
Selamat Membaca
🌹🌹🌹🌹🌹
Satu bulan telah berlalu.....
Sang subuh telah datang mulai berbisik - bisik ditelinga setiap insan yang sedang terlelap agar segera tersadar dari mimpi malamnya.
Pemilik mata indah yang dihiasi oleh bulu mata yang lentik itu, kini mulai mengerjap - ngerjap seolah mengajak sang pemilik untuk tersadar dari tidur lelap nya.
Adinda terbangun dari tidurnya kala ia mendengar seruan sang pemilik waktu yang sengaja selalu ia abadikan dalam benda pipih miliknya.
" Eerrgghh..... ". Seru lenguhan Adinda, kala gadis itu terbangun dari tidurnya.
" Hemm..... alhamdulillah sekarang sudah subuh aku harus mandi dan segera sholat ". Serunya.
Adinda mengajak tubuhnya untuk terjaga sesaat, dan menuntun tubuh itu menuju kamar mandi. Di tengah - tengah langkahnya ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada perutnya, sehingga membuatnya berhenti melangkah.
Adinda merasakan seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya yang begitu tidak tahan apabila tidak ia keluarkan. Adinda segera berlari menuju kamar mandi nya.
" Hoek..... hoek..... hoek..... hah..... hah..... hah..... hoek..... hoek..... hoek.....astagfirullah ". Adinda memuntahkan isi di dalam perutnya, namun hanya cairan bening saja yang ia keluarkan.
" Ya Allah, kenapa akhir - akhir ini aku sering mual, apa aku punya penyakit? ". Seru Adinda yang merasa bingung.
" Hoek..... hoek..... hoek..... ". Mual Adinda entah sudah yang ke berapa kalinya.
*****
Waktu terus berjalan hingga kini telah memasuki pukul lima pagi. Seperti biasa para pelayan sedang sibuk melakukan aktivitasnya termasuk membuat sarapan untuk para tuan rumah.
Bu Nadia tetap ikut andil dalam membantu para pelayan yang sedang sibuk di dapur. Meski sudah tidak bekerja lagi namun bu Nadia tetap tidak ingin melewatkan diri untuk membantu orang - orang yang pernah se profesi dengannya untuk membuat sarapan.
Pada saat memasak, bu Nadia merasa ada yang aneh saat melihat keponakannya. Sepertinya keponakannya itu terlihat kurang bersemangat.
" Adinda nak, ada apa dengan mu, apa kamu baik - baik saja nak? ". Tanya bu Nadia pada Adinda yang sedang mengiris daun bawang.
" Eh bibi, bikin kaget, Adinda baik kok bi ". Sahutnya dengan tersenyum.
" Tapi bibi perhatikan kamu terlihat kurang bersemangat nak, apa kamu sakit? ". Tanya bu Nadia yang merasa khawatir dengan keponakannya.
" Eemm, tidak kok bi, mungkin karena tadi malam Adinda tidurnya agak terlalu larut malam, jadinya terlihat agak lesu deh ". Kilah Adinda.
Bukan maksud Adinda untuk berbohong, hanya saja dia merasa tidak ingin jika bibi yang disayanginya itu menjadi khawatir.
Bu Nadia menarik nafasnya. " Nak, kalau kamu merasa kurang nyaman saat tidur di kamarmu kamu boleh tidur berdua di kamar bibi bersama bibi nak ". Ucap bu Nadia dengan mengelus kepala keponakannya yang tertutup kain hijab itu.
" Adinda, kalau kamu takut tidur sendirian tidur sama bibi saja nak ". Sahut bu Tarsih yang ikut menimpali namun masih fokus dengan pekerjaan nya.
Lagi - lagi Adinda tersenyum melihat perhatian yang begitu tulus dari para bibinya.
" Iya bibi - bibiku yang tercinta. Kalau Adinda merasa takut kalau tidur sendirian, Adinda akan tidur di kamar manapun yang Adinda mau deh " Sahut Adinda dengan tersenyum lucu.
*****
Di lain tempat, tepatnya di ruang kerjanya, Al begitu sangat fokus terhadap sebuah benda cantik yang menjadi petunjuk akan keputusannya yang telah dirinya ambil sebulan yang lalu.
Hari libur kerjanya ia gunakan hanya untuk memperhatikan kalung indah itu. Al memang sengaja belum memberikan kalung itu kembali pada Sintia, karena masih ingin terus merenungi perbuatan buruknya yang pernah ia lakukan.
Entah itu keinginan hatinya atau memang kehendak dari Tuhan. Al begitu tidak ingin melepaskan kalung putih yang cantik itu.
" Kalung ini adalah milik Sintia, tapi kenapa wanita yang sering aku lihat dalam mimpi bukanlah dirinya. Dia masih gadis dan aku adalah orang pertama yang menyentuhnya, suaranya terdengar begitu berbeda dengan suara Sintia. Tapi kalung ini tidak ada yang mengakuinya selain Sintia..... ". Batin Al bertanya - tanya.
" Ya Allah ya Tuhan ku, baru kali ini aku merasa ragu dengan apa yang aku pilih ". Seru Al.
" Dia gadis, dia gadis?.... ". Seru Al.
Seketika itu ucapannya langsung terhenti.
" Iya dia masih gadis ". Serunya lagi.
" Adinda, iya gadis itu ". Seru Al dan langsung bergegas mencari keberadaan Adinda.
Di langkahkan nya kaki jenjang nan kokoh itu menuju ke tempat orang yang dia cari. Hingga langkahnya terhenti pada sebuah tempat yang dimana di dalamnya berisi pemandangan indah para pelayan wanita yang sedang sibuk dengan aktivitasnya.
" Adinda ". Panggil Al.
Semua orang yang ada di dapur itupun menoleh.
Adinda cukup terkejut. Ternyata yang memanggilnya adalah tuannya. Adinda berusaha untuk tetap bersikap tenang.
" I, iya tuan ". Sahutnya.
" Tinggalkan dulu pekerjaan mu, aku ingin bicara berdua dengan mu ". Perintahnya.
Bu Tarsih, bu Ima, dan bu Nadia saling memandang, hingga akhirnya.....
" Adinda, sana nak kamu di panggil oleh tuan Al ". Perintah bu Nadia pada keponakannya.
" Eh, i, iya bi ". Sahutnya gugup.
__ADS_1
" Ayo ". Ajak Al.
Adinda pun mengekor dari belakang untuk mengikuti langkah Al. Hingga dirinya telah sampai di sebuah tempat favorit tuan Al nya yang ada di rumah mewah itu.
Hanya mereka berdua di ruangan itu. Rasa takut kini mulai muncul lagi di dalam hatinya.
" Duduk lah ". Perintah Al.
Al pun juga duduk di sofa yang sama dengan Adinda.
" Adinda, aku ingin kamu menjawabnya dengan jujur ". Tegasnya.
" Iya tuan ". Sahut Adinda.
" Apakah ini kalung mu? ". Tanya Al tanpa basa - basi dengan menunjukkan kalung itu.
Adinda terkejut. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
" Bu, bukan tuan ". Sahutnya gugup.
" Adinda jawablah dengan jujur, kejujuran mu sangat penting bagiku Adinda ". Seru Al.
Adinda terdiam. Dalam hatinya sebenarnya ia ingin sekali mengaku jika kalung itu adalah miliknya. Tapi tidak mungkin ia lakukan. Karena jika sampai hal itu terjadi maka dia akan kehilangan ayah yang sangat di sayanginya.
" Tidak tuan, kalung itu bukan milik saya, tapi milik kak Sintia ". Sahut Adinda pada akhirnya dengan berbohong.
Al pun menghela nafasnya. Ternyata memang benar kalung ini milik Sintia. Jadi dirinya tidak menikahi wanita yang salah.
*****
Waktu kini sudah menunjukkan pukul enam pagi. Tuan rumah di kediaman Alexander tengah bersiap - siap untuk sarapan.
Tanpa memberi kabar pada Al, Devina dan Enriko datang ke rumah putranya.
Dan disinilah keluarga Georgina itu berada. Sedang menikmati sarapan pagi yang sudah di suguhkan.
" Mas, mas mau yang mana lauknya, biar Sintia ambilkan ". Seru Sintia yang berusaha menjadi istri yang baik.
Ya, selama satu bulan ini Sintia menjadi istri Al, dia selalu berusaha bagaimana agar Al mau menerima dan tertarik padanya.
Namun semua usahanya tidak pernah membuahkan hasil. Tidak pernah sekali pun Al bersikap manis maupun bersikap romantis seperti suami pada umunya.
Ya, Sintia tidak tahu saja, jika Al hampir setiap malam memimpikan kejadian dimana dirinya telah menodai seorang gadis. Namun gadis yang ada di dalam mimpinya itu bukanlah dirinya.
Seringkali hati dan pikiran Al saling bertentangan. Namun bukti tentang kejadian itu menuju pada Sintia.
Bagi Al kebenaran tentang kejadian itu seolah menjadi abu - abu sehingga dia sulit mencari yang benar.
" Tidak perlu biar akau yang mengambil sendiri saja ". Sahut Al.
" Loh, kamu bagaimana sih Al, istri berniat baik untuk membantu kamu sarapan malah di tolak " Seru Devina sang mama.
" Bukan seperti itu ma, Al hanya tidak mau merepotkan Sintia ". Kilah Al.
" Iya ma, tidak apa - apa, mas Al memang benar. Mas Al menolak karena tidak ingin merepotkan Sintia ". Bela Sintia pada suaminya agar terlihat baik di depan mama mertuanya.
" Heemm..... kamu yang sabar ya nak, Al memang seperti itu orangnya ".
" Iya ma ". Sahut Sintia.
Al sama sekali tidak menggubris omongan mereka.
" Ayo - ayo sudah, sekarang waktunya kita menikmati sarapan ". Seru Enriko yang berusaha menenangkan kondisi meja makan yang sedikit menegang itu.
*****
Waktu sarapan para tuan rumah telah usai. Dan sekarang adalah giliran para pelayan lah yang akan menikmati sarapan mereka.
Entah mengapa Adinda kurang berselera untuk sarapan pagi ini. Dirinya kali ini begitu ingin memakan lalapan ikan lele lengkap dengan nasinya yang sering di jual di pinggir jalan.
" Adinda, ayo nak kita sarapan dulu ". Seru bu Ika.
" Iya bi, Adinda makan nanti saja ". Sahutnya.
" Loh kok nanti, ya harus sarapan sekarang lah nak, jangan nunggu nanti, nanti kamu bisa sakit loh nak ". Sahut bu Ima yang ikut menimpali.
Mau tidak mau Adinda pun harus tetap sarapan , karena Adinda juga tidak mau jika dirinya sampai sakit.
Saat memakan nasi dengan lauk yang diambilnya sendiri, Adinda merasakan ada yang aneh. Dia merasa ingin mual karena makanan itu.
Merasakan hal itu, Adinda langsung bergegas menuju kamar mandi dapur.
" Hoek..... hoek..... hoek..... hah..... hoek..... hoek..... ". Muntah Adinda dan mengeluarkan kunyahan makanan yang belum sempat ia telan.
" Bu, si Adinda kenapa itu? ". Tanya bi Tarsih yang melihat Adinda tiba - tiba saja masuk ke kamar mandi.
" Entahlah bu, saya juga tidak tahu. Tapi sepertinya anak itu tidak terlihat baik beberapa hari ini ". Sahut bu Ima.
" Apa anak itu sakit bu? ". Tanya bu Ika.
__ADS_1
" Entahlah bu ". Sahut bu Ima.
Setelah hampir sepuluh menit lamanya, Adinda baru keluar dari kamar mandi dan menuju ke tempat sarapannya.
Terlihat wajah Adinda yang sedikit memucat.
" Adinda, kamu kenapa nak?, wajah kamu terlihat pucat, sepertinya kamu sakit Adinda ". Seru bu Ima yang merasa khawatir.
" Emm tidak bi, Adinda hanya merasa kurang nyaman saja di perut. Mungkin karena asam lambung Adinda sedang naik, jadinya Adinda sedikit mual deh tadi ". Sahutnya menjelaskan.
" Ya sudah nak, kalau begitu kamu istirahat saja dulu, bibi khawatir penyakit asam lambung kamu makin parah lagi " Sahut bu Tarsih yang juga di benarkan oleh semua temannya.
Adinda hanya tersenyum. " Tidak apa - apa bibi - bibi. Adinda baik kok. Adinda masih kuat untuk bekerja ". Sahutnya dengan tersenyum.
" Ya sudahlah nak kalau itu memang mau kamu. Tapi kalau kamu merasa tidak kuat, bilang ya sama kami nak ". Seru bu Ika.
" Iya bi ". Sahutnya.
*****
Waktu kini sudah hampir memasuki pukul sembilan pagi. Satu wanita versus dua wanita yang beda generasi itu sedang duduk bersantai dan melakukan obrolan ringan.
Dengan duduk di sofa yang terletak tidak terlalu jauh dari kolam ikan. Nyonya Devina, bu Nadia, dan Sintia begitu asyik dengan obrolannya.
Hingga datanglah bu Ika dengan membawa tiga mangkuk sup jagung dan meletakkan nya di meja mereka.
" Ini nyonya - nyonya sup jagungnya sudah siap ". Seru bu Ika.
" Oh terima kasih ya bi ". Sahut Sintia tersenyum
" Iya non, kalau begitu bibi permisi dulu ke dapur ". Pamit bu Ika.
Mereka bertiga ingin menikmati sup jagung yang di inginkan oleh Sintia tadi.
Entah mengapa saat mencium aroma dari sup jagung itu, Sintia merasa tidak suka dengan aroma nya, dan membuat perutnya seperti di aduk - aduk.
" Hoek... hoek... hoek... Mual Sintia dan langsung membekap mulutnya.
" Ada apa nak, apa sup nya tidak enak? ". Tanya Devina.
" Tidak ma, Sintia masih belum sempat memakannya ". Sahut Sintia.
" Terus kenapa kamu mual - mual begitu sayang? ". Tanya Devina lagi.
" Tidak tahu ma, saat Sintia mencium aroma sup ini, Sintia tidak kuat dan Ingin mual ". Sahutnya.
Mendengar jawaban dari Sintia. Devina dan bu Nadia saling menatap. Apa jangan - jangan?..... itulah arti dari tatapan mereka.
" Sintia, apa jangan - jangan kamu hamil? ". Tanya Devina dengan berbinar.
" A, apa hamil? ". Tanya Sintia terkejut.
" Iya nak hamil, mama yakin pasti kamu hamil ". Seru Devina begitu antusias.
" Ibu Devina, sebaiknya Sintia kita periksakan dulu ke dokter ". Seru bu Nadia pada akhirnya yang tidak ingin terlalu terburu - buru mengambil kesimpulan.
" Iya bu, saya akan meminta Al untuk membawa Sintia periksa ". Sahut Devina.
*****
Di sebuah rumah sakit mewah milik keluarganya, disinilah Al dan Sintia berada.
Karena Devina merasa yakin jika menantunya itu sedang mengandung. Ia pun langsung menyuruh Al untuk membawa istrinya ke ruang periksa kandungan.
Dan disinilah sekarang. Sintia sedang berada di atas brangkar pemeriksaan. Dengan teliti dokter wanita itu memeriksa perut Sintia. Sebuah senyuman terbit di bibir dokter wanita itu.
" Selamat tuan Al dan nona Sintia, sebentar lagi tuan dan nona akan menjadi orang tua. Istri Anda hamil tuan ". Ucap sang dokter.
Deg..... Al terpaku mendengar ucapan dokter wanita itu.
" Usia kandungannya sudah hampir memasuki usia lima mingguan ". Imbuh nya lagi.
Al bingung harus bagaimana saat ini. Namun juga tidak bisa di tampik jika hatinya juga merasa senang.
Ya, Al merasa senang karena istrinya hamil. Dan usianya sudah hampir memasuki usia lima mingguan. Itu artinya anak yang di kandung Sintia memang benar anaknya.
Al menatap Sintia...
" Terima kasih Sintia ". Ucap Al tersenyum.
Dan hal itu sama sekali tidak di duga oleh Sintia.
" Iya mas ". Sahut Sintia dengan tersenyum senang.
" Akhirnya aku hamil juga. Dan aku akan menjadi ratu di rumah Al hahahaha... ". Batin Sintia tertawa.
Bersambung.....
Buat teman - teman jangan lupa like, komentar, dan pilih ikon favorit ya 🙏❤❤❤.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹