan


kakak-kakak panitia ospek yang 'katanya' garang seperti ospek-ospek di


televisi.


Baju putih dan celana hitam, ia kenakan


dengan rapi sebagaimana mahasiswa baru lainnya yang sedang bejibun menanti


momen pertama masa perkuliahannya. Kopiah hitam, tas ransel hitam, sepatu yang


juga berwarna hitam, dan jas almamater turut menempel di badannya. Tidak ada


yang istimewa sebenarnya. Hanya karena ketampanan dan keramahannya, ia


benar-benar telah membuat orang-orang di sekitarnya tiba-tiba ingin mengarang


cerita dengan tajuk 'Cinta Pandangan Pertama'.


"Hai, bro!" Tiba-tiba ada lelaki


seumurannya yang datang menghampirinya, ia tersenyum begitu lebar menatapnya


sejenak lalu mengulurkan tangannya.


"Eh, hai!" Jawabnya singkat, lalu


menjawab uluran tangan lelaki itu setelah sebelumnya membalasnya dengan


senyuman yang tak kalah manis dan lebar.Beda dengan hatinya yang berkata, “Masih ada ya, orang sok akrab di bumi


ini.”


"Kenalkan, namaku Zami, Zamzami Maulana. Jurusan


Sastra Inggris, dari Surabaya." Katanya, mulai menyebutkan identitas


dirinya.


"Wah, satu fakultas kita, ya. Aku Ahmad


Arman Nasrullah. Jurusan Sastra Arab, dari Probolinggo." Timpalnya sambil


menunjukkan kartu identitas yang menggantung di lehernya.


Ya, Ahmad Arman Nasrullah, atau yang lebih


sering dipanggil dengan Arman; salah satu mahasiswa baru dengan latar belakang


pendidikan yang sangat berbeda dengan Zami, yang menurut kelanjutan perkenalannya adalah


lulusan salah satu SMA favorit di Surabaya. Bagaimana tidak? Arman hanyalah


lulusan pesantren, yang baru kali ini -sejak enam tahun lalu-, ia akan


merasakan 'dunia luar' dan berbaur lagi di dalam kelas dengan perempuan.


"Wah! Keren, ya. Sastra Arab. Kalau


bukan pakar Bahasa


Arab, gak bakal ambil jurusan itu." Ujar Zami dengan wajah yang

__ADS_1


berbinar-binar, merasa takjub saat Arman menyebutkan jurusannya. Terasa begitu


'waw', padahal menurut Arman biasa-biasa saja.


"Kalau begitu, Sastra Inggris justru


lebih waw, Zam. Secara, Bahasa Internasional gitu, belum lagi yang dipilih adalah


sastranya. Pasti sulit banget itu untuk aku yang awam banget dalam Bahasa Inggris." Arman


memberi pernyataan sekiranya tidak ada yang diunggulkan di antara keduanya.


Sebab menurutnya, semua jurusan di bangku perkuliahan itu sama saja; tergantung


siapa yang mau menjalaninya.


Bzz.. bzz..


Handphone yang berada di dalam saku Arman


bergetar sebab sengaja ia silent sebelumnya. Dengan sigap ia meraihnya lalu


mengecek siapa di seberang sana yang sedang ingin berbicara dengannya, ternyata


ibunya. Secepat ia mengetahui itu, secepat itu pula ia menggeser gambar telepon


berwarna hijau yang tertera di handphone-nya ke arah kanan, mengangkat telepon


setelah sebelumnya memotong obrolannya dengan Zami.


"Assalamualaikum, bu." Begitulah Arman,


sangat kalem jika harus berinteraksi dengan kedua orang yang sangat berharga di


hidupnya, meski sedang tidak bertatapan langsung. Terlebih ibunya.


"Waalaiikumsalam, le. Gimana pagi


ini?" Suara ibunya sangat jelas.


"Alhamdulillah lancar-lancar saja, bu.


Ini Arman sedang di jalan menuju lapangan untuk ikut ospek." Katanya,


berusaha menjelaskan apa yang sedang ia kerjakan.


"Sudah sarapan?" Ibunya tidak


pernah lelah untuk menanyakan hal ini akhir-akhir ini.


"Sudah, bu."


"Alhamdulillah." Ibunya turut


bersyukur, "Gak usah grogi, panitia ospek itu hanya ingin menguji mentalmu. Di


luar acara, mereka orang baik, kok."


"Enggih, bu. Mohon doanya."


Ujarnya masih dengan muka tertunduk dan Zami masih berjalan di sampingnya.


"Insyaallah. Ya sudah, ibu berangkat


ngajar dulu. Assalamualaikum." Kata ibunya lalu mematikan telepon sebelum Arman sempat


menjawab salamnya.


"Waalaiikumsalam." Jawab hati Arman.


Dibilang 'anak mama', bisa dikatakan iya.


Sebab akhir-akhir ini, tepatnya saat Arman memilih untuk melanjutkan


pendidikannya di bangku perkuliahan, ibunya selalu memantau tindak-tanduknya.


Bahkan lebih ketat dari saat pertama kali Arman masuk pesantren, yang saat itu hampir setiap


hari selalu mendapat telepon dari ibunya. Maksudnya cumasatu; menanyakan hal-hal yang


sejatinya bisa Arman lakukan dengan mandiri.


Begitulah ibunya, ibu Uswatun Hasanah. Posisi


Arman yang baru lulus dari pesantren, tidak serta-merta membuat hati ibunya


tenang. Justru karena itu, beliau merasa bahwa Arman masih perlu diarahkan


sebab dirasa baru menjalani pergaulan 'dunia luar', tidak seperti saat ia di


pesantren. Bagi beliau juga, 'dunia luar' seakan lebih memprihatinkan dari pada


"Oh iya, kenapa kamu pilih Sastra


Arab?" Tanya Zami pada Arman dengan penuh semangat.


"Aku bisanya cuma Bahasa Arab, enggak bisa Bahasa Inggris. Dengan


Sastra Arab, aku berharap bisa mengetahui ilmu Bahasa Arab yang belum sempat aku pelajari di


pesantren kemarin." Arman menjelaskan panjang lebar tentang pilihannya


itu.


"Aku malah sebaliknya. Enggak suka


sama sekali dengan bahasa Arab dan antek-anteknya." Timpal Zami lalu


tertawa terbahak-bahak.


"Jadi karena itu kamu pilih Sastra


Inggris?" Tanya Arman sambil mencebik setengah tersenyum.


"Iyalah." Ucap Zami, masih dengan


semangat yang menggebu.


"Jawabannya hasil plagiat, ih. Kreatif


dong." Ujar Arman sambil merangkul bahu Zami dengan tangan kanannya.


"Hahaha.." Zami tertawa. Kali ini


lebih lepas dari pada tawa sebelumnya.


"Aku senang bisa kenal sama


kamu." Ujar Arman, "Padahal aku kira, aku akan kesulitan mendapatkan


teman di sini."


"Sama, aku juga senang." Zami


turut merangkul bahu Arman dengan tangan kirinya.


"Plagiat lagi, nih." Mereka


berdua tertawa lepas, tak peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarnya.


Secepat itu mereka mengenal, secepat itu


pula mereka akrab. Sungguh di luar ekspektasi masing-masing, lebih-lebih Arman.


Padahal jika diingat-ingat, Arman bukanlah tipe orang yang mudah akrab. Apalagi


saat pertama masuk pesantren enam tahun yang lalu, Arman sangat kesulitan untuk


mendapatkan teman yang bisa diajak berbincang dengan asyik.


Tapi berbeda dengan yang dialaminya bersama


Zami saat ini. Lelaki asal Surabaya dengan kumis tipis yang bertengger di atas


bibirnya itu hebat; bisa melarutkan suasana. Terasa asyik, meski awalnya


terkesan sok akrab. Keduanya yang ternyata satu fakultas, juga menjadi


pendukung hati Arman untuk langsung percaya kepada Zami. Kata orang-orang,


teman kuliah yang akrab sejak pertama perkuliahan itu akan terus langgeng


hingga lulus, bahkan hingga lama menjadi alumni.


Mereka terus berjalan, menyibak ribuan


mahasiswa baru yang turut meramaikan kampus pagi ini. Berbincang tentang banyak


hal dan masih saling merangkulkan tangan di bahu lawannya. Mungkin kalau kalian


melihatnya, kalian akan menyangka bahwa mereka berasal dari sekolah yang sama. Telah akrab jauh sebelumnya. Padahal nyatanya, melihat rupanya -sebelum akhirnya bertemu di


kampus- pun sama sekali belum pernah.


"Eh, Man, lihat


deh." Bisik Zami di telinga Arman sambil menunjuk ke arah bawah pohon

__ADS_1


mangga.


Mata Arman sontak


mengikuti arah yang menjadi objek jari telunjuk Zami. Beberapa detik ia


memantapkan, apa atau siapa yang sebenarnya ditunjuk


oleh Zami. Hingga akhirnya pandangan Arman mendarat tepat di wajah seorang


gadis yang duduk di sana, lengkap dengan pernak-pernik ospeknya.


Duduk sendiri, tampak begitu anggun


menyembunyikan wajahnya di balik kerudung putih. Sangat sempurna dan layak


mendapatkan banyak jempol, pasti cantiknya natural. Sebab, hari-hari ospek


adalah hari-hari yang 'diharamkan' untuk berdandan, kecuali menggunakan bedak


dan itupun tidak boleh terlalu tebal. Maka tak heran jika ada asumsi; jika


kalian ingin tahu mahasiswi yang cantiknya natural, lihat dia saat masa-masa


ospeknya.


Arman masih tidak yakin bahwa yang dimaksud


teman barunya itu adalah si perempuan itu. Andai


dia punya nyali dan tidak mau peduli dengan latar belakang pendidikannya,


mungkin dia akan mendatangi perempuan itu untuk memastikan sekaligus pemanasan


sebelum mengenal lebih dekat. Sebab dari warna tali yang menggantung di


lehernya, ia tahu bahwa gadis itu ternyata satu jurusan dengannya; Sastra Arab.


"Yang mana, Zam?"


Tanya Arman, berpura-pura tidak tahu maksud Zami.


"Itu loh, yang duduk


di bawah pohon mangga." Jawabnya dengan mata yang belum berkedip sama


sekali sejak pertama menunjuk ke arahnya.


"Kenapa? Kamu kenal?" Arman memastikan


lagi. Ia melongo ke arah Zami.


"Enggak, sih."Jawaban Zami singkat.


"Lantas?" Arman mengerutkan


dahinya, merasa heran.


"Cantik!" Kata Zami lirih. Nyaris tak terdengar sebab bertabrakan dengan


gema suara yang dihasilkan oleh para mahasiswa baru yang sedang mengikuti


kontes berbicara.


"Heleh," Arman mengusap muka Zami


dan membubarkan lamunannya seketika, "untung dia enggak melihatmu saat


menunjuk ke arahnya."


"Kenapa, memang?" Zami tak


mengerti maksud Arman.


"Bisa malu lah, aku." Arman


memberi alasan yang lantas membuat Zami terkekeh geli.


"Ciyeehh!" Zami menggelitik


pinggang Arman lalu sedikit berlari menghindarinya, khawatir ia membalas.


"Eh, apaan sih." Ujar Arman


kesal.


Sejak lulus dari SD, Arman memang tidak


pernah bergaul dengan perempuan, kecuali ibu dan saudara-saudaranya. Bukan


karena apatis, tapi karena ingin menjaga image-nya sebagai santri yang biasanya


lebih disorot oleh tetangga. Sekali berbuat kesalahan, pasti akan diterkam


dengan beribu hujatan. Mereka lupa, atau mungkin hanya pura-pura lupa, bahwa Arman


juga manusia yang disengaja atau tidak, pasti akan berbuat salah.


Bahkan selama itu pula, dia menjadi jarang


keluar rumah dan memilih untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Tidak peduli


para tetangga berkata apa tentangnya, terpenting sejauh dirinya merasa benar


dan tidak melanggar aturan, ia akan tetap enjoy menjalani hidupnya. Toh dia


makan bukan hasil meminta kepada orang-orang yang membicarakannya di belakang.


Maka tidak heran, jika pagi ini wajah Arman


sedikit memerah karena malu lantaran digoda seperti itu oleh teman yang baru ia


kenal, Zami. Dia sadar bahwa dirinya teramat kaku dan kikuk jika harus


membicarakan soal perempuan, terlebih jika perempuan itu telah membuatnya


terpana. Seperti yang terjadi pagi ini.


"Lihat noh kalungnya, warnanya sama


seperti punyamu, biru. Berarti satu jurusan, dong." Zami mengetahui alur


pikiran Arman saat pertama kali melihat perempuan itu.


Alih-alih menimpali Zami, Arman lebih


memilih untuk mempercepat jalannya meninggalkan Zami yang sesekali masih


melirik ke arah perempuan itu. Ia berjalan sekitar dua meter berada di depan.


Kali ini ia merasa benar-benar dibuat salah tingkah oleh Zami. Ia benar-benar


merasa malu, khawatir si gadis melihat mereka berdua saat Zami menunjuknya


tadi.


Beda dengan Arman, Zami malah sama sekali


tidak merasa bersalah. Ia tidak merasa bersalah kepada Arman yang telah ia buat


salah tingkah, juga tidak merasa bersalah kepada perempuan itu karena telah membicarakannya


dari kejauhan. Ia masih memperlambat jalannya, berjalan di belakang Arman, tak


lain hanya ingin melirik dan melirik ke arah perempuan itu.


"Yaelah. Ayo buruan,


Zam!" Ajak Arman setelah sebelumnya membalikkan badannya menghadap ke arah


Zami, "Sudah jam berapa, ini?"


"Santai saja kali,


Zak." Zami tersenyum kikuk saat didapati


melirik ke arah perempuan itu.


"Kena hukum kakak-kakak panitia, baru


tahu rasa." Arman cemberut, ternyata temannya tidak sependapat dengannya


dalam urusan perempuan. Sabar Arman, usia perkenalan ini terlalu belia untuk


men-judge bahwa Zami bukanlah teman yang baik. Siapa tahu, di balik semua yang


tampak di mata Arman kali ini ada ribuan kebaikan yang sengaja disimpan agar


tak terkesan sombong.


Arman membalikkan


badannya dan berjalan ke arah lapangan, tanpa menggubris Zami yang lebih


memilih berjalan di belakangnya agar bisa leluasa melirik perempuan yang sedang


duduk di bawah pohon mangga itu.

__ADS_1


Bersambung...


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2