
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Merasa perutnya telah terisi, Rendi dan Diandra pun telah keluar dari dari restoran. Sesuai dengan ajakan yang di tawarkan oleh Rendi tadi, Diandra pun bersedia jika di antar pulang oleh nya.
" Sebentar ya Ren ". Pinta Diandra.
" Pak, saya tidak jadi naik taksi bapak lagi, ini sudah ada teman saya yang mau mengantar saya pulang pak ". Jelasnya pada sang supir.
" Oh baiklah nona, kalau begitu akan saya keluarkan dulu kopernya ". Sahut supir itu.
" Maaf ya pak, bapak sudah lama - lama menunggu tapi sayanya tidak bisa lanjut ". Serunya meminta maaf.
" Tidak apa - apa non, tidak masalah ". Sahut pak supir itu sebelum akhirnya keluar dari taksinya dan mengeluarkan koper Diandra.
Tak butuh waktu lama, pemindahan koper pun telah selesai.
" Ini pak ongkosnya, dan ini ada makanan untuk bapak makan nanti sore ". Tutur Diandra dengan memberikan ongkos dan juga dua bungkus makanan yang tadi sempat ia pesan.
" Wah non, kenapa harus repot - repot membelikan saya makanan, terima kasih nona ". Sahut pak supir itu.
" Iya pak sama - sama ". Sahut nya.
Rendi tersenyum melihat kebaikan Diandra, Ia semakin kagum dengan sosok wanita yang memang sedari dulu telah menjadi dambaannya.
" Ayo Ren ". Ajak nya.
" Tunggu dulu nona, ini uang ongkosnya terlalu banyak, ini kelebihan uangnya ". Tahan pak supir.
" Tidak apa - apa pak, ambil saja ". Sahut Diandra.
" Waduh, terima kasih non, nona baik sekali ". Seru pak supir itu dengan rasa kagumnya.
Diandra hanya tersenyum mendengarnya. Dirasa semuanya sudah selesai, Rendi dengan Diandra pun masuk ke mobil, dan berlalu meninggalkan area restoran itu.
Dalam perjalanannya untuk mengantar Diandra pulang ke rumah orang tuanya, Rendi hanya fokus menyetir tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari kedua belah bibirnya.
Untuk sejenak Diandra menatap pada Rendi sebelum akhirnya ia kembali melihat jalanan yang ada di depannya.
" Ren ". Panggil Diandra tiba - tiba.
" Iya, apa apa Di? ". Sahutnya.
" Kamu sudah menikah? ". Tanya nya.
Deg... sontak saja Rendi pun langsung menghentikan laju mobilnya. Ia begitu sangat terkejut dengan pertanyaan Diandra. Entah apa yang menjadi penyebabnya hingga Diandra berani menanyakan hal itu.
" Ya Tuhan Ren, kamu berhenti mendadak ". Pekik Diandra dengan memegangi dadanya, ia begitu sangat shock karena mobil yang di naikinya itu berhenti mendadak.
Rendi hanya bisa menatap pada Diandra.
" Ada apa Ren, apa ada yang salah dengan pertanyaan ku sampai kamu berhenti mendadak seperti ini, ini namanya mau bunuh diri Ren ". Lanjut Diandra lagi, bahkan ia sudah nampak kesal pada Rendi.
Rendi hanya diam... tatapan nya kembali beralih ke depan.
Bagi Diandra, apa yang ditanyakan nya sama sekali tidaklah salah, bahkan pertanyaan nya adalah hal yang normal bukan, namun sayangnya tidak bagi Rendi.
Diandra bertanya apakah dirinya sudah menikah?, bagaimana Rendi bisa menjawabnya, jika jawaban dari pertanyaan nya itu adalah dia sendiri, orang yang sudah memberikan pertanyaan itu.
" Aku belum menikah hingga sekarang, karena aku masih menunggumu Dia, aku menunggu kamu membuka hatimu untuk ku ". Batin Rendi menyahut.
Tok... tok... tok...
" Woi buka ". Tiba - tiba ada seorang pria datang dan memaksa agar Rendi membuka jendela mobilnya.
" Buka cepat buka ". Sentak pria itu lagi dengan geramnya.
__ADS_1
" Iya mas ada apa? ". Sahut Rendi.
" Ada apa ada apa, mas lihat tidak orang - orang yang ada di belakang mobil mas itu ". Tunjuk nya pada beberapa orang berkendara yang berhenti di belakang mobil Rendi.
" Kalau berkendara jangan berhenti mendadak, bisa mencelakai pengendara yang lain, untung kami yang di belakang sana masih fokus dan mengerem, kalau tidak bisa bisa kita semua celaka ". Lanjut pria itu dengan marahnya.
" Saya minta maaf mas, saya tidak sengaja, maaf ya mas ". Sahut Rendi dengan rasa bersalah nya.
" Oleh sebab itu mas, kalau berkendara jangan berpacaran, jadi kehilangan fokus kan, huh ganggu orang di jalanan saja ". Sahut pria itu masih dengan mode marahnya sebelum akhirnya ia pergi menuju motornya.
Tak ingin menjadi pengganggu di jalan lagi, Rendi pun kembali menjalankan mobilnya.
" Rendi ". Panggil Diandra lirih.
" Iya ". Sahut Rendi.
" Maaf ya, gara - gara pertanyaan ku sampai timbul masalah seperti ini ". Ujar nya dengan rasa bersalah.
" Sudah Di tidak apa - apa, kamu tidak salah, hanya saja aku yang terlalu menganggap serius pertanyaan mu tadi ". Sahut Rendi santai, iya karena hanya itu yang bisa ia sahut kan.
Rendi pun terus mengendarai mobilnya, hingga sekitar hampir lima belas menit lamanya barulah mobil miliknya itu sampai di depan kediaman mewah keluarga Wijaya.
" Ayo Ren, ikut masuk ". Ajak Diandra setelah ia siap dengan kopernya.
" Sebaiknya aku pulang saja Di ". Sahutnya.
" Loh kenapa harus buru - buru, ayolah masuk dulu, hanya sebentar kok Ren ". Ajak Diandra lagi.
Mau tidak mau Rendi pun mengikuti keinginan Diandra, ya apa salahnya sekali - kali silaturahmi, pikirnya.
" Ma, mama, Diandra datang ". Panggil Diandra di tengah - tengah ruang utama.
" Mama, Dika, Diandra pulang ". Panggilnya lagi.
" Rendi, kamu duduk dulu ya di sini, aku mau ke kamar ". Pintanya.
" Diandra ". Teriak seorang wanita tiba - tiba, yang sangat Diandra kenal betul suara itu.
" Mama ". Sahutnya.
" Ya Allah nak, kamu sudah pulang? ". Seru sang mama, lalu memeluk putri satu - satunya itu.
" Iya ma Diandra sudah pulang, maaf ya kalau Dia tidak memberi kabar, aku memang sengaja tidak memberi tahu biar menjadi kejutan ". Sahut nya.
" Dasar anak nakal ". Sahut sang mama, ya dialah Kendi Isabella Wijaya, mama dari Diandra. Ya, dialah Kendi, wanita paru baya namun masih terlihat cantik di usianya.
" Ma, aku rindu mama ". Seru Diandra lagi di sela - sela pelukannya pada sang mama.
" Iya, mama juga sangat merindukanmu nak ". Sahut Kendi.
Setelah cukup lama sepasang ibu dan putrinya itu saling berpelukan, dengan tanpa sengaja Kendi melihat seorang pemuda tengah duduk dan tersenyum ke arahnya dan juga sang putri.
" Sayang, kamu di antar teman mu ke sini? ". Tanya Kendi lalu menguraikan pelukannya.
" Oh iya, Dia sampai lupa ma, ini kenalkan dia ini Rendi ma teman aku ". Terang Diandra.
" Rendi ini teman baru kamu nak? ". Tanya Kendi sebelum akhirnya ia mendaratkan bokongnya di sofa.
" Tidak ma, sudah teman lama, hanya saja ini memang pertama kalinya dia datang kemari ". Jelasnya lagi pada sang mama.
" Apa kabar tante, saya Rendi ". Ucap Rendi dengan mengulurkan tangannya.
" Alhamdulillah, kabar tante baik nak, pasti kamu yang mengantar Diandra ke sini ". Tebak Kendi.
" Iya, em tidak, saya tidak sengaja bertemu dengan Diandra di restoran tante, berhubung tujuan kita satu arah jadi sekalian saja saya menawarkan diri untuk mengantar nya pulang ". Sahut Rendi.
" Ayo Di, kamu ganti baju dulu, semua barang - barang mu letakkan dulu di kamar, biar mama yang temani nak Rendi di sini ". Perintah Kendi.
__ADS_1
Diandra pun menurut, ia melangkah pergi memasuki kamarnya. Kendi sang mama hanya menemani Rendi, meski ini adalah pertemuan pertama mereka, namun nampaknya Kendi sudah menyukai sikap Rendi, menurutnya Rendi adalah anak yang humoris, sopan namun masih memiliki sisi kritisnya.
*****
Tanpa terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul satu siang lewat tiga puluh menit. Suasana ruang santai yang sempat terasa sepi karena sang empu harus beristirahat dan menjalankan kewajiban nya di waktu dzuhur, kini nampak ramai kembali mengisi ruangan itu.
Vita dan juga putra mungilnya Andri masih di rumah Adinda, Vita masih menunggu kedatangan suami nya untuk datang menjemput.
" Uma uma, tolon buta ni, buta mamam na Mian uma ( oma oma, tolong buka ini, buka makanannya Damian oma) ". Pinta nya pada sang oma agar mau membukakan bungkus cemilan miliknya.
" Loh sayang, punya Damian cemilan yang itu belum habis, habiskan dulu cemilannya yang itu nak, kalau sudah selesai baru buka cemilan yang ini lagi ". Sahut Devina pada sang cucu.
" Dak mau, dak mau, Mian mau mamam tu cama mamam ni duda uma ( tidak mau tidak mau, Damian mau makan itu sama makan ini juga oma) ". Keukeh Damian.
" Damian, sayang loh nak kalau di buka semua, kalau makanannya sampai tidak habis kan jadi sia - sia nanti sayang, jadi cemilan nya Damian habiskan dulu ya yang itu, kalau cemilan yang itu sudah habis baru deh Damian makan cemilan yang ini, ya sayang, mau ya sayangnya oma ". Tawar Devina lagi.
" Dak mau uma, Mian mau mamam na Mian yan ni buta duda uma ( tidak mau oma, Damian mau makanan nya Damian yang ini buka juga oma) ". Pinta nya lagi dengan tetap keukeh.
" Sayang, dengarkan oma, Damian kan tampan nak, jadi cemilan yang itu di habiskan dulu ya sayang, kali ini nurut ya sama oma tampan ". Rayu Devina.
" Dak mau uma hwa.... Mian mau mamam ni uma hwaaa... ( tidak mau oma hwa... Damian mau makan ini oma hwaaa...) ". Damian sudah menangis kencang.
Sontak saja Vita dan juga Devina pun langsung gelagapan. Dua wanita beda generasi itu kebingungan, kalau sudah seperti ini pasti sudah kalang kabut.
" Hwaaa.... hwaaa.... ". Tangis Damian dengan begitu kencangnya.
" Tante, lebih baik dituruti saja keinginan Damian, kalau tidak anak ini akan terus menangis ". Saran Vita.
" Damian Damian, cucu oma yang tampan, sudah ya nak nangisnya, iya iya cemilannya ini akan oma buka, Damian boleh makan dua - duanya, tapi berhenti nangis nya ya ". Bujuk Devina pada akhirnya.
Dan benar saja, dalam sekejap bocah kecil itu langsung terdiam dari isak tangisnya.
" Aduh, sebenarnya waktu Adinda hamil dulu ngidam apa dia, eh tapi tidak, sepertinya Damian lebih mirip Al sewaktu masih bocah, iya benar mirip, aduh Al Al, kenapa malah sifat jelek mu yang menurun pada Damian ". Batin Devina.
Devina melakukan apa yang menjadi keinginan cucu nya Damian. Sungguh sifat Damian memang sangat bertolak belakang dengan Aganta. cucunya yang satu itu memang sedari tadi hanya fokus pada mainannya yang sudah banyak ia perlihatkan pada Andri.
Setelah adanya drama antara sang oma dan juga sang cucu Damian, kini kondisi di ruangan santai itupun sudah nampak tenang, hingga beberapa saat tidak lama dari itu, datanglah Adinda bersama suaminya Al.
" Daddy mommy ". Sapa Aganta disela - sela aktivitas bermainnya.
" Iya anak mommy ". Sahut Adinda dengan senyumannya.
" Bagaimana, anak - anak daddy ini tidak rewel kan selama daddy ada di atas? ". Tanya Al pada kedua putra nya.
" Lewel, Mian lewel daddy ( rewel, Damian rewel daddy) ". Sahut Aganta melapor tentang keriuhan yang dibuat oleh Damian tadi.
" Dak daddy, Mian dak lewel, Mian tuma mau uma buta mamam na Mian ja ( tidak daddy, Damian tidak rewel, Damian cuma mau oma buka makanannya Damian saja) ". Sahutnya.
" Iya, tapi tan tamu nanit ( iya, tapi kan kamu nangis) ". Bantah Aganta.
Dan benar, Damian pun tak mampu menyangkal lagi ucapan kembarannya, memang benar jika dirinya tadi sempat menangis, bahkan memaksa sang oma untuk menuruti keinginannya.
Kalau sudah seperti ini hal yang ditakutkan oleh Damian adalah ia melihat mommy nya sedih karena ulahnya.
" Mommy, Mian tadi meman nanit talna Mian mau mamam mamam na Mian cemua na, tapi Mamam na dah habish my, Mian dak lewel tan my ( mommy, Damian tadi memang nangis karena Damian mau makan makanannya Damian semuanya, tapi makanannya sudah habis semua my, Damian tidak rewel kan my) ". Ujar si kecil Damian yang berusaha menjelaskan semuanya pada mommy tercintanya.
" Iya iya, anak - anaknya mommy semuanya tidak ada yang rewel, anak - anak mommy semuanya anak - anak yang baik ". Sahut Adinda dengan lembut.
Iya memang itulah yang selalu Adinda lakukan untuk menghentikan perselisihan diantara kedua putranya, meski usianya tergolong masih sangat muda, namun Adinda tetap bisa mendidik anak - anaknya dengan baik, yang di mana pada usia semuda ini tidak semua wanita bisa mendidik anaknya dengan baik.
Bersambung..........
Hai, Author update lagi, tetap semangat baca ya.
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1