
Hari demi hari terus berlalu hingga akhirnya semua yang ada
di kelas A itu saling akrab, satu sama lain. Mulai muncul geng-geng kecil di
dalam kelas itu. Ada geng yang menggunakan nama pesantren. Ada juga geng yang
berisikan para mahasiswi yang ternyata memiliki hobi yang sama; berdiam diri
dan fokus belajar, ini geng yang baik dan selalu duduk di barisan terdepan saat
kuliah. Kalau yang putra, gengnya lebih didominasi mereka yang memiliki hobi
bermain game online.
Arman bukan ketiga-tiganya. Ia tidak suka bermain game, tapi
juga tidak memungkinkan untuk bergabung dengan geng-geng lainnya. Jika sedang
berada di kelas, Arman terkesan pasif dan memilih untuk mengikuti alur; kemana
teman-temannya akan membawanya, ia ikuti selagi hati kecilnya masih mengatakan
bahwa itu benar dan pantas untuk diikuti.
Bayang-bayang tentang Naila dan rasa kecewanya terhadap
takdir yang sedang tidak berpihak kepadanya, masih saja menjadi olahan
pikirannya. Hal itu masih sering berkelebat, dan Arman akan benar-benar mengutuk
dirinya. Terlebih jika mengingat percakapannya dengan hatinya sendiri beberapa
minggu yang lalu di balkon asrama. Terasa sangat sakit bak ada sembilu yang
menusuk menggebu-gebu.
Ah, rasanya Arman kini benar-benar kehilangan gairah untuk
belajar di kerasnya dunia kampus. Sampai detik ini, ia belum menemukan sosok
seperti Anwari, teman di pesantrennya dulu yang bisa mengerti hati dan pikiran
Arman, yang mau menerima segala kekurangan Arman, dan tentunya, bisa menjadi
teman yang baik, yang mengarahkan Arman agar bisa menjadi sosok yang lebih baik
lagi setiap harinya.
Motivasi-motivasi yang dulu selalu Arman serap dari Anwari,
kini tak ada lagi. Anwari yang setiap pagi datang membawa nasi bungkus untuk
bersarapan bersama Arman sambil berbagi cerita penuh makna, kini benar-benar
pergi. Arman kembali merindukan sosok Anwari. Bahkan jika boleh meminta, ia
akan meminta kepada Allah agar disandingkan dengan orang lain yang berhati
seperti hati Anwari.
Beberapa minggu berada di Universitas Ulul Albab, Arman
benar-benar pantas dikatakan ‘mahasiswa culun’. Sifat instrovernya benar-benar
akut, tidak bisa disembuhkan. Kemana-mana ia masih sering sendiri. Ada sih,
beberapa temannya yang mau menemaninya. Tapi setelah itu, mereka akan pergi dan
sibuk mengurus urusan masing-masing. Hati Arman belum cocok dengan watak
mereka. Tidak seperti Anwari!
“Sudah lah, Man. Anwari kini benar-benar pergi dan tak akan
pernah kembali. Ia telah berbahagia di surga-Nya. Terpenting bagimu sekarang;
lakukan apapun yang bisa membahagiakan hatimu dan hati Anwari juga. Ia akan
lebih bahagia jika melihat dirimu menjalankan semua motivasinya, dari pada kamu
berlarut-larut dalam kesedihan meratapi kepergiannya.” Arman bergumam di
tengah-tengah kesendiriannya.
“Man, bengong saja!” Tangan Fadil tiba-tiba mendarat di bahu
Arman. Ia menghapus semua yang sedang berputar-putar di benaknya. Fadil duduk
di samping Arman, maka tidak terlalu jauh baginya untuk berhasil membuat Arman
terkejut.
“Eh iya, Dil. Bingung sih, mau ngapain.” Arman tertawa kecil
mendapati dirinya terlihat bengong di hadapan Fadil. Sedetik kemudian ia
berkata lagi, “Kamu gak nge-game?”
Fadil menggeleng sambil mencebikkan bibirnya. Ia menatap
kosong ke arah papan, entah apa yang sedang ia pikirkan. Arman ikut kehilangan
akal melihatnya, kalap, tak tahu harus berbuat apa. Sementara ini, dari sepuluh
teman laki-lakinya di kelas, Fadil lah yang paling dekat dengan Arman, meski
tidak sedekat Zami, apalagi Anwari.
“Gak mood, Man!” Fadil kembali bersuara setelah
beberapa menit saling beradu diam dengan Arman. Seperti perkataannya, suaranya
juga terdengar lunglai dan terkesan tidak bersemangat untuk hari ini. Spontan
saja Arman bertanya menanggapi itu, “Kenapa? Kok tumben?”
Dahi Arman berkerut, kedua alis tebalnya nyaris bertabrakan
satu sama lain. Biasanya, Fadil adalah orang paling heboh di kelas A itu.
Selalu datang setiap pagi membawa humor-humor baru. Tapi kali ini beda, sejak masuk
ke kelas beberapa menit yang lalu, wajah yang terpasang bukanlah wajah yang
ceria. Ini bukan Fadil yang Arman kenal.
Fadil bisa dikata fleksibel. Ia bisa berteman dan bergaul
dengan siapapun. Pintar? Iya, hobi main game? Juga iya. Satu kekurangan yang
sering menjadi bahan bully-an teman-temannya adalah; ia sering tidur di
kelas. Tapi hebatnya, Fadil bisa menjawab semua pertanyaan dosen meski baru
terbangun dari tidurnya. Tentu hal itu membuat seisi kelas akan
menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku akan pindah dari sini. Aku akan kuliah di luar negeri!”
Kata Fadil lirih di telinga Arman setelah sebelumnya saling mendekatkan kepala.
Pernyataannya itu membuat Arman terperanjat tak percaya. Arman berteriak
refleks, “Apa?!”
Semua mata tertuju kepada Arman yang tiba-tiba berteriak
itu. Untung dosennya belum datang. Semua bertanya-tanya, kenapa Arman tiba-tiba
berteriak. Semua membutuhkan jawaban yang memuaskan, mengobati rasa
penasarannya, meski akhirnya pekerjaan menjawab itu diambil alih oleh Fadil,
“Enggak, kok. Gak ada apa-apa. Iya kan, Man?” Arman mengangguk kalap.
Secepat itu Arman mengangguk, secepat itu pula semua mata di
kelas itu kembali kepada fokusnya masing-masing. Ada yang sedang membaca; buku
dan chat di handphone. Fadil meraih tangan kanan Arman yang masih
__ADS_1
mendarat di mulutnya, ia menggenggamnya. Sedetik kemudian ia kembali
mendekatkan diri kepada Arman, yang kemudian diperlakukan sama oleh Arman.
Fadil mendekatkan mulutnya ke telinga Arman lagi lalu berkata, “Jangan
bilang-bilang ke yang lain dulu.”
“Yahh.. Kemauan siapa, Dil?” Arman lesu mendengar pernyataan
Fadil. Semangatnya kini semakin menyurut. Fadil akan pergi dan ia akan
beradaptasi lagi dengan teman-teman lainnya. Sedikit demi sedikit ia akan
kembali dan benar-benar menjadi ‘mahasiswa culun’. Fadil tersenyum masam,
seakan tidak tega melihat wajah Arman. Sejurus kemudian Fadil menjawab
pertanyaan Arman, “Kemauan orang tuaku.”
Ternyata, jauh sebelum ia mendaftarkan diri di kampus ini,
Fadil telah terlebih dahulu mendaftarkan diri di Istanbul University, Turki. Semua
itu tentu demi rida kedua orang tuanya yang sangat menginginkan Fadil belajar
di luar negeri. Kemampuan bahasa asing Fadil yang dikira cukup menjadi bekal
baginya untuk belajar di luar negeri, membuat kedua orang tuanya sangat
antusias memberangkatkan Fadil ke luar negeri. Tapi justru Fadil tidak
menginginkan itu. Makanya hari ini menjadi hari yang paling menyebalkan baginya
lantaran tadi pagi, subuh-subuh, ayahnya menghubunginya dan mengatakan bahwa ia
harus pergi ke Turki minggu depan.
“Ya sudah, Dil. Lakukan semua keinginan kedua orang tuamu.
Itu lebih baik bagimu dari pada harus mengikuti kehendakmu dan melepaskan
keridaan kedua orang tuamu.” Arman serta merta menjadi makhluk bijak. Ia
menasihati Fadil sebagaimana guru-gurunya dulu menasihatinya, memberikan
wejangan tentang pentingnya rida orang tua dalam kehidupan.
“Aku pasti akan menjalaninya, Man. Aku juga tahu pentingnya
rida orang tua dalam kehidupan kita. Tapi..” Fadil tertegun setelah berkata
lirih. Kerongkongannya tiba-tiba merasa sakit lantaran tak mampu berkata-kata.
Matanya mulai berkaca-kaca, yang lantas ia hempaskan genangan air mata di
pelupuknya itu dengan ujung lengan bajunya. Ia tidak ingin menangis, khawatir
teman-temannya merasa iba dengannya.
Arman mengangkat tangannya dan sedetik kemudian ia letakkan
di atas pundak Fadil yang masih belum selesai menyeka air matanya. Arman turut
tertegun dan kalap harus berbuat apa. Ia akan kehilangan temannya untuk kedua
kalinya setelah kepergian Anwari dua bulan yang lalu. Di posisi seperti ini,
Arman akan lebih memilih untuk diam dan tak berkomentar apa-apa.
“Aku baru saja merasa nyaman dengan teman-teman sekelas
kita, termasuk kamu. Tapi di saat yang bersamaan, aku harus pergi meninggalkan
kalian. Kalau boleh jujur, Man, aku seperti kamu, aku sulit beradaptasi dengan
teman-teman sendiri. Tapi aku paksakan diriku agar tampak fleksibel, aku tidak
ingin orang-orang di sekitarku harus sungkan terhadapku sebab keenggananku
untuk berteman.” Fadil menjelaskan semua isi hatinya dengan suara yang
terbata-bata. Ia menahan air matanya.
juga, Dil!” Kalimat Arman membuat Fadil tercenung. Ia sedang dilanda dilema
yang hebat, antara mengikuti saran Arman atau justru menyembunyikan berita
kepergiannya hingga Fadil benar-benar akan pergi. Merasakan hal itu, Arman
kembali berkata, “Kalau kamu harus menunda semuanya hingga saat kepergianmu, kamu
akan membuat mereka terkejut dan justru hal itu lebih menyakitkan, Dil.”
Fadil terdiam. Ia memikirkan perkataan Arman lebih dalam
lagi. Ia menimbang dua kemungkinan yang akan harus ia tentukan secepatnya,
mumpung dosen belum datang –seperti kata Arman setelah itu-. Arman memberikan
jeda kepada Fadil agar ia bisa menimbang perkataanya dan Fadil akan menentukan
yang terbaik untuk dirinya dan teman-temannya.
Akhirnya, setelah sekitar lima menit berpikir dan tanpa
menimpali perkataan Arman lagi, Fadil beranjak dari tempat duduknya, berdiri
lantas pergi meninggalkan Arman. Arman hanya terdiam dan menatap Fadil dari
belakang yang sedang dilanda keresahan penuh iba. Fadil berjalan, sedangkan
mata teman-temannya belum mau terfokus kepadanya. Hingga akhirnya Fadil
membalik badannya dan menghadap ke arah teman-temannya.
“Aku minta waktunya sebentar, kawan.” Kata Fadil tanpa
senyum. Badannya bergetar hebat. Groginya bukan karena ini kali pertamanya ia
berbicara di depan orang, tapi karena beban yang dipikulnya terasa sangat
berat. Ia harus membagikannya sedikit demi sedikit kepada semua teman-temannya,
meski ia tidak bisa setega itu.
Syahdan, semua mata tertuju kepada Fadil yang kini sedang
berdiri di depan. Semua bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Tanpa berpikir
panjang, Fadil pun mencurahkan seluruh isi hatinya. Mulai dari keinginan orang
tuanya saat ia masih duduk di kelas dua belas SMA, daftar kuliah di Turki,
keputusan untuk masuk Universitas Ulul Albab ini, hingga akhirnya ia harus
pergi demi sebuah kata ‘rida’.
Berat. Fadil pun tak kuat membendung air matanya. Air mata
itu benar-benar membuat suasana kelas sangat hening, hingga akhirnya ada isak
tangis yang terdengar dari salah satu perempuan di kelas itu. Berharu biru,
nyaris seisi kelas turut menitikkan air matanya. Semua tidak percaya dan
tentunya sangat merasa kehilangan. Fadil yang baru saja menjadi pemeran baru
dalam cerita hidup mereka, kini ia benar-benar harus pergi, menjemput rida
orang tua di negara transkontinental itu.
“Seharusnya aku tidak melakukan ini sekarang. Bagiku, ini
teramat cepat dan aku belum siap menjalankannya.” Ujar Fadil membuat Arman
berdiri dan berhambur memeluk Fadil. Semua laki-laki yang ada di kelas itu
turut berhambur dan memeluk keduanya. Hanya Asror yang tak mau berdiri, ia
lebih memilih menangis di tempat duduknya tanpa harus turut berpelukan. Alasannya
__ADS_1
cukup masuk akal, tidak ingin menjadikan semua yang terjadi pagi ini sebagai
kenangan pahit baginya.
Fadil mengakhiri orasi terakhirnya dengan meminta maaf atas
semua kesalahan yang pernah ia perbuat, meski sebenarnya belum ada kesalahan
yang ia perbuat kepada teman-temannya di kelas itu. Ia juga berterima kasih
lantaran bisa diterima di tengah teman-temannya itu. Meskipun ini dirasa
terlalu cepat bagi Fadil –dan teman-temannya juga pastinya-, tapi ini sungguh
bukan keinginan Fadil.
Ia juga berpesan, “Kejarlah mimpi kalian dimanapun kalian
berada. Usahakan apa yang bisa kalian usahakan agar bisa membanggakan orang tua
kalian. Tapi yang perlu diingat, di balik kesuksesan anak terdapat rida kedua
orang tua. Jika rida keduanya telah didapat, percayalah bahwa kesuksesan akan
datang menghampiri dengan sendirinya.
Fadil kembali ke tempatnya, kemudian duduk dan menenangkan
dirinya. Begitupun dengan yang lain. Mereka menghentikan isak tangis
masing-masing, mungkin agar tak terlihat cengeng. Ada yang hanya menenangkan
diri sambil menunggu air matanya kering, ada yang menghapusnya dengan tisu,
bahkan lengan baju pun turut menjadi penenang.
Beberapa menit setelah itu, dosen untuk jadwal pagi ini
datang. Demikianlah dan perkuliahan hari itu berjalan dengan lancar. Hanya sedikit
konflik di awal, karena Fadil kini akan pergi. Arman akan sibuk beradaptasi
lagi dengan orang yang dianggap mampu menggantikan Fadil. Kenangannya bersama
Fadil tentu akan menjadi kenangan yang sangat pantas diceritakan kepada
siapapun. Termasuk anak-cucu Arman kelak. Sebab di balik pemalasnya Fadil saat
ini, ada kecerdasan yang ia peroleh dengan kerja keras sebelumnya.
***
Matahari
telah tenggelam, dan hari kini telah berubah menjadi malam. Arman yang sedang
belajar bersama teman-teman asramanya untuk kuliah esok hari, kini harus menunda
sejenak lantaran ibunya menelepon. Arman raih handphone yang ada di atas
kasurnya, lalu berjalan keluar dari asramanya ke balkon untuk mencari
ketenangan –dan juga sinyal-, lalu mengangkatnya.
Keduanya saling
mengucapkan salam, dan juga saling bertanya kabar. Setiap minggu tiga kali, ibu
Arman akan menelepon anaknya. Ada kabar penting, atau tidak pasti akan
menelepon sesuai jadwalnya. Kalau obrolan via WhatsApp, sudah tidak perlu
ditanyakan lagi. Setiap hari ibunya pasti mengirimkan chat untuk sekadar
membicarakan hal-hal yang tak penting.
“Gimana
kuliahmu, le?” Ibu Arman selalu menanyakan hal itu. Berkali-kali. Mungkin hingga
beliau hafal jawaban yang akan dilontarkan oleh Arman setelah ini.
“Alhamdulillah,
bu. Lancar-lancar saja.” Arman menjawab singkat. Iya sampai hafal bagaimana cara
ia menjawab. Bahkan ia tak pernah merasa bosan kalaupun harus mengucapkannya
setiap kali ibunya menelepon.
“Alhamdulillah.
Ada cerita apa hari ini?” Pertanyaan ibunya yang satu ini memang juga
ditanyakan berkali-kali. Tapi jawaban dari Arman selalu berbeda-beda. Hari ini
Arman menceritakan tentang Fadil dan orang tuanya. Semua yang terjadi di kelas
pagi tadi, ia ceritakan tanpa ada yang tersisa.
Ibu Arman
sangat antusias mendengarkan cerita Arman tentang temannya itu. Meski di
sela-selanya beliau selalu menjawab dengan singkat; hemm, ya, terus, loh, dan
sejenisnya. Beliau tidak akan memotong cerita Arman kecuali jika Arman telah
selesai dari ceritanya. Begitupun jika ibunya sedang ingin mencurahkan isi
hatinya, Arman akan keluar menjadi pendengar setia hingga cerita ibunya usai.
Setelah bercerita,
Arman memulai pembicaraan yang serius. Arman duduk di tembok pembatas,
membenarkan posisi, lalu berkata, “Enak ya, jadi Fadil. Ia ingin sekolah di
Indonesia tapi orang tuanya justru punya cita-cita yang lebih tinggi.” Maksud hati,
Arman ingin menyindir ibunya yang menolak keras saat dirinya mendaftarkan diri
di King Saud University.
“Nyindir ini,
ceritanya?” Ibu Arman peka terhadap sindiran anaknya itu. Arman lantas tertawa
terbahak-bahak tanpa sungkan. Ia berhasil membuat ibu mengungkit kembali masa
lalunya.
“Kamu ingin
kuliah ke luar? Ya sudah, keluar saja sana!” Kata ibunya lagi, ketus.
“Yah..
Percuma, bu. Sudah telat kalau ibu bilang gitu sekarang. Waktu itu sudah
delapan puluh persen. Tapi ibu bersikeras agar Arman kuliah di dalam saja.”
Arman menggerutu kepada ibunya. Sama seperti belasan tahun yang lalu saat ia
merengek minta dibelikan mobil-mobilan.
“Selesaikan
saja di situ dulu. Kalau mau keluar, nunggu S2-nya saja.” Kata ibu Arman.
Malam itu
begitu dingin. Semilir angin membawa kedinginan yang merasuk ke pori-pori
lantas menghujam tulang-belulang bertubi-tubi. Gemintang yang selalu tampak
cantik, tak bosannya menemani rembulan yang samar-samar mengintip di balik awan
hitam.
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on Instagram!