
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Cengkraman kuat nampaknya harus diterima oleh sebuah benda pipih yang telah menunjukkan tayangan akan kepiluan seorang anak yang masih sangat kecil karena harus berpisah dari sang ibu.
Al memejamkan kedua kelopak matanya kala ia melihat sebuah rekaman video dimana Sintia harus berpisah dengan anaknya yang belum satu hari ini ia temui. Hati Al merasa terenyuh dan sangat sedih kala ia melihat semuanya, isak tangis Kenzie yang tak ingin lepas dari pelukan mamanya namun dipaksa harus melepasnya.
Tangisan dan Ketidakinginan Kenzie, mengingatkan Al pada anak - anaknya sendiri. Bagaimana jika hal itu terjadi pada Aganta juga Damian?, tentu Al tidak ingin hal itu terjadi.
*****
Sedangkan di tempat yang berbeda seorang bocah kecil sedang menangis dengan begitu kencangnya.
Ia meronta - ronta dalam dekapan sang papa dan terus merentangkan kedua tangan mungilnya ingin meraih sang mama yang saat ini sudah tak lagi nampak dalam pandangannya.
" Amaaaa amaaa, Ezie itut amaaa ( mamaaa mamaaa, Kenzie ikut mama) ". Tangis Kenzie dengan begitu kencangnya bahkan bocah kecil itu tak menurunkan rentangan kedua tangan mungilnya.
" Tenang lah Kenzie anak papa, mama hanya sementara pergi sayang, nanti mama akan kembali lagi kesini menemui Kenzie, Kenzie sama papa sama nenek dulu ya ". Seru Kelvin yang berusaha menenangkan putranya yang masih terus menangis dan meronta - ronta dalam dekapannya.
" Dak mau, Ezie mau itut ama apa, Ezie mau itut ( tidak mau, Kenzie mau ikut mama papa, Kenzie mau ikut) ". Serunya pilu.
" Kenzie sama nenek saja ya nak, kita lihat kolam ikan di belakang rumah, kan Kenzie belum memberi makan ikan - ikannya ". Ajak bu Mariam pada sang cucu.
" Dak mau dak mau, Ezie mau ama, Ezie mau itut ama, Ezie mau itut hwaaa ( tidak mau tidak mau, Kenzie mau mama, Kenzie mau ikut mama, Kenzie mau ikut hwaaa) ". Tolak Kenzie tetap menginginkan mamanya.
Sungguh Kelvin tak sanggup menyaksikan isak tangis putra semata wayangnya. Jika dirinya memiliki kuasa untuk melawan, pastilah ia akan mencegah Sintia untuk tidak pergi, namun apalah daya, dirinya terlalu kecil untuk bisa melawan seorang Al.
Jika di dalam rumahnya Kenzie masih terus menangis meraung - raung menginginkan sang mama, sama halnya dengan Sintia.
Dengan didampingi oleh dua orang kepercayaan Al, kini Sintia melangkah hampir meninggalkan halaman rumah dimana putranya berada. Dengan buliran air mata yang masih terus menetes membasahi pipinya, Sintia melangkah begitu lemah seolah tak ada semangat lagi untuk kembali ke tempat pengasingan.
" Ayo, kenapa kamu menjadi lelet seperti ini jalannya? ". Ucap Ivan tak suka pada Sintia.
Sintia sama sekali tak menyahut. Ia masih tetap pada isak tangisnya. Tubuhnya memang berada di luar rumah, namun hati dan pikirannya tetap pada Kenzie sang putra.
Jika Ivan selalu bersikap ketus dan dingin pada Sintia, maka beda halnya dengan orang kepercayaan Al yang satu ini, yaitu Firhan.
Firhan yang merasa tak tega melihat Sintia harus berpisah dari putranya, dengan sengaja bahkan tanpa sepengetahuan Ivan telah berani merekam peristiwa memilukan perpisahan antara seorang anak dengan ibunya pada tuan Al nya. Dalam hati Firhan berharap agar tuan Al nya bisa bermurah hati untuk memaafkan semua kesalahan Sintia, karena bagaimanapun akibat dari hukuman ini seorang anak yang tak berdosa lah yang menjadi korbannya.
" Ayo Sintia, kamu ini lelet sekali ya jalannya, ini sudah sore, dan kamu harus segera kembali ke tempat pengasinganmu ". Ujar Ivan lagi bahkan ia sudah nampak kesal.
" Iya iya, tenang sajalah, lagi pula tempat pengasingan ku tidak akan pindah ". Kesal Sintia di sela isaknya.
Kini mereka bertiga kembali melangkah untuk menuju mobil, namun baru beberapa langkah kaki mereka maju tiba - tiba saja Ivan menghentikan langkahnya, dan itu membuat Sintia dan juga Firhan ikut berhenti melangkah.
" Ada apa, kenapa berhenti, bukannya kamu tadi yang buru - buru ingin menghentikan ku? ". Tanya Sintia kesal.
Ivan tak menyahut, dan ia malah merogoh ponsel miliknya.
" Halo tuan Al ". Sahut Ivan.
β
__ADS_1
" Sintia jangan kembali dulu ke tempat pengasingan, biarkan untuk sementara waktu dia bersama putranya, aku akan mengurusnya langsung ". Sahut Al memerintah.
" Baiklah tuan ". Sahut Ivan.
Tut..... panggilan telepon pun berakhir.
" Kali ini aku masih bermurah hati padamu Sintia, tapi hanya kali ini, jika satu kali saja kamu melakukan kejahatan lagi pada keluarga ku, tidak akan aku beri ampun kamu ". Batin Al.
*****
" Ada apa? ". Tanya Firhan yang begitu penasaran.
" Tuan Al memberikan keringanan untuk wanita ini ". Sahut Ivan dengan melirik pada Sintia.
Ada sebuah senyuman yang hampir tak terlihat dari kedua sudut bibir Firhan, akhirnya tuan Al nya tidak jadi membawa Sintia ke tempat pengasingan lagi, ternyata bukti rekaman Video yang tadi kirim ternyata tidaklah sia-sia.
" Sintia, kamu boleh kembali menemui putramu, tuan Al memberikan sedikit keringanan hukuman untukmu, untuk sementara waktu kamu boleh tinggal dengan putramu ". Ujar Ivan menjelaskan.
Sintia begitu sangat terkejut setelah mendengar kabar dari Ivan, jadi Al memberikan kesempatan untuknya.
" Sintia kamu tidak ingin segera masuk? ". Kali ini Firhan yang bersuara.
" Eh... iya iya, terima kasih ya ". Sahut Sintia dan iapun langsung berlalu menuju rumah Kelvin.
Di dalam rumahnya, Kenzie masih terus menangis menginginkan mamanya, bahkan suara nya pun sudah terdengar serak karena sudah cukup lama bocah kecil itu menangis.
Sungguh malang memang anak yang masih terlalu kecil seperti Kenzie harus menerima nasib yang begitu memilukan seperti ini.
Baru hari ini dirinya bisa melihat, memeluk, digendong, bisa berbicara dan merasakan hangatnya kebersamaan dengan sang mama kini sudah lenyap dalam seketika.
" Tenang lah sayang mama pasti kembali nak ". Ujar Kelvin, entah sudah berapa kalimat yang sama yang sudah ia ucapkan untuk menenangkan putra semata wayangnya itu.
Sedangkan bu Mariam, ia sudah menjatuhkan air matanya melihat nasib cucunya yang begitu memilukan ini.
" Ama hiks.. hwa... ama hiks.. hiks.. hwa... ".
" Kenzie ". Panggil Sintia.
Semua orang yang ada di ruangan itupun langsung menoleh ke arah sumber suara.
Deg... dan ternyata Sintia lah yang datang.
" Kenzie ". Panggilnya lagi dan iapun langsung berlari ingin meraih putranya.
" Kenzie ".
" Ama ".
Sepasang ibu dan anak itupun merentangkan kedua tangannya.
Kini sepasang ibu dan anak itupun kembali bertemu. Kenzie yang sudah di lepas dari dekapan Kelvin merentangkan kedua tangan mungilnya dan memeluk erat sang mama.
" Ama danan peuldi ama, Ezie mau cama ama hiks...hwa... ". Seru Kenzie dengan tubuh mungilnya yang masih bergetar hebat.
__ADS_1
" Mama tidak akan meninggalkan Kenzie nak, mama akan disini menemani Kenzie ". Sahut Sintia dengan tetap memeluk erat tubuh mungil putranya.
" Danan peuldi ladi ama, Ezie dak mau ama peuldi, Ezie tatut ama peuldi ". Serunya pilu karena rasa takut akan kehilangan sang mama.
Sintia tak menyahuti kalimat putranya yang ini. Kenzie ingin agar dirinya tidak pernah pergi darinya, tapi sepertinya itu tidak mungkin karena dirinya masih harus menjalani hukuman yang entah sampai kapan hukuman itu akan berakhir.
Bu Mariam sudah berhenti dari tangisnya, ia tersenyum bahagia karena melihat sang cucu sudah kembali memeluk ibunya, namun beda halnya dengan Kelvin, ia yang memang sudah sangat mengenal Sintia merasakan adanya hal yang sudah disembunyikan oleh Sintia namun entahlah ia tidak tahu. Pasti sudah ada sesuatu yang terjadi, kalau tidak lalu bagaimana Sintia bisa kembali lagi kesini.
*****
Sang waktu ternyata sudah cepat berganti. Tanpa terasa kini waktu sudah malam, yang menandakan tak sedikit insan yang telah terlelap mengarungi mimpi indahnya.
Si kecil Aganta dan juga Damian telah terlelap di dalam box tidurnya masing - masing, mungkin karena kedua bocah kembar itu selama seharian ini banyak bermain karena adanya opa dan juga omanya, membuat dua bocah kembar itu harus tidur lebih awal dari waktu biasanya.
Al dan juga Adinda telah merebahkan tubuh mereka, seperti biasa sudah menjadi kebiasaan Al yang selalu memeluk tubuh istrinya, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda yang Adinda rasakan pada suaminya Al.
Di raihnya rahang tegas sang suami.
" Mas, mas ada apa? ". Tanya sang istri dengan suara lembutnya.
" Tidak ada sayang, kamu tidurlah, jangan terlalu larut malam tidurnya, kasihan baby kita sayang ". Sahut Al lembut.
" Bagaimana Adinda bisa tidur mas, kalau suami Adinda yang baik ini sedang menyembunyikan masalah ". Sahutnya.
Al sedikit tersentak mendengar kalimat dari istrinya. Ternyata memang benar, sehebat apapun dirinya menyembunyikan masalah pastilah istrinya akan tetap merasakannya.
" Sayang, sudahlah jangan dipikirkan lagi, lagipula masalah ini bisa diselesaikan sayang, jadi kamu tidak perlu khawatir, sekarang tidurlah cup... ". Sahut Al yang diakhiri dengan sebuah kecupan di kening Adinda.
" Tapi mas Adinda tidak bisa tidur kalau mas ada masalah seperti ini, sebenarnya mas ada masalah apa sih? ". Tanyanya lagi.
Mau tidak mau Al pun harus mengatakannya, melarang pun percuma dan Al sendiri juga tidak ingin jika dirinya sampai marah pada istrinya.
" Sayang, Sintia berada di pengasingan sudah satu tahun lebih, dan sekarang dia sedang berada di Malaysia menemui anaknya, menurut mu bagaimana sayang, apa sebaiknya aku membebaskan dia saja dari tempat pengasingannya? ". Ungkap Al pada akhirnya.
" Apa, jadi anak kak Sintia sudah ditemukan, kenapa mas tidak cerita? ". Sahut Adinda dengan rasa terkejutnya.
" Sayang sayang, tenanglah sayang, kasihan baby kita ". Sahut Al dengan mengelus - ngelus perut istrinya.
" Habisnya mas tidak cerita kalau anaknya kak Sintia sudah ditemukan, kan Adinda ingin melihat keponakan Adinda mas ". Sahut nya dengan bibirnya yang nampak manyun.
" Sayang, kenapa bibirmu manyun seperti itu, kamu sengaja ya, atau jangan - jangan kamu ingin mas cium ". Tebak Al dengan senyuman nakalnya.
" Ih mas, jangan mengalihkan pembicaraan, Adinda ingin lihat anak kak Sintia mas, Adinda mau lihat, lebih baik kak Sintia dibebaskan saja mas, kasihan dia, pasti anak membutuhkan kasih sayang dari ibunya, terus bagaimana cara kak Sintia bisa memberikan kasih sayang pada anaknya kalau kak Sintia sendiri sedang di asingkan ". Ujar Adinda dengan yang dirasakannya.
Al menghela nafasnya cukup dalam.
" Itulah yang sedang aku pikirkan sayang ".
Bersambung..........
Untuk celotehan bocil - bocil untuk di bagian atas ada terjemahannya tapi di bagian bawah tidak, menurut para reader bagaimana, celotehan anak balitanya harus diterjemahkan atau tidak, beri komentarnya ya.
ππππππππππ
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏπΏ