Aku Mengandung Anak Majikanku

Aku Mengandung Anak Majikanku
Wanita Murahan Pembawa Anak Haram


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Selepas menyuruh sang sekretaris untuk mengganti pakaiannya, kini Al kembali melanjutkan memeriksa sisa berkas - berkas penting dari beberapa perusahaan yang berniat akan bekerja sama dengan perusahaannya.


Dengan ditemani Andrew sang asisten sekaligus detektif seorang Al.


" Duduklah Andrew, jangan kamu berdiri terus ". Seru Al dengan tetap fokus pada berkas - berkasnya.


" Baik tuan ". Sahutnya.


" Kenapa kamu memandangku seperti itu Andrew, apa ada hal penting yang ingin kamu katakan, tapi kamu sendiri merasa tak enak untuk mengatakannya ". Lanjut Al lagi, bahkan Al menebak isi pikiran Andrew.


" Iya tuan ". Sahutnya.


" Katakanlah, tidak perlu kamu merasa tidak enak hati ". Seru Al lagi.


" Tuan, perusahaan D. Group, milik tuan David akan bekerjasama dengan perusahaan anda tuan, dan kemungkinan besok lusa tuan David akan datang kemari untuk merealisasikan niatnya untuk bekerjasama dengan anda tuan ". Ujar Andrew menjelaskan.


David, adalah seorang CEO pemilik perusahaan D. Group, lebih tepatnya ia adalah papa dari Diandra, seorang wanita yang pernah memiliki tempat istimewa di hati Al.


" Lalu apa masalahnya Andrew? ". Sahut Al dengan santainya.


Andrew tak menyahut, ia sendiri merasa bingung. Tapi kenapa tuan nya masih bersikap santai?, bukankah tuan David adalah papa dari mantan kekasih tuan nya, atau lebih tepatnya tuan David pernah menjadi calon mertua tuan Al nya.


" Andrew aku mengerti kecemasan mu, tapi kan kamu tahu siapa aku Andrew, aku bukanlah tipe orang yang suka mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, kalau tuan David ingin bekerjasama denganku ya silakan, tidak ada masalah ". Lanjut Al dengan santainya, karena Al paham pasti asistennya ini merasa khawatir dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi.


*****


Mendapat kecaman keras dari sang tuan besar, akibat dari cara berpakaian yang menurut sang tuan tak pantas, membuat Silvi harus mengganti pakaiannya, alhasil seperti inilah dirinya, menggunakan baju yang tidak terlalu terbuka di bagian dadanya sedangkan rok yang dikenakannya pun memiliki panjang di bawah lutut.


Tok... tok... tok... terdengar suara ketukan dari balik pintu ruangan Silvi.


" Masuk ". Sahut Silvi.


Dan benar saja, nampaklah sosok Rita.


" Hah, Silvi, apa yang terjadi sama kamu?, kamu ganti baju? ". Tanya Rita yang merasa heran jika pakaian temannya tidak lagi sama.


" Iya ". Sahut nya datar, seolah malas untuk menyahuti.


" Loh, tapi kenapa, apa ada yang salah sama pakaiannya? ". Tanya Rita lagi yang masih heran.


" Iya salah, salah karena kata sang tuan besar Alexander Gerald Georgino pakaianku terlalu terbuka, kesal aku ". Sahut Silvi dengan mode tak sukanya, ditambah lagi bibir bawahnya juga ikut - ikutan mencebik.


" Hah, benarkah, kenapa bisa?, aneh sekali tuan Al, bukannya dari dulu banyak karyawan wanita yang menggunakan baju se*si, ya, meski tidak se se*si baju Rani sih, tapi tetap saja aneh, kenapa baru sekarang tuan Al melarangnya, kenapa tidak dari dulu? ". Sahut Rita yang masih dengan rasa herannya.


" Sudahlah Rita, jangan dibahas lagi, aku malas dengarnya, mana dokumen nya, kamu mau menyerahkan itu kan mana? ". Potong Silvi.


Rita pun menyerahkan dokumen itu pada Silvi untuk dikoreksi sebelum akhirnya, Silvi pun menyerahkannya pada tuan Al.


" Sil, nanti istirahat jam makan siang kamu mau makan di mana? ". Tanya Rita di sela - sela Silvi mengecek dokumennya.


" Hari ini aku mau makan siang di luar, males makan di restaurant kantor ". Sahutnya dengan mode masih tak suka.


" Ya sudah, aku sama Rani ikut kamu saja ". Sahut Rita.


*****


Karena terus merengek dan menangis ingin bermain ke kantor sang daddy, akhirnya terkabulkan juga keinginan si kecil Damian.


Mobil mewah berwarna Silver itu, kini telah sampai di depan sebuah teras kantor yang begitu luas dan menjulang tinggi.


" Di sini kantor mas Al pak? ". Tanya Adinda pada pak Joko.

__ADS_1


" Iya nyonya, di sini kantor pusatnya ". Sahut pak Joko.


" waaah... tantol na daddy, beucal ceutalli ". Puji Damian setelah bocah kecil itu keluar dari mobil mewahnya.


" Iya, tantol na daddy beucal ceutalli ". Timpal Aganta yang juga merasa kagum dengan kantor mewah yang ada di depan matanya.


" Mari nyonya, tuan Aganta, tuan Damian, saya antar masuk ke dalam ya ". Seru pak Joko yang ingin mengajak ketiga majikannya.


" Tidak perlu pak, saya dan anak-anak bisa masuk sendiri, bapak kembali saja ya ke rumah ". Sahutnya pada pak Joko.


" Baiklah nyonya ". Sahut pak Joko yang tak ingin membantah perintah nyonya nya.


βž–


Sesosok wanita hamil dengan di dampingi oleh dua orang bocah kecil di samping kanan dan kirinya melangkah memasuki lorong perusahaan.


Semua mata yang berada di lantai dasar menatap ke arah mereka.


" Wah, mommy, tantol na daddy badush ya mommy ". Seru Damian di sela - sela langkah mungilnya.


" Iya sayang ". Sahut Adinda.


Tak butuh waktu lama, mereka pun telah sampai di depan meja resepsionis yang ada di sana.


" Permisi mbak ". Seru Adinda.


" Iya, selamat datang ibu, ada yang bisa kami bantu? ". Tanya petugas resepsionis itu dengan ramah.


" Mbak saya mau tanya, mas Al nya ada? ". Tanya Adinda pada akhirnya.


Petugas resepsionis ini nampak bingung dengan pertanyaan wanita hamil yang ada di depannya.


" Maksud ibu mas Al yang mana ya, bisa disebutkan nama lengkapnya ". Sahut nya.


" Namanya Alexander Gerald Georgino ". Sahut Adinda.


" Maaf ibu, jika ibu ingin bertemu dengan tuan Al, ibu harus membuat janji terlebih dahulu dengan beliau, jika ibu belum sempat membuat janji, mohon ibu tunggu dulu di tempat yang sudah di sediakan di sana ". Sahut petugas resepsionis itu dengan menunjuk beberapa deretan kursi khusus untuk para tamu.


" Kalau begitu, saya akan tunggu di sana saja mbak ". Sahut Adinda.


" Ayo Aganta, Damian, kita duduk di sana ya nak ". Serunya dengan membawa kedua putranya duduk.


" Mommy, teunapa tita halush nundu daddy, tita mashuk cada myh ( mommy, kenapa kita harus nunggu daddy, kita masuk saja my) ". Ujar Damian setelah bocah kecil itu duduk di samping mommy nya.


" Sayang, kita harus menunggu daddy dulu nak, siapa tahu daddy kalian sedang sibuk, jadi kita tunggu di sini saja ya ". Sahut Adinda yang berusaha memberikan pengertian pada kedua putranya.


" Huuuh, dak cellu ( huuuh, tidak seru) ". Protes Damian yang merasa tak suka jika dirinya harus menunggu.


Wanita berhijab dengan kedua anak kembarnya itu, masih tetap menunggu sang tuan Al, hingga tanpa terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh siang yang menandakan sudah masuk waktu makan siang.


" Mommy, daddy teunapa lama ceutalli telual na, Anta dah boshan di cini my ". Seru Aganta pada akhirnya setelah cukup lama bocah kecil itu menunggu sang daddy, mungkin karena bocah laki - laki itu sudah merasa bosan.


" Yang sabar ya anaknya mommy, kita tunggu sepuluh menit lagi ya sayang, kalau daddy masih belum keluar, kita pulang saja ". Sahut nya lembut dengan mengelus pucuk kepala Aganta.


Jika Aganta sudah sangat bosan harus menunggu sang daddy yang sudah ia tunggu selama hampir satu jam lamanya, maka beda halnya dengan Damian. Bocah kecil yang menjadi pemeran utama dalam skenarionya ingin bertemu dengan sang daddy, malah semenjak lima belas menit yang lalu sudah terlelap tidur dengan kepala mungilnya yang sudah di sandarkan di paha sang mommy, hingga...


Terdengar suara riuhan halus dari para karyawan yang mulai bertebaran untuk keluar. Mungkin mereka sedang ingin menikmati waktu makan siang.


" Lima menit lagi nak ya, kalau daddy mu masih belum keluar, kita pulang saja ". Ujar Adinda lagi.


Banyak karyawan yang sudah keluar dan melewati lorong perusahaan itu. Sebagian dari mereka ada yang menatap Adinda dengan kedua anak kembarnya, ada juga yang hanya bersikap acuh.


Sedang dari arah ruangan lain yang posisinya tak jauh dari posisi Adinda dan juga anak - anaknya, nampak Silvi dan juga kedua teman dekatnya siapa lagi jika bukan Rani dan Rita yang sedang berjalan menuju luar kantor, hingga tanpa sengaja kedua bola mata Silvi malah melihat adanya sosok wanita yang sangat ia kenal.


Silvi pun mendadak menghentikan langkahnya.

__ADS_1


" Silvi ada apa, kebisaan deh kamu selalu berhenti mendadak ". Protes Rita.


" Kamu sedang lihat apa sih Silvi? ". Lanjut Rita lagi.


Silvi tak menyahut, malah ia langsung berlalu cepat meninggalkan dua temannya dan menerobos orang - orang yang ingin keluar dari kantor.


" Hei wanita murahan ". Sentak Silvi.


Adinda pun tersentak begitupun dengan si kecil Aganta, suara wanita yang cukup keras terdengar itu juga membuat si kecil Damian juga ikut terbangun dari tidurnya.


Sedangkan di ruangan lain, Al sudah begitu sangat geram, ia begitu sangat marah saat ini, bagaimana tidak, istri dan juga anak - anak datang ke perusahaan nya tetapi malah tidak disambut dengan baik oleh semua karyawan nya, bahkan diperlukan layaknya seseorang yang ingin melamar pekerjaan.


Setelah melihat bukti rekaman cctv itu, Al pun langsung keluar dengan api amarah yang begitu bergemuruh di dadanya.


" Sedang apa kamu di sini wanita murahan ". Ujar Silvi lagi pada Adinda.


Dan benar saja semua orang yang ada di lorong perusahaan itupun langsung menoleh ke arah Adinda.


" Myh ada apa myh? ". Tanya Damian dengan mengucek kedua matanya.


" Wah ini anakmu, oh tidak mereka ini anakmu, anak haram mu ". Sentak Silvi lagi, yang selalu ingin menjatuhkan harga diri Adinda.


" Jaga bicaramu Silvi, anak - anak ku bukan anak haram ". Sahut Adinda tak terima.


" Apa bukan anak haram, yang benar saja, dimana - mana, anak yang lahir tanpa adanya ikatan pernikahan itu namanya anak haram? ". Ucap Silvi lagi dengan begitu menghina.


" Wah kamu ini kan, perempuan yang pernah aku lihat di kamar mandi mall kan, ck.. ck.. ck.. sungguh tak disangka, wajahnya saja yang terlihat lugu tapi ternyata tidak ada bedanya dengan pelac*r ". Timpal Rani.


Semua orang yang ada di lorong itupun nampak berbisik - bisik, bahkan sebagian dari mereka sudah menatap rendah Adinda.


Adinda sangat sedih mendengar penghinaan dari Silvi. Bahkan kini kedua manik matanya pun sudah mulai berembun.


" Dan apa ini, kamu hamil lagi, wah wah wah wah, laki - laki yang mana lagi ini yang sudah tidur denganmu, sampai kamu hamil begini? ". Ujar Silvi lagi dengan segala penghinaannya.


" Hei semuanya, dengarkan ya, perempuan hamil ini, bukan perempuan baik - baik, dia ini seorang jal*ng, dan kedua anak ini dan juga anak yang di kandungnya adalah anak haram ".Teriak Silvi dengan begitu lantangnya.


" Iya betul, dia ini bukan perempuan baik- baik, ternyata perempuan berhijab ini adalah perempuan yang suka menjual tubuhnya pada pria hidung belang ". Timpal Rani dengan fitnahan yang sangat keji.


" Betul itu betul, ingat ya semuanya, jangan biarkan wanita penggoda ini masuk ke perusahaan kita ". Imbuh Rita.


Adinda tak bisa berbuat apa - apa, air mata yang sedari tadi ia tahan pun sudah tumpah membasahi pipi putihnya.


Sedangkan si kecil Aganta dan juga Damian memeluk erat kedua kaki sang mommy, kedua bocah kecil itu begitu takut karena hampir semua orang mengerumuni mereka.


" Ayo tunggu apa lagi, pergi kamu dari tempat ini wanita murahan ". Bentak Silvi lagi.


" Silvi ". Teriak seorang pria yang semua orang mengenali suaranya.


Al melangkah dengan begitu geramnya menuju ke arah mereka.


" Daddy ". Seru Aganta lirih.


" Apa yang kamu lakukan Silvi? ". Marah Al.


" Tuan, perempuan ini dan juga anak - anaknya harus diusir dari kantor ini, dasar wanita murahan pembawa anak haram ". Hina Silvi lagi.


" Tutup mulutmu Silvi, dia adalah istri dan juga anak - anakku ". Marah Al.


Deg...


Bersambung..........


Tetap semangat membaca ya, terima kasih atas dukungannya.


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2