
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi hari yang cerah telah menjadi momen yang begitu di nanti dan terasa mendebarkan. Nampak keluarga inti dari pihak Andrew Choi dan juga keluarga inti dari pihak Vita Ramadani telah siap dalam menyambut serta mengiring hari yang menjadi penentu akan bersatunya sepasang insan yang akan terikat dalam sebuah ikatan suci.
Ya, hari ini adalah hari dimana akan dilangsungkannya akad pernikahan Andrew dan Vita, dimana akad pernikahan ini dilangsungkan di kediaman pak Budi yang tidak lain adalah ayah angkat dari Vita.
Vita yang saat ini sedang duduk tidak jauh dari keluarganya, merasakan dadanya begitu dag dig dug, padahal sudah berkali - kali dirinya berusaha untuk mengontrol agar tidak gugup namun tetap saja tak memberikan pengaruh apapun pada jantungnya.
" Vita kamu kenapa, apa kamu gugup? ". Seru Adinda pada sang sahabat.
" Iya Adinda, aku gugup ". Sahut nya.
" Aku dulu juga seperti itu saat ingin menikah dengan mas Al, tapi tenanglah insya Allah semuanya akan berjalan dengan lancar ". Sahut Adinda dengan mengelus - ngelus punggung tangan sahabatnya, agar sahabatnya ini menjadi lebih tenang.
" Terima kasih Adinda ". Sahut Vita dan Adinda pun mengangguk.
Dengan segala aura ketampanan dan kewibawaan nya kini Andrew tengah duduk menghadap penghulu untuk mengucapkan ijab kabul.
" Bagaimana nak Andrew, apakah sudah siap untuk dimulai? ". Tanya pak penghulu itu.
" InsyaAllah saya siap ". Sahut Andrew mantap.
" Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Andrew Choi bin Young Min Choi dengan saudari Vita Ramadani binti Hasan Ramadan dengan mas kawin berupa uang sebesar tujuh puluh lima miliyar rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai ". Seru pak penghulu dengan sedikit menghentak jabatan tangan dari Andrew.
" Saya terima nikah dan kawinnya Vita Ramadani binti Hasan Ramadan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ". Sahut Andrew dengan satu kali tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi sah? ". Seru pak penghulu pada semua saksi yang ada disana.
" Sah.. sah.. sah.. ".
" Alhamdulillahirobbila'lamin ".
Andrew mulai beranjak dari duduknya dan menuju ke arah wanita yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
" Vita, sekarang kamu sudah sah menjadi milikku ". Seru Andrew pada istrinya.
Vita tidak menyahut ucapan suaminya, ia langsung meraih punggung tangan sang suami lalu menciumnya sebagai tanda jika dirinya sangat menghormati suaminya. Dan...
Cup..... sebuah kecupan hangat telah mendarat di kening Vita. Ciuman ini adalah ciuman pertamanya yang ia dapatkan dari pasangannya.
Pok... pok... pok... Semua orang yang telah menjadi saksi dalam ikatan suci mereka bertepuk tangan ria melihat kebucinan Andrew, sedangkan Vita jangan ditanya ia sudah sangat malu karena semua tatapan mata tertuju padanya.
" Tuan, sudah ya ". Seru Vita pada sang suami yang masih belum melepas ciumannya. Dan benar saja, setelah mendapat peringatan dari istrinya barulah ia melepaskannya.
Vita dan Andrew kini mulai mencium tangan orang tuanya dan juga orang tua mertuanya secara bergantian. Hingga sampailah Andrew pada om Indra.
" Nak Andrew, sekarang Vita adalah tanggung jawab mu, jadi om mohon jagalah dan bahagiakanlah dia nak, karena om sangat kurang memberikan kebahagiaan untuknya ". Seru Indra dengan tatapan sendunya.
" Pasti om, om Indra tenang saja saya akan membahagiakan dan menjaga Vita dengan segenap jiwa dan raga saya ". Sahut Andrew dengan segala kesungguhannya.
" Terima kasih nak, om pegang janjimu ". Sahut Indra.
__ADS_1
Kini Andrew pun beralih pada ayah mertuanya pak Budi.
" Ayah ". Seru Andrew dan ia pun mencium punggung tangan ayah mertuanya.
" Semoga berkah dan kebahagiaan selalu menyertai rumah tangga kalian nak ". Seru pak Budi pada menantunya.
" Amin, terima kasih ayah ". Sahut Andrew.
" Nak, ayah berpesan padamu, jagalah Vita, bahagiakanlah dia, Vita adalah putriku nak, jika kamu menyakitinya sama saja dengan kamu sudah menyakiti ayah ". Seru pak Budi.
" Ayah, selama nyawa ini masih melekat di raga, saya janji saya akan berusaha dan senantiasa akan selalu menjaga dan membahagiakan Vita, ayah bisa pegang janjiku ". Sahut Andrew.
" Ayah pegang janjimu nak ". Sahut pak Budi.
" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian yang saat ini sedang duduk di stroller nya bersama sang kembaran.
" Ada apa nak ". Seru bu Nadia pada cucunya.
" Mam, mam, mam, mam ". Celoteh Damian lagi dengan menggerak - gerakkan kedua tangan mungilnya yang seolah ingin mendekat ke arah seseorang.
Bu Nadia mencoba menoleh kemana tangan mungil cucunya itu mengarah, dan ternyata Damian sedang mengarahkan tangan mungilnya ke arah sang daddy dan juga mommy nya yang sedang sibuk memberi ucapan selamat pada sahabatnya.
" Mam, mam, mam, mam ". Seru Damian lagi seolah bayi gembul itu ingin segera sampai ke arah orang tuanya.
" Baiklah, baiklah cucu nenek, ayo kita ke mommy dan daddy kalian ya ". Sahut bu Nadia dan ia pun segera mendorong stroller cucu kembar nya.
" Adinda ". Panggil bu Nadia setelah dirinya sampai di dekat keponakannya, dan Adinda pun menoleh.
" Adinda nak, ini putramu sepertinya ingin di gendong ". Seru bu Nadia.
" Oh Damian anak mommy ingin di gendong sayang, ayo - ayo sini mommy gendong ". Sahut Adinda dan ia pun segera meraih tubuh mungil putranya.
" Aganta ingin di gendong juga nak? ". Tanya Adinda pada Aganta yang ternyata masih terlihat tenang di strollernya.
Untuk sesaat Aganta memandang wajah mommy nya sebelum akhirnya bayi gembul itu menunduk lagi.
Melihat tingkah putranya yang satunya masih diam membuat Adinda merasa kasihan padanya.
" Mas, mas ". Panggil Adinda dengan menyentuh lengan kekar suaminya.
Dan Al pun menoleh. " Iya sayang? ". Sahut Al.
" Mas gendong Aganta ya, kasihan sepertinya anak kita yang satu ini ingin digendong tapi dia tidak ingin merepotkan kita ". Sahut Adinda.
" Oh sayangnya daddy, kamu ingin daddy gendong hem?, ayo sini daddy gendong ". Seru Al dan ia pun langsung meraih tubuh mungil Aganta.
Mengingat acara ini hanya ada akad nikah saja, kini hanya tinggallah keluarga dari Vita dan juga keluarga besar Andrew, tak lupa juga kedua sahabat Al yang masih setia Di sana.
Siapa lagi kedua sahabat sekaligus rekan kerja bisnis Al jika bukan Rendi dan Rian.
" Al dan Andrew sudah pada punya istri, kita kapan ya nikah? ". Seru Rian pada Rendi.
" Kenapa kamu bertanya padaku, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa sampai sekarang kamu belum menikah ". Sahut Rendi.
__ADS_1
" Ih bukan hanya aku kali tapi kita, kan aku tadi bilang kapan kita nikah ". Sahut Rian.
" Iya kan benar Rian yang aku bilang tadi, kalau kamu tanya kapan kita nikah itu urusan diri sendiri, seharusnya yang kamu pikirkan itu diri kamu sendiri kapan kamu menikah tidak perlu bawa - bawa aku, ya kalaupun aku tidak menikah itu kan urusan ku bukan urusan mu ". Sahut Rendi acuh dengan raut tak sukanya.
" Ya Tuhan, sensitif sekali kamu, aku bicara seperti itu kan karena aku juga perduli sama kamu, nanti ujung - ujung kalau kamu mau menikah nanti pasti juga butuh bantuan ku heh ". Sahut Rian dengan raut yang tak kalah tak sukanya dari Rendi.
Al yang saat ini sedang berada di posisi yang tak terlalu jauh dari kedua sahabatnya itu dapat mendengar jika kedua sahabatnya sedang beradu argumen.
Dengan tetap menggendong sang putra Aganta, Al pun mendekati kedua sahabat dekatnya.
" Kalian ini ada apa sih, kok aku dengar kalian bersidebat? ". Tanya Al.
" Ini gara - gara si Rendi oon, aku kan tadi hanya bilang kapan ya kita nikah?, eh dianya malah tersinggung dan bilang kalau kamu tanya kapan kita nikah itu urusan diri sendiri, seharusnya yang kamu pikirkan itu diri kamu sendiri kapan kamu menikah tidak perlu bawa - bawa aku ". Sahut Rian menjelaskan dengan mengulang kalimat Rendi.
" Pftt... pftt... pftt... ". Al menahan tawanya melihat tingkah kedua sahabatnya ini yang ketika beradu argumen terlihat seperti ibu - ibu komplek yang saling menyindir.
" Al kenapa kamu malah senyum - senyum begitu, aku ini sedang kepanasan Al gara - gara ini orang ". Sahut Rian tak suka dengan mencebikkan bibirnya pada Rendi.
" Sudahlah Rian, tidak baik jika kesal terlalu lama pada orang lain apalagi pada sahabat sendiri, ya kamu harus bisa memaklumi lah jika Rendi tersinggung, siapa tahu yang kamu katakan itu memang mengganggu privasinya... atau mungkin...? ". Ucapan Al terhenti.
" Atau mungkin kenapa? ". Tanya Rendi yang sedang menunggu kalimat dari sahabatnya yang memang ditujukan untuk dirinya.
" Atau mungkin di hati kamu sudah ada wanita ya, tetapi kamu masih menyembunyikan nya? ". Tebak Al.
Deg.....
" Wah bro, jangan katakan kalau yang dikatakan Al memang benar, kalau memang benar wah kurang ajar kamu, kamu tidak cerita sama kita ya? ". Timpal Rian dengan raut tak percayanya.
" Apa sih kalian jangan sok tahu ". Sahut Rendi sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya dari kedua sahabatnya.
" Siapa tahu benar, hati seseorang siapa yang tahu ". Sahut Rian dengan mencebikkan bibirnya.
Rendi diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari belah bibirnya. Apa yang disingging oleh Al tentang adanya seseorang di hatinya sebenarnya hal itu sangat membuat hatinya tersentak, namun Rendi berusaha bersikap seperti biasanya agar kedua sahabatnya ini tak merasakan kecurigaan apapun.
" Apa yang kamu katakan memang benar Al, dari sejak lama di hatiku memang hanya ada dia, tapi aku tak bisa memiliki hatinya, karena hatinya sudah menjadi milik mu Al, tapi bagaimana keadaannya sekarang?, apa yang akan dia rasakan jika dia tahu bahwa kamu sudah menikah?, Dia, andai saja jika saat ini di hatimu masih ada ruang kosong, ingin sekali rasanya aku masuk ke dalamnya ". Batin Rendi.
Sedangkan Al yang sudah tidak mengeluarkan kalimatnya lagi sebenarnya sudah memahami dari sikap Rendi, namun sama halnya seperti Rendi, Al juga berusaha untuk tetap bersikap seperti biasanya agar tak menimbulkan suasana yang kurang nyaman diantara mereka.
" Aku tahu Rendi, sebenarnya di hatimu hanya ada dia, maafkan aku yang selama ini sudah berpura-pura tidak mengetahui perasaan mu padahal aku mengetahuinya, tapi sekarang hatiku bukan lagi miliknya, dan semoga saja masih ada ruang kosong darinya agar kamu bisa masuk ke dalam hatinya ". Batin Al.
Dan tidak ada kalimat apapun lagi dari ketiga sahabat itu hingga.....
" Mam, mam, mam, mam ". Seru Aganta dengan mengangkat tangan kanan mungilnya seolah bayi itu menunjuk ke arah seseorang.
" Al, anakmu berceloteh, ingin apa dia? ". Sahut Rian.
Al pun melihat kemana arah tangan mungil putranya itu menunjuk, dan ternyata benar Aganta sedang menunjuk mommy nya.
" Sebenar ya, aku mau ke istriku dulu, sepertinya putraku ingin menemui mommy nya ". Sahut Al, dan ia pun langsung melenggang menuju Adinda.
Bersambung..........
Dukung terus karya Author ya, selamat membaca. ππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ