
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Hari dimana dua insan akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Keluarga Chaca meminta agar acara pernikahan di laksanakan di kediaman keluarga Joseph. Dan Reynand tidak keberatan. Lagipula pernikahan mereka masih di sembunyikan dan di hadiri keluarga dan sahabat saja.
Dari pihak Reynand, hanya di dampingi Zion dan Lukas. Sedangkan dari pihak Chaca tentu saja di hadiri keluarga besar Joseph dan juga Sivanya karena dia sudah menjadi bagian dari keluarga Joseph.
Kediaman Joseph di dekorasi sedemikian rupa untuk acara pernikahan Putri sekaligus cucu kesayangan mereka. Walaupun hanya sederhana, mereka tetap memberikan konsep yang elegan untuk acara tersebut.
Kini Reynand berdiri di atas altar. Dia terlihat tampan dengan balutan jas berwarna hitam. Ekor matanya yang tajam menelisik setiap sudut karena dia tidak ingin ada pengganggu.
Dia sudah meminta Lukas untuk membagi tugas pada anak buah mereka. Walaupun tidak ada yang tahu tentang pernikahan ini, tapi tetap saja, Reynand sangat waspada. Dia tidak mau kecolongan atau ada pengkhianat di antara mereka.
Dia meminta Lukas membagi anak buahnya untuk mengawasi Roger, Danu dan acara pernikahan nya dengan Chaca. Dia tidak mau di hari bahagia nya ada pengacau atau mungkin terjadi pertumpahan darah sebelum waktunya. Karena bagaimanapun Danu sudah mulai bergerak.
Tidak berapa lama, dari atas. Chaca menuruni anak tangga dengan Yoga yang berada disisi kanan dan Wira berada di sisi kiri Chaca. Mereka sepertinya tidak ingin melewatkan untuk mengantar Chaca ke altar pernikahan.
Reynand tidak berkedip menatap Chaca. Wanita itu sungguh terlihat sangat cantik. Rasanya dia tidak ingin orang lain melihatnya. Untungnya hari ini tidak ada tamu lain selain keluarga.
Chaca berdiri tepat di depan Reynand. Wira dan Yoga menyerahkan Chaca pada Reynand dan berpesan untuk selalu membahagiakan berlian mereka.
"Aku percayakan putriku satu-satunya padamu. Bahagiakan dia. Jangan sekali-kali menyakitinya lagi. Atau jika tidak, bogem mentah ku akan mendarat lebih banyak di wajah mu." seru Yoga
Semua orang yang mendengarnya hanya bisa menggeleng pelan. Mereka merasa jika Yoga terlalu posesif.
"Baik Om. Aku berjanji padamu. Aku akan menjaga dan membahagiakan Chaca."
"Aku juga berpesan untuk tidak membuatnya menangis. Jika kau sudah tidak mencintai nya, bawa dia pada kami. Dengan senang hati kami akan menerimanya kembali." kali ini Wira mengatakan sesuatu yang membuat semua orang tersentuh. Begitu juga dengan Chaca yang mulai menitikkan air mata
"Kakek tenang saja. Aku tidak akan membuat nya menangis kecuali air mata kebahagiaan. Dan aku tidak kan pernah mengembalikan Chaca pada kalian. Kecuali aku mati."
__ADS_1
deg
Chaca menatap Reynand. Ucapannya mengingatkan nya pada rencana Reynand yang akan melawan musuh-musuhnya. Entah mengapa dia menjadi gelisah.
Kini Chaca sudah berdiri di samping Reynand. Dan dengan bimbingan dari pendeta mereka mengucapkan janji suci dengan lancar dan sah menjadi suami istri.
Mereka di perkenankan untuk memakaikan cincin di jari manis masing-masing dan setelah nya mereka mulai berciuman.
Semua bertepuk tangan untuk kebahagiaan keduanya. Bahkan Wira terharu sampai menitikkan air mata.
"Apa kau bisa melihatnya di atas sana, sayang? Cucu kita sudah menikah dengan pria yang dia cintai. Aku sangat bahagia melihat senyumnya kembali merekah berada di samping Reynand. Sekarang kau bisa tenang diatas sana dengan Aliana. Putri yang kau sayangi sudah bahagia, Ana. Jadi tenanglah kalian di sana." batin Wira
Satu persatu dari kerabat mereka mengucapkan selamat untuk kedua mempelai. Mereka ikut bahagia dengan pernikahan keduanya. Semua tahu bagaimana perjalanan cinta mereka. Apa saja yang mereka lewati selama ini.
"Aku sangat bahagia melihat kalian bersatu. Selamat Chaca." Sivanya memeluk Chaca. Dia tidak bisa menyembunyikan tangisnya. Dia terlalu bahagia.
"Terimakasih Siva. Kau juga sebentar lagi akan menikah dengan kak Dhika kan?"
"Boleh aku memelukmu?" seru Sivanya
"5 detik." jawab Reynand singkat
"Ck... Kau masih saja menyebalkan seperti dulu." Sivanya memeluk erat Reynand. Walaupun mereka tidak sedekat itu. Tapi dia senang Raka masih hidup.
"Waktu habis." bukan Reynand, tapi kali ini Andhika yang berbicara. Mau tidak mau Sivanya melepaskan pelukannya.
"Dasar menyebalkan." gumam Sivanya
Acara berganti dengan pesta makan-makan. Mereka berkumpul di meja makan yang sangat besar. Banyak makanan tersaji di sana. Dan mereka menikmati hidangan disana.
__ADS_1
Reynand menarik Chaca menjauh dari meja makan. Dia membawa wanita itu ke kamar.
"Ada apa kak?" tanya Chaca
"Kakak capek. Ingin istirahat." Reynand membaringkan tubuhnya.
"Kalau mau istirahat, mandi dulu kak."
"Mandiin ya!!"
"Ck... Ini masih siang kak."
"Memangnya kenapa jika masih siang? Chaca gak mau melayani Kakak?"
"Bu_bukan begitu."
"Kamar Chaca kedap suara?" tanya Reynand yang di jawab gelengan oleh Chaca
Reynand menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya kasar. Dia pergi ke kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya. Setelah ini lebih baik dia membawa Chaca ke apartemen nya agar tidak ada yang mengganggu mereka. Hanya malam ini saja. Dia tidak ingin ada yang mengganggu aktivitas panas mereka.
Reynand sudah selesai mandi. Dia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Chaca buruan mandi gih!! Kita balik ke apartemen sekarang." seru Reynand
"Kenapa buru-buru kak?"
"Chaca tahu alasannya, kenapa masih bertanya, hm ?"
Chaca menunduk. Dia tidak menyangka hari itu akan datang. Dia semakin gelisah. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Reynand? Bagaimana jika Reynand terluka? Bagaimana jika....
__ADS_1
"Cha!!" panggil Reynand.
"I_iya kak. Ya udah Chaca mandi dulu." Chaca bergegas masuk ke kamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi dan menangis dalam diam. Dia sungguh tidak siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Tapi itu sudah menjadi keputusan Reynand dan dia tidak bisa menghalanginya.