
Raka menemui Chaca setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya jika Chaca gagal menjalani terapi. Dia menyusul Chaca dan Andhika yang sekarang berada di apartemennya. Dia turun dari motor sport nya dan melihat Chaca diam di dalam mobil dengan tatapan kosong. Tapi setelah melihatnya, Chaca turun dari mobil dengan bibir yang mengembang dan berlari kearahnya. Sepertinya memang hanya dia yang bisa membantu Chaca untuk sembuh
"Kakak." Chaca memeluk Raka erat. Dia menyalurkan kerinduannya yang teramat sangat. Entah berapa lama mereka tidak bertemu. Rasanya sudah bertahun-tahun.
Raka mengajak Chaca bermain di taman yang tidak jauh dari apartemennya. "Maaf sudah membuat Chaca menunggu." ucapnya.
"Tidak apa-apa. Tapi jangan ulangi lagi."
Raka mengangguk. Dia merogoh ponselnya dan menghubungi Andhika jika Chaca sekarang bersamanya. Setelah itu, dia mengajak Chaca pulang. Dia akan memikirkan cara untuk membuat Chaca sembuh dari penyakitnya.
Untuk menghilangkan trauma dan rasa takut, kita harus melawan rasa takut itu sendiri. Dan hanya itu cara satu-satunya yang akan dia lakukan.
Raka menghubungi Andhika dan meminta bantuannya. Dia mempunyai rencana dan meminta agar Andhika menyiapkan semuanya sesuai skenario yang pernah dialamai Chaca di masa lalu. Dan berhasil.
Raka lega akhirnya Chaca bisa melewatinya. Walau mereka menggunakan metode yang ekstrim tapi setidaknya hasilnya sangat memuaskan. Dengan begitu, dia bisa pergi dengan tenang. Hah... Rasanya dia tidak ingin berpisah dengan Chaca. Tapi mau bagaimana lagi. Bersama dengan Raka, Chaca akan dalam bahaya. Raka harus meyakinkan 'Dia' jika Raka sudah mati, baru Chaca akan aman. Dan Raka akan pergi ke Chili, salah satu kota di Monroe county di New York untuk mengubah organisasi yang di miliki oleh Carlos. Dan sekarang saatnya mengenal kan Chaca pada Zion. Selama dia pergi, Raka akan mempercayakan Chaca pada Zion.
*****
Hari ini, Chaca kembali berlatih dengan Zion. Dia sudah bisa menguasai tehnik bela diri dan penggunaan beberapa jenis senjata api. Tapi hari ini juga adalah hari yang tidak akan pernah bisa dia lupakan. Hari yang memisahkan dirinya dengan orang yang dia cintai.
"Mereka mulai bergerak Bos." seru Zion.
Raka mengepalkan tangannya. Hari ini telah tiba. Tapi kenapa mereka datang di saat yang tidak tepat? ada Chaca di sini dan dia tidak ingin Chaca terlibat.
Tidak ada cara lain. Raka segera menghubungi Andhika untuk menjemput Chaca. Dia juga meminta Zion dan yang lain untuk menghalangi musuh setidaknya sampai Chaca aman bersama Andhika.
Raka masuk ke kamarnya yang berada di basecamp menyusul Chaca. Dia ingin memeluk sekali lagi gadisnya sebelum mereka benar-benar terpisah. "Kakak pengen ngomong serius ke Chaca. Kakak seneng Chaca menjadi lebih baik. Teruslah seperti ini. Seperti Chaca yang kakak kenal. Apapun yang terjadi, Chaca harus menghadapinya dengan lapang dada. Jangan sekali-kali terpuruk dalam kesedihan."
"Apa maksud kakak?"
Raka enggan menjawab. Dia meminta Chaca untuk memakai baju karena mereka harus segera pergi. Dia sudah menghubungi Andhika. Jadi, dia akan mengantar Chaca sampai Andhika menjemput nya.
Di perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali. Raka sedang bergelut dengan pikirannya. Dia takut rencananya gagal dan Chaca dalam bahaya.
"Ada apa? Kenapa dari tadi ngeliat kakak kayak gitu ?" tanya Raka tanpa mengalihkan pandangannya ke depan.
Chaca menghela nafas dan berkata, "kakak yang kenapa? kenapa tiba-tiba minta kak Andhika buat jemput Chaca?"
"Kakak ada urusan sebentar, jadi...."
"Lalu kenapa Chaca harus di jemput Kak Andhika? Chaca bisa nunggu Kakak di apartemen. Kakak mau pergi kayak kemarin kan? mau ninggalin chaca lagi kayak kemarin. Kakak......"
CIIITT
Raka menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia menatap Chaca dengan tatapan teduh seperti biasa.
__ADS_1
"Kakak gak akan ninggalin Chaca."
"Bohong."
Raka melepas seatbelt nya dan mencium sekilas bibir Chaca. "Percaya sama Kakak. Kakak gak akan pernah ninggalin Chaca." ucapnya meyakinkan gadis itu.
"Tapi hari ini Kakak aneh banget. Kakak seperti menyembunyikan sesuatu dari Chaca. Ada apa kak?"
Raka terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Chaca. Dia tidak mau chaca terlibat. Apalagi dalam bahaya.
"Chaca..!!" Raka membingkai wajah Chaca dan berkata, "Kakak gak nyembunyi'in apapun dari Chaca. Hati kakak masih untuk chaca dan selamanya untuk Chaca. Kakak cuma pengen Chaca percaya sama Kakak. Apapun yang Chaca lihat, yang chaca denger, Chaca harus percaya sama kakak. Chaca ngerti kan maksud kakak."
"Gak.. Chaca gak ngerti. Chaca......
Ucapan Chaca terhenti saat tiba-tiba terdengar suara tembakan. Gadis itu tersentak, begitu juga dengan Raka. Dia memasang kembali seat belt nya dan saat itu tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ada apa?" tanyanya pada Zion di seberang sana.
"Gawat bos,, salah satu dari mereka lolos dan saat ini mengejar Bos. Saya akan berusaha menghalangi mereka."
"Sial." umpat Raka.Dia menginjak pedal gas dan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Pegangan!!!"
Raka menambah kecepatan. Tapi mobil di belakangnya terus mengejar. Tidak ada pilihan lain. Dia menghubungi Zion untuk menjalankan rencananya. Ini memang beresiko. Dia hanya bisa berharap, Chaca selamat.
Sekarang saatnya menjalankan rencana. Dia berharap Zion melakukan nya dengan benar
Yah, saat ini Zion tengah membidik mobil Raka. Dia menembak ban mobil Raka hingga membuat mobil tersebut hilang kendali dan berguling beberapa kali.
"Maaf Bos." gumam Zion. Dia menaiki motor sport nya dan menghampiri mobil Raka. Zion berharap mereka tidak mengalami luka serius. Tapi semua di luar dugaan. Mobil tersebut mengalami kebocoran tanki bensin. Dan kedua kaki Raka terjepit.
"Tinggalin gue!! Loe selametin Chaca." Raka menoleh kearah Chaca yang masih setia memejamkan mata.
"Tapi Bos..."
"Ikuti kata-kata gue!! Selamatkan Chaca. Dan gue harap loe nepatin janji loe."
Zion memaksa Chaca untuk keluar dari mobil sebelum mobil tersebut meledak. Dia begitu was was dan berharap Raka selamat.
Chaca menggelengkan kepalanya dan memberontak saat Zion memaksa Chaca untuk keluar.
"Tidak!!! Lepasin Zion!! Chaca pengen sama kak Raka.'' teriaknya.
"Gak ada waktu lagi Cha. Kita harus menjauh sebelum mobil itu meledak."
__ADS_1
Deg
Chaca menatap Raka yang berusaha keluar dari mobil. Dia terlihat putus asa.
"Sial..!!! kenapa kaki gue gak bisa keluar!!" Raka menyandarkan punggungnya. Dia menatap Chaca dan tersenyum.
" Ini pertemuan terakhir kita, sayang. Kakak janji akan segera kembali. Walau dengan identitas yang baru, kakak harap Chaca mau kembali pada Kakak."
" I Love You." ucapnya sebelum menutup jendela mobil. Dia dapat mendengar Chaca yang berteriak histeris. Tapi yang harus dia pikirkan sekarang adalah keluar dari sana. Jangan sampai dia benar-benar mati dalam rencananya sendiri.
Raka terus berusaha mengeluarkan kedua kakinya. Dan berhasil. Dia berpindah ke kursi penumpang dan mencoba keluar dari sana. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba mobil tersebut meledak dan membuat Raka terpental cukup jauh.
"TIDAAKKKK!!!" Chaca tidak sadarkan diri bertepatan dengan Andhika yang baru saja sampai.
"Zi_zion!! ada apa sebenarnya?" tanya Andhika panik.
"Gak ada waktu buat jelasin. Sekarang, kau bawa Chaca ke rumah sakit!!"
Andhika melihat Chaca yang tidak sadarkan diri dan beralih ke mobil yang terbakar. Ada apa sebenarnya?
"CEPAT DHIKA!!!" teriak Zion.
Andhika tersentak. Dia buru-buru membawa Chaca ke mobil dan membawanya pergi ke rumah sakit. Sedangkan Zion, dia mendekati kobaran api yang membakar habis mobil Raka.
"Aku mohon!! Jangan pergi!! Dari awal aku tidak setuju dengan rencana ini." Zion terus bergumam dengan bibir yang bergetar. Dia melihat sendiri, Raka....
Tidak!!! Belum tentu yang dia lihat itu benar. "Raka!!!! please, jangan mati!!!" Zion mencari Raka di tengah kobaran api. Dia meluruhkan tubuhnya di tanah. Dia tidak kuasa menahan tangisnya.
"Raka..!!! hiks..Kau sungguh bodoh!! Dari awal aku sudah bilang, ini sangat beresiko. Tapi kau....
"Kau pria bodoh yang pernah aku kenal, Sialan!!!!"
"Ber_ hen_ti mengum_pat."
Tangis Zion terhenti. Dia seperti mendengar suara Raka. "A_apa itu arwah mu?"
Dengan perasaan kesal dan sisa tenaga yang Raka punya, Dia melempar batu kecil kearah Zion.
Tak
"Aw.." Zion menoleh dan melebarkan kedua matanya.
"Bos...!!!" Zion menghampiri Raka. "K_kau selamat Bos, kau tidak mati?"
"Di_diam!! da_n ba_bawa gue ke Ru_mah sakit."
__ADS_1
"I_iya." Zion menghubungi anak buahnya untuk menjemput mereka dan membawa Raka ke rumah sakit. Dia bersyukur Raka selamat. Walau memerlukan waktu yang lama untuk pemulihan. Dan rencana kedua adalah menyiapkan pemakaman palsu untuk Raka agar 'Dia' percaya jika keturunan dari Devil sudah mati.