Ajari Aku Cinta

Ajari Aku Cinta
Flashback Ospek (II)


__ADS_3

"Diumumkan kepada segenap mahasiswa


baru Universitas Ulul Albab, dimohon untuk berkumpul sekarang juga di lapangan


utama. Karena sepuluh menit lagi, kita akan memulai ospek pada pagi hari


ini!" Entah suara siapa yang menggema melalui pengeras suara yang


menggantung di sudut-sudut gedung kampus itu. Tapi setelah mendengarnya, para


mahasiswa baru yang sedari tadi telah gugup, dibuat semakin gugup. Yang sedari


tadi mencari ketenangan sambil berbincang dengan teman-teman satu sekolahnya


atau keluarganya atau teman sok akrab seperti Zami, mulai bergegas menuju


lapangan.


"Yaelah. Dia gak bakal mau kenalan


sama kamu. Berhenti berharap, deh!" Arman menarik tangan Zami setelah


sebelumnya membalikkan badannya demi menghadap temannya yang baru ia kenal itu.Ia mendapati Zami sedang asyik memandang


perempuan itu. Dari matanya Arman bisa menebak, bahwa apa yang Zami rasakan


sekarang sama seperti perasaan Romeo ketika bertemu dengan Juliet. Hatinya berdebar


sangat kencang, seperti sedang dilanda gempa dengan skala richter yang tak


terhingga.


"Aw, hati-hati dong, Zak!" Tanpa


sengaja tangan Arman justru menggenggam jam tangan Zami yang berbahan stainless. Cengkramannya sangat


kuat, membuatnya mengaduh merasa kesakitan.


"Ya, maaf. Kamu lama, sih. Ayolah cepat!" Arman membela


diri dengan cara menyalahkan Zami yang nyatanya memang berjalan seperti


kura-kura; hanya ingin lebih lama memandang si gadis yang sedari tadi duduk di


bawah pohon manga sambil menyibukkan diri dengan memainkan


gadget-nya.


Zami memenuhi permintaan Arman dengan


langsung mempercepat langkahnya dan berjalan di sampingnya. Ia tidak


mempedulikan rasa sakit di pergelangan tangannya yang disebabkan ulah si Arman.


Mungkin yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana cara untuk mempertahankan


Arman sebagai orang pertama yang ia kenal di kampusnya ini.


Begitupun Arman, kesalahannya langsung ia


tebus dengan cara meminta maaf tanpa rasa gengsi. Pikirnya, Zami bisa saja


memiliki teman yang satu sekolah dengannya, entah kakak kelasnya atau


seangkatannya atau adik kelasnya. Beda dengannya, mungkin tidak setiap tahunnya


akan ada santri dari pesantrennya yang kuliah di sini. Biasanya sih, kalau


tidak mengabdi di pesantren, lulusan Madrasah Aliah-nya lebih memilih untuk


kuliah di Mesir atau Turki; agar tidak tanggung, katanya. Ia tidak ingin


menyia-nyiakan teman yang baru ia kenal itu, meski terkesan sok akrab.


"Semua mahasiswa baru harap berbaris


sesuai jurusannya masing-masing!" Lagi-lagi pengumuman yang tidak


diketahui tuannya itu menyeruak, menembus kerumunan dan menuju ke sekitar tiga


ribu lima ratu pasang telinga yang sedang berjibaku menuju lapangan.


"Yah, kita pisah dong." Ucap Arman


saat mendengar pengumuman yang tidak memihak kepadanya itu. Jarang-jarang bisa


ketemu dengan orang yang mudah kenal seperti Zami.


"Tapi kan, kira satu fakultas. Kali


saja bisa duduk bersama meski di barisan berbeda." Timpal Zami dengan nada


berusaha menenangkan Arman yang mulai gelisah. Bagaimanapun


juga, sementara ini hanya Arman yang ia kenal. Sejauh ini ia belum tahu, apakah


ada kakak kelas yang telah kuliah di kampus ini.


"Semoga saja." Jawab Arman sangat lirih. Gairahnya untuk mengikuti ospek mulai kendor


lantaran harus duduk sendiri, tak mengenal seorang pun dari teman-teman


sejurusannya.


Mereka berdua terus berjalan menuju


lapangan dan tanpa terasa, lapangan sudah berjarak sekitar sepuluh meter di depannya. Di tengah-tengah


keramaian bejibunnya para mahasiswa baru yang ada di kampus pagi itu, mereka


berdua mulai merasa ada yang membuat sesak di hatinya. Terutama Arman, yang


sangat tidak familiar dengan masa orientasi seperti ini.Arman sangat gugup.


Mungkin pagi itu, bukan hanya mereka yang


merasa gugup, tapi nyaris seluruh mahasiswa baru yang berada di tempat itu.


Bagaimana tidak? Selain bayang-bayang ospek yang selalu identik dengan


kekerasan dan uji mental, sedari tadi pengeras suara yang menggantung di


dinding gedung-gedung kampus itu tak henti-hentinya memberi pengumuman agar


segera bergegas. Mereka berusaha sekuat tenaga agar tidak melakukan kesalahan,


terlebih jika ketahuan kakak-kakak panitia.


Sangat riuh, bayangkan saja segerombolan


manusia dengan jumlah yang tidak sedikit, saling bicara satu sama lain, saling


menghentakkan kaki menciptakan bunyi sepatu, serta hati-hati yang bergemuruh


bak air mendidih, berkumpul di satu tempat. Tapi hal itu bukanlah hal yang tabu


bagi Arman, ia sering berkumpul dengan sembilan ribu tiga ratusan orang saat


harus mengikuti suatu acara di pesantrennya.


Bersama itu pula,


matahari mulai memanjat lebih tinggi lagi. Sangat santai, tapi pasti. Itu tandanya,


ia akan menyengat manusia-manusia yang tak berteduh lebih kejam lagi. Meski katanya


sinar matahari itu mengandung sinar ultraviolet B yang bisa membentuk vitamin


D, yang namanya disengat tentu bukan hal yang nikmat. Lepas dari itu semua, ada


rasa yang menusuk ke pori-pori, entah apa.


Untungnya baju yang


dipakai oleh para mahasiswa di sini, termasuk Arman, berlengan panjang. Dengan


begitu ia –dan mereka- bisa berlindung meski tampak sulit untuk berhasil. Jika sudah


begini, harapannya adalah berteduh dan meminum es yang dingin dan segar.


"Dalam hitungan lima, semua harus


sudah menginjakkan kaki di lapangan! Lima!" Pengumuman itu sangat


menggelegar; gabungan antara volume


pengeras suara yang sepertinya sengaja dipasang paling nyaring dan suara si

__ADS_1


empunya yang tidak peduli dengan pita suaranya. Sontak


membuat seluruh mahasiswa baru yang memang sedang menuju ke lapangan berhamburan, tak peduli saling


menabrak, tapi tetap mengkondisikan badannya agar tidak oleng saat tertabrak.


Arman pun begitu, berjibaku memegang tangan


Zami dan menariknya agar bisa sampai ke lapangan dan barisannya sebelum panitia


selesai menghitung tanpa harus berpisah dengan temannya itu. Sekuat tenaga,


menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. “Ayo capat, Zam!” Ia memberi semangat kepada Zami


agar berlari lebih cepat.


"Empat! Tiga!"Hanya berselisih beberap detik, pengeras suara


itu kembali menyemprotkan suara kerasnya. Apa si tuan suara itu sengaja membuat


orang-orang yang mendengarnya menjadi gelagapan?


Ah, tak peduli. Arman


benar-benar tak peduli. Yang ia inginkan saat ini hanya bergegas menuju tempat


di mana seharusnya ia berada. Duduk, meski dengan orang yang tak di kenal, dan


tidak mendapat hukuman dari seniornya. Meski sampai detik ini ia belum tahu,


apakah seniornya itu akan menggunakan kekerasan, atau tidak?


“Dua!” Akhirnya Arman


menemukan barisan jurusannya. Tampak dipisah barisan laki-laki dan perempuan. Iyalah,


namanya juga kampus Islam. Ia duduk, tapi nahas harus berpisah dengan Zami


lantaran ia harus duduk di sisi paling kanan sedangkan Zami di sisi paling


kiri. Ia benar-benar sendiri. Depan, samping, dan belakangnya ia lihat satu persatu;


tidak ada yang dikenalnya.


Yang membuat Arman


semakin mengutuk dirinya, ia duduk di sisi paling kanan dan itu artinya di


kanannya akan ada perempuan yang duduk di sana. Benar memang masih satu jurusan,


sama-sama Sastra Arab, tapi tentu saja ia belum menginginkannya. Ini bukan saat


yang tepat, di pikirannya hanya kata-kata itu yang berkelebat.


“Satu!” Panitia bagian


pemberi pengumuman itu, entah apa namanya, berhenti menghitung. Sedetik kemudian


ia kembali memberikan pengumuman, “Yang sudah duduk, jangan berdiri. Yang masih


berdiri, tetaplah berdiri dan jangan coba-coba untuk duduk!”


Benar saja, saat Arman


menoleh ke belakang, ada puluhan mahasiswa baru yang sedang berdiri sebab tidak


mendapatkan satu detik yang sangat berharga di hidupnya; ya, satu detik untuk


duduk dan terlepas dari ancaman si pemberi pengumuman. Bersama dengan itu, di


bawahnya terdapat banyak mahasiswa yang telah berhasil duduk. Mereka mengelus


dada masing-masing karena merasa lega. Mungkin di pikirannya, “Seandainya aku


telat satu detik saja, tentu aku akan mendapat hukuman itu.”


Tanpa disadari, ternyata


sudah ada perempuan yang duduk di samping kanan Arman; hanya berjarak kurang


lebih sepuluh centimeter. Apa-apaan ini? Selama enam tahun, tidak ada perempuan


yang duduk sedekat itu dengannya selain keluarganya sendiri. Pagi ini, ia


sangat mengutuk dirinya sendiri, beribu kali, lantaran merasa kikuk menerima


kenyataan.


awalan bagimu. Ke belakang, akan banyak mahasiswi yang memperebutkanmu sebab


kau memang tampan.” Sisi nafsu Arman mencongkakkan diri dan berusaha merayu


Arman agar mencair dan tak kaku seperti ini.


“Jangan dengarkan


omongannya, Man. Kau harus tetap bertahan dengan prinsipmu!” Kali ini hati


Arman yang berbicara. Ia membuatnya merasa bijak, lantas menyuruhnya untuk


mengambil keputusan.


“Oke! Aku akan bertindak


biasa saja kepada dia yang sedang duduk di sampingku. Aku tahu bahwa ini salah,


tapi keadaan menuntutku untuk duduk di sini, bersama perempuan ini.” Arman


menengahi keduanya, lalu berusaha fokus kepada siapapun yang angkat bicara di


atas podium yang berdiri tegak di depan barisan ribuan mahasiswa baru.


“Yang masih berdiri,


tolong maju ke depan barisan!” Usut temu usut, ternyata yang sedari tadi tak


berhenti membuat hati gugup itu adalah ketua keamanan dan evaluator ospek tahun


ini. Anak Fakultas Psikologi. Entah siapa namanya, Arman tak mendengarnya


dengan baik saat kakak yang satu itu memperkenalkan namanya barusan.


Spontan saja, tanpa


berpikir panjang dan mengundang amarah yang berlebih, semua mahasiswa baru yang


masih berdiri di barisan belakang beranjak dari tempatnya menuju barisan paling


depan. Perlahan seakan sedang tidak berdaya menerima kenyataan. Menunduk,


merasa malu sebab disaksikan oleh ribuan mahasiswa baru lainnya. Mungkin pikirannya


sedang berkecamuk, bingung dengan apa yang akan menimpanya.


“Yang telat-telat ini,


maunya apa? Baru saja ospek, sudah telat. Belum lagi kalau nanti sudah mulai


perkuliahan. Akan menjadi apa generasi bangsa kita ini?” Bentak ketua keamanan


itu yang hanya ditanggapi dengan reaksi menunduk berjemaah.


“Sudah, kalian kembali ke


tempat masing-masing! Setelah ini, ospek ini akan diisi oleh sambutan-sambutan


dari jajaran rektorat dan seminar-seminar. Kalian harus me-resume, setelah itu


akan ada panitia yang mengecek satu per satu.” Katanya lagi. Kali ini lebih


dengan nada yang sedikit berwibawa.


Saat melihat mahasiswa


baru yang barusan dipanggil itu, Arman tak sengaja melihat wajah perempuan yang


duduk di sampingnya. Sekilas, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia pandang


lagi, benar ternyata! Ya, perempuan yang duduk di sebelahnya adalah perempuan yang


tadi ia lihat bersama Zami; perempuan yang asyik memainkan gadget di bawah


pohon mangga.


“Gak usah munafik! Ajak dia


kenalan sekarang!” Setan kembali datang dan anehnya Arman menyiapkan kata-kata

__ADS_1


yang pas agar bisa berkenalan.


Naila Izzatul Maula. Entah


ini kode dari alam atau hanya kebetulan saja, mata Arman menangkap nama itu


saat perempuan yang kini sedang duduk di sampingnya membuka buku catatan dan


menulis namanya di halaman pertama. Di bawahnya, ia menulis ‘Sastra Arab,


Fakultas Adab dan Budaya’. Kode macam apa ini?


Arman menunduk mendapati


dirinya sangat kikuk. Ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk


perempuan yang baru ia ketahui bahwa namanya adalah Naila. Perasaannya semakin berkecamuk.


Di samping gugup menjalani ospek, juga gugup karena harus duduk berdampingan


bersama perempuan yang telah mencuri perhatiannya itu. Rasa-rasanya Arman ingin


berteriak, tapi situasi sedang tidak berpihak kepadanya.


“Santai, Man! Sebenarnya apa


yang membuat kamu grogi, toh dia belum mengenalimu?” Hati Arman berkata. Ia mencoba


menenangkan Arman yang dilanda kegugupan yang maha dahsyat.


“Itu tandanya kamu sedang


jatuh cinta, Man!” Nafsunya menimpali. Justru Arman lebih menyetujui ini.


“Dosa, Man! Kalau memang


mau, mantapkan dalam hatimu bahwa kamu akan menikahinya. Dan janjilah kepadaku,


hatimu sendiri, untuk tidak memacarinya.” Hatinya bergumam. Ia memberi jalan


keluar, entah itu benar darinya atau hanya mengalah dengan nafsu.


“Baik, aku berjanji!”


Lagi-lagi Arman menengahi dan memantapkan hati –sekali lagi- untuk tidak berpacaran


dengan siapapun, termasuk dengan Naila. Tapi di hati kecilnya, ia menaruh


harapan bahwa Naila lah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya. Ya, ia akan


berusaha untuk itu.


“...Anak-anakku sekalian,”


Rektor Universitas Ulul Albab membuka sambutannya, “ospek adalah masa, di mana


kalian akan diterpa dan digembleng agar memiliki mental yang kuat, yang tidak


mudah goyah saat harus menghadapi kehidupan kampus yang keras! ...”


Arman mencatat perkataan


rektornya baik-baik. Bukan hanya karena takut kepada evaluator yang akan


mengecek tulisannya nanti, tapi hatinya sedang sreg untuk menulisnya. Motivasi demi


motivasi ia tulis dengan lengkap, nyaris mirip dengan perkataan aslinya. Hingga


akhirnya sang rektor menyudahi sambutannya dan digantikan oleh Wakil Rektor


III.


“...Kalian adalah


mahasiswa-mahasiswa terpilih dari ratusan ribu orang yang mendaftarkan dirinya


di Universitas Ulul Albab tercinta ini. Tepuk tangan untuk kita semua! ...”


Lagi-lagi Arman menulisnya lantaran merasa termotivasi dengan ucapan laki-laki


yang mulai beruban (rambutnya dan alisnya dan kumisnya dan jenggotnya) itu;


laki-laki yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor III, bidang kemahasiswaan dan


kerjasama.


Bersama itu pula, Arman


mendapati keringat di tubuhnya mulai menetes memercikkan basah di bajunya.


Pantas saja, sebab saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, matahari akan


menyengat dengan sengatan mematikan. Ia membakar siapapun yang diterpanya tanpa


ampun. Tentu bukan hanya Arman, orang-orang yang duduk di sekitarnya juga turut


mengelap dahi dan pelipis masing-masing.


Tapi sepanas apapun cuaca


pagi ini, hati Arman justru merasakan kesegaran yang belum pernah ia dapati


sebelumnya. Keberadaan Naila di sampingnya benar-benar membuat hati Arman


berpacu dalam kehangatan. Ospek hari pertama berjalan lancar baginya, meski


harus sesekali kehilangan fokus. Karena apa lagi, kalau bukan gara-gara Naila?


Dulu, saat masih di


pesantren, Arman bisa mencatat materi hingga empat sampai enam lembar


bolak-balik. Berbeda dengan pagi ini, saat kefokusannya harus terbagi; antara


materi dan Naila. Arman hanya berhasil mencatat dua lembar. Apa-apaan ini? Ini


bukan Arman yang seperti biasanya. Kehadiran Naila di hidupnya benar-benar


merubah segalanya. Apa Arman harus menjauhinya lantaran Naila tak membawa efek


baik?


“Santai, Man. Terlalu dini


untuk memutuskan bahwa dia bukan orang baik. Apalagi kamu belum mengenalnya


lebih jauh. Masih ada waktu empat tahun dan kau akan menjadikannya sebagai ibu


dari anak-anakmu setelah lulus nanti.” Nafsu, ya tetap nafsu. Ia akan terus


membujuk meski hati telah berkali-kali menolak.


“Ikuti apa kataku, hatimu


yang diciptakan oleh Tuhan sebagai organ tubuh yang menentukan baik dan


tidaknya si empunya! Lakukan sebisamu, dan jangan lupa untuk berniat yang


baik-baik!” Hati selalu muncul bersama nafsu. Ia memberi usulan yang selalu


baik, meski tidak pernah mau tahu tentang kisah akhirnya, dengan artian; selalu


berani berbuat, berani mengambil risiko, dan harus mengambil hikmah saat


ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi.


“Sudah. Sekarang kalian


kumpulkan tulisan kalian kepada para pendamping yang duduk di bawah tenda itu!”


Ketua keamanan itu kembali muncul di podium dan melantangkan suaranya memberi


aba-aba, sambil menunjuk ke arah para pendamping yang ia maksud.


Demikianlah dan ospek


berjalan selama empat hari; dua hari untuk universitas dan dua hari untuk


fakultas. Ospek tetap menjadi masa-masa paling mengesankan. Di sana setiap


mahasiswa baru diterpa, digembleng, dan diajari bahwa; terkadang bentakan itu


diperlukan demi terwujudnya kebaikan. Terlebih untuk orang-orang seperti Arman


yang masih baru merasakan kejamnya ‘dunia luar’.


Bersambung...

__ADS_1


Follow @muhammadnailur on


Instagram!


__ADS_2