Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Mahasiswa Culun (II)


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu hingga akhirnya semua yang ada


di kelas A itu saling akrab, satu sama lain. Mulai muncul geng-geng kecil di


dalam kelas itu. Ada geng yang menggunakan nama pesantren. Ada juga geng yang


berisikan para mahasiswi yang ternyata memiliki hobi yang sama; berdiam diri


dan fokus belajar, ini geng yang baik dan selalu duduk di barisan terdepan saat


kuliah. Kalau yang putra, gengnya lebih didominasi mereka yang memiliki hobi


bermain game online.


Arman bukan ketiga-tiganya. Ia tidak suka bermain game, tapi


juga tidak memungkinkan untuk bergabung dengan geng-geng lainnya. Jika sedang


berada di kelas, Arman terkesan pasif dan memilih untuk mengikuti alur; kemana


teman-temannya akan membawanya, ia ikuti selagi hati kecilnya masih mengatakan


bahwa itu benar dan pantas untuk diikuti.


Bayang-bayang tentang Naila dan rasa kecewanya terhadap


takdir yang sedang tidak berpihak kepadanya, masih saja menjadi olahan


pikirannya. Hal itu masih sering berkelebat, dan Arman akan benar-benar mengutuk


dirinya. Terlebih jika mengingat percakapannya dengan hatinya sendiri beberapa


minggu yang lalu di balkon asrama. Terasa sangat sakit bak ada sembilu yang


menusuk menggebu-gebu.


Ah, rasanya Arman kini benar-benar kehilangan gairah untuk


belajar di kerasnya dunia kampus. Sampai detik ini, ia belum menemukan sosok


seperti Anwari, teman di pesantrennya dulu yang bisa mengerti hati dan pikiran


Arman, yang mau menerima segala kekurangan Arman, dan tentunya, bisa menjadi


teman yang baik, yang mengarahkan Arman agar bisa menjadi sosok yang lebih baik


lagi setiap harinya.


Motivasi-motivasi yang dulu selalu Arman serap dari Anwari,


kini tak ada lagi. Anwari yang setiap pagi datang membawa nasi bungkus untuk


bersarapan bersama Arman sambil berbagi cerita penuh makna, kini benar-benar


pergi. Arman kembali merindukan sosok Anwari. Bahkan jika boleh meminta, ia


akan meminta kepada Allah agar disandingkan dengan orang lain yang berhati


seperti hati Anwari.


Beberapa minggu berada di Universitas Ulul Albab, Arman


benar-benar pantas dikatakan ‘mahasiswa culun’. Sifat instrovernya benar-benar


akut, tidak bisa disembuhkan. Kemana-mana ia masih sering sendiri. Ada sih,


beberapa temannya yang mau menemaninya. Tapi setelah itu, mereka akan pergi dan


sibuk mengurus urusan masing-masing. Hati Arman belum cocok dengan watak


mereka. Tidak seperti Anwari!


“Sudah lah, Man. Anwari kini benar-benar pergi dan tak akan


pernah kembali. Ia telah berbahagia di surga-Nya. Terpenting bagimu sekarang;


lakukan apapun yang bisa membahagiakan hatimu dan hati Anwari juga. Ia akan


lebih bahagia jika melihat dirimu menjalankan semua motivasinya, dari pada kamu


berlarut-larut dalam kesedihan meratapi kepergiannya.” Arman bergumam di


tengah-tengah kesendiriannya.


“Man, bengong saja!” Tangan Fadil tiba-tiba mendarat di bahu


Arman. Ia menghapus semua yang sedang berputar-putar di benaknya. Fadil duduk


di samping Arman, maka tidak terlalu jauh baginya untuk berhasil membuat Arman


terkejut.


“Eh iya, Dil. Bingung sih, mau ngapain.” Arman tertawa kecil


mendapati dirinya terlihat bengong di hadapan Fadil. Sedetik kemudian ia


berkata lagi, “Kamu gak nge-game?”


Fadil menggeleng sambil mencebikkan bibirnya. Ia menatap


kosong ke arah papan, entah apa yang sedang ia pikirkan. Arman ikut kehilangan


akal melihatnya, kalap, tak tahu harus berbuat apa. Sementara ini, dari sepuluh


teman laki-lakinya di kelas, Fadil lah yang paling dekat dengan Arman, meski


tidak sedekat Zami, apalagi Anwari.


“Gak mood, Man!” Fadil kembali bersuara setelah


beberapa menit saling beradu diam dengan Arman. Seperti perkataannya, suaranya


juga terdengar lunglai dan terkesan tidak bersemangat untuk hari ini. Spontan


saja Arman bertanya menanggapi itu, “Kenapa? Kok tumben?”


Dahi Arman berkerut, kedua alis tebalnya nyaris bertabrakan


satu sama lain. Biasanya, Fadil adalah orang paling heboh di kelas A itu.


Selalu datang setiap pagi membawa humor-humor baru. Tapi kali ini beda, sejak masuk


ke kelas beberapa menit yang lalu, wajah yang terpasang bukanlah wajah yang


ceria. Ini bukan Fadil yang Arman kenal.


Fadil bisa dikata fleksibel. Ia bisa berteman dan bergaul


dengan siapapun. Pintar? Iya, hobi main game? Juga iya. Satu kekurangan yang


sering menjadi bahan bully­-an teman-temannya adalah; ia sering tidur di


kelas. Tapi hebatnya, Fadil bisa menjawab semua pertanyaan dosen meski baru


terbangun dari tidurnya. Tentu hal itu membuat seisi kelas akan


menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku akan pindah dari sini. Aku akan kuliah di luar negeri!”


Kata Fadil lirih di telinga Arman setelah sebelumnya saling mendekatkan kepala.


Pernyataannya itu membuat Arman terperanjat tak percaya. Arman berteriak


refleks, “Apa?!”


Semua mata tertuju kepada Arman yang tiba-tiba berteriak


itu. Untung dosennya belum datang. Semua bertanya-tanya, kenapa Arman tiba-tiba


berteriak. Semua membutuhkan jawaban yang memuaskan, mengobati rasa


penasarannya, meski akhirnya pekerjaan menjawab itu diambil alih oleh Fadil,


“Enggak, kok. Gak ada apa-apa. Iya kan, Man?” Arman mengangguk kalap.


Secepat itu Arman mengangguk, secepat itu pula semua mata di


kelas itu kembali kepada fokusnya masing-masing. Ada yang sedang membaca; buku


dan chat di handphone. Fadil meraih tangan kanan Arman yang masih

__ADS_1


mendarat di mulutnya, ia menggenggamnya. Sedetik kemudian ia kembali


mendekatkan diri kepada Arman, yang kemudian diperlakukan sama oleh Arman.


Fadil mendekatkan mulutnya ke telinga Arman lagi lalu berkata, “Jangan


bilang-bilang ke yang lain dulu.”


“Yahh.. Kemauan siapa, Dil?” Arman lesu mendengar pernyataan


Fadil. Semangatnya kini semakin menyurut. Fadil akan pergi dan ia akan


beradaptasi lagi dengan teman-teman lainnya. Sedikit demi sedikit ia akan


kembali dan benar-benar menjadi ‘mahasiswa culun’. Fadil tersenyum masam,


seakan tidak tega melihat wajah Arman. Sejurus kemudian Fadil menjawab


pertanyaan Arman, “Kemauan orang tuaku.”


Ternyata, jauh sebelum ia mendaftarkan diri di kampus ini,


Fadil telah terlebih dahulu mendaftarkan diri di Istanbul University, Turki. Semua


itu tentu demi rida kedua orang tuanya yang sangat menginginkan Fadil belajar


di luar negeri. Kemampuan bahasa asing Fadil yang dikira cukup menjadi bekal


baginya untuk belajar di luar negeri, membuat kedua orang tuanya sangat


antusias memberangkatkan Fadil ke luar negeri. Tapi justru Fadil tidak


menginginkan itu. Makanya hari ini menjadi hari yang paling menyebalkan baginya


lantaran tadi pagi, subuh-subuh, ayahnya menghubunginya dan mengatakan bahwa ia


harus pergi ke Turki minggu depan.


“Ya sudah, Dil. Lakukan semua keinginan kedua orang tuamu.


Itu lebih baik bagimu dari pada harus mengikuti kehendakmu dan melepaskan


keridaan kedua orang tuamu.” Arman serta merta menjadi makhluk bijak. Ia


menasihati Fadil sebagaimana guru-gurunya dulu menasihatinya, memberikan


wejangan tentang pentingnya rida orang tua dalam kehidupan.


“Aku pasti akan menjalaninya, Man. Aku juga tahu pentingnya


rida orang tua dalam kehidupan kita. Tapi..” Fadil tertegun setelah berkata


lirih. Kerongkongannya tiba-tiba merasa sakit lantaran tak mampu berkata-kata.


Matanya mulai berkaca-kaca, yang lantas ia hempaskan genangan air mata di


pelupuknya itu dengan ujung lengan bajunya. Ia tidak ingin menangis, khawatir


teman-temannya merasa iba dengannya.


Arman mengangkat tangannya dan sedetik kemudian ia letakkan


di atas pundak Fadil yang masih belum selesai menyeka air matanya. Arman turut


tertegun dan kalap harus berbuat apa. Ia akan kehilangan temannya untuk kedua


kalinya setelah kepergian Anwari dua bulan yang lalu. Di posisi seperti ini,


Arman akan lebih memilih untuk diam dan tak berkomentar apa-apa.


“Aku baru saja merasa nyaman dengan teman-teman sekelas


kita, termasuk kamu. Tapi di saat yang bersamaan, aku harus pergi meninggalkan


kalian. Kalau boleh jujur, Man, aku seperti kamu, aku sulit beradaptasi dengan


teman-teman sendiri. Tapi aku paksakan diriku agar tampak fleksibel, aku tidak


ingin orang-orang di sekitarku harus sungkan terhadapku sebab keenggananku


untuk berteman.” Fadil menjelaskan semua isi hatinya dengan suara yang


terbata-bata. Ia menahan air matanya.


juga, Dil!” Kalimat Arman membuat Fadil tercenung. Ia sedang dilanda dilema


yang hebat, antara mengikuti saran Arman atau justru menyembunyikan berita


kepergiannya hingga Fadil benar-benar akan pergi. Merasakan hal itu, Arman


kembali berkata, “Kalau kamu harus menunda semuanya hingga saat kepergianmu, kamu


akan membuat mereka terkejut dan justru hal itu lebih menyakitkan, Dil.”


Fadil terdiam. Ia memikirkan perkataan Arman lebih dalam


lagi. Ia menimbang dua kemungkinan yang akan harus ia tentukan secepatnya,


mumpung dosen belum datang –seperti kata Arman setelah itu-. Arman memberikan


jeda kepada Fadil agar ia bisa menimbang perkataanya dan Fadil akan menentukan


yang terbaik untuk dirinya dan teman-temannya.


Akhirnya, setelah sekitar lima menit berpikir dan tanpa


menimpali perkataan Arman lagi, Fadil beranjak dari tempat duduknya, berdiri


lantas pergi meninggalkan Arman. Arman hanya terdiam dan menatap Fadil dari


belakang yang sedang dilanda keresahan penuh iba. Fadil berjalan, sedangkan


mata teman-temannya belum mau terfokus kepadanya. Hingga akhirnya Fadil


membalik badannya dan menghadap ke arah teman-temannya.


“Aku minta waktunya sebentar, kawan.” Kata Fadil tanpa


senyum. Badannya bergetar hebat. Groginya bukan karena ini kali pertamanya ia


berbicara di depan orang, tapi karena beban yang dipikulnya terasa sangat


berat. Ia harus membagikannya sedikit demi sedikit kepada semua teman-temannya,


meski ia tidak bisa setega itu.


Syahdan, semua mata tertuju kepada Fadil yang kini sedang


berdiri di depan. Semua bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Tanpa berpikir


panjang, Fadil pun mencurahkan seluruh isi hatinya. Mulai dari keinginan orang


tuanya saat ia masih duduk di kelas dua belas SMA, daftar kuliah di Turki,


keputusan untuk masuk Universitas Ulul Albab ini, hingga akhirnya ia harus


pergi demi sebuah kata ‘rida’.


Berat. Fadil pun tak kuat membendung air matanya. Air mata


itu benar-benar membuat suasana kelas sangat hening, hingga akhirnya ada isak


tangis yang terdengar dari salah satu perempuan di kelas itu. Berharu biru,


nyaris seisi kelas turut menitikkan air matanya. Semua tidak percaya dan


tentunya sangat merasa kehilangan. Fadil yang baru saja menjadi pemeran baru


dalam cerita hidup mereka, kini ia benar-benar harus pergi, menjemput rida


orang tua di negara transkontinental itu.


“Seharusnya aku tidak melakukan ini sekarang. Bagiku, ini


teramat cepat dan aku belum siap menjalankannya.” Ujar Fadil membuat Arman


berdiri dan berhambur memeluk Fadil. Semua laki-laki yang ada di kelas itu


turut berhambur dan memeluk keduanya. Hanya Asror yang tak mau berdiri, ia


lebih memilih menangis di tempat duduknya tanpa harus turut berpelukan. Alasannya

__ADS_1


cukup masuk akal, tidak ingin menjadikan semua yang terjadi pagi ini sebagai


kenangan pahit baginya.


Fadil mengakhiri orasi terakhirnya dengan meminta maaf atas


semua kesalahan yang pernah ia perbuat, meski sebenarnya belum ada kesalahan


yang ia perbuat kepada teman-temannya di kelas itu. Ia juga berterima kasih


lantaran bisa diterima di tengah teman-temannya itu. Meskipun ini dirasa


terlalu cepat bagi Fadil –dan teman-temannya juga pastinya-, tapi ini sungguh


bukan keinginan Fadil.


Ia juga berpesan, “Kejarlah mimpi kalian dimanapun kalian


berada. Usahakan apa yang bisa kalian usahakan agar bisa membanggakan orang tua


kalian. Tapi yang perlu diingat, di balik kesuksesan anak terdapat rida kedua


orang tua. Jika rida keduanya telah didapat, percayalah bahwa kesuksesan akan


datang menghampiri dengan sendirinya.


Fadil kembali ke tempatnya, kemudian duduk dan menenangkan


dirinya. Begitupun dengan yang lain. Mereka menghentikan isak tangis


masing-masing, mungkin agar tak terlihat cengeng. Ada yang hanya menenangkan


diri sambil menunggu air matanya kering, ada yang menghapusnya dengan tisu,


bahkan lengan baju pun turut menjadi penenang.


Beberapa menit setelah itu, dosen untuk jadwal pagi ini


datang. Demikianlah dan perkuliahan hari itu berjalan dengan lancar. Hanya sedikit


konflik di awal, karena Fadil kini akan pergi. Arman akan sibuk beradaptasi


lagi dengan orang yang dianggap mampu menggantikan Fadil. Kenangannya bersama


Fadil tentu akan menjadi kenangan yang sangat pantas diceritakan kepada


siapapun. Termasuk anak-cucu Arman kelak. Sebab di balik pemalasnya Fadil saat


ini, ada kecerdasan yang ia peroleh dengan kerja keras sebelumnya.


***


Matahari


telah tenggelam, dan hari kini telah berubah menjadi malam. Arman yang sedang


belajar bersama teman-teman asramanya untuk kuliah esok hari, kini harus menunda


sejenak lantaran ibunya menelepon. Arman raih handphone yang ada di atas


kasurnya, lalu berjalan keluar dari asramanya ke balkon untuk mencari


ketenangan –dan juga sinyal-, lalu mengangkatnya.


Keduanya saling


mengucapkan salam, dan juga saling bertanya kabar. Setiap minggu tiga kali, ibu


Arman akan menelepon anaknya. Ada kabar penting, atau tidak pasti akan


menelepon sesuai jadwalnya. Kalau obrolan via WhatsApp, sudah tidak perlu


ditanyakan lagi. Setiap hari ibunya pasti mengirimkan chat untuk sekadar


membicarakan hal-hal yang tak penting.


“Gimana


kuliahmu, le?” Ibu Arman selalu menanyakan hal itu. Berkali-kali. Mungkin hingga


beliau hafal jawaban yang akan dilontarkan oleh Arman setelah ini.


“Alhamdulillah,


bu. Lancar-lancar saja.” Arman menjawab singkat. Iya sampai hafal bagaimana cara


ia menjawab. Bahkan ia tak pernah merasa bosan kalaupun harus mengucapkannya


setiap kali ibunya menelepon.


“Alhamdulillah.


Ada cerita apa hari ini?” Pertanyaan ibunya yang satu ini memang juga


ditanyakan berkali-kali. Tapi jawaban dari Arman selalu berbeda-beda. Hari ini


Arman menceritakan tentang Fadil dan orang tuanya. Semua yang terjadi di kelas


pagi tadi, ia ceritakan tanpa ada yang tersisa.


Ibu Arman


sangat antusias mendengarkan cerita Arman tentang temannya itu. Meski di


sela-selanya beliau selalu menjawab dengan singkat; hemm, ya, terus, loh, dan


sejenisnya. Beliau tidak akan memotong cerita Arman kecuali jika Arman telah


selesai dari ceritanya. Begitupun jika ibunya sedang ingin mencurahkan isi


hatinya, Arman akan keluar menjadi pendengar setia hingga cerita ibunya usai.


Setelah bercerita,


Arman memulai pembicaraan yang serius. Arman duduk di tembok pembatas,


membenarkan posisi, lalu berkata, “Enak ya, jadi Fadil. Ia ingin sekolah di


Indonesia tapi orang tuanya justru punya cita-cita yang lebih tinggi.” Maksud hati,


Arman ingin menyindir ibunya yang menolak keras saat dirinya mendaftarkan diri


di King Saud University.


“Nyindir ini,


ceritanya?” Ibu Arman peka terhadap sindiran anaknya itu. Arman lantas tertawa


terbahak-bahak tanpa sungkan. Ia berhasil membuat ibu mengungkit kembali masa


lalunya.


“Kamu ingin


kuliah ke luar? Ya sudah, keluar saja sana!” Kata ibunya lagi, ketus.


“Yah..


Percuma, bu. Sudah telat kalau ibu bilang gitu sekarang. Waktu itu sudah


delapan puluh persen. Tapi ibu bersikeras agar Arman kuliah di dalam saja.”


Arman menggerutu kepada ibunya. Sama seperti belasan tahun yang lalu saat ia


merengek minta dibelikan mobil-mobilan.


“Selesaikan


saja di situ dulu. Kalau mau keluar, nunggu S2-nya saja.” Kata ibu Arman.


Malam itu


begitu dingin. Semilir angin membawa kedinginan yang merasuk ke pori-pori


lantas menghujam tulang-belulang bertubi-tubi. Gemintang yang selalu tampak


cantik, tak bosannya menemani rembulan yang samar-samar mengintip di balik awan


hitam.


Bersambung...

__ADS_1


Follow @muhammadnailur on Instagram!


__ADS_2