
"Diumumkan kepada segenap mahasiswa
baru Universitas Ulul Albab, dimohon untuk berkumpul sekarang juga di lapangan
utama. Karena sepuluh menit lagi, kita akan memulai ospek pada pagi hari
ini!" Entah suara siapa yang menggema melalui pengeras suara yang
menggantung di sudut-sudut gedung kampus itu. Tapi setelah mendengarnya, para
mahasiswa baru yang sedari tadi telah gugup, dibuat semakin gugup. Yang sedari
tadi mencari ketenangan sambil berbincang dengan teman-teman satu sekolahnya
atau keluarganya atau teman sok akrab seperti Zami, mulai bergegas menuju
lapangan.
"Yaelah. Dia gak bakal mau kenalan
sama kamu. Berhenti berharap, deh!" Arman menarik tangan Zami setelah
sebelumnya membalikkan badannya demi menghadap temannya yang baru ia kenal itu.Ia mendapati Zami sedang asyik memandang
perempuan itu. Dari matanya Arman bisa menebak, bahwa apa yang Zami rasakan
sekarang sama seperti perasaan Romeo ketika bertemu dengan Juliet. Hatinya berdebar
sangat kencang, seperti sedang dilanda gempa dengan skala richter yang tak
terhingga.
"Aw, hati-hati dong, Zak!" Tanpa
sengaja tangan Arman justru menggenggam jam tangan Zami yang berbahan stainless. Cengkramannya sangat
kuat, membuatnya mengaduh merasa kesakitan.
"Ya, maaf. Kamu lama, sih. Ayolah cepat!" Arman membela
diri dengan cara menyalahkan Zami yang nyatanya memang berjalan seperti
kura-kura; hanya ingin lebih lama memandang si gadis yang sedari tadi duduk di
bawah pohon manga sambil menyibukkan diri dengan memainkan
gadget-nya.
Zami memenuhi permintaan Arman dengan
langsung mempercepat langkahnya dan berjalan di sampingnya. Ia tidak
mempedulikan rasa sakit di pergelangan tangannya yang disebabkan ulah si Arman.
Mungkin yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana cara untuk mempertahankan
Arman sebagai orang pertama yang ia kenal di kampusnya ini.
Begitupun Arman, kesalahannya langsung ia
tebus dengan cara meminta maaf tanpa rasa gengsi. Pikirnya, Zami bisa saja
memiliki teman yang satu sekolah dengannya, entah kakak kelasnya atau
seangkatannya atau adik kelasnya. Beda dengannya, mungkin tidak setiap tahunnya
akan ada santri dari pesantrennya yang kuliah di sini. Biasanya sih, kalau
tidak mengabdi di pesantren, lulusan Madrasah Aliah-nya lebih memilih untuk
kuliah di Mesir atau Turki; agar tidak tanggung, katanya. Ia tidak ingin
menyia-nyiakan teman yang baru ia kenal itu, meski terkesan sok akrab.
"Semua mahasiswa baru harap berbaris
sesuai jurusannya masing-masing!" Lagi-lagi pengumuman yang tidak
diketahui tuannya itu menyeruak, menembus kerumunan dan menuju ke sekitar tiga
ribu lima ratu pasang telinga yang sedang berjibaku menuju lapangan.
"Yah, kita pisah dong." Ucap Arman
saat mendengar pengumuman yang tidak memihak kepadanya itu. Jarang-jarang bisa
ketemu dengan orang yang mudah kenal seperti Zami.
"Tapi kan, kira satu fakultas. Kali
saja bisa duduk bersama meski di barisan berbeda." Timpal Zami dengan nada
berusaha menenangkan Arman yang mulai gelisah. Bagaimanapun
juga, sementara ini hanya Arman yang ia kenal. Sejauh ini ia belum tahu, apakah
ada kakak kelas yang telah kuliah di kampus ini.
"Semoga saja." Jawab Arman sangat lirih. Gairahnya untuk mengikuti ospek mulai kendor
lantaran harus duduk sendiri, tak mengenal seorang pun dari teman-teman
sejurusannya.
Mereka berdua terus berjalan menuju
lapangan dan tanpa terasa, lapangan sudah berjarak sekitar sepuluh meter di depannya. Di tengah-tengah
keramaian bejibunnya para mahasiswa baru yang ada di kampus pagi itu, mereka
berdua mulai merasa ada yang membuat sesak di hatinya. Terutama Arman, yang
sangat tidak familiar dengan masa orientasi seperti ini.Arman sangat gugup.
Mungkin pagi itu, bukan hanya mereka yang
merasa gugup, tapi nyaris seluruh mahasiswa baru yang berada di tempat itu.
Bagaimana tidak? Selain bayang-bayang ospek yang selalu identik dengan
kekerasan dan uji mental, sedari tadi pengeras suara yang menggantung di
dinding gedung-gedung kampus itu tak henti-hentinya memberi pengumuman agar
segera bergegas. Mereka berusaha sekuat tenaga agar tidak melakukan kesalahan,
terlebih jika ketahuan kakak-kakak panitia.
Sangat riuh, bayangkan saja segerombolan
manusia dengan jumlah yang tidak sedikit, saling bicara satu sama lain, saling
menghentakkan kaki menciptakan bunyi sepatu, serta hati-hati yang bergemuruh
bak air mendidih, berkumpul di satu tempat. Tapi hal itu bukanlah hal yang tabu
bagi Arman, ia sering berkumpul dengan sembilan ribu tiga ratusan orang saat
harus mengikuti suatu acara di pesantrennya.
Bersama itu pula,
matahari mulai memanjat lebih tinggi lagi. Sangat santai, tapi pasti. Itu tandanya,
ia akan menyengat manusia-manusia yang tak berteduh lebih kejam lagi. Meski katanya
sinar matahari itu mengandung sinar ultraviolet B yang bisa membentuk vitamin
D, yang namanya disengat tentu bukan hal yang nikmat. Lepas dari itu semua, ada
rasa yang menusuk ke pori-pori, entah apa.
Untungnya baju yang
dipakai oleh para mahasiswa di sini, termasuk Arman, berlengan panjang. Dengan
begitu ia –dan mereka- bisa berlindung meski tampak sulit untuk berhasil. Jika sudah
begini, harapannya adalah berteduh dan meminum es yang dingin dan segar.
"Dalam hitungan lima, semua harus
sudah menginjakkan kaki di lapangan! Lima!" Pengumuman itu sangat
menggelegar; gabungan antara volume
pengeras suara yang sepertinya sengaja dipasang paling nyaring dan suara si
__ADS_1
empunya yang tidak peduli dengan pita suaranya. Sontak
membuat seluruh mahasiswa baru yang memang sedang menuju ke lapangan berhamburan, tak peduli saling
menabrak, tapi tetap mengkondisikan badannya agar tidak oleng saat tertabrak.
Arman pun begitu, berjibaku memegang tangan
Zami dan menariknya agar bisa sampai ke lapangan dan barisannya sebelum panitia
selesai menghitung tanpa harus berpisah dengan temannya itu. Sekuat tenaga,
menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. “Ayo capat, Zam!” Ia memberi semangat kepada Zami
agar berlari lebih cepat.
"Empat! Tiga!"Hanya berselisih beberap detik, pengeras suara
itu kembali menyemprotkan suara kerasnya. Apa si tuan suara itu sengaja membuat
orang-orang yang mendengarnya menjadi gelagapan?
Ah, tak peduli. Arman
benar-benar tak peduli. Yang ia inginkan saat ini hanya bergegas menuju tempat
di mana seharusnya ia berada. Duduk, meski dengan orang yang tak di kenal, dan
tidak mendapat hukuman dari seniornya. Meski sampai detik ini ia belum tahu,
apakah seniornya itu akan menggunakan kekerasan, atau tidak?
“Dua!” Akhirnya Arman
menemukan barisan jurusannya. Tampak dipisah barisan laki-laki dan perempuan. Iyalah,
namanya juga kampus Islam. Ia duduk, tapi nahas harus berpisah dengan Zami
lantaran ia harus duduk di sisi paling kanan sedangkan Zami di sisi paling
kiri. Ia benar-benar sendiri. Depan, samping, dan belakangnya ia lihat satu persatu;
tidak ada yang dikenalnya.
Yang membuat Arman
semakin mengutuk dirinya, ia duduk di sisi paling kanan dan itu artinya di
kanannya akan ada perempuan yang duduk di sana. Benar memang masih satu jurusan,
sama-sama Sastra Arab, tapi tentu saja ia belum menginginkannya. Ini bukan saat
yang tepat, di pikirannya hanya kata-kata itu yang berkelebat.
“Satu!” Panitia bagian
pemberi pengumuman itu, entah apa namanya, berhenti menghitung. Sedetik kemudian
ia kembali memberikan pengumuman, “Yang sudah duduk, jangan berdiri. Yang masih
berdiri, tetaplah berdiri dan jangan coba-coba untuk duduk!”
Benar saja, saat Arman
menoleh ke belakang, ada puluhan mahasiswa baru yang sedang berdiri sebab tidak
mendapatkan satu detik yang sangat berharga di hidupnya; ya, satu detik untuk
duduk dan terlepas dari ancaman si pemberi pengumuman. Bersama dengan itu, di
bawahnya terdapat banyak mahasiswa yang telah berhasil duduk. Mereka mengelus
dada masing-masing karena merasa lega. Mungkin di pikirannya, “Seandainya aku
telat satu detik saja, tentu aku akan mendapat hukuman itu.”
Tanpa disadari, ternyata
sudah ada perempuan yang duduk di samping kanan Arman; hanya berjarak kurang
lebih sepuluh centimeter. Apa-apaan ini? Selama enam tahun, tidak ada perempuan
yang duduk sedekat itu dengannya selain keluarganya sendiri. Pagi ini, ia
sangat mengutuk dirinya sendiri, beribu kali, lantaran merasa kikuk menerima
kenyataan.
awalan bagimu. Ke belakang, akan banyak mahasiswi yang memperebutkanmu sebab
kau memang tampan.” Sisi nafsu Arman mencongkakkan diri dan berusaha merayu
Arman agar mencair dan tak kaku seperti ini.
“Jangan dengarkan
omongannya, Man. Kau harus tetap bertahan dengan prinsipmu!” Kali ini hati
Arman yang berbicara. Ia membuatnya merasa bijak, lantas menyuruhnya untuk
mengambil keputusan.
“Oke! Aku akan bertindak
biasa saja kepada dia yang sedang duduk di sampingku. Aku tahu bahwa ini salah,
tapi keadaan menuntutku untuk duduk di sini, bersama perempuan ini.” Arman
menengahi keduanya, lalu berusaha fokus kepada siapapun yang angkat bicara di
atas podium yang berdiri tegak di depan barisan ribuan mahasiswa baru.
“Yang masih berdiri,
tolong maju ke depan barisan!” Usut temu usut, ternyata yang sedari tadi tak
berhenti membuat hati gugup itu adalah ketua keamanan dan evaluator ospek tahun
ini. Anak Fakultas Psikologi. Entah siapa namanya, Arman tak mendengarnya
dengan baik saat kakak yang satu itu memperkenalkan namanya barusan.
Spontan saja, tanpa
berpikir panjang dan mengundang amarah yang berlebih, semua mahasiswa baru yang
masih berdiri di barisan belakang beranjak dari tempatnya menuju barisan paling
depan. Perlahan seakan sedang tidak berdaya menerima kenyataan. Menunduk,
merasa malu sebab disaksikan oleh ribuan mahasiswa baru lainnya. Mungkin pikirannya
sedang berkecamuk, bingung dengan apa yang akan menimpanya.
“Yang telat-telat ini,
maunya apa? Baru saja ospek, sudah telat. Belum lagi kalau nanti sudah mulai
perkuliahan. Akan menjadi apa generasi bangsa kita ini?” Bentak ketua keamanan
itu yang hanya ditanggapi dengan reaksi menunduk berjemaah.
“Sudah, kalian kembali ke
tempat masing-masing! Setelah ini, ospek ini akan diisi oleh sambutan-sambutan
dari jajaran rektorat dan seminar-seminar. Kalian harus me-resume, setelah itu
akan ada panitia yang mengecek satu per satu.” Katanya lagi. Kali ini lebih
dengan nada yang sedikit berwibawa.
Saat melihat mahasiswa
baru yang barusan dipanggil itu, Arman tak sengaja melihat wajah perempuan yang
duduk di sampingnya. Sekilas, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia pandang
lagi, benar ternyata! Ya, perempuan yang duduk di sebelahnya adalah perempuan yang
tadi ia lihat bersama Zami; perempuan yang asyik memainkan gadget di bawah
pohon mangga.
“Gak usah munafik! Ajak dia
kenalan sekarang!” Setan kembali datang dan anehnya Arman menyiapkan kata-kata
__ADS_1
yang pas agar bisa berkenalan.
Naila Izzatul Maula. Entah
ini kode dari alam atau hanya kebetulan saja, mata Arman menangkap nama itu
saat perempuan yang kini sedang duduk di sampingnya membuka buku catatan dan
menulis namanya di halaman pertama. Di bawahnya, ia menulis ‘Sastra Arab,
Fakultas Adab dan Budaya’. Kode macam apa ini?
Arman menunduk mendapati
dirinya sangat kikuk. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk
perempuan yang baru ia ketahui bahwa namanya adalah Naila. Perasaannya semakin berkecamuk.
Di samping gugup menjalani ospek, juga gugup karena harus duduk berdampingan
bersama perempuan yang telah mencuri perhatiannya itu. Rasa-rasanya Arman ingin
berteriak, tapi situasi sedang tidak berpihak kepadanya.
“Santai, Man! Sebenarnya apa
yang membuat kamu grogi, toh dia belum mengenalimu?” Hati Arman berkata. Ia mencoba
menenangkan Arman yang dilanda kegugupan yang maha dahsyat.
“Itu tandanya kamu sedang
jatuh cinta, Man!” Nafsunya menimpali. Justru Arman lebih menyetujui ini.
“Dosa, Man! Kalau memang
mau, mantapkan dalam hatimu bahwa kamu akan menikahinya. Dan janjilah kepadaku,
hatimu sendiri, untuk tidak memacarinya.” Hatinya bergumam. Ia memberi jalan
keluar, entah itu benar darinya atau hanya mengalah dengan nafsu.
“Baik, aku berjanji!”
Lagi-lagi Arman menengahi dan memantapkan hati –sekali lagi- untuk tidak berpacaran
dengan siapapun, termasuk dengan Naila. Tapi di hati kecilnya, ia menaruh
harapan bahwa Naila lah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Ya, ia akan
berusaha untuk itu.
“...Anak-anakku sekalian,”
Rektor Universitas Ulul Albab membuka sambutannya, “ospek adalah masa, di mana
kalian akan diterpa dan digembleng agar memiliki mental yang kuat, yang tidak
mudah goyah saat harus menghadapi kehidupan kampus yang keras! ...”
Arman mencatat perkataan
rektornya baik-baik. Bukan hanya karena takut kepada evaluator yang akan
mengecek tulisannya nanti, tapi hatinya sedang sreg untuk menulisnya. Motivasi demi
motivasi ia tulis dengan lengkap, nyaris mirip dengan perkataan aslinya. Hingga
akhirnya sang rektor menyudahi sambutannya dan digantikan oleh Wakil Rektor
III.
“...Kalian adalah
mahasiswa-mahasiswa terpilih dari ratusan ribu orang yang mendaftarkan dirinya
di Universitas Ulul Albab tercinta ini. Tepuk tangan untuk kita semua! ...”
Lagi-lagi Arman menulisnya lantaran merasa termotivasi dengan ucapan laki-laki
yang mulai beruban (rambutnya dan alisnya dan kumisnya dan jenggotnya) itu;
laki-laki yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor III, bidang kemahasiswaan dan
kerjasama.
Bersama itu pula, Arman
mendapati keringat di tubuhnya mulai menetes memercikkan basah di bajunya.
Pantas saja, sebab saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, matahari akan
menyengat dengan sengatan mematikan. Ia membakar siapapun yang diterpanya tanpa
ampun. Tentu bukan hanya Arman, orang-orang yang duduk di sekitarnya juga turut
mengelap dahi dan pelipis masing-masing.
Tapi sepanas apapun cuaca
pagi ini, hati Arman justru merasakan kesegaran yang belum pernah ia dapati
sebelumnya. Keberadaan Naila di sampingnya benar-benar membuat hati Arman
berpacu dalam kehangatan. Ospek hari pertama berjalan lancar baginya, meski
harus sesekali kehilangan fokus. Karena apa lagi, kalau bukan gara-gara Naila?
Dulu, saat masih di
pesantren, Arman bisa mencatat materi hingga empat sampai enam lembar
bolak-balik. Berbeda dengan pagi ini, saat kefokusannya harus terbagi; antara
materi dan Naila. Arman hanya berhasil mencatat dua lembar. Apa-apaan ini? Ini
bukan Arman yang seperti biasanya. Kehadiran Naila di hidupnya benar-benar
merubah segalanya. Apa Arman harus menjauhinya lantaran Naila tak membawa efek
baik?
“Santai, Man. Terlalu dini
untuk memutuskan bahwa dia bukan orang baik. Apalagi kamu belum mengenalnya
lebih jauh. Masih ada waktu empat tahun dan kau akan menjadikannya sebagai ibu
dari anak-anakmu setelah lulus nanti.” Nafsu, ya tetap nafsu. Ia akan terus
membujuk meski hati telah berkali-kali menolak.
“Ikuti apa kataku, hatimu
yang diciptakan oleh Tuhan sebagai organ tubuh yang menentukan baik dan
tidaknya si empunya! Lakukan sebisamu, dan jangan lupa untuk berniat yang
baik-baik!” Hati selalu muncul bersama nafsu. Ia memberi usulan yang selalu
baik, meski tidak pernah mau tahu tentang kisah akhirnya, dengan artian; selalu
berani berbuat, berani mengambil risiko, dan harus mengambil hikmah saat
ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi.
“Sudah. Sekarang kalian
kumpulkan tulisan kalian kepada para pendamping yang duduk di bawah tenda itu!”
Ketua keamanan itu kembali muncul di podium dan melantangkan suaranya memberi
aba-aba, sambil menunjuk ke arah para pendamping yang ia maksud.
Demikianlah dan ospek
berjalan selama empat hari; dua hari untuk universitas dan dua hari untuk
fakultas. Ospek tetap menjadi masa-masa paling mengesankan. Di sana setiap
mahasiswa baru diterpa, digembleng, dan diajari bahwa; terkadang bentakan itu
diperlukan demi terwujudnya kebaikan. Terlebih untuk orang-orang seperti Arman
yang masih baru merasakan kejamnya ‘dunia luar’.
Bersambung...
__ADS_1
Follow @muhammadnailur on
Instagram!